Anak yang Lahir dari Perbedaan

Jadi Nak, kau itu lahir dengan 2 identitas. Margamu sangat jelas menunjukkan dikau batak dari garis ayah, identitas pertama. Sedangkan, identitas kedua dari ibumu dengan suku sunda. Bahasa sehari-harimu itu loh, dikau sudah mulai pinter berbahasa Sunda. “Bade botram ayah diimah Putra,” suatu kali katamu waktu kutanya kenapa bawa-bawa piring ke luar rumah.

Arden yang masih kecil, suatu saat nanti kau akan tahu pentingnya marga yang tersemat di nama dan menjadi identitasmu. Suatu saat pula, kau akan tahu penting jua menggunakan bahasa sunda di tanah priangan ini. Dua identitas itu akan membantumu berbaur bersama yang lain, dengan banyak orang berbeda.

Wahai si batak kecil yang berbahasa Sunda besyukurlah kau lahir dalam dua suku berbeda. Kelak kau akan mengerti begitu banyak perbedaan di negeri ini. Aku selalu berdoa kau diberi kesempatan mengenal banyak keberagaman di negeri ini. Agar matamu dan pikiranmu jauh lebih terbuka tentang perbedaan.

Oh ya satu lagi, Agamamu dengan segala pemahamanmu nanti pasti akan berbeda dengan orang lain. Aku mewanti-wanti sisi agama ini tidak membuatmu merasa paling oke diantara agama lainnya. Semua akan berbeda Arden. Tak ada yang sama di dunia ini.

#KamuPancasila #AkuPancasila #KitaPancasila

Selamat 5 Tahun Arden

Lelaki yang kuberi nama Arden ini akan ulang tahun esok hari, 15 Mei 2017. Sayangnya, aku harus pergi untuk berkerja ke luar rumah. Hari ini sehari sebelum ulang tahun diantara ketikan dan kertas coretan pekerjaan, aku sempatkan untuk melihatnya perpisahan PAUD di sekolahnya. Arden membacakan doa bangun tidur dan berdoa bersama teman-temannya. Riang tampaknya, dia sempat disko chacha selagi temannya berdoa. Selain itu, ia menari dua kali, tarian penguin dan Kapiten. Aku dan istriku tertawa melihatnya, ternyata dengan postur badannya yang kurus rada tinggi itu badannya lihai menari-nari. Padahal udah was-was Arden enggak bakal bisa menari, soalnya jarang sekolah. Dia sempat libur karena sang ayah harus pergi ke luar kota. Dia tak ada yang menjaga dan terpaksa dipindahkan ke Cianjur buat sementara. Ibu juga sibuk malah lebih sibuk dari ayah.

Hari ini pun aku akan pergi lagi ke luar kota. aku dipastikan tak merayakan ultah bersama Arden. Tak ada tiup lilin dan menyaksikan tawa secara langsung. Sempat keidean beli kue sebelum hari lahirnya, tetapi kata ibunya kecepatan. Sampai Arden tertidur karena ngambek tidak boleh main pistol-pistolan berpeluru, membeli kue memang urung dilakukan.

Hai Arden, kau sudah 5 tahun loh besok. Ayah senang sekali melihat tumbuh kembangmu tak kurang sedikitpun malah kelebihan berbicara. Ada saja yang kau inginkan diumurmu menjelang 5 tahun. Mau beli legolah, beli mobillah, kereta apilah, kalau diturutin ya pingsanlah ayah dan ibumu ini.

wahai lelaki yang baik hatinya, Selamat ulang tahun ya. Selamat berhasil hidup di dunia selama 5 tahun. Selamat sudah lulus PAUD A dan mau masuk PAUD B. Katamu hari ini senang sekali. Apalagi bisa menari dan membaca doa dengan lancar. Kau juga tak lupa menyebut nama ibumu dengan Ferni bukan Tini.

Arden yang juga bermarga Harahap, aku tak banyak menuntut untuk hidupmu. Ya itu urusanmu sajalah. Doaku pun tak muluk-muluk soal kau menjadi apa ya terserahmu jugalah. Aku Cuma bisa mengenalkan dunia dan seisinya semampuku. Seperti aku mengenalkanmu dengan pekerjaan sebagai model dan supir kereta api. Seperti aku mengenalkanmu bahwa banyak agama di dunia ini, bahkan perayaan agamanya serba menarik seperti pohon natal dan lampu lampion. Aku ingin kau mengenal bahwa banyak sekali perbedaan dalam hidup yang akan kau rasakan kelak.

Tahu enggak Arden, bahkan kau lahir dari keluarga batak beragama Islam yang sangat akur dengan keluarga Adven di depan rumahmu. Dulu Ayah punya adik yang suka bermain di rumah, ya Adik beragama Adven itu. Tak ada sekat dalam hubungan manusia. Begitulah ayah menyayangi tante kecil itu yang meninggal karena serangan demam berdarah.

Arden yang baik hatinya, kamu harus tahu juga. Diumurmu yang 5 tahun ini akan banyak hal baru yang akan kau lihat. Toh dunia tak selebar Cianjur dan Sukabumi saja. Kau sudah melihat bagaimana melayunya kota Medan. Begitu besarnya Kota Jakarta dengan gedung tinggi. Kau juga sudah tahu kalau berbahasa itu tak hanya bahasa Indonesia saja, kau sudah pintar berbahasa Sunda diumur 5 tahun.

Arden, berbahagialah dalam hidupmu ya. Ayah dan Ibu adalah orang tua yang akan tetap mengenalkanmu pada ragamnya riuh kehidupan dan luasnya bumi ini. Bergembiralah karena pada usiamu 5 tahun ini, kau dalam keadaan sehat dan banyak teman di sekitar rumah. Selalu tersenyumlah pada semua orang, karena itu bisa membuat orang lain bahagia. Tetapi ingatlah kalau ngobrol sama orang tak mestilah kelakuan ayahmu juga kau ceritakan pada ibu-ibu di warung itu.

Nak Selamat ulang tahun. Selamat berbahagia. Kita ketemu minggu depan ya. Beli kuenya sama ibu saja. Ayah harus berkerja esok hari. Kami menyayangimu Nak…

Penumpang Cape

 

Setelah berkunjung ke RS menjenguk uwa yang juga Harahap seperti ayah. Kami jalan-jalan ke mall di bogor dan pulang naik angkot colt-elf angkutan umum yang kata orang kayak jet daratnya sukabumi… Arden pun bertanya-tanya ketika supir lama ngetem.

Arden : Ayah ini mobil colt enggak jalan-jalan ke mana supirnya?
Ayah : Itu di luar nunggu penumpang satu lagi
Arden : mau duduk dimana lagi yah? (Melihat colt sudah penuh).
Ayah : Tuh, masih bisa nyempil. Emang kenapa cari supir
Arden : itu supirnya ga tahu penumpang cape ya yah…
Ibu : Hahaha… penumpang cape kayak orang tua aja.
Arden : Ade kan penumpang. Penumpang cape
Ayah : hihihi… asik ya jalan jalan tadi
Arden : Yah, kenapa ke mall tadi jalan jalan doang? Ga ada belanja-belanja
Ayah : kan ayah bilang, kita jalan-jalan ke mall bukan belanja-belanja…
Arden : Ayah mah ade cape jalan ke mall pegang pegang sepatu kirain mau beli. Taunya jalan jalan doang.
Ayah : Ayah kan… (belum selesai ngomong)
Arden : Iya atuh, bilang aja ayah belum punya uang. Hayoo we jalan jalan.
Ayah : Nah itu kamu tahu…
Arden : Ade cape ah. Penumpang cape..

Hari Kak Tini

Foto : Arden dan Uta. Enggak punya baju batik di hari Kartini, terpaksa pake baju hari raya (tahun lalu).

 

Ayah : Eh udah pulang, belajar apa hari ini di PAUD Al-Metallica
Arden : Kata ibu Al-fitroh Ayah. Bukan Metallica
Ayah : Belajar apa tadi de?
Arden : Nyanyi-nyanyi gitu tadi
Ayah : Nyanyi apa?
Arden : Ibu Kak Tini…
Ayah : Ibu Kak Tini? Enggak nyanyi ibu Ade?
Arden : Ari ayah suka ngomong yang salah terus. Udah Ade Bilang Ibu Kak Tini…

Kata Ibu guru jangan ke warnet

Arden : Ayah, tadi teman Ade, dibilang ibu guru jangan ke warnet
Ayah : Warnet? Tau dari siapa?
Arden : Masa ayah enggak tau warnet. Teman Ade aja tau.
Ayah : Emang kamu tahu?
Arden : Tahulah… itu tempat anak-anak nakal itu loh yah. anak-anak yang suka main di jalan.
Ayah : ??? Ya makanya jangan jadi anak nakal. Jangan main ke warnet.
Arden : Mending jajan es krim ya yah. Enggak usah ke warnet. mumpung ibu kerja. Sedaaappp… yuk yah…
Ayah : Alahhh banyaklah alasan. Bilang aja pengen eskrim.

Aku sebetulnya sudah bisa menebak kalau Arden bukan mau membahas warnet semata. Ia pengen banget beli eskrim. Maklum, ia sudah tiga minggu tidak boleh makan eskrim. Ibunya sudah melarang, karena baru sembuh dari sakit. Sumber penyakitnya ada di tenggorokan. Anak sekecil Arden mengalami sakit radang tenggorokan sampai panas dingin; malam panas, siang dingin suhu badannya. Bikin khawatir sampai berobat dua kali dalam seminggu.

Arden mulai belajar bagaimana mengutarakan keinginannya dengan memulai obrolan dari topik pembicaraan yang lain dulu. Ya kalau kata orang tua “basa basi lo ah.”

Dari awal pembicaraan soal warnet, Arden memang sudah tahu beberapa temannya sering main ke warnet. Tetapi bagaimana rupa dan bentuk warnet itu, dia tentu tak tahu. Apalagi kata guru dan temannya letak warnet ada di pinggir jalan utama desa, Arden pasti tak berani mengikuti temannya bermain ke sana.

Aku sering memberi peringatan, “jangan sampai ketahuan sama Ayah main ke Jalan.” Lalu, dipikirannya kalau anak yang main ke jalan itu pastilah anak nakal. Karena anak nakal itu sudah berani berbohong sama orang tua. Nakal dipikirannya itu identik dengan kebohongan. Anak berbohong adalah anak nakal. Sukurlah, Arden mengerti maksud dari kata “bohong”.

Eskrim Rahasia

Kalau pembicaraan soal eskrim sih sering seperti obrolan rahasia antara ayah dan anak lelaki. “Kita beli aja eskrim mumpung ibu enggak tahu,” aku sering terkekeh kalau Arden mengatakan itu sambil berbisik, padahal enggak ada orang lain di rumah. Ini rahasia! Jadi harus berbisik ngomonginnya. Kalau ada yang tahu, takutnya dikasih tahu ke ibu. Padahal mah, Ayahnya yang ngasih tahu kalau anak kecil abis makan eskrim.

Pembicaraan rahasia antara ayah dan anak lelaki ini berdampak pada kedekatan ayah dan anak. Anak berusaha mendapat jaminan kalau ada sesuatu hal yang tidak harus diketahui oleh ibu. Kalau tahu ya kena marah. Sedangkan sama ayah, sebagian besar larangan ibu menjadi “boleh” dan larangan cenderung longgar. Jadilah Ayah dan anak sering makan eskrim berdua. Malamnya baru ketahuan kalau ada sampah bekas eskrim di tong sampah.

Nah kalau rahasia itu tidak bohong, karena diketahui oleh Ayah. Kalau nanti ibu tanya, siapa yang makan eskrim ya Arden tinggal jawab, “kata ayah boleh. Beli satu-satu.” Sekian habis perkara. Soal ayah kena marah selanjutnya, ya rasakan aja sendiri diomelin sama ibu.

Ade Cape, Udah 12 kali terjatuh

Dihalaman rumah terdengar suara sedih…

Arden : huhuhu ayahhhh huhuhu
Ayah : jatuh lagi jatuh lagi. Asik kalilah jatuh tuh
Arden : huuhuhu
Arden : iya jatuh lagi gara gara si Uta
Ayah : kalo jatuh jangan salahkan orang. Salah kan diri sendiri…

10 menit kemudian sudah diam
Arden : sakitnya tangan ini yah
Ayah : jangan jatuh lagi
Arden : Ade pun enggak mau jatuh lagi. Capelah
Ayah : iyalah ayah pun cape dengar ade nangis terus
Arden : ade bukan cape nangis. Cape jatuh. Ade udah hitung ada 12 kali jatuh
Ayah : Hahaha… yang jatuh ini udah dihitung
Arden : iya sama yang jatuh tadi 12 kali.
Ayah : Bagussss

Ayah Enggak Perhatian Sama Aku…

Dua teman Arden datang berlari ke rumah…
Dua teman : Ayah Ade, itu si Ade jatuh berdarah-darah…
Ayah : Dimana?
Dua teman : Dikuburan (Kompak dah)
Lalu ngekor dua temannya ke kuburan

Arden : Huhuhuhu, kakiku berdarah ayah…
Ayah : Kenapa berdarah?
Arden : Jatuh di jalan kuburan… huhuhu…
Ayah : Kenapa bisa jatuh?
Arden : Abisnya Ayah enggak perhatian sama aku. Aku lari-larian aja sama teman-teman.
Ayah : Enggak perhatian? Ayo pulang.

Siasat biar enggak kena marah yang terlaluuu… Ayahnya dibilang enggak perhatian. Dasar Anak Kecil.

Iklan Susu dan Keinginan Arden Dibaliknya…

Iklan di televisi… >>>> Mau tinggi dan banyak akal? Minum susu ini…

Arden : Ayah-ayah lihat itu, katanya bisa tinggi-tinggi. Semua orang juga bisa tinggi ya yah. Enggak minum susu juga.
Ayah : Ya kalau minum banyak-banyak lama-lama bisa tinggi.
Arden : Tapi kan Ade juga udah lama enggak minum susu juga tinggi. Bohong ya yah iklannya.
Ayah : Ya….. (sambil mikir)….
Arden : Atuh kalo bisa bikin tinggi, beli atuh susu kotak lagi atuh Ayah. Ade juga pengen…
Ayah: Oalah… Kamu pengen beli susu kotak kayak anak bayi lagi?
Arden : Katanya biar tinggi… Beli atuh ayah…

Uti, Burung, dan Semut yang Meninggal

 

Ayah : Siap-siap kita mau ke Cianjur, Uti meninggal. Tunggu Ibu pulang dulu.
Arden : Ha? enggak ih ayah, Uti sakit bukan meninggal.
Ayah : Tadi kata ibu dari hape Uti meninggal.
Arden : Cuma sakit enggak meninggal.
Ayah : Ya abis sakit meninggal.
Arden : Kalo Uti meninggal kasihan ayah?
Ayah : Nanti doain sama Kamu.
Arden : Kalo meninggal dikubur ya yah, kayak burung aku kemarin.
Ayah : Iya. Dikubur. Tapi enggak semua yang mati dikubur.
Arden : Ha? Kenapa enggak dikubur. Emang apa yang meninggal enggak dikubur?
Ayah : Itu semut. Pas kamu matiin enggak kamu kubur. Malah kamu sapu.
Arden : Kasihan ya semut. Kalo besok kita kubur ya yah.
Ayah : Enggak bakal di sapu lagi?
Arden : Atuh kalo susah mah sapu aja.
Ayah : Tralalalalala….

 

KIPIKI

10646949_10207313053050612_7768526639965216945_n

Arden : Ayah, tolong ambilin kopiko di kamar sebelah
Ayah: Ok, aku ambil
Arden: Cepat Ayah
Ayah: Enggak ada Kopiko nya, ini mah permen K I P I K I
Arden : Kopiko ayah ini lihat tulisannya K O P I K O (Belagak bisa baca, dasar bawel pagi-pagi)
Ayah : Kamu, ayah bilangin ini ya baca. K I P I K I (Sambil nunjukin huruf per huruf). Nah kamu baca lagi.
Arden : K I P I K I…
Ayah : Nahhhh, Anak pinter.