Anak-Anak Calon Penulis, Pelukis dan Model

Sang Penulis

Beberapa bulan belakangan ini, aku dan kakakku sering berdiskusi tentang anak-anak memiliki potensi bakat yang bisa dikembangkan untuk masa depannya. Ulfah anak sulung kakaku mulai menunjukkan bakat sebagai penulis. Cek demi cek di komputer, Ulfah ternyata memiliki banyak cerita , dibuat khus dalam file sendiri.

Aku yang kebetulan sedang ke Medan Medan Bulan Januari 2017 lalu, terkesima dan mendadak bilang, “Kek mana kalo kau buat blog aja ulfah.” Ulfah keponakanku yang beranjak remaja ini mengangguk. “Jadi kek mana buatnya tulang?” Anaknya menyambut saranku.

Ulfah kuajari membuat blog. Ia mengikuti tahap-tahapnya dan membuat nama blognya ulfahnurstory.wordpress.com. Mirip-miriplah ya sama Ardentusstory.com.  Mana tau bisa duet blog menulis suatu saat nanti. hehehe…

“Dia memang suka menulis. Banyak itu udah dibuatnya di komputernya,” begitu kata emaknya. Cerita demi cerita tentang Ulfah, sang emak mendukung saja kalau Ulfah memang mau menjadi penulis. Jalan masih panjang, Ulfah masih SD dan berusia belum genap 12 tahun. Tetapi kalau bakat sudah muncul dari kecil, kan enggak susah mengarahkan si anak.

Ulfah berjanji mengisi blognya secara berkala. Lalu, kusarankan pula Ulfah menjadi salah satu member #1minggu1cerita. Komunitas menulis #1minggu1cerita terbukti membuat dia konsisten menulis sampai saat ini.

Bukan itu saja loh. Ulfah sedang mengikuti lomba menulis pertamanya. Ia mengikuti lomba menulis tingkat Sumatera Utara dan masih tahap penjurian. Judul cerita dan isinya sangat menarik, berjudul “Topeng Bopeng”. Ulfah bisa menyelesaikan tulisan berisi 50 halaman plus ilustrasi dalam rentang waktu 1 bulan menulis. “Yang penting ikut dululah lomba, nanti juga dia berkembang kemampuan menulisnya,” Itulah obrolan terakhir sebelum tulisan Ulfah dikirim ke panitia lomba.

Sang Pelukis

Oh iya ilustratornya dalam tulisan Ulfah adalah Ammar, sang adik yang tampaknya akan menjadi pelukis.  Bakat Ammar diketahui sejak sebelum usia lima tahun. Ia gemar melukis dan semakin berkembang hingga sekarang. Ia sudah bisa menggambar di komputer, sedang belajar desain, video, dan  bisa membuat games sendiri.

Menariknya, Ammar belajar sendiri dari internet soal menggambar dan membuat games ini. Ia mulai tahu software apa yang bisa digunakan untuk membuat games dan video. Kalau soal menggambar jangan ditanya, ia pun mulai mengasah kemampuannya melukis dengan mencari inspirasi dari dunia maya pula.

Mengasah bakat. Itu intinya. Ketika Ammar mulai tampak gemar melukis. Kakakku memfasilitasinya. Ammar pun kursus menulis dengan seorang pelukis pula. Om Bagus namanya. Sejak kecil, Om Bagus ini yang menuntun Ammar hingga mulai bisa mengasah kemampuannya perlahan-lahan. Kalau sekarang sih, enggak ada Om Bagus, Ammar bisa belajar sendiri.

Inilah contoh karya lukisan Ammar.

Sang Model

Kalau sang model itu adalah anaknya pemilik blog ini. Arden namanya, namanya disematkan menjadi nama blog ini. Aku memang membayangkan Arden akan menjadi model suatu saat nanti. Hehehe. Jangan dianggap serius ya.

Kalau dijeprat-jepret kok cakep banget kayak ayahnya ya. Arden sudah terbiasa difoto sejak belum bisa berjalan. Kapan pun ada kesempatan, aku pasti mengambil kamera atau hape dan memfotonya. Tidak susah mengarahkan gayanya. Ia memiliki gaya pavorit sendiri. Bahkan suatu hari, ia pernah meminta ke studio foto. Ah, ganteng nian anakku ini.

Bakat Anak itu yang Penting

Percayalah kawan, setiap anak itu unik. Anak memiliki kemampuan yang bisa digali sejak kecil. Fasilitasilah bakat sang anak. Mana tahu, bakatnya bisa membawa hidupnya menjadi lebih cerah, membuatnya bahagia, dan menghasilkan uang terntunya. #Ngarep.

Dari obrolan sang kakak tentang bakat anak-anak ini, tak ada yang dipaksa. Anak sendiri yang menemukan apa yang ia suka. Dari mau menggambar sendiri, membuat cerita, sampai pintar bergaya pun lahir dari bakat anak. Yang penting sih, orang tua mendukung dan jangan maksa si anak harus dimirip-miripin sama emak dan bapaknya.

Orang tua toh punya pengalaman yang menyenangkan tentang hidup ketika bisa memilih cita-cita sesuai keinginan dan bakat hidupnya. Anak-anak tentu juga bisa mengembangkan dan menuju arah hidupnya sendiri. Ojo dipaksa-paksa. Siapa tahu, mereka benar menjadi orang besar sesuai bakatnya.

 

6 Februari Menikahinya, 6 Tahun yang Lalu

Hari ini 6 tahun yang lalu, aku menjemput kedatangan kedua orang tua bersama Tulang ke Bandara di Bandung. Waktu menunggu tulang untuk menjemput mamak dan ayah dari Medan. Aku masih ingat ketemu Ima teman kuliah. “Loh bukannya mau nikah besok, kok lo disini?” Aku nyengir. “Ayah dan ibuku akan datang hari ini dan kami mau menjemputnya,” jawabku ringkas. Ima teman baik di kuliah mengucapkan selamat atas atas rencana pernikahan kami. Aku dan Fey menikah 6 Februari 2011. Ya, aku tidak begitu terlibat dalam rencana pernikahan, karena semua diurus oleh keluarga dari pihak Fey. 6 tahun kemudian, esok hari 6 Februari 2017, kami akan merayakan hari pernikahan. Hari ulang tahun pernikahan ke 6 kalinya.

Aku tulis ini saat Fey duduk menyampingi diriku, tetapi ia tidak tahu karena sedang asik membaca cerita korea di handphonenya. Tanggal 5 Februari ini, Arden juga senang asik tidur-tiduran di sampingku. Ia tidak tahu juga aku sedang menulis ini. Lagian percuma kalau pun tahu, Arden kan belum bisa membaca.

Kutulis ini untuk Fey, dialah istriku. Fey, Selamat hari pernikahan ke-6 ya. Waktu berjalan lambat menurutku, ya lambat buatku yang terlalu sering di rumah. Kalau dibilang cepat ya enggak toh, 6 tahun itu tidaklah cepat. Fey istriku yang baik hatinya, terima kasih atas hari-hari yang cerah, meski kelabu lebih sering menghampiri kita. Terima kasih untuk hari yang menyenangkan, meski keluh kesah tentu tidak sedikit merajai hari yang kita lewati.

Saat ini, kau bersama suami yang terlalu sering di rumah dan bersama seorang Arden yang sering hip hip hore. Tak jarang, tangis Arden lebih meriah dibandingkan hidup yang kau jalani. Pasti lelah menjadi ibu dan bersama suami seperti diriku yang jarang mandi apalagi lupa gosok gigi. Tolong yang baca ini jangan jijiik, ini kiasan belaka. Kalau pun benar biarlah menjadi bagian hari kebahagiaan kami dalam masa ulang tahun pernikahan ke enam ini.

Fey, harapanku mungkin berbeda dengan harapanmu, tetapi aku mau tulis harapanku di blog ini ya. Harapanku semoga tahun depan akan ulang tahun pernikahan lagi. Kita sudah hidup di Bandung. Arden rajin sekolah kalau sudah SD, bolos sering pun tak apa. Selain itu, aku juga berharap keuangan kita lebih stabil. Sehingga bisa beli motor, ajukan KPR, ada uang buat belanja ke Indomaret untuk Arden, dan aku ingin sekal punya laptop baru lagi. Kan handphone baru beli kemarin.

Semoga ya hidup keluarga kecil kita ini penuh kebahagiaan. Saat in, aku tak ingin Arden punya Ade lagi. Biarlah seperti ini. Kalau pun akhrnya punya Ade, aku ingin memberinya nama sederhana saja dan tidak panjang seperti nama Arden. Karena aku pun sulit menghafal nama arden. Selamat ulang tahun pernikahan. Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Meski hidup bersamaku tidaklah mudah dan belum pernah liburan ke pantai apalagi ke luar negeri.

 

 

 

 

Seminggu Bersama Opung di Medan

Januari 2017, awal tahun yang sangat spesial. Arden bisa berkumpul bersama kakak dan adik. Arden baru tahu punya banyak kakak, Kak Harira, Bang raja, Kak Sasa, Kak, Ulfah, Bang Ammar, Bang Salim, dan Kak Nada. Ia juga gembira ternyata punya adik, dek Fatih, dek Rafka, dan Ryandi.

Alangkah senangnya Arden ternyata opung punya kereta dorong dari beko. Beko itu didorong-dorong sama opung. Ia senang bukan maen, “Disini enak ya yah, opung punya kereta dorong, di Sukabumi nanti kita beli yah.” Ayah cuma nyengir tak terkira ngebayangin Arden minta kereta dorong di Sukabumi Nanti.

Januari ini juga sangat spesial bagi Ayah, Ayah bisa pulang berkumpul sama Uwak, Uda, dan Bou. Opung dan Nenek Medan tampak bahagia sekali seminggu ini, ia bertemu cucunya yang keturunan Sunda. “pintar cucu opung ya, tapi kurangilah ke Indomaretnya,” Opung geleng-geleng kepala kalau lihat Arden sering ke Indomaret. Ayah yang kena nasihat jangan boros sama anak.

“Ayah, kalau punya uang, kita sering-sering ya ke Medan,” katanya karena senang sekali bertemu banyak sepupu dan saudara Ayah di medan.

 

Tips Melawan Rindu Pada Anak

Fiuh, akhirnya aku pulang ke tanah Priangan. Sukabumiiii aku pulaaanggg. Akuh sudah menghabiskan waktu sebulan lebih di NTT, sekitar 3 minggu main di Sumba Barat. Keluar Kota selama itu bikin jenuh. Dibalik itu tentu saja ada kerinduan. Rinduku pertama jelas untuk istri yang selalu mendengar keluh kesahku, rindu keduaku buat Arden yang malah berkeluh kesah enggak diajakin jajan yang banyak selama aku pergi. Tiada lain, tiada bukan Indomaret adalah keniscayaan buat Arden. Apalah arti hidup ini kalau tidak diajak ke Indomaret.

Arden, selama akuh pergi beberapa kali menelponnya. Obrolan kami tak jauh dari soal, Ayah ada dimana, sedang apa, kenapa lama, kapan ajak ke indomaret. Akuh selalu menjawab sedang kerja. Meski akuh tahu Arden pasti belum mengerti apa yang kukerjakan sampai jauh-jauh ke tanah Sumba. ah Arden, nanti kelak kau akan tahu, betapa anehnya pekerjaan ayahmu.

Selama pergi, Akuh tentu rindu sekali sama Arden. Apalagi setelah pindah ke Sukabumi, nyaris bertemu setiap hari. Lalu tiba-tiba untuk kebutuhan perut ayah ibu, dan Arden juga, akuh harus pergi jauh. Jadilah perubahan besar sekali dan aneh rasanya hidup tanpa Arden. Meski begitu, serindu-rindunya pada anak, haruslah dilawan dan jangan sampai menangis terseduh karena termakan rindu.

Aku berusaha menahan rasa rinduh dengan cara-cara ini:

  1. Jauhkan facebook selama berkerja di luar kota, otomatis enggak ingat anak. Enggak bakal lihat-lihat foto anak di FB. Cuma istri akan bertanya, kok enggak apdet status sih. Hal lainnya, kita juga bisa lupa perkembangan di luar sana.
  2. Menelpon dikala sibuk. Menelpon Arden diwaktu sibuk, membuat kita tak banyak berpikir tentang anak. Tapi Arden selalu ingat tentang Ayah. Ayah, kapan kita ke indomaret. Waktu yang singkat ia gunakan untuk bertanya tentang indomart.
  3. Ingatlah kebutuhan makan dan minum, daripada anak. Otomatis ketika berkerja tidak terlalu rumek mikirin anak. Ujung dari berkerja dari mencari uang untuk makan dan minum kan untuk anak juga toh.
  4. Kalau sudah tak tahan merinduh, aku akan menelpon dalam waktu yang lama. Tips 1-3 itu hanya ilusi belaka. Siapa yang bisa menahan rindu untuk anak, apalagi dialah yang begitu ceria dalam hidup kita.