Beli Jus Mangga Atuh Yah

Arden : Ayah apa Ade boleh beli jus mangga
Ayah : kan ada jus alpukat di kulkas
Arden : enggak sama itu mah yah. Mangga sama alpukat ga sama
Ayah : Sama sama dijus
Arden : jus mangga kan ga sama dengan jus alpukat
Ayah : sama atuh
Arden : Ya udah atuh (kebelakang ambil aqua botol di kulkas). Ade minum air putih aja kalo ga boleh beli jus mangga
Ayah : Ai kamu kan ada jus alpukat.
Arden : ga papalah yah. Minum air putih aja
Ayah : ( Jadi te tega)
Igri : Ade ga beli jus mangga?
Arden : Ga papa ade mah minum air putih aja.
Ayah : Aduh kamu ya bikin te tega.
Arden : Enak air putih juga yah. Ga papa
Ayah : Udah sana ini dua rebu beli jus mangga
Arden : Ai ayah mana ada jus dua rebu
Igri : Hahaha… atuh ayah Arden, jus mah lima rebu
Arden : Ya udah atuh minum air putih lagi
Ayah : Nah atuh… lima rebu. Kamu mah jajannya banyak pisan…
Arden : Ade mah ga papa kalo ga boleh juga beli jus mangga. Minum air putih aja…
Ayah : Ya udah sana beli jus mangga. Lima rebu na kan udah dikasih…
Arden : Atuh dua rebunya jangan diambil lagi…
Ayah : Arghhhh
Arden : Makasih ya yah…

Karunyak pisan ningali minum cai heurangna… 😅😅😅

Penumpang Cape

 

Setelah berkunjung ke RS menjenguk uwa yang juga Harahap seperti ayah. Kami jalan-jalan ke mall di bogor dan pulang naik angkot colt-elf angkutan umum yang kata orang kayak jet daratnya sukabumi… Arden pun bertanya-tanya ketika supir lama ngetem.

Arden : Ayah ini mobil colt enggak jalan-jalan ke mana supirnya?
Ayah : Itu di luar nunggu penumpang satu lagi
Arden : mau duduk dimana lagi yah? (Melihat colt sudah penuh).
Ayah : Tuh, masih bisa nyempil. Emang kenapa cari supir
Arden : itu supirnya ga tahu penumpang cape ya yah…
Ibu : Hahaha… penumpang cape kayak orang tua aja.
Arden : Ade kan penumpang. Penumpang cape
Ayah : hihihi… asik ya jalan jalan tadi
Arden : Yah, kenapa ke mall tadi jalan jalan doang? Ga ada belanja-belanja
Ayah : kan ayah bilang, kita jalan-jalan ke mall bukan belanja-belanja…
Arden : Ayah mah ade cape jalan ke mall pegang pegang sepatu kirain mau beli. Taunya jalan jalan doang.
Ayah : Ayah kan… (belum selesai ngomong)
Arden : Iya atuh, bilang aja ayah belum punya uang. Hayoo we jalan jalan.
Ayah : Nah itu kamu tahu…
Arden : Ade cape ah. Penumpang cape..

Menarilah Nak

 

Sore hari, selasa (28/03) selagi penyembuhan dari sakit, Arden dipanggil oleh Ibu gurunya. Rupanya ada latihan menari. Kukira Arden akan menolak diajak menari, tetapi taraaaa “temani ade yuk yah.” Jadilah sore itu mengikuti ajakan ibu guru berlatih tari di halaman PAUD Al-Metallica. Aku tidak tahu itu musik apa yang menjadi latar latihan tari, karena berbahasa sunda dan baru pertama kali mendengar. Tetapi kalau dari latihannya, seperti ada pelakon memegang bendera dan ada yang menjadi aki-aki (seorang kakek). Entahlah ini tarian apa namanya.

Kalau tugas Arden ditarian itu menggoyangkan bendera ke kanan dan ke kiri sambil menganggkat kaki bak orang gerak jalan. Tidak lupa pula berlenggak lenggok pantatnya. Arden terlihat senang berlatih tari sore itu. Tak tampak lagi sakit panas dingin seminggu yang dideritanya. Tawa riang dan suara ramai bersama teman-teman sekolah mengiring latihan sore itu.

Melihat Arden berlatih tari begitu ingatlah aku waktu TK dulu. Aku tak seriang Arden dan cenderung pendiam. Dalam diam mengikuti semua alunan lagu “dinding ma rinding” dari Sumatera Barat. Tawa riang Arden juga membuatku sadar, “hei kamu sudah tambah besar nak” senyum-senyum sendiri dan sadar diri kalau sudah punya anak yang mau berumur 5 tahun bulan Mei nanti.

Aku senang melihat Arden tertarik melakukan banyak hal yang belum pernah dia coba, termasuk berlatih tari ini. Kalau di rumah sih, dia sering menari-nari dengan gerakan tak beraturan. Kadang, aku pula yang mencontohkan dirinya goyang-goyang dan tertawa berdua di siang bolong. Menjadi teman berjoget saat hanya ada aku dan Arden di rumah.

Ku pikir memang ada baiknya dari kecil, seorang anak kecil seperti Arden mencoba beragam hal. Arden sudah bisa memasak, sudah bisa mengepel, sudah bisa menyiram pohon cabai, dan kali ini mencoba latihan tari. Orang tua mana yang tak senang ketika melihat pertumbuhan anak tanpa masalah dan berkembang seperti orang kebanyakan.

Menjadi Penari pun Boleh

Sedari kecil, aku dan Fey sudah bersekongkol kalau arden boleh menjadi apa saja. Kalau menjadi penari pun boleh. Untuk pengenalan ragam pekerjaan pun, kami mengenalkan banyak hal. Seperti pekerja kantoran layaknya ibunya yang setiap hari bekerja di kantor, supir kereta api di stasiun, koki di warung makan, sampai pedagang keliling pun kami kenalkan sebagai pekerjaan. Agar kelak Arden tak seperti orang tuanya, ya cita-citanya sebatas menjadi dokter dan insinyur. Eh tahunya malah tidak kesampaian. Mengenalkan arden hal-hal yang mungkin bisa dia kerjakan sejak kecil, aku pikir ada baiknya. Ada loh sepupu Arden yang masih SD sudah tahu mau menjadi penulis dan pelukis. Mereka punya cita-cita dari apa yang mereka sudah kerjakan sejak kecil sekali.

Maka dari itu, belajar menari ini bagian dari proses pengenalan satu kegiatan yang baik buat Arden. mana tau dia benaran suka dan menjadi penari. Ya enggak ada salahnya toh. Mau menjadi koki pun boleh. Kalau dia mau menjadi model pun boleh. Apalagi mau menjadi Antropolog, ya boleh banget. Menarilah nak, mungkin suatu hari kau bisa menari-nari dalam menghadapi hidup ini. Tak jadi soal buatku, kau mau melakukan kegiatan apa, asal baik untukmu.

Pertanyaan Mengejutkan dari Anak Berumur 4 Tahun 10 Bulan

 

Suatu kali Arden pernah menangis terseduh-seduh ketika burung yang baru dibelinya telah mati dan dikerubungi semut. “Burungmu telah mati, dia harus dikuburkan,” Arden sedih bukan kepalang saat itu sampai berurai air mata. “Ayah kenapa burung yang mati harus dikubur?” Gleghh seperti mau menelan ludah, pertanyaan ini membuatku berpikir sebentar. “Ehm kenapa ya?”

Wahai kamu Ayah dan Ibu mungkin anak anda juga pernah mengajukan pertanyaan “mengejutkan” yaitu pertanyaan yang bikin bingung orang tua dan tidak bisa langsung dijawab. Seperti pertanyaan yang pernah terlontar dari Arden.

Kenapa ibu terus berkerja? Kenapa aku enggak boleh ikut Ibu berkerja?

Aku pengen punya adik? Ayah bisa membuatnya enggak?

Kenapa aku sekolah, ayah enggak pernah sekolah?

Merdeka itu apa? Penjajahan itu apa?

Sedikit pertanyaan dari pertanyaan lainnya yang kadang bikin garuk-garuk kepala. Berbicara, Arden sering sekali mengajak Ayah dan Ibu berbicara dan tentu saja berujung pada sebuah pertanyaan. Tetapi bagaimana kalau pertanyaan itu tidak sepenuhnya bisa dijawab?

Arden sering penasaran tentang banyak hal yang tak diketahuinya. Tetapi sebagai orang tua yang baru punya anak satu, sejujurnya tidak selalu memiliki jawaban. Sering kali ya “tiktaktiktuk” dan berpikir sejenak untuk menjawab pertanaan Arden. Ya kalau sudah tidak bisa menjawab, aku sering suruh Arden bertanya pada ibunya. Trik lainnya jawab sekenanya yang penting Arden diam dan tak bertanya lagi. Kalau sudah mentok, ya tinggal bilang, “Ayah enggak tahu, apa ya? Nanti ayah jawab ya,” kalau sudah begitu Arden sering tampak tidak puas. “Kenapa dijawab nanti, enggak sekarang?”

Disisi lain memang tidak bisa juga kalau menjawab pertanyaan sekenanya terus-menerus dan malah enggak dijawab, karena si kecil akan terus bertanya. Ya namanya lagi penasaran, anak kecil isa memberikan satu pertanyaan dan melahirkan pertanyaan lainnya.

Ketika bertanya tentang pekerjaan, Arden tampaknya belum mengerti jawaban dari kami tentang konsep “kerja” yang sedang dilakoni ayah dan ibunya. Yang Arden tahu, ya Ayahnya memang kerjanya sekali-kali saja dan ibu kerjanya harus sering-sering. Jawaban kenapa harus berkerja? Arden pasti menjawab, biar punya uang dan bisa jajan ke Indomart.

Paling lucu waktu dia bilang ingin punya adik, dan bertanya, “ayah bisa membuatnya, enggak?” Sukurnya ibunya membantu untuk menjawab, “kalau adik bayi dilahirkan dari perut ibu.” Tetapi ya belum dijelaskan bagaimana proses melahirkan adik bayi pada Arden. Karena dianggap belum waktunya, Arden masih terlalu kecil untuk mengerti adanya janin dan proses melahirkan.

Sebagian pertanyaan lainnya dari Arden tentu mudah dijawab. Seperti ketika bertanya Merdeka itu apa? Penjajahan itu apa? Malaysia Bebas dari penjajahan siapa? Kenapa Malaysia dijajah? Ya tentu itu bisa dijawab. Ayah kan sudah diajarin dari SD soal kemerdekaan dan penjajahan. Tetapi kalau pertanyaan tentang kematian? Seperti tentang kematian burung dan meninggalnya nenek ibunya? Jadi Uti (uyut putri) sudah enggak ada lagi? Aku menjelaskan padanya soal kematian. Namun, dia belum mengerti kalau burung dan manusia akan tiada pada waktunya.

Arden harus tahu tidak semua pertanyaan bisa dijawab

Aku pikir memang tak semua harus dan bisa dijawab. Kalau pertanyaan masih mudah dan dianggap bisa diterima oleh Arden, ya barulah dijawab. Masalahnya kalau semua dijawab dan ternyata sebagian jawaban adalah penjelasan yang salah, bisa gawat. Apalagi kalau dijawab dengan “oh”. Oh itu pertanda ya sudah tidak nanya lagi, tetapi dia mengerti atau tidak hanya dirinya yang tahu.

Kadang kalau sudah enggak bisa memberikan jawaban, ya balikin saja pertanyaannya ke Arden, misalnya, “kalau menurut kamu yang mati harus dikubur atau enggak?” Arden biasanya membalas lagi pertanyaan seperti itu, “Ya dikurburlah.” Menurutku hal itu bagus, jadi anak belajar menjawab dengan versinya sendiri. Dia menjadi belajar berpikir dan tetap harus ada penjelasan tambahan dari orang tua.

Ayah Bukanlah Kunci Jawaban

Ketidaktahuan dan tidak selalu memberi jawaban bisa menunjukkan pada Arden kalau Ayah bukanlah orang yang sempurna. Anak harus belajar tidak semua yang dia pikirkan akan menerima jawaban. Lagian ngapan maksa kalau memang enggak bisa menjawab pertanyaan dari anak. Hal terpenting dari semua proses tanya dan menjawab antara orang tua dan anak adalah melihat kemampuan berpikir si anak dan anak belajar tentang kemampuan si ayah. Asal jangan anak menganggap, “kok ayah banyak enggak tahunya sih.” Beri pemahanan juga Ayah bukanlah orang yang serba tahu dan bukan kunci dari semua jawaban.

Tahun demi tahun anak terus berkembang. Anak terus menunjukkan peningkatan kemampuan berkomunikasi dengan kedua orang tua. Aku melihat Arden merasa lebih didengar dan tak sungkan langsung bertanya bila ada hal yang ingin diketahui. Anak menjadi merasa nyaman untuk terus bicara. Pada prosesnya, anak belajar memahami dan belajar mengerti tentang begitu banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak semuanya bisa dijawab oleh orang tua.

Ade Cape, Udah 12 kali terjatuh

Dihalaman rumah terdengar suara sedih…

Arden : huhuhu ayahhhh huhuhu
Ayah : jatuh lagi jatuh lagi. Asik kalilah jatuh tuh
Arden : huuhuhu
Arden : iya jatuh lagi gara gara si Uta
Ayah : kalo jatuh jangan salahkan orang. Salah kan diri sendiri…

10 menit kemudian sudah diam
Arden : sakitnya tangan ini yah
Ayah : jangan jatuh lagi
Arden : Ade pun enggak mau jatuh lagi. Capelah
Ayah : iyalah ayah pun cape dengar ade nangis terus
Arden : ade bukan cape nangis. Cape jatuh. Ade udah hitung ada 12 kali jatuh
Ayah : Hahaha… yang jatuh ini udah dihitung
Arden : iya sama yang jatuh tadi 12 kali.
Ayah : Bagussss

Ayah Enggak Perhatian Sama Aku…

Dua teman Arden datang berlari ke rumah…
Dua teman : Ayah Ade, itu si Ade jatuh berdarah-darah…
Ayah : Dimana?
Dua teman : Dikuburan (Kompak dah)
Lalu ngekor dua temannya ke kuburan

Arden : Huhuhuhu, kakiku berdarah ayah…
Ayah : Kenapa berdarah?
Arden : Jatuh di jalan kuburan… huhuhu…
Ayah : Kenapa bisa jatuh?
Arden : Abisnya Ayah enggak perhatian sama aku. Aku lari-larian aja sama teman-teman.
Ayah : Enggak perhatian? Ayo pulang.

Siasat biar enggak kena marah yang terlaluuu… Ayahnya dibilang enggak perhatian. Dasar Anak Kecil.

Kami Anak Malaysia Sudah Merdeka

Arden sedang senang menonton Upin dan Ipin sebulan terakhir. Film Thomas and Friends dan Cars sudah berlalu dan tak ditonton lagi seiring dengan rusaknya DVD bajakannya. Kemarin hari senin itu, ia pun menonton Upin dan Ipin seri hari kemerdekaan Malaysia di youtube. Aku tak begitu tahu jelas isinya dan memang sudah mulai bosan menonton Upin Ipin bareng Arden setiap hari.

Setelah menonton Arden pun bertanya apa itu Kemerdekaan. Sudah begitu banyak tanya bersama Arden, kali ini soal Kemerdekaan pula yang mau ditanyanya.

Arden : Ayah bagus ih lagu kemerdekaan Upin Ipin
Ayah : ho. Nyanyi atuh kalo bagus. 
Arden : Kemerdekaan teh apa?
Ayah : hm… (tiktuktiktuk mikir lagi) 
Arden : Katanya bebas dari Inggris.
Ayah : Ya itu bebas dari Inggris.
Arden : inggris itu apa?
Ayah : Negara gitu kayak Indonesia…
Arden : oh… (lalu pergi) dan nyanyi…

Kami anak Malaysia sudah merdeka. Merdeka dari penjajahan Inggris…

Ia sudah menghafal lagunya, aku sih lucu mendengar Arden menyanyi begitu. Tetapi dibalik rasa lucu itu, Arden menyebutkan “kami anak Malaysia sudah merdeka.” Ya salam Upin dan Ipin kartun dari negeri jiran ini telah berhasil membuat anakku menjadi anak Malaysia. Arden adalah anak Malaysia.

Kelucuan ini tentu bisa diambil hikmahnya, kalau film kartun Malaysia lebih mengena di hati anak sekecil Arden. Kartun Upin-Ipin yang adegannya penuh keceriaan dan banyak kejadian seru sehari hari di dalamnya. Jangankan adegan menyanyi dan lagu kemerdekaan tadi, logat khas melayunya pun bisa ditiru sama Arden. “Ayah, nak minum. Betul-betul-betul,” katanya suatu kali bicara seperti Upin dan Ipin.

Sebagai orang yang berlogat melayu dari tanah Deli alias dari kota Medan sih aku senang diajak bicara begitu. Tetapi kalau gara-gara Upin-Ipin anakku jadi anak Malaysia? Mau jadi apa nasibnya sebagai generasi penerus Indonesia.

Film kartun Upin Ipin jelas-jelas berhasil mempengaruhi Arden. Kalau sudah begini. Nak jadi anak Malaysia lah budak nih.

Wahai pembuat film kartun bisakah kalian buatkan seri kartun Indonesia yang semenarik Upin dan Ipin biar anakku tidak merasa sebagai anak Malaysia?

 

Iklan Susu dan Keinginan Arden Dibaliknya…

Iklan di televisi… >>>> Mau tinggi dan banyak akal? Minum susu ini…

Arden : Ayah-ayah lihat itu, katanya bisa tinggi-tinggi. Semua orang juga bisa tinggi ya yah. Enggak minum susu juga.
Ayah : Ya kalau minum banyak-banyak lama-lama bisa tinggi.
Arden : Tapi kan Ade juga udah lama enggak minum susu juga tinggi. Bohong ya yah iklannya.
Ayah : Ya….. (sambil mikir)….
Arden : Atuh kalo bisa bikin tinggi, beli atuh susu kotak lagi atuh Ayah. Ade juga pengen…
Ayah: Oalah… Kamu pengen beli susu kotak kayak anak bayi lagi?
Arden : Katanya biar tinggi… Beli atuh ayah…

Namaku Arden

“Namanya siapa?” Lalu, ia selalu melihat muka ayah atau ibunya. “Nama aku Arden,” jawabnya singkat. Arden selalu tampak ragu kalau ditanya soal namanya, ia jarang melapal namanya sendiri. Ia lebih sering menyebut dirinya Ade dan sebagian kerabat memang dengan sebutan Ade pula. Setelah masuk PAUD, aku dan ibunya mulai mengajarkannya menyebut namanya. Nama depannya saja, “Arden”.

Arden memiliki nama lengkap yang panjang, yaitu Arden Naufal Narayanasrama Harahap. Nama itu berarti Lelaki baik hati yang diturunkan ke bumi. Doaku dan istriku, dia menjadi seorang yang mudah bergaul dan berlaku baik pada semua orang yang dikenalnya. Setelah nama disematkan pada dirinya, barulah disadari kalau nama itu terlalu panjang ditambah nama marga yang tak boleh lepas dari dirinya sebagai seorang lelaki batak. Marga Harahap sebagai identitas yang tak akan lekang sampai berapa turunan pun.

Arden berbeda dari sepupunya yang lain yang diberi nama bernuansa Islam. Aku sengaja menjauhkan nama anakku dari nama-nama Islam, agar Arden seperti namanya lebih memiliki sifat terbuka. Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan tanpa terpengaruh sisi-sisi keagamaan. Aku berharap sekali dia menjadi seorang yang bisa berada diantara semua orang tanpa sekat keagamaan.

Untuk menguatkan hal tersebut, aku dan istri mengajarinya tentang agama yang berbeda. Arden sering terpukau indahnya pohon natal dan lampu lampion kalau lagi jalan-jalan ke mall ketika bertepatan dengan perayaan hari raya keagamaan. Bagiku, Arden lebih baik mengenal agama lain  daripada tidak tahu dan lalu membenci agama dan kepercayaan yang berbeda kelak.

Menjadi Lelaki baik hati

Dasar belajar Arden dari kami adalah tentang sisi kebaikan bagaimana berbuat kepada orang lain. Jadi fondasinya bukan agama. Aku sendiri lebih konsen mengenalkan Arden tentang baik dan tidak baik. Bagaimana dia bersikap terhadap temannya, menghormati kakek-neneknya, dan selalu ramah pada tetangga sebelah rumah. Setelah itu, terserah Ardenlah dia mau belajar dari mana kelak menabalkan sisi-sisi kebaikan itu. Tugasku sebagai orang tua mengenalkannya pada banyak hal, bukan memaksanya berkutat pada sisi-sisi tertentu saja.

Arden sudah menjelang 5 tahun, puji sukur perkembangannya sesuai harapan. Dia suka bermain sama teman-temannya tanpa melukai, berbagi biscuit mari sampai benar-benar ludes, dan berbagi maianannya pada Uta, Kevin, Igri, Atan, dan teman lainnya. Jadi ingat ibu-ibu warung sering bilang sama ibunya kalau Arden keseringan membagi uang jajannya sama teman-temannya. “Pantes aja bolak-balik dua rebu,” jawabku tak mau ambil pusing soal itu. Namanya juga anak-anak dan bersukurlah dia mau berbagi.

Sekian dan Kehabisan Ide

Mau nulis lagi panjang-panjang tentang nama Arden dan harapan dibaliknya, tetapi kehabisan ide. Ya segitu ajalah dulu. Tulisan ini untuk minggu tema #1minggu1cerita. Sebagian besar tulisan ini adalah dari sisi Ayah  dan dari sisi ibu tentu berbeda. Dari dua berbeda, sepasang orang tua yang akan mendidik Arden hingga dewasa kelak.

Uti, Burung, dan Semut yang Meninggal

 

Ayah : Siap-siap kita mau ke Cianjur, Uti meninggal. Tunggu Ibu pulang dulu.
Arden : Ha? enggak ih ayah, Uti sakit bukan meninggal.
Ayah : Tadi kata ibu dari hape Uti meninggal.
Arden : Cuma sakit enggak meninggal.
Ayah : Ya abis sakit meninggal.
Arden : Kalo Uti meninggal kasihan ayah?
Ayah : Nanti doain sama Kamu.
Arden : Kalo meninggal dikubur ya yah, kayak burung aku kemarin.
Ayah : Iya. Dikubur. Tapi enggak semua yang mati dikubur.
Arden : Ha? Kenapa enggak dikubur. Emang apa yang meninggal enggak dikubur?
Ayah : Itu semut. Pas kamu matiin enggak kamu kubur. Malah kamu sapu.
Arden : Kasihan ya semut. Kalo besok kita kubur ya yah.
Ayah : Enggak bakal di sapu lagi?
Arden : Atuh kalo susah mah sapu aja.
Ayah : Tralalalalala….