Jangan Ragu Minta Maaf Wahai Ayah

Hari minggu (8/10) yang cerah ini, selepas melihat-lihat baju Bersama Arden di Yogya Supermarket, kami pun melepas rasa lapar dengan makan. Makan secukupnya saja, Ice cream, Es Oyen, Mie Baso, Nasi Timbel, dan air putih merk Aqua. Makan lahap sekali, ayah tak mau kalah lahapya, sampai makanan Arden pun hendak dihabisi sekalian. Untung Arden jauh lebih sigap, melindungi makanannya.

Read more

Tentang Maaf yang Tak Pernah Usai

Sewaktu kecil dulu ayah menyuruhku membalas perbuatan kawan yang melempar batu ke kepalaku. “Kau pergi cari dia, kau lempar kepala kawan kau itu,” suara Ayah sangat lantang sampai terdengar ke rumah Wak Ana. Ia marah aku cuma menangis sesegukan. “Laki-laki harus jantan,” katanya menutup perintah. Sontak aku ke luar rumah, kutunggu kawanku itu. Aku melihat kawanku itu berjalan di depan Warung Kakek Atok. Waktu mau kulempar, sayang di sayang seribu kali sayang… Ibunya mengiring langkahnya dari belakang. Tak jadi melampiaskan dendam. Esok hari kutunggu, dia tak muncul. Lalu, hari berlalu. Beberapa hari kemudian, Aku dan kawanku itu sudah bermain guli (kelereng) bersama. Sudah tak ingat lagi perkara lempar batu lari ke rumah itu. Tak ada dendam. Bagaimana mau dendam dibaginya aku es lilin yang dibeli di warung Kak Roni. Read more