Kasihan Arden, Baru saja Mimpi Buruk

Arden : Ayah kemarin aku ga bisa tidur
Ayah : kenapa?
Arden : mimpi buruk yah.
Ayah : Apa? Mimpi buruk? Mimpi buruk apa
Arden : Uang dua rebu aku hilang…
Ayah : yayayaya mimpi buruk sekali

Pembicaraan menjelang tengah malam itu, membuatku mau tertawa. Tetapi, aku menahannya, Arden jelas tak suka ditertawai. Baginya ini serius, ia baru merasakan mimpi buruk. Kehilangan uang dua ribu! Sesungguhnya, uang nominal Rp2000 adalah satu-satunya jenis yang ia ketahui. Kalau dikasih Rp5000, ia pasti bingung dan Cuma tahu harus ada kembalian. Kalau dikasih Rp2000, arden tahu uang tersebut cukup untuk membeli dua buah salak atau 2 buah teh gelas. Amanlah, karena uang dua rebu, ayah enggak usah sering-sering ke indomaret.

Namun, wahai Ayah dan Ibu, bukan itu yang penting bagiku. Arden tahu enggak sih apa itu mimpi buruk. Seperti hari-hari lainnya, aku mencoba untuk mencari tahu, anak kecil bernama Arden ini mengerti enggak sih apa yang ia bicarakan. Ia mulai ngomong tentang mimpi buruk.

Aku tahu, Arden  pasti merasa rugi kehilangan uang dua rebu itu, meski dalam mimpi. Akibatnya, ini menjadi alasan buatnya minta uang dua rebu pagi nantinya.

Arden Harus Mengerti Apa itu Mimpi Buruk

Ketika kutanya mimpi buruk itu apa, Arden dengan pasti mengatakan susah tidur, karena bangun tengah malam. Ya iya, dia tidur dari sore, terus bangun jam dua pagi, lalu membangunkan Ayahnya, nyebelin.

Lalu dikorek lagi, ia biang kalau mimpi buruk kehilangan uang dua rebu itu membuatnya terbangun. “Gara-gara mimpi itu, ade bangun yah.” Ok ini memang tidak sama seperti mimpi buruk ketika bertemu hantu dalam mimpi atau mimpi ketabrak mobil atau mimpi buruk diputusin pacar bagi remaja. Tetapi, apakah ini benar-benar mimpi buruk bagi Arden?

Setelah itu, ia menjelaskan kalau kata Enin (neneknya) kemarin bilang baru mimpi buruk. Enggak jelas mimpi buruk apa. Tetapi dari omongan Arden, ia meniru perkataan tentang “mimpi buruk” itu.

Ia meniru omongan neneknya tentang “mimpi buruk”, lalu mencoba memahaminya sendiri. Selanjutnya, tercetuslah obrolan tentang mimpi buruk di atas. “Kehilangan uang dua rebu”  yang jelas ini bisa berakibat buruk, bukan bagi Arden sih, tetapi bagi Ayahnya. Ia pasti meminta uang dua rebu pagi harinya. “Minta dua rebu yah, jajan di warung ibu lotek,” ibu penjual lotek yang juga menjual jajanan ringan untuk anak kecil.

Peniruan kata-kata ini baik sih menurutku, tetapi tidak baik kalau didiamkan saja. Arden harus mengerti apa yang ia bicarakan. Arden harus dijelaskan apa itu mimpi buruk. Lalu, kucoba menjelaskan kalau “mimpi buruk itu ya mimpi tidak menyenangkan dan mengganggu tidur. Setelah bangun Ade merasa tidak nyaman karena mimpi itu,” kataku menjelaskan.

Arden Cuma melongo, jelas dia enggak ngerti. Apalagi cara menjelaskannya kayak ngobrol sama orang dewasa. Hahaha. Tetapi yang penting aku sudah menjelaskannya. Kelak ia akan mengerti kalau mimpi buruk itu bukan sekedar kehilangan uang semata. Apalagi Cuma kehilangan uang dua rebu. Kalau mimpi buruknya minta jajan ke indomaret baru itu gawat. Arden bakal nagih melulu biar diajak jajan ke Indomaret. Rugi bandar!

So, aku memang memilih menjelaskan apa yang kurasa perlu Arden tahu, termasuk tentang mimpi buruk ini.

 

Tertawalah Bersama Anakmu, Ayah

Aku sering membagi percakapanku dengan Arden di Facebook. Aku pikir tidak ada salahnya toh berbagi kebahagiaan. Arden yang semakin  pinter ngomong, memang sering membuatku tertawa dan tak jarang bikin kesel. Ada aja ocehannya yang ia kira penting, ada saja alasannya biar dikasih uang, dan ada saja pembelaan biar enggak disuruh-suruh. Seperti pembicaraan terakhir waktu aku minta tolong, dan dijawab Arden, “Minta tolong sama polisi saja.”
Ayah : Ardeennn, Ayah boleh minta tolong ga?
Arden : (sedang asik bermain pura-pura enggak dengar)…
Ayah : Ardennnn minta tolong donggg….
Arden : Ayah kalo minta tolong sama polisi. Bukan sama Adeee….
Ayah : Bisa enggak?
Arden : Ade bukan polisi yah…

Suatu kali, aku pikir Arden bilang pengen ke rumah opungnya di Medan. Tetapi padahal mah ia pengen beli durian. Anak kecil mulai pinter mencari celah dengan ngomong yang topik lain dulu, baru setelah itu beralih ke inti omongan yang dia inginkan. Beli duren.
Arden : Yah aku merasa pengen ke rumah opung
Ayah : Merasa? Iya Ayah juga merasa gitu
Arden : Yuk yah, kita ke rumah opung, sedaaappp ada durian
Ayah : Sedappp gratissss….
Arden : ayo atuh yah?
Ayah : Aku merasa enggak punya uang den buat ke rumah opung.
Arden : Yahhh, ayah mah perasaannya enggak punya uang teruusss…

Wahai Ayah, aku pikir sering-seringlah bicara dengan anak, agar kemampuan bicara semakin baik dan seiring bertambah umur. Anak yang pinter bicara dari kecil membuatnya mampu mencerna maksud pembicaraan orang tua. Kalau Arden diumurnya menjelang ke-5, ia sudah gampang disuruh, dimintai pendapat, sampai disuruh belanja ke warung pun sudah bisa. Itu semua karena kemampuan bicara dan respon yang baik terhadap lawan bicaranya.

Anak yang lancar berbicara juga akan pinter mengungkapkan perasaannya, seperti ketika sedang diejek teman-temannya. Arden tahu betul rasanya dicela begitu. “Kevin bilang Ade, malas sekolah,” suatu waktu katanya yang membuatnya enggan ke sekolah. Padahal, Arden enggak sekolah karena aku si ayah sedang berkerja ke luar kota dan ibunya juga harus ke kantor setiap hari. Jadilah ia tidak ada yang menjaga dan diungsikan sebulan di Cianjur. Bersama nenek dan kakeknya.

Ketahuilah wahai ayah, dekat sama anak itu membuat diri kita sangat mengetahui perangai si anak, bagaimana dia sedang senang dan waktunya sedih. Ungkapan rasa seorang anak sih biasanya juga bisa bikin kita tertawa. Pembicaraanku dan Arden adalah wujud tawa itu sendiri.

Aku sangat senang membagikan obrolannya di akun facebook, karena dunia seolah penuh tawa dan yang paling penting sih bisa bahagia bersama si anak. Si anak loh ya, kalau dia udah gede kan enggak tahu. Arden bakal selucu ini atau malah lebih banyak waktu di luar bersama teman-temannya. Jadi waktu sekarang adalah waktu terbaik, karena dapat berbagi cerita bersamanya.Mari tertawa bersama anakmu wahai ayah.

Pertanyaan Mengejutkan dari Anak Berumur 4 Tahun 10 Bulan

 

Suatu kali Arden pernah menangis terseduh-seduh ketika burung yang baru dibelinya telah mati dan dikerubungi semut. “Burungmu telah mati, dia harus dikuburkan,” Arden sedih bukan kepalang saat itu sampai berurai air mata. “Ayah kenapa burung yang mati harus dikubur?” Gleghh seperti mau menelan ludah, pertanyaan ini membuatku berpikir sebentar. “Ehm kenapa ya?”

Wahai kamu Ayah dan Ibu mungkin anak anda juga pernah mengajukan pertanyaan “mengejutkan” yaitu pertanyaan yang bikin bingung orang tua dan tidak bisa langsung dijawab. Seperti pertanyaan yang pernah terlontar dari Arden.

Kenapa ibu terus berkerja? Kenapa aku enggak boleh ikut Ibu berkerja?

Aku pengen punya adik? Ayah bisa membuatnya enggak?

Kenapa aku sekolah, ayah enggak pernah sekolah?

Merdeka itu apa? Penjajahan itu apa?

Sedikit pertanyaan dari pertanyaan lainnya yang kadang bikin garuk-garuk kepala. Berbicara, Arden sering sekali mengajak Ayah dan Ibu berbicara dan tentu saja berujung pada sebuah pertanyaan. Tetapi bagaimana kalau pertanyaan itu tidak sepenuhnya bisa dijawab?

Arden sering penasaran tentang banyak hal yang tak diketahuinya. Tetapi sebagai orang tua yang baru punya anak satu, sejujurnya tidak selalu memiliki jawaban. Sering kali ya “tiktaktiktuk” dan berpikir sejenak untuk menjawab pertanaan Arden. Ya kalau sudah tidak bisa menjawab, aku sering suruh Arden bertanya pada ibunya. Trik lainnya jawab sekenanya yang penting Arden diam dan tak bertanya lagi. Kalau sudah mentok, ya tinggal bilang, “Ayah enggak tahu, apa ya? Nanti ayah jawab ya,” kalau sudah begitu Arden sering tampak tidak puas. “Kenapa dijawab nanti, enggak sekarang?”

Disisi lain memang tidak bisa juga kalau menjawab pertanyaan sekenanya terus-menerus dan malah enggak dijawab, karena si kecil akan terus bertanya. Ya namanya lagi penasaran, anak kecil isa memberikan satu pertanyaan dan melahirkan pertanyaan lainnya.

Ketika bertanya tentang pekerjaan, Arden tampaknya belum mengerti jawaban dari kami tentang konsep “kerja” yang sedang dilakoni ayah dan ibunya. Yang Arden tahu, ya Ayahnya memang kerjanya sekali-kali saja dan ibu kerjanya harus sering-sering. Jawaban kenapa harus berkerja? Arden pasti menjawab, biar punya uang dan bisa jajan ke Indomart.

Paling lucu waktu dia bilang ingin punya adik, dan bertanya, “ayah bisa membuatnya, enggak?” Sukurnya ibunya membantu untuk menjawab, “kalau adik bayi dilahirkan dari perut ibu.” Tetapi ya belum dijelaskan bagaimana proses melahirkan adik bayi pada Arden. Karena dianggap belum waktunya, Arden masih terlalu kecil untuk mengerti adanya janin dan proses melahirkan.

Sebagian pertanyaan lainnya dari Arden tentu mudah dijawab. Seperti ketika bertanya Merdeka itu apa? Penjajahan itu apa? Malaysia Bebas dari penjajahan siapa? Kenapa Malaysia dijajah? Ya tentu itu bisa dijawab. Ayah kan sudah diajarin dari SD soal kemerdekaan dan penjajahan. Tetapi kalau pertanyaan tentang kematian? Seperti tentang kematian burung dan meninggalnya nenek ibunya? Jadi Uti (uyut putri) sudah enggak ada lagi? Aku menjelaskan padanya soal kematian. Namun, dia belum mengerti kalau burung dan manusia akan tiada pada waktunya.

Arden harus tahu tidak semua pertanyaan bisa dijawab

Aku pikir memang tak semua harus dan bisa dijawab. Kalau pertanyaan masih mudah dan dianggap bisa diterima oleh Arden, ya barulah dijawab. Masalahnya kalau semua dijawab dan ternyata sebagian jawaban adalah penjelasan yang salah, bisa gawat. Apalagi kalau dijawab dengan “oh”. Oh itu pertanda ya sudah tidak nanya lagi, tetapi dia mengerti atau tidak hanya dirinya yang tahu.

Kadang kalau sudah enggak bisa memberikan jawaban, ya balikin saja pertanyaannya ke Arden, misalnya, “kalau menurut kamu yang mati harus dikubur atau enggak?” Arden biasanya membalas lagi pertanyaan seperti itu, “Ya dikurburlah.” Menurutku hal itu bagus, jadi anak belajar menjawab dengan versinya sendiri. Dia menjadi belajar berpikir dan tetap harus ada penjelasan tambahan dari orang tua.

Ayah Bukanlah Kunci Jawaban

Ketidaktahuan dan tidak selalu memberi jawaban bisa menunjukkan pada Arden kalau Ayah bukanlah orang yang sempurna. Anak harus belajar tidak semua yang dia pikirkan akan menerima jawaban. Lagian ngapan maksa kalau memang enggak bisa menjawab pertanyaan dari anak. Hal terpenting dari semua proses tanya dan menjawab antara orang tua dan anak adalah melihat kemampuan berpikir si anak dan anak belajar tentang kemampuan si ayah. Asal jangan anak menganggap, “kok ayah banyak enggak tahunya sih.” Beri pemahanan juga Ayah bukanlah orang yang serba tahu dan bukan kunci dari semua jawaban.

Tahun demi tahun anak terus berkembang. Anak terus menunjukkan peningkatan kemampuan berkomunikasi dengan kedua orang tua. Aku melihat Arden merasa lebih didengar dan tak sungkan langsung bertanya bila ada hal yang ingin diketahui. Anak menjadi merasa nyaman untuk terus bicara. Pada prosesnya, anak belajar memahami dan belajar mengerti tentang begitu banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak semuanya bisa dijawab oleh orang tua.

Sembuhlah Nak, Esok Kita Main Lagi

Arden sudah seminggu sakit. Khawatir rasanya. Suhu badannya naik pada malam hari dan turun pada siang hari. Kalau siang sih kayak orangnya sehat-sehat saja, lari-larian ke rumah tetangga sampai ke madrasah gang sebelah. Was-was ya tentu saja namanya juga anak sakit.

Ibunya sudah membawa Arden ke dokter dan kekhawatiran akan penyakit typus terbantahkan hasil labortaorium yang hasilnya negatif. Arden sudah dicek darahnya. “Sakit diambil darah mah yah,” sambil memgang tangannya Arden mengeluh. Pas lihat kertas hasil labnya sih manggut-manggut saja, yang penting banyak tulisan negatifnya. Enggak ngerti. Arden sudah berobat pada hari kedua, tetapi masih panas dingin sampai diketiknya tulisan ini.

Ibu semakin khawatir, bolak balik dijamahnya badan anak semata wayangnya. Aku melihat kecemasan dari raut mukanya. Begitu pula aku, tetapi tak menunjukkan tingkat kekhawatiran yang sama. Kalau Ayah dan Ibu sama khawatirnya, takut terpengaruh ke psikologi anak. Makin girang lagi si keceil terlalu dimanja-manja. Aku tak menjamah sesering ibunya. Aku jarang cuci tangan. Takut kuman bekas cebok dan makan sambel malah nyentuh badan Arden.

Aku turut terus memantau kondisi Arden dengan seksama. Aku juga memastikan tak terjadi kondisi yang tak diinginkan. Arden lagi sakit pun masih sering main air. Dia sering mengaku mau kencing padahal ngubek-ngubek air di kamar mandi. Makanan pun dijaga, dia sering mengaku beli kue padahal beli mie instan dari mamang-mamang yang memasaknya sambul merokok dengan asap ngebul. Yang paling ngeselin, kalau enggak mau makan siang, dia selalu mengaku kenyang. Padahal, bolak balik mencari cemilan di toples.

Ayah sama khawatirnya seperti ibu

Halo ibu. Ketahuilah, ayah juga sangat khawatir melihat Anak yang sakit. Mungkin hanya berbeda cara, berbeda menanggapi anak yang sedang panas-dingin seperti Arden. Aayah berupaya tidur lebih lama berjaga sampai berganti hari sambil makan sisa cemilan Arden, mengecek kondisi suhu Arden yang panas. Ayah berupaya membuat tenang, “oh sudah sembuh mau sembuh,” walau tahu-tahunya panas meninggi memasuki hari yang gelap.

Memastikan Si Kecil Makan  Siang dan Minum Obat

Kalau siang pun waktu Ibu sangat sibuk di kantor, ayah memastikan apa yang ibu suruh dilakukan semua dan aman terkendali. Arden harus minum obat, “ingat ayah yang botol hijau ya, bukan botol hitam itu mah obat ibu. Jangan salah lagi.” Ya tinggal dicatat biar enggak salah minum obat. Sebelum minum obat tentu harus makan siang. Walau makannya ala Arden, bisa 2-3 jam baru habis. Minum obat dan makan siang penting untuk diperhatikan, agar sakitnya Arden tak kunjung terlalu banyak mamakan hari.  Hidup dengan rasa was-was tidak enak. Apalagi anak semata wayang yang sakit.

Wahai Ayah, Yakinlah Kamu juga Bisa Menjaga Anak

Seperti aku sebagai Ayah yang tidak setiap hari berkerja, malah lebih sering di rumahnya bisa berperan sebagai penjaga anak, meski belum tentu menjaga Arden dengan baik. Ayah yang memastikan si kecil dalam kondisi yang baik-baik saja dan rutin mengecek kondisi anak. Jadi si ibu tak perlu khawatir ketika berkerja dan tidak bisa menjangkau kondisi kesehatan anak terus menerus. Kalau Ayah enggak bisa menjaga anak, ya buat apa punya anak. Tugas menjaga anak ya semestinya memang menjadi tanggung jawab yang besar bagi si Ayah.

Kalau anak sakit berhari-hari begini rasanya dunia hanya untuknya. Ayah dan ibu bergantian dalam menjaga untuk memastikan kondisinya tidak memburuk. Buatku sebagai Ayah ya memastikan juga ibunya tak terlalu was-was, kalau anak sakit dan si ibu ikut stres kan malah berabe. Ya cepat sembuhlah Arden, biar esok hari kita main ke Indomaret lagi.

Arden, Hormatilah Abah Tukang Sampah Seperti Menghormati Orang Tuamu

 

Arden selalu teriak, “Ayah, Abah dataaaanggg.” Ini sebuah pertanda, kalau Abah tukang sampah datang. Abah yang giginya sudah tidak ada lagi. Sungguh, kalau dia tertawa. Mulutnya kosong melompong hanya tersisa lidah tua. Setua umurnya. Arden sering menjadi orang pertama yang mengetahui Abah datang. Abah pun akan bersaut-sautan bercanda dengan Arden. “Hahaha, abah itu calanana soek,” kata Arden dengan bahasa sunda yang kaku ketika melihat celana Abah sobek pas di selakangan.

Kalau sudah begini, Abah bakal bertahan agak lama di halaman rumah. Ia senang bergurau dengan Arden sembari mengumpulkan sampah di depan rumah. “Abah bau ga?” Abah tertawa. “Jangan dekat-dekat ya. Nanti bau. Bau Abah. Bau sampah.” Arden tertawa terbahak-bahak. Lucu baginya. Lalu mendekati abah dan sampah sekaligus.

Daku sih memperhatikan di depan rumah. Sesekali mengajak Abah berbicara dan bertanya kemana minggu lalu kok enggak nongol. Seperti biasa dia akan menjawab kalau dia sakit. Sudah tua. Sudah bukan saatnya pula sebenarnya dia keliling begini.  Tetapi memunguti sampah dari rumah ke rumah adalah hal nyata yang bisa ia kerjakan untuk mencari uang. Disamping mengumpulkan botol plastik dari rumah tetangga.

Aku selalu mewanti-wanti Arden jangan sampai mengganggu abah dan menyentuh Abah. Maksudnya jangan sampai memukul atau melempar Abah. Abah adalah orang tua. Seperti diriku orang tua juga. Cuma ya lebih tua. Setua opung di Medan kali ya. Bedanya Opung tukang bengkel bukan pengambil sampah seperti Abah. Arden pun mengikuti dan hanya menemani Abah yang ulet mengambil sampah di depan rumah.

Selepas Abah memunguti semua sampah. Arden mendatangi Abah dan memberikan uang. Uang yang tidak seberapa. Tetapi disambut dengan senyum dan menghasilkan balasan tawa oleh Arden. “Nuhun ya, sing sehat ya Ade,” katanya menutup canda tawa bersama Arden. Doa orang tua, doa yang baik untuk Arden. Semoga selalu sehat.

Ayahku pernah mengatakan. Berbaik-baiklah sama siapa saja. Sama orang tua, apalagi kalau dia hidup dengan bersusah payah. Seperti Ayah, pernah juga jadi tukang becak. Senang kali rasanya kalau orang mangasih ongkos yang lebih dan sakit hati kalau dikasih ongkos tak sepantasnya. Jangan lakukan hal yang menyakitkan pada orang lain. Aku belum bisa mengikuti persis seperti apa yang dikatakan Ayah. Tetapi aku bisa mengajarkan itu pada Arden. Agar kelak, Arden juga tahu bagaimana menghormati orang tua.

 

Ibu Pintar Memasak, Arden Pandai Menyapu dan Mengepel Lantai

 

Arden anak semata wayang kami sudahlah makin besarlah, usianya akan menginjak 5 tahun bulan Mei nanti. Sebagai orang tua, aku bersyukur Arden bertumbuh dan berkembang sesuai prediksi. Bukan prediksi soal kesehatannya, prediksiku menjelang umur 5 tahun, ia sudah bisa membantu Ayah dan Ibu mengerjakan sebagian pekerjaan rumah. Eh bukan pekerjaan rumah dari sekolah, tetapi kerja-kerja membersihkan rumah seperti mengepel dan menyapu lantai. Amboi senangnya awak nih, tak susah pula mengajarkan Arden.

Untuk perkara memasak, Arden sudah mulai bisa sebelum usianya 4 tahun. Kegiatan memasak tak asing buat Arden. Fey ibu yang paling cantik sedunia terbiasa memasak di rumah. Sebelum kerja dan setelah pulang, ibu pasti memasak. Enaklah Ayah dan Arden tinggal menunggu makan. Dari kegiatan masak sang ibu, Arden mulai penasaran bagaimana cara memasak. Maka, suatu hari pas ibu berkerja, Arden pun menggoreng tempe untuk dirinya sendiri. Ayah cukuplah mengawasi dari belakang. Aku memang tak pernah melarang Arden untuk kegiatan yang dirasa aman. Memasak saja amanlah, bukan awak biarkan sendiri menggoreng tempe itu. Peniruan, Arden sudah pintar meniru ibunya memasak sebelum umurnya 4 tahun. Oh ya samgkin pintarnya ibu memasak, Kami ada usaha sendiri namanya Teri Kece dan Nayafood; membuat Nugget dan Schotel Macaroni.

Tak hanya memasak saja, Arden mulai belajar menyapu dan mengepel lantai juga. Kalau menyapu sih, ia baru bisa beberapa bulan yang lalu. Biasanya, ia menyapu sampah bekas dirinya sendirilah. Habis main sama kawan, ya sapulah sendiri.  Arden bisa menyapu  karena sering melihat ibu dan ayah. Kami mengajarkan juga apa manfaatnya menyapu dan hidup bersih. Jadi bukan sapu sembarang sapu. Kalau anak kecil dikasih tahu juga manfaatnya, dia juga makin senanglah rajin menyapu. Keuntungan lainnya, awak tak usah repot menyapu kalau dia habis bermain sama kawannya.

Lain hal kalau mengepel lantai. Arden mau mengepel lantai karena sambil bermain air. “Ayah, aku boleh bantu, enggak?” kalau dijawab iya. Arden mengambil gagang pel lantai dan bersih-bersih. Eh main air maksudnya. Arden sih biasanya kebagian mengepel teras rumah saja. Kalau dibiarkan mengepel bagian dalam rumah. Basahlah semua nanti dibikinnya, buku sampai piring bisa disiram air sama dia. Soal main air, ya jagonya lah. Dikasih kesempatan main air sama ayah. Senanglah! Tetapi, janganragu  dengan cara mengepelnya.  Sudah pas, pas seperti cara ayah mengepel lantai.

Wahai pembaca budiman, anak-anak harus diajarkan membersihkan rumah sejak kecil. Aku mengajarkan Arden mau meniru orang Jepang. Kan Orang Jepang sangat terkenal ya soal kebersihannya. Orang tua di sana itu, di Jepang itu mengajarkan anak mereka membersihkan lingkungan sejak kecil. Mereka diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya, mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, mengelap ‘dudukan’ wc sesudah memakainya, sampai membawa kantong sampah kalau berpiknik ria. Pengajaran tentang kebersihan dari kecil mempengaruhi dan mengakar kuat sebagai cerminan masyarakat di sana. Ya dari kecil sampai tua rajin bersih-bersih. Kekuatan pada ajaran tentang kebersihan ini juga dipengaruhi Agama Shinto. Kebersihan adalah cara mendekatkan diri pada Tuhan. Kalau waktu SD dulu jadi ingat kata guru agama, kebersihan adalah sebagian dari iman. Tetapi seberapa berpengaruh kebersihan itu terhadap iman kita ya? Tak tahulah, jawab saja sendiri.

Kalau orang Jepang saja bisa bersih-bersih sejak kecil, Arden juga harus bisa. Anakmu yang membaca blog ini juga pasti bisa belajar bersih-bersih. Cobalah ajarin nanti anakmu menyapu dan mengepel sendiri di rumah. Jadi kalau anak-anak mengotori rumah ya santai saja. Toh udah bisa membersihkan di rumah sendiri. Positifnya lagi dari mengajari anak tentang kebersihan adalah dimana pun berada, Arden akan bertanya, “Ayah tempat sampah dimana ya?

Tentang Maaf yang Tak Pernah Usai

Sewaktu kecil dulu ayah menyuruhku membalas perbuatan kawan yang melempar batu ke kepalaku. “Kau pergi cari dia, kau lempar kepala kawan kau itu,” suara Ayah sangat lantang sampai terdengar ke rumah Wak Ana. Ia marah aku cuma menangis sesegukan. “Laki-laki harus jantan,” katanya menutup perintah. Sontak aku ke luar rumah, kutunggu kawanku itu. Aku melihat kawanku itu berjalan di depan Warung Kakek Atok. Waktu mau kulempar, sayang di sayang seribu kali sayang… Ibunya mengiring langkahnya dari belakang. Tak jadi melampiaskan dendam. Esok hari kutunggu, dia tak muncul. Lalu, hari berlalu. Beberapa hari kemudian, Aku dan kawanku itu sudah bermain guli (kelereng) bersama. Sudah tak ingat lagi perkara lempar batu lari ke rumah itu. Tak ada dendam. Bagaimana mau dendam dibaginya aku es lilin yang dibeli di warung Kak Roni. Read more

Kota Medan, Kampung Halaman yang Dirindukan

Di Bandara

Pada tanggal 7 Januari 2017 itu, aku bersama istri dan Arden pulang ke Medan. Kepulangan ini tentu mendadak sekali. Tanpa rencana. Kakak ipar yang mengajak kami sekaligus membelikan tiket pulang ke Medan dan pergi ke Sukabumi. Tepat sehari sebelum hari kepergian ke Medan. Jadilah, keluarga kecil bahagia pulang ke kampung halaman sang ayah hanya membawa oleh-oleh dodol yang dibeli di super market. Aku belum pernah mengajak istri dan Arden pulang ke Medan dengan berbagai alasan, salah satu alasannya tentu ongkos dan biaya untuk pergi ke Medan itu tidak murah. Ya namanya kehidupan kadang ada uang dan kadang ada nasi dan lauk saja untuk dimakan. Perjalanan ini adalah pertama bagi Arden dan Ibu ke Kota kelahiran Ayah. Pertama kalinya pula, Arden melakukan perjalanan jauh menyeberang antar pulau.

Aku sejujurnya senang sekali pulang ke Medan. Medan adalah kampung halaman dengan sejuta rasa. Ada rasa rindu, rasa ingin bertemu, rasa sayang, rasa kasih, dan menguak rasa lainnya. Kalau kata member #1minggu1cerita kampung halaman adalah tempat dimana bumi pernah berhenti berputar. Rasanya benar. Pulang ke Medan adalah saat menghentikan semua pikiran lain dan merebaknya semua kenangan, semua apa yang terjadi di tanah kelahiran. Kota terindah sejagat raya, tempatku lahir, berjalan, seolah TK, SD, SMP sampai SMA. Ahhh Kota Medan.

Mamak dan 3 cucunya

Waktu sampai di rumah, mamakku (sebutan ibu)  terkejut bukan main sambil menitikkan air mata, “pulang kau nak, pulang kau Arden, pulang kau Fey (istriku),” disapa mamak kami satu per satu sembari mengusapkan dasternya ke matanya. Kami tak bisa menyembunyikan rasa haru, kami menyalami mamak dan mencium pipinya. Perjalanan kami ke Medan ini tentu saja kejutan buat Mamak. Hanya mamak yang tidak tahu kalau kami akan pulang. Ayah sudah tahu rencana kami, karena Arden sudah menelpon sehari sebelumnya miengajak memancing ikan bersama. Adik, kakak, dan abangku yang di Medan juga sudah menyadari kepulangan mendadak ini. Oh ya, suami kakak iparku itu adalah abang sulungku. Abang Sulung yang sudah tinggal di Bekasi. Mereka sekeluarga juga pulang ke Medan.

Tentang Rindu Mamak & Ayah

Kesempatan pulang kali ini kami tidak banyak pergi ke luar. Hanya dua kali pergi jalan-jalan,  itu pun pergi ke Mall saja. Selebihnya ya berleha-leha di rumah dan Arden bermain dengan sepupunya. Kalau kata Fey, “Kalau ke Mall mah di mana-mana juga ada. Lain kali kita jalan-jalan ke mana gitu.” Ya namanya juga jarang-jarang pulang, rumah menjadi tempat paling nyaman dan rasanya tak ingin pergi kemana-mana.

Ketahuilah kawan, kota ini begitu berarti bagiku dari dulu hingga kini, kenapa eh kenapa? karena eh karena…

Di Kota Medan, Cinta Pernah Bersemi dan Mengingat Mantan

Di Kota Medan, pertama kali aku merasa manisnya berpacaran dan pahitnya meninggalkan kekasih. Di kota itu, aku masih mengingat lekat-lekat waktu tubuhku dan tubuhnya tergoncang naik becak motor. Goncangan becak motor sering menjadi alasanku memegang erat tanggannya, agar tubuhnya tidak tergoncang ke arah abang becak, tetapi cukuplah ke pundakku saja.  Dialah sang mantan. Banyak kenangan di Kota Medan dengan mantan, berbagai tempat yang pernah dikunjungi di sana, dari Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, Warung TST sebagai tempat nongkrong gaul kawula muda anak medan, mall-mall. Aku juga masih mengenang waktu mencium keningnya. Kami berpisah di Bandara Polonia. Aku terpaksa pergi untuk kuliah ke Kota Bandung. Sayang Bandara kenangan itu sudah tidak tidak menjadi bandara komersial dan telah berpindah Bandara Kuala Namu di Deli Serdang. Itulah kisah kasih kota Medan sebagai Kota Mantan #eh.

Dear Mantan

Becak Motor  

Beca Motor bisa dikatakan raja jalanan di Kota Medan. Banyak sekali warga kota yang mengandalkan mata pencaharian menjadi Abang Becak. Ayahku pun pernah menjadi supir becak untuk makan anak istrinya. Nama lain becak motor adalah becak mesin.

Arden naik becak mesin

Bagi kamu-kamu yang jalan-jalan ke Medan harus mencoba naik becak mesin ini yah. Becak Mesin ini biasanya bermerk Honda Win, Kawasaki, dan Tvs. Orang Medan suka pergi kemana-mana naik becak motor ini. Aku sih senang berpacaran naik beca biar bisa pegang tangannya. Sayangnya pada akhir tahun 2016, kabar terbarunya becak mesin harus bersaing dengan Gojek dan Grab sebagai sarana transportasi baru yang berkembang di Kota Medan.

Jalan-jalanlah ke Mall

Di Kota Medan, ada banyak Mall besar. Tetapi mall yang paling senang kukunjungi adalah Sun Plaza. Alasannya, salah satu mall terbesar di Medan ini terdapat tempat nonton film dan tempat makan yang nyam nyam. Ada banyak tempat makan di sana, dari makanan lokal, china, sampai ala-ala barat.

Makan makan dong di Sun Plaza

Lokasi Mall ini ada di Jl. H. Zainul Arifin No. 7. Pokoknya enak deh maka di sana… Arden dan Fesy pergi ke Sun Plaza waktu ke Medan. Oh ya Aku, Fey, dan Arden juga pernah ke Center Point. Mall itu lumayan gede juga yah.

Makan Durian Dong Kalau Ke Medan

Bagi kalian yang datang ke kota Medan tentu saja harus makan durian di sana. Durian di sana harganya tentu lebih murah dibandingkan harga di Jakarta dan Bandung. Kalau kami, duriannya dibelikan Ayah alias Opungnya Arden dari pedagang pinggir jalan. Enggak tanggung-taggung, langsung beli 10 durian. Kalau mau makan durian yang nikmat dan dengan berbagai varian olahan dan rasa-rasa lainnya datang saja ke Ucok Durian di Jalan Pelajar No.46 Medan. Info lengkap ucok durian bisa dibuka di website nya juga https://www.ucokdurian.id.  Ayo jangan lupa makan durian ke Kota Medan.

Makan durian dong

Nongkrong ala Anak Gaul Medan, Ya Minum TST dan Mie Aceh

TST itu singkatan dari Teh Susu Telor. TST menjadi minuman khas dan popular bagi anak muda di Kota Medan. Di Medan banyak sekali warung kopi atau warung minuman yang menyediakan menu TST. Anak muda nongkrong pas malam minggu. Sebagian warung TST juga menyediakan mie aceh yang enak banget rasanya. Tempat ini bisa didatangi di Jalan Halat dan Jalan Amaliun.

Jalan-Jalan ke Istana Maimun dan Mesjid Raya juga Oke

Istana Maimun merupakan istana milik Kesultanan Deli yang terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Kabarnya, Istana Maimun di dirikan sejak tahun 1888.

sumber : http://www.istanamaimoon.com/

Tidak jauh dari Istana Maimun terdapat Mesjid Raya Medan. Mesjid Raya Medan ini sebenarnya namanya Mesjid Raya Al Mashun. Mesjid Raya Medan dibangun pada tanggal 21 Agustus 1906. Bisa dibilang kalau Istana yang berwarna serba kuning terletak di jantung tengah Kota Medan. Sebenarnya banyak bangunan bersejarah yang menarik, dikau para pembaca bisa cari sendiri di google ya.

Medan Oh Medan, aku ingin rasanya sering pulang ke sana. Tetapi apa yang bisa kulakukan di sana lagi. Hal penting tentang Kota Medan tentu saja ada Mamak dan Ayah yang selalu merindukan dua anaknya yang sudah menetap di luar Kota Medan. Orang tua yang selalu menanti kehadiran anak-anaknya, meski setahun sekali.

 

 

 

 

 

 

Tips Melawan Rindu Pada Anak

Fiuh, akhirnya aku pulang ke tanah Priangan. Sukabumiiii aku pulaaanggg. Akuh sudah menghabiskan waktu sebulan lebih di NTT, sekitar 3 minggu main di Sumba Barat. Keluar Kota selama itu bikin jenuh. Dibalik itu tentu saja ada kerinduan. Rinduku pertama jelas untuk istri yang selalu mendengar keluh kesahku, rindu keduaku buat Arden yang malah berkeluh kesah enggak diajakin jajan yang banyak selama aku pergi. Tiada lain, tiada bukan Indomaret adalah keniscayaan buat Arden. Apalah arti hidup ini kalau tidak diajak ke Indomaret.

Arden, selama akuh pergi beberapa kali menelponnya. Obrolan kami tak jauh dari soal, Ayah ada dimana, sedang apa, kenapa lama, kapan ajak ke indomaret. Akuh selalu menjawab sedang kerja. Meski akuh tahu Arden pasti belum mengerti apa yang kukerjakan sampai jauh-jauh ke tanah Sumba. ah Arden, nanti kelak kau akan tahu, betapa anehnya pekerjaan ayahmu.

Selama pergi, Akuh tentu rindu sekali sama Arden. Apalagi setelah pindah ke Sukabumi, nyaris bertemu setiap hari. Lalu tiba-tiba untuk kebutuhan perut ayah ibu, dan Arden juga, akuh harus pergi jauh. Jadilah perubahan besar sekali dan aneh rasanya hidup tanpa Arden. Meski begitu, serindu-rindunya pada anak, haruslah dilawan dan jangan sampai menangis terseduh karena termakan rindu.

Aku berusaha menahan rasa rinduh dengan cara-cara ini:

  1. Jauhkan facebook selama berkerja di luar kota, otomatis enggak ingat anak. Enggak bakal lihat-lihat foto anak di FB. Cuma istri akan bertanya, kok enggak apdet status sih. Hal lainnya, kita juga bisa lupa perkembangan di luar sana.
  2. Menelpon dikala sibuk. Menelpon Arden diwaktu sibuk, membuat kita tak banyak berpikir tentang anak. Tapi Arden selalu ingat tentang Ayah. Ayah, kapan kita ke indomaret. Waktu yang singkat ia gunakan untuk bertanya tentang indomart.
  3. Ingatlah kebutuhan makan dan minum, daripada anak. Otomatis ketika berkerja tidak terlalu rumek mikirin anak. Ujung dari berkerja dari mencari uang untuk makan dan minum kan untuk anak juga toh.
  4. Kalau sudah tak tahan merinduh, aku akan menelpon dalam waktu yang lama. Tips 1-3 itu hanya ilusi belaka. Siapa yang bisa menahan rindu untuk anak, apalagi dialah yang begitu ceria dalam hidup kita.

Tentang Pekerjaan Rumah yang Mungkin Tak Selesai

13876560_10210571205464151_464081413782949757_n

Arden dihadiahi tugas dibawa pulang semenjak sekolah. Untuk mengerjakannya tentu dia tidak bisa sendiri. Jadilah aku dan istriku bergantian mengerjakannya PR hampir setiap hari. Masalahnya, dalam proses pengerjaan PR ini sering kali terjadi drama. Untuk sang ibu mungkin agak merepotkan, sebab Arden senang mengerjakan PR menjelang pergi sekolah. Sementara dalam waktu yang bersamaan, sang ibu harus pergi ke kantor. Jadilah ibu sering emosi jiwa menghadapi lelaki kecil yang didoakan akan menjadi lelaki baik hati nantinya.

Seperti drama kemarin pagi, Arden tampak sengaja menghentikan proses pengerjaan PR nya. Alasannya ada saja, dari masih menonton film di tv, menonton kartun youtube, sampai belum selesai makan. Jadilah, sang ibu mulai murka dan Arden berlagak pura-pura tak terjadi apa-apa. Padahal dia tahu akan dimarahi. Sebagai ayah yang tak setuju adanya PR untuk anak PAUD ini, terpaksa ambil bagian dalam drama kehidupan ini. Diawali dengan pertanyaan ada PR apa, mau mengerjakan PR atau tidak, sampai terpaksa membantu Arden untuk mengerjakan PR. Ya aku membantunya, turut mengerjakan PR anak PAUD ini. Aku pikir Arden memang belum layak ditugasi pekerjaan rumah, walau sekedar menebalkan huruf dan mengikuti pola titik-titik.

14182663_10210919108761516_383856587_n

Drama semakin memuncak, kalau Arden sudah tampak mau menangis. Aku tak mau dia malah jadi stres gara-gara PR sekolah. Maka, Aku akan menuntunnya dan menggerakkan tangan kecilnya mengikuti pola huruf atau angka yang ditugasi oleh ibu gurunya. Semenjak ada PR ini suasana bukan malah menyenangkan melihat anak belajar, malah semakin ruwet. Karena Arden tampak sekali enggak suka mengerjakan PR nya.

Bagiku, tugas bagi anak PAUD ini memang mengganggu waktu bermain buat Arden. Arden tampak belum bisa fokus untuk mengerjakan PR. Melihat perilaku Arden, saya menjadi setuju bahwa anak-anak harus betul-betul siap untuk sekolah dan tentu saja mau mengerjakan PR secara mandiri. Untuk anak umur 4 tahu, rasanya belum muncul inisiatif untuk itu.

14182339_10210919092961121_1173256204_n

Masalah PR ini, aku menjadi ingat sebuah video tentang pendidikan di Finlandia dengan tagline besar NO HOMEWORK.  Tidak ada PR untuk anak sekolah tingkat dasar. Finlandia yang dikenal sebagai negara nomor satu dalam kualitas pendidikannya lebih menekankan belajar untuk anak-anak dengan metode bermain. Kabarnya untuk mata pelajaran tertentu dalam waktu tertentu, misal dalam 45 menit jam berlajar diselingi waktu istirahat selama 15 menit. Anak-anak memiliki waktu untuk mengisi dengan kegiatannya sendiri. Yang paling menarik dari pendidikan di sana, sekolah dasar menjaga beban pekerjaan rumah seminimum mungkin, kalau banyak diberita sih malah tiada pekerjaan rumah. Tanpa PR ini membuat anak-anak memiliki waktu untuk kegiatan hobi dan dapat bermain dengan teman-teman mereka sendiri diluar jam sekolah.

Justru tanpa PR ini menurutku lebih baik, terutama untuk anak umur 4 tahun. Si anak menjadi tak terpaksa mengerjakan PR dan orang tua tak terbebani apalagi harus beremosi ria menyuruh anak yang terlihat enggan menyentuh pinsil. Hampir setiap hari, Arden jelas tak mungkin menyelesaikan tugasnya kalau tak dipaksa dan tanpa ikut campur orang tua. Arden pun tampak belum mengerti apa yang sedang dia kerjakan. Sering pula dia bilang PR itu terlalu banyak, apalagi harus menyelesaikan sampai satu halaman penuh. Jadilah aku, istriku, menjadi orang pengganti untuk menyelesaikan PR tersebut atau PR tersebut mungkin tak pernah selesai.

 

Sumber Bacaan tentang pendidikan di Finlandia

http://edition.cnn.com/2014/10/06/opinion/sahlberg-finland-education/