Cerita Ayah

Arden Bisa Membaca Bagian Fase Hidup Yang Berlalu

Aku bukan Ayah yang baik dalam urusan ngajarin anak , termasuk dalam urusan mengajari membaca bagian fase hidup Arden. Soalnya, di rumah ada Ibu yang selalu ada di sisi Arden. Fey adalah Ibu yang mengajari banyak hal dan Ayah lebih menertawai ini-itu setiap fase hidup Arden.

Seperti fase ketika arden mulai bisa membaca. “Komidi Putar”, katanya. Buku dari perpustakaan mini keluarga itu menjadi saksi Arden bisa membaca hari ini. Ibu Arden pelan-pelan mengajarinya, tidak ada paksaan, apalagi tangisan. Semuanya mengalir mengikuti ritme harian Arden. Dari “Komidi Putar”, dia membaca kata demi kata hingga habis satu-dua kalimat.

Baca juga : Kelinci Bukan Ciptaan Allah, Itu Cuma Gosip!

Aku tertawa melihatnya, untung Arden tidak melihatnya. Sementara, Fey melotot tajam melihat mukaku. “Emang komidi putar apaan yah,” tanya menoleh dari balik badan Ibunya sambil menahan tawa. “Kita baca lagi halaman selanjutnya, Ayah enggak tahu kayaknya” kata Ibu.

Sebuah fase terlewati lagi. Saat Arden dilahirkan dan menanti dalam cemas. Ketika dia dikhitan karena sakit saluran kencing pun sudah lama berlalu. Dua tahun lalu dia masuk PAUD dan sudah belajar di Sekolah Alam Kini.

Masa-masa genting dari keluarga kecil pun sering terjadi, dari masalah keuangan, hingga masalah kesehatan datang berganti. Semua harus dihadapi dan disisipi sedih dan tawa.

Saat ini, ketika Arden mulai bisa membaca tentu akan lahir runtutan kebutuhan lainnya. Ntah apa nanti yang terjadi, jalani saja.

Seperti Komidi Putar. Gitu aja muter-muter. Kalau putaran mulai melamban dan berhenti, ya hadapi putaran selanjutnya. Semua fase hidup akan berlalu, tinggal upaya tak pupus agar bisa menghadapinya dengan riang gembira.

Seperti hari ini, Arden bisa membaca, Ibu mengajari dengan perlahan, dan Ayah malah menertawainya. Tertawa karena tak menyangka, Arden bisa membaca lebih cepat dari yang diduga.

Baca juga : Seminggu Sekolah yang Menyenangkan Bagimu, Bagiku, Baginya

Bisa Membaca Bagian Fase Hidup yang Tak Diduga

Meski hari dihabiskan lebih banyak bersama Arden, ada saja waktu yang seperti berlalu. Ketika Arden mulai bisa melakukan banyak hal, dari bermain sepeda, pakai baju sendiri, hingga membaca tadi. Kok rasanya terpesona sendiri.

“Anak ini kok ujug-ujug bisa ini-itu,” ah ini mungkin sebuah tanda, kalau dari semua tahap hingga Arden bisa membaca bagian fase hidup baginya pun, aku tak awas memperhatikan perkembangan hidupnya. Sebagai Ayah, sebagai, suami, sebagai bagian keluarga kecil yang terus merangkak melalui tahap per tahap masa yang akan terus berlalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *