Pertanyaan Mengejutkan dari Anak Berumur 4 Tahun 10 Bulan

 

Suatu kali Arden pernah menangis terseduh-seduh ketika burung yang baru dibelinya telah mati dan dikerubungi semut. “Burungmu telah mati, dia harus dikuburkan,” Arden sedih bukan kepalang saat itu sampai berurai air mata. “Ayah kenapa burung yang mati harus dikubur?” Gleghh seperti mau menelan ludah, pertanyaan ini membuatku berpikir sebentar. “Ehm kenapa ya?”

Wahai kamu Ayah dan Ibu mungkin anak anda juga pernah mengajukan pertanyaan “mengejutkan” yaitu pertanyaan yang bikin bingung orang tua dan tidak bisa langsung dijawab. Seperti pertanyaan yang pernah terlontar dari Arden.

Kenapa ibu terus berkerja? Kenapa aku enggak boleh ikut Ibu berkerja?

Aku pengen punya adik? Ayah bisa membuatnya enggak?

Kenapa aku sekolah, ayah enggak pernah sekolah?

Merdeka itu apa? Penjajahan itu apa?

Sedikit pertanyaan dari pertanyaan lainnya yang kadang bikin garuk-garuk kepala. Berbicara, Arden sering sekali mengajak Ayah dan Ibu berbicara dan tentu saja berujung pada sebuah pertanyaan. Tetapi bagaimana kalau pertanyaan itu tidak sepenuhnya bisa dijawab?

Arden sering penasaran tentang banyak hal yang tak diketahuinya. Tetapi sebagai orang tua yang baru punya anak satu, sejujurnya tidak selalu memiliki jawaban. Sering kali ya “tiktaktiktuk” dan berpikir sejenak untuk menjawab pertanaan Arden. Ya kalau sudah tidak bisa menjawab, aku sering suruh Arden bertanya pada ibunya. Trik lainnya jawab sekenanya yang penting Arden diam dan tak bertanya lagi. Kalau sudah mentok, ya tinggal bilang, “Ayah enggak tahu, apa ya? Nanti ayah jawab ya,” kalau sudah begitu Arden sering tampak tidak puas. “Kenapa dijawab nanti, enggak sekarang?”

Disisi lain memang tidak bisa juga kalau menjawab pertanyaan sekenanya terus-menerus dan malah enggak dijawab, karena si kecil akan terus bertanya. Ya namanya lagi penasaran, anak kecil isa memberikan satu pertanyaan dan melahirkan pertanyaan lainnya.

Ketika bertanya tentang pekerjaan, Arden tampaknya belum mengerti jawaban dari kami tentang konsep “kerja” yang sedang dilakoni ayah dan ibunya. Yang Arden tahu, ya Ayahnya memang kerjanya sekali-kali saja dan ibu kerjanya harus sering-sering. Jawaban kenapa harus berkerja? Arden pasti menjawab, biar punya uang dan bisa jajan ke Indomart.

Paling lucu waktu dia bilang ingin punya adik, dan bertanya, “ayah bisa membuatnya, enggak?” Sukurnya ibunya membantu untuk menjawab, “kalau adik bayi dilahirkan dari perut ibu.” Tetapi ya belum dijelaskan bagaimana proses melahirkan adik bayi pada Arden. Karena dianggap belum waktunya, Arden masih terlalu kecil untuk mengerti adanya janin dan proses melahirkan.

Sebagian pertanyaan lainnya dari Arden tentu mudah dijawab. Seperti ketika bertanya Merdeka itu apa? Penjajahan itu apa? Malaysia Bebas dari penjajahan siapa? Kenapa Malaysia dijajah? Ya tentu itu bisa dijawab. Ayah kan sudah diajarin dari SD soal kemerdekaan dan penjajahan. Tetapi kalau pertanyaan tentang kematian? Seperti tentang kematian burung dan meninggalnya nenek ibunya? Jadi Uti (uyut putri) sudah enggak ada lagi? Aku menjelaskan padanya soal kematian. Namun, dia belum mengerti kalau burung dan manusia akan tiada pada waktunya.

Arden harus tahu tidak semua pertanyaan bisa dijawab

Aku pikir memang tak semua harus dan bisa dijawab. Kalau pertanyaan masih mudah dan dianggap bisa diterima oleh Arden, ya barulah dijawab. Masalahnya kalau semua dijawab dan ternyata sebagian jawaban adalah penjelasan yang salah, bisa gawat. Apalagi kalau dijawab dengan “oh”. Oh itu pertanda ya sudah tidak nanya lagi, tetapi dia mengerti atau tidak hanya dirinya yang tahu.

Kadang kalau sudah enggak bisa memberikan jawaban, ya balikin saja pertanyaannya ke Arden, misalnya, “kalau menurut kamu yang mati harus dikubur atau enggak?” Arden biasanya membalas lagi pertanyaan seperti itu, “Ya dikurburlah.” Menurutku hal itu bagus, jadi anak belajar menjawab dengan versinya sendiri. Dia menjadi belajar berpikir dan tetap harus ada penjelasan tambahan dari orang tua.

Ayah Bukanlah Kunci Jawaban

Ketidaktahuan dan tidak selalu memberi jawaban bisa menunjukkan pada Arden kalau Ayah bukanlah orang yang sempurna. Anak harus belajar tidak semua yang dia pikirkan akan menerima jawaban. Lagian ngapan maksa kalau memang enggak bisa menjawab pertanyaan dari anak. Hal terpenting dari semua proses tanya dan menjawab antara orang tua dan anak adalah melihat kemampuan berpikir si anak dan anak belajar tentang kemampuan si ayah. Asal jangan anak menganggap, “kok ayah banyak enggak tahunya sih.” Beri pemahanan juga Ayah bukanlah orang yang serba tahu dan bukan kunci dari semua jawaban.

Tahun demi tahun anak terus berkembang. Anak terus menunjukkan peningkatan kemampuan berkomunikasi dengan kedua orang tua. Aku melihat Arden merasa lebih didengar dan tak sungkan langsung bertanya bila ada hal yang ingin diketahui. Anak menjadi merasa nyaman untuk terus bicara. Pada prosesnya, anak belajar memahami dan belajar mengerti tentang begitu banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak semuanya bisa dijawab oleh orang tua.

Anak Bermain Di Luar Rumah, Ya Biarkan Saja

Arden sering sekali menghilang di siang hari. Aku tak tahulah dia persisnya dimana kalau sudah bermain. Kawannya pun tak sedikit. Rumahnya kawannya pun tak tahu dimana. Tetapi aku tahu titik pusat tempat Arden dan teman-temannya bermain, yaitu di madrasah yang jaraknya cuma 10 meter dari rumah. Kalau sudah berjam-jam di luar rumah, Arden biasanya berkumpul di madrasah yang dikelola sama Pak RT tersebut. Arden selalu permisi kalau keluar urmah, “aku ke madrasah ya yah.” Tetapi ya permisinya memang tujuan awal saja ke madrasah, setelah itu tak tahulah dia mau ke mana. Tak jarang, Arden kadang-kadang bak hilang ditelan bumi. Mencarinya pun, bisa keliling kampung. Lalu, apa awak perlu khawatir kejadian semacam itu? Apalagi kalau sampai hilang ditelan bumi.

Aku tak begitu khawatir dengan asiknya Arden bermain di luar rumah. Namanya juga anak-anak. Awak pun begitunya pas kecil. Awak tak dilarang sama mamak, kenapa Arden harus dilarang-larang. Selama dia permisi, tahu siapa temannya, dan dimana titik kumpul anak-anak bermain ya amanlah sudah. Hai orang tua yang udah enggak anak-anank lagi, sudah deh jangan larang-larang anak bermain ke luar, kayak enggak pernah kecil aja.

Bermain itu bermanfaat dan banyak kawan. Ya kan banyak teman kan. Bukan teman di medsos ya. Kalau anak-anak dikau juga sering bermain di luar rumah tak usalah kahwatir. Menariknya, anak yang sering bermin di luar rumah ternyata berdampak baik secara fisik maupun sosial.  Anak-anak yang sering bermain di luar rumah kabarnya akan cepat dan lebih baik dalam bereaksi ketika berhadapan dengan orang lain. Gampang berinteraksi dan lebih cepat akrab dengan orang lain. Selain itu, katanya John Rately dalam bukunya Spark: the Revolutionary New Science of Exercise anak-anak yang sering bermain di luar di rumah memiliki fungsi kognitif dan menjaga mental lebih stabil. Fungsi kognitif itu berkembang melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. 

Kalau dilihat-lihat sih, Arden memang lebih cepat beradaptasi lingkungan sekitar setelah dia lebih sering bermain di luar rumah. Hal yang menyenangkan dari Arden sering bermain di luar rumah, si anak jadi dikenal tetangga. Orang tua pun jadi kecipratan gampang bersosialisasi dan dikenal banyak orang. “Ayah Arden, itu anaknya main di sawah,” suatu kali kata seorang ibu muda menyapa ketika aku mencari anak kecil itu. Lalu, betul saja, tetangga jadi perhatian sama anak kita yang sedang asik-asiknya berenang di sawah.

Dampak positif anak bermain di rumah sih buaku, Arden jadi jarang minta ke indomaret. Pengeluaran berkurang dan paling jajan ke ibu warung lotek sama teman-temannya. Hemat hingga 90%. Jajan yang tadinya hingga Rp20.000. Sekarang ya Rp2.000 saja cukuplah. Jadi, ajari anakmu wahai orang tua bermain di luar rumah.