Tentang Karib, Duka dan Tawa

Dongan Sakolah

Setelah seminggu di Medan, akhirnya bertemu karib malam minggu tadi (14/1/2017). “Kalau kau tidak pulang, kami mungkin tidak kumpul,” itu kata Bayu. Aku tersenyum senang, aku merindu untuk bertemu seperti mereka. Apalagi tempat tinggalku sangat jauh di Kota Sukabumi. Mereka yang menetap di Kota Medan pun sangat jarang bisa bersua, hanya untuk bertegur sapa dan bercerita. Pembicaraan tak jauh dari kenangan masa lalu dan tentang keluarga dan kadang-kadang bertanya pada Ardi kapan dia mau menikah. Nasi goreng, mie dan teh susu telur (TST) menjadi hidangan temu kangen malam minggu itu. Lalu berpindah ke rumah Doyok, yang anaknya harus dijaga dan hampir terlelap.

Aku benar-benar terluka saat satu diantara kami merasakan beban yang dipendam dan mendengar setelah terlalu lama.

Ada beberapa hal yang dirasa ketika sudah lama tidak berbagi kisah dan berjumpa;  dari persoalan tentang keluarga, pembicaraan tentang jarangnya berkomunikasi diantara sahabat dan cerita tentang anak-anak yang sudah mulai sekolah. Ada duka yang disimpan sendiri, akhirnya dibagi ketika para sahabat bertemu. Aku benar-benar terluka saat satu diantara kami merasakan beban yang dipendam dan mendengar setelah terlalu lama. Ada tawa yang tak bisa tersembunyi merangkai cerita tentang kini dan masa lalu. Aku tentu tak bisa menahan tawa kalau sedang bersama mereka.

Ada masa, saat kita harus berbagi duka dan tawa secara bersama.

 

 

Andai teman bisa dibeli…

Teman Kura-Kura

Arden : Ayah kasihan kura-kuranya sendiri. Enggak ada temannya.
Ayah : kamu kan bisa jadi temannya
Arden : Tapi ayah… ade juga enggak ada temannya
Ayah : itu kura-kura temanmu
Arden : Atuh ayah… masa teman ade kura-kura
Ayah : Jadi mau Ade gimana?
Arden : Ade mau beli teman, satu. Terus kura-kura juga beliin teman, satu
Ayah : Terserah kamu aja Arden…