Perempuan Bangsawan Tak Butuh Cinta

“Menikah? Ya aku maulah. Tetapi tak ada jodoh yang sepadan denganku. Aku tak mau menikah dengan laki-laki yang tak ada otaknya.” Sebut saja namanya mawar, seperti bunga berduri itu. Ia sudah berumur 26 tahun saat aku bertemu di kesempatan kedua di sebuah hotel di Kota Makassar. Usia 26 tahun dinilai sudah terlanjur tua bagi keluarga, sanak kerabat, dan komunitasnya. Ia mengatakan dengan jujur sudah tertekan dengan kondisi seperti, “aku ingin sekali menikah,” katanya. Betapa jengkelnya ditanya, “kapan kawin?” Tetapi apa daya, belum ada jodoh yang tepat baginya, terutama dari segi pendidikan.
 

“Aku sudah kuliah sampai S2. Aku mau mencari laki-laki yang pendidikannya sama denganku. Laki-laki bangsawan di sini kebanyakan sekolah sampai SMA saja. Ada yang sampai sarjana. Itu pun abal-abal.” Dia sadar kebanyakan laki-laki dari kaum bangsawan tak mumpuni. Tak perlulah sekolah tinggi, laki-laki dari kaum bangsawan dapat mengandalkan harta dari orang tua untuk terus hidup bermewah-mewah. Keluarga bangasawan memiliki banyak tanah, uang berapa pun dikasih, dan hidup bisa parlente bak raja.

“Aku sudah bilang sama ayahku jangan menikahkan aku sama laki-laki yang tak punya otak. Sekolah pun tak mau. Hahaha. Sayang oh sayang, bapakku pasti bingung kalau ada yang melamarku. Dia pasti tahu bagaimana isi otak laki-laki yang berani mencoba mau mengawiniku. Tak lebih hanya cairan limbah tak berguna semata. Laki-laki yang mengandalkan kekayaan, kaya tinggal kaya, dari orang tua.”
Sebagai perempuan, ia tak harus memilih pangeran impian. Ia harus menikah dengan sesama bangsawan. “Biar kamu tahu, aku harus menikah dengan kelompokku sendiri. Kata ayahku perempuan keturunan nabi dan bangsawan harus menikah dengan pria bangsawan pula. Agar tak rusak harga diriku sebagai perempuan dan tak luntur darah nabi dan kebangsawananku.” Ia menyatakannya dengan sedikit menyondongkan batang hidungnya ke mukaku, menandakan betapa serius apa yang dikatakannya. Ia merupakan bagian kelompok sosial (community) yang mengaku keturunan langsung dari nabi dan bangsawan. Aku tak akan menyebut nama kelompoknya di sini. Belumlah luas pula pengetahuanku untuk menceritakannya. Mawar juga yang memintaku, tetapi tak disebut pun mungkin sudah banyak orang yang tahu.
 
Ia harus menikah dengan laki-laki pilihan orang tua. Ia mengaku belum berani menikah dengan laki-laki kelompok lain. Siapa yang mau diusir dari keluarga, tak bisa berkumpul dengan ayah dan ibu lagi. “Kalau aku menikah dengan laki-laki dari kelompok lain. Aku dianggap sudah mati. Orang tuaku sendiri yang bilang kalau perempuan menikah dari luar kelompok tak akan dianggap bagian dari keluarga dan kelompok seumur hidup. Dianggap sudah tiada.” Jadilah dia mengamini saja apa yang menjadi ketentuannya sebagai perempuan. Tak bisa memilih sendiri, pangeran impiannya. Tetapi sayangnya tak ada pula pria yang cocok, itu menurutnya.
 
Ia bercerita tak sedikit anak perawan yang rela kawin lari dengan laki-laki diluar kelompok. Kawin lari! Setelah memilih jodoh sendiri tanpa pamit, perempuan dan laki-laki yang membawa pergi selamanya takkan pernah kembali. Haram bagi keluarga untuk menemui anak gadis tersebut. Karena rusak harga dirinya sudah hilang takdirinya sebagai anak keturunan nabi dan kaum bangsawan. Perempuan yang menikah dengan laki-laki biasa, maka hilanglah ‘darah birunya’ menjadi darah orang kebanyakan. “Sudah, sudah dianggap mati yang kawin lari itu. Jangan berani menunjukkan batang hidung lagi. Kalau pun mau kembali, takkan sudi keluarga menerimanya kembali”.
 

Begitulah nasib perempuan bagi kelompoknya, hanya berhak kawin dengan lelaki pilihan orang tua saja. Sementara laki-laki? Laki-laki bolehlah menikah dengan siapa saja, dengan perempuan biasa yang tak ‘berdarah biru’. “Enak kalau menjadi laki-laki, bisa banyak pilihan. Laki-laki bisa menikah dengan siapa saja. Bisa menikah dengan perempuan biasa. Laki-laki dan perempuan selamanya berbeda, tak sama.” Laki-laki bisa menempelkan darah birunya kepada ‘perempuan biasa yang ia nikahi’. Jadi perempuan biasa itu akan terbawa menjadi kaum bangsawan, setelah menikah dengan laki-laki ‘berdarah biru’. Sementara perempuan, akan menjadi rusak harga dirinya menikah dengan ‘laki-laki biasa’. “Adil? Enggak. Adil itu bukan aku yang menentukan. Bapakku yang tahu apa itu adil. Aturan dari Kelompokku pula sudah menentukan begitu. Apalah arti adil bagiku, perempuan kaum bangsawan ini.”

Pembicaraan ini agak panjang sebenarnya, namun tak semua harus diceritakan. Mawar tentulah perempuan yang benar adanya. Perempuan yang masih mencari laki-laki sepadan, pejantan yang punya otak yang bisa menjadi suami yang layak baginya. Perempuan yang tak bisa memilih pangeran impiannya. “Kalau kamu mau. Bawa saja aku. Kita bisa kawin lari. Tak akan dicari sama orang tuaku. Kita bisa hidup bersama kemana saja. Hahahaha.” Candanya diujung pembicaraan.

6 Februari Menikahinya, 6 Tahun yang Lalu

Hari ini 6 tahun yang lalu, aku menjemput kedatangan kedua orang tua bersama Tulang ke Bandara di Bandung. Waktu menunggu tulang untuk menjemput mamak dan ayah dari Medan. Aku masih ingat ketemu Ima teman kuliah. “Loh bukannya mau nikah besok, kok lo disini?” Aku nyengir. “Ayah dan ibuku akan datang hari ini dan kami mau menjemputnya,” jawabku ringkas. Ima teman baik di kuliah mengucapkan selamat atas atas rencana pernikahan kami. Aku dan Fey menikah 6 Februari 2011. Ya, aku tidak begitu terlibat dalam rencana pernikahan, karena semua diurus oleh keluarga dari pihak Fey. 6 tahun kemudian, esok hari 6 Februari 2017, kami akan merayakan hari pernikahan. Hari ulang tahun pernikahan ke 6 kalinya.

Aku tulis ini saat Fey duduk menyampingi diriku, tetapi ia tidak tahu karena sedang asik membaca cerita korea di handphonenya. Tanggal 5 Februari ini, Arden juga senang asik tidur-tiduran di sampingku. Ia tidak tahu juga aku sedang menulis ini. Lagian percuma kalau pun tahu, Arden kan belum bisa membaca.

Kutulis ini untuk Fey, dialah istriku. Fey, Selamat hari pernikahan ke-6 ya. Waktu berjalan lambat menurutku, ya lambat buatku yang terlalu sering di rumah. Kalau dibilang cepat ya enggak toh, 6 tahun itu tidaklah cepat. Fey istriku yang baik hatinya, terima kasih atas hari-hari yang cerah, meski kelabu lebih sering menghampiri kita. Terima kasih untuk hari yang menyenangkan, meski keluh kesah tentu tidak sedikit merajai hari yang kita lewati.

Saat ini, kau bersama suami yang terlalu sering di rumah dan bersama seorang Arden yang sering hip hip hore. Tak jarang, tangis Arden lebih meriah dibandingkan hidup yang kau jalani. Pasti lelah menjadi ibu dan bersama suami seperti diriku yang jarang mandi apalagi lupa gosok gigi. Tolong yang baca ini jangan jijiik, ini kiasan belaka. Kalau pun benar biarlah menjadi bagian hari kebahagiaan kami dalam masa ulang tahun pernikahan ke enam ini.

Fey, harapanku mungkin berbeda dengan harapanmu, tetapi aku mau tulis harapanku di blog ini ya. Harapanku semoga tahun depan akan ulang tahun pernikahan lagi. Kita sudah hidup di Bandung. Arden rajin sekolah kalau sudah SD, bolos sering pun tak apa. Selain itu, aku juga berharap keuangan kita lebih stabil. Sehingga bisa beli motor, ajukan KPR, ada uang buat belanja ke Indomaret untuk Arden, dan aku ingin sekal punya laptop baru lagi. Kan handphone baru beli kemarin.

Semoga ya hidup keluarga kecil kita ini penuh kebahagiaan. Saat in, aku tak ingin Arden punya Ade lagi. Biarlah seperti ini. Kalau pun akhrnya punya Ade, aku ingin memberinya nama sederhana saja dan tidak panjang seperti nama Arden. Karena aku pun sulit menghafal nama arden. Selamat ulang tahun pernikahan. Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Meski hidup bersamaku tidaklah mudah dan belum pernah liburan ke pantai apalagi ke luar negeri.