Aku Tidak Mau Sekolah, Yah

Sudah dua minggu setelah kepulangan dari Medan. Arden memutuskan tidak mau sekolah. Itu keputusannya. Jika tidak mau, maka tidak! Aku dan Ibunya sudah memaksanya, membujuk, bahkan pakai rayuan ke Indomaret segala. Arden bergeming. “Aku enggak mau sekolah, yah,” katanya dengan wajah muram. Aku setuju keputusannya. Senyatanya aku pernah sekolah, dan sekolah itu sungguh membosankan.

Pada akhirnya ibunya dan ayahnya sepakat, Arden akan pergi sekolah sampai dia memutuskan sendiri mau pergi sekolah. Arden tampaknya tahu lebih baik di rumah daripada sekolah. Selidik punya selidik, ia memang merasa malu sudah terlalu lama tidak sekolah dan kembali ke sekolah membutukan waktu untuk bersosialisasi. “Ade malu Ayah,” Katanya.

Berulang kali dikatakannya, ia enggak pergi sekolah. Sekolah disini maksudnya sekolah PAUD. Ya sudah mulai hari ditulisnya blog ini Arden tidak diingatkan lagi untuk pergi sekolah, ia Cuma diingatkan untuk makan yang banyak, main jangan kejauhan, dan lap ingus karena warnanya sudah hijau.  Lakukan apa yang kau suka, asal itu baik dan tidak mengganggu dan tidak mencuri hak orang lain.

Aku Enggak Mau Sekolah, Aku Cape

Sebeelum pergi sekolah

Soal sekolah, aku memang tidak setuju Arden mengenal pendidikan ala masuk kelas terlalu cepat. Setelah dilihat-lihat rupayanya sekolah mampu membuatnya lebih mengenal bagaimana berteman, bagaimana berbagi, bagaimana menjadi pelit, dan bagaimana berkelahi. Sebagai ayah, aku tentu senang sekali. Sekolah cepat juga ada gunanya dan enggak perlu ditakutkan. Cuma masih jengkel kalau ada PR doang. Syukurnya, Arden raji pergi sekolah. Ibunya juga jadi rajin, ya rajin menemani Arden di sekolah. Hihihi. Arden pun sudah biasa pergi sendiri dan pulang sendiri ke rumah. Pergi enggak usah diantar, pulang tak dijemput, tetapi jam istirahat minta uang jajan lagi. Mentang-mentang sekolahnya dekat.

Sekolah itu main

Belakangan hari Arden mulai enggak pergi ke sekolah sendiri lagi. PAUD tempatnya belajar tidaklah jauh, hanya berjarak dua 1 rumah dari rumah kami di Sukabumi. Tetapi, semenjak aku kerja ke NTT kemarin, Arden mulai minta diantar lagi pergi ke sekolah. Tak Cuma itu, Arden juga minta ditemani di dalam kelas. Jadilah, ibunya sering iku belajar di kelas. Aku sempat penasaran apa yang terjadi sebanarnya, kenapa Arden? Kenapa? Sinetron banget.

Aku sempat memaksanya untuk pergi saja, tetapi Arden tetap tak mau. Katanya besok dan besok mau sekolah.

Apalagi setelah kami ke Medan bersua opung dan nenek. Arden ada saja alasannya. Kata ibu, Arden enggak ke sekolah karena diledek jarang sekolah. Dia malu katanya. Malu? Iya, Arden sudah tahu kok malunya berbuat tidak sesuai apa yang orang lain lakukan. Meski tidak bisa dibilang kesalahan. Ya buat anak umur 4 tahun, hukum sekolah itu masih sunnah lah…

Berdua Sama Teman

Suatu malam pas Ibu sudah tidur, aku pun menanyakan perihal tidak maunya dia pergi sekolah.

Ayah : Ade masih cape

Arden : Enggak ayah, ade kan enggak main kalau malam

Ayah: Besok sekolah ya?

Arden : Sekolah, Ade masih cape. Kan baru pulang dari medan

Ayah : Kamu cape atau kenapa sih?

Arden: Ehm…

Ayah : Ngomong aja, dari pada diam-diam aja

Arden: Ade malu ya. Dibilang jarang sekolah….

Ayah : Kamu enggak usah malu. Kamu sekolah bayar uang sekolah. Guru juga tahu kamu kan ke Medan, jadi enggak sekolah.

Arden : Tapi… Ade mau ditemani…

Aku marah ayah

Sudah diketahuilah pangkal masalahnya. Arden enggak sekolah karena malu. Malu diomongin teman-temannya. Anak kecil ini sangat perasa sekali. Dia akan merekam betul-betul apa yang dikatakan orang lain mengenai dirinya. Malu dan malu, itulah alasanya berhari-hari selama seminggu lebih setelah pulang dari Medan. Aku sempat memaksanya untuk pergi saja, tetapi Arden tetap tak mau. Katanya besok dan besok mau sekolah. Lalu, kami putuskan membiarkannya memilih sampai mau pergi sendiri ke sekolah. Tak apalah, diganti belajar dan bermain saja di rumah. Tak ada PR dan tak ada hal memusingkan karena belajar di sekolah. Bermain di rumah lebih asik toh?

Tentang Karib, Duka dan Tawa

Dongan Sakolah

Setelah seminggu di Medan, akhirnya bertemu karib malam minggu tadi (14/1/2017). “Kalau kau tidak pulang, kami mungkin tidak kumpul,” itu kata Bayu. Aku tersenyum senang, aku merindu untuk bertemu seperti mereka. Apalagi tempat tinggalku sangat jauh di Kota Sukabumi. Mereka yang menetap di Kota Medan pun sangat jarang bisa bersua, hanya untuk bertegur sapa dan bercerita. Pembicaraan tak jauh dari kenangan masa lalu dan tentang keluarga dan kadang-kadang bertanya pada Ardi kapan dia mau menikah. Nasi goreng, mie dan teh susu telur (TST) menjadi hidangan temu kangen malam minggu itu. Lalu berpindah ke rumah Doyok, yang anaknya harus dijaga dan hampir terlelap.

Aku benar-benar terluka saat satu diantara kami merasakan beban yang dipendam dan mendengar setelah terlalu lama.

Ada beberapa hal yang dirasa ketika sudah lama tidak berbagi kisah dan berjumpa;  dari persoalan tentang keluarga, pembicaraan tentang jarangnya berkomunikasi diantara sahabat dan cerita tentang anak-anak yang sudah mulai sekolah. Ada duka yang disimpan sendiri, akhirnya dibagi ketika para sahabat bertemu. Aku benar-benar terluka saat satu diantara kami merasakan beban yang dipendam dan mendengar setelah terlalu lama. Ada tawa yang tak bisa tersembunyi merangkai cerita tentang kini dan masa lalu. Aku tentu tak bisa menahan tawa kalau sedang bersama mereka.

Ada masa, saat kita harus berbagi duka dan tawa secara bersama.