Beli Jus Mangga Atuh Yah

Arden : Ayah apa Ade boleh beli jus mangga
Ayah : kan ada jus alpukat di kulkas
Arden : enggak sama itu mah yah. Mangga sama alpukat ga sama
Ayah : Sama sama dijus
Arden : jus mangga kan ga sama dengan jus alpukat
Ayah : sama atuh
Arden : Ya udah atuh (kebelakang ambil aqua botol di kulkas). Ade minum air putih aja kalo ga boleh beli jus mangga
Ayah : Ai kamu kan ada jus alpukat.
Arden : ga papalah yah. Minum air putih aja
Ayah : ( Jadi te tega)
Igri : Ade ga beli jus mangga?
Arden : Ga papa ade mah minum air putih aja.
Ayah : Aduh kamu ya bikin te tega.
Arden : Enak air putih juga yah. Ga papa
Ayah : Udah sana ini dua rebu beli jus mangga
Arden : Ai ayah mana ada jus dua rebu
Igri : Hahaha… atuh ayah Arden, jus mah lima rebu
Arden : Ya udah atuh minum air putih lagi
Ayah : Nah atuh… lima rebu. Kamu mah jajannya banyak pisan…
Arden : Ade mah ga papa kalo ga boleh juga beli jus mangga. Minum air putih aja…
Ayah : Ya udah sana beli jus mangga. Lima rebu na kan udah dikasih…
Arden : Atuh dua rebunya jangan diambil lagi…
Ayah : Arghhhh
Arden : Makasih ya yah…

Karunyak pisan ningali minum cai heurangna… 😅😅😅

Anak yang Lahir dari Perbedaan

Jadi Nak, kau itu lahir dengan 2 identitas. Margamu sangat jelas menunjukkan dikau batak dari garis ayah, identitas pertama. Sedangkan, identitas kedua dari ibumu dengan suku sunda. Bahasa sehari-harimu itu loh, dikau sudah mulai pinter berbahasa Sunda. “Bade botram ayah diimah Putra,” suatu kali katamu waktu kutanya kenapa bawa-bawa piring ke luar rumah.

Arden yang masih kecil, suatu saat nanti kau akan tahu pentingnya marga yang tersemat di nama dan menjadi identitasmu. Suatu saat pula, kau akan tahu penting jua menggunakan bahasa sunda di tanah priangan ini. Dua identitas itu akan membantumu berbaur bersama yang lain, dengan banyak orang berbeda.

Wahai si batak kecil yang berbahasa Sunda besyukurlah kau lahir dalam dua suku berbeda. Kelak kau akan mengerti begitu banyak perbedaan di negeri ini. Aku selalu berdoa kau diberi kesempatan mengenal banyak keberagaman di negeri ini. Agar matamu dan pikiranmu jauh lebih terbuka tentang perbedaan.

Oh ya satu lagi, Agamamu dengan segala pemahamanmu nanti pasti akan berbeda dengan orang lain. Aku mewanti-wanti sisi agama ini tidak membuatmu merasa paling oke diantara agama lainnya. Semua akan berbeda Arden. Tak ada yang sama di dunia ini.

#KamuPancasila #AkuPancasila #KitaPancasila

Penumpang Cape

 

Setelah berkunjung ke RS menjenguk uwa yang juga Harahap seperti ayah. Kami jalan-jalan ke mall di bogor dan pulang naik angkot colt-elf angkutan umum yang kata orang kayak jet daratnya sukabumi… Arden pun bertanya-tanya ketika supir lama ngetem.

Arden : Ayah ini mobil colt enggak jalan-jalan ke mana supirnya?
Ayah : Itu di luar nunggu penumpang satu lagi
Arden : mau duduk dimana lagi yah? (Melihat colt sudah penuh).
Ayah : Tuh, masih bisa nyempil. Emang kenapa cari supir
Arden : itu supirnya ga tahu penumpang cape ya yah…
Ibu : Hahaha… penumpang cape kayak orang tua aja.
Arden : Ade kan penumpang. Penumpang cape
Ayah : hihihi… asik ya jalan jalan tadi
Arden : Yah, kenapa ke mall tadi jalan jalan doang? Ga ada belanja-belanja
Ayah : kan ayah bilang, kita jalan-jalan ke mall bukan belanja-belanja…
Arden : Ayah mah ade cape jalan ke mall pegang pegang sepatu kirain mau beli. Taunya jalan jalan doang.
Ayah : Ayah kan… (belum selesai ngomong)
Arden : Iya atuh, bilang aja ayah belum punya uang. Hayoo we jalan jalan.
Ayah : Nah itu kamu tahu…
Arden : Ade cape ah. Penumpang cape..

Kata Ibu guru jangan ke warnet

Arden : Ayah, tadi teman Ade, dibilang ibu guru jangan ke warnet
Ayah : Warnet? Tau dari siapa?
Arden : Masa ayah enggak tau warnet. Teman Ade aja tau.
Ayah : Emang kamu tahu?
Arden : Tahulah… itu tempat anak-anak nakal itu loh yah. anak-anak yang suka main di jalan.
Ayah : ??? Ya makanya jangan jadi anak nakal. Jangan main ke warnet.
Arden : Mending jajan es krim ya yah. Enggak usah ke warnet. mumpung ibu kerja. Sedaaappp… yuk yah…
Ayah : Alahhh banyaklah alasan. Bilang aja pengen eskrim.

Aku sebetulnya sudah bisa menebak kalau Arden bukan mau membahas warnet semata. Ia pengen banget beli eskrim. Maklum, ia sudah tiga minggu tidak boleh makan eskrim. Ibunya sudah melarang, karena baru sembuh dari sakit. Sumber penyakitnya ada di tenggorokan. Anak sekecil Arden mengalami sakit radang tenggorokan sampai panas dingin; malam panas, siang dingin suhu badannya. Bikin khawatir sampai berobat dua kali dalam seminggu.

Arden mulai belajar bagaimana mengutarakan keinginannya dengan memulai obrolan dari topik pembicaraan yang lain dulu. Ya kalau kata orang tua “basa basi lo ah.”

Dari awal pembicaraan soal warnet, Arden memang sudah tahu beberapa temannya sering main ke warnet. Tetapi bagaimana rupa dan bentuk warnet itu, dia tentu tak tahu. Apalagi kata guru dan temannya letak warnet ada di pinggir jalan utama desa, Arden pasti tak berani mengikuti temannya bermain ke sana.

Aku sering memberi peringatan, “jangan sampai ketahuan sama Ayah main ke Jalan.” Lalu, dipikirannya kalau anak yang main ke jalan itu pastilah anak nakal. Karena anak nakal itu sudah berani berbohong sama orang tua. Nakal dipikirannya itu identik dengan kebohongan. Anak berbohong adalah anak nakal. Sukurlah, Arden mengerti maksud dari kata “bohong”.

Eskrim Rahasia

Kalau pembicaraan soal eskrim sih sering seperti obrolan rahasia antara ayah dan anak lelaki. “Kita beli aja eskrim mumpung ibu enggak tahu,” aku sering terkekeh kalau Arden mengatakan itu sambil berbisik, padahal enggak ada orang lain di rumah. Ini rahasia! Jadi harus berbisik ngomonginnya. Kalau ada yang tahu, takutnya dikasih tahu ke ibu. Padahal mah, Ayahnya yang ngasih tahu kalau anak kecil abis makan eskrim.

Pembicaraan rahasia antara ayah dan anak lelaki ini berdampak pada kedekatan ayah dan anak. Anak berusaha mendapat jaminan kalau ada sesuatu hal yang tidak harus diketahui oleh ibu. Kalau tahu ya kena marah. Sedangkan sama ayah, sebagian besar larangan ibu menjadi “boleh” dan larangan cenderung longgar. Jadilah Ayah dan anak sering makan eskrim berdua. Malamnya baru ketahuan kalau ada sampah bekas eskrim di tong sampah.

Nah kalau rahasia itu tidak bohong, karena diketahui oleh Ayah. Kalau nanti ibu tanya, siapa yang makan eskrim ya Arden tinggal jawab, “kata ayah boleh. Beli satu-satu.” Sekian habis perkara. Soal ayah kena marah selanjutnya, ya rasakan aja sendiri diomelin sama ibu.

Menarilah Nak

 

Sore hari, selasa (28/03) selagi penyembuhan dari sakit, Arden dipanggil oleh Ibu gurunya. Rupanya ada latihan menari. Kukira Arden akan menolak diajak menari, tetapi taraaaa “temani ade yuk yah.” Jadilah sore itu mengikuti ajakan ibu guru berlatih tari di halaman PAUD Al-Metallica. Aku tidak tahu itu musik apa yang menjadi latar latihan tari, karena berbahasa sunda dan baru pertama kali mendengar. Tetapi kalau dari latihannya, seperti ada pelakon memegang bendera dan ada yang menjadi aki-aki (seorang kakek). Entahlah ini tarian apa namanya.

Kalau tugas Arden ditarian itu menggoyangkan bendera ke kanan dan ke kiri sambil menganggkat kaki bak orang gerak jalan. Tidak lupa pula berlenggak lenggok pantatnya. Arden terlihat senang berlatih tari sore itu. Tak tampak lagi sakit panas dingin seminggu yang dideritanya. Tawa riang dan suara ramai bersama teman-teman sekolah mengiring latihan sore itu.

Melihat Arden berlatih tari begitu ingatlah aku waktu TK dulu. Aku tak seriang Arden dan cenderung pendiam. Dalam diam mengikuti semua alunan lagu “dinding ma rinding” dari Sumatera Barat. Tawa riang Arden juga membuatku sadar, “hei kamu sudah tambah besar nak” senyum-senyum sendiri dan sadar diri kalau sudah punya anak yang mau berumur 5 tahun bulan Mei nanti.

Aku senang melihat Arden tertarik melakukan banyak hal yang belum pernah dia coba, termasuk berlatih tari ini. Kalau di rumah sih, dia sering menari-nari dengan gerakan tak beraturan. Kadang, aku pula yang mencontohkan dirinya goyang-goyang dan tertawa berdua di siang bolong. Menjadi teman berjoget saat hanya ada aku dan Arden di rumah.

Ku pikir memang ada baiknya dari kecil, seorang anak kecil seperti Arden mencoba beragam hal. Arden sudah bisa memasak, sudah bisa mengepel, sudah bisa menyiram pohon cabai, dan kali ini mencoba latihan tari. Orang tua mana yang tak senang ketika melihat pertumbuhan anak tanpa masalah dan berkembang seperti orang kebanyakan.

Menjadi Penari pun Boleh

Sedari kecil, aku dan Fey sudah bersekongkol kalau arden boleh menjadi apa saja. Kalau menjadi penari pun boleh. Untuk pengenalan ragam pekerjaan pun, kami mengenalkan banyak hal. Seperti pekerja kantoran layaknya ibunya yang setiap hari bekerja di kantor, supir kereta api di stasiun, koki di warung makan, sampai pedagang keliling pun kami kenalkan sebagai pekerjaan. Agar kelak Arden tak seperti orang tuanya, ya cita-citanya sebatas menjadi dokter dan insinyur. Eh tahunya malah tidak kesampaian. Mengenalkan arden hal-hal yang mungkin bisa dia kerjakan sejak kecil, aku pikir ada baiknya. Ada loh sepupu Arden yang masih SD sudah tahu mau menjadi penulis dan pelukis. Mereka punya cita-cita dari apa yang mereka sudah kerjakan sejak kecil sekali.

Maka dari itu, belajar menari ini bagian dari proses pengenalan satu kegiatan yang baik buat Arden. mana tau dia benaran suka dan menjadi penari. Ya enggak ada salahnya toh. Mau menjadi koki pun boleh. Kalau dia mau menjadi model pun boleh. Apalagi mau menjadi Antropolog, ya boleh banget. Menarilah nak, mungkin suatu hari kau bisa menari-nari dalam menghadapi hidup ini. Tak jadi soal buatku, kau mau melakukan kegiatan apa, asal baik untukmu.

Kami Anak Malaysia Sudah Merdeka

Arden sedang senang menonton Upin dan Ipin sebulan terakhir. Film Thomas and Friends dan Cars sudah berlalu dan tak ditonton lagi seiring dengan rusaknya DVD bajakannya. Kemarin hari senin itu, ia pun menonton Upin dan Ipin seri hari kemerdekaan Malaysia di youtube. Aku tak begitu tahu jelas isinya dan memang sudah mulai bosan menonton Upin Ipin bareng Arden setiap hari.

Setelah menonton Arden pun bertanya apa itu Kemerdekaan. Sudah begitu banyak tanya bersama Arden, kali ini soal Kemerdekaan pula yang mau ditanyanya.

Arden : Ayah bagus ih lagu kemerdekaan Upin Ipin
Ayah : ho. Nyanyi atuh kalo bagus. 
Arden : Kemerdekaan teh apa?
Ayah : hm… (tiktuktiktuk mikir lagi) 
Arden : Katanya bebas dari Inggris.
Ayah : Ya itu bebas dari Inggris.
Arden : inggris itu apa?
Ayah : Negara gitu kayak Indonesia…
Arden : oh… (lalu pergi) dan nyanyi…

Kami anak Malaysia sudah merdeka. Merdeka dari penjajahan Inggris…

Ia sudah menghafal lagunya, aku sih lucu mendengar Arden menyanyi begitu. Tetapi dibalik rasa lucu itu, Arden menyebutkan “kami anak Malaysia sudah merdeka.” Ya salam Upin dan Ipin kartun dari negeri jiran ini telah berhasil membuat anakku menjadi anak Malaysia. Arden adalah anak Malaysia.

Kelucuan ini tentu bisa diambil hikmahnya, kalau film kartun Malaysia lebih mengena di hati anak sekecil Arden. Kartun Upin-Ipin yang adegannya penuh keceriaan dan banyak kejadian seru sehari hari di dalamnya. Jangankan adegan menyanyi dan lagu kemerdekaan tadi, logat khas melayunya pun bisa ditiru sama Arden. “Ayah, nak minum. Betul-betul-betul,” katanya suatu kali bicara seperti Upin dan Ipin.

Sebagai orang yang berlogat melayu dari tanah Deli alias dari kota Medan sih aku senang diajak bicara begitu. Tetapi kalau gara-gara Upin-Ipin anakku jadi anak Malaysia? Mau jadi apa nasibnya sebagai generasi penerus Indonesia.

Film kartun Upin Ipin jelas-jelas berhasil mempengaruhi Arden. Kalau sudah begini. Nak jadi anak Malaysia lah budak nih.

Wahai pembuat film kartun bisakah kalian buatkan seri kartun Indonesia yang semenarik Upin dan Ipin biar anakku tidak merasa sebagai anak Malaysia?

 

Iklan Susu dan Keinginan Arden Dibaliknya…

Iklan di televisi… >>>> Mau tinggi dan banyak akal? Minum susu ini…

Arden : Ayah-ayah lihat itu, katanya bisa tinggi-tinggi. Semua orang juga bisa tinggi ya yah. Enggak minum susu juga.
Ayah : Ya kalau minum banyak-banyak lama-lama bisa tinggi.
Arden : Tapi kan Ade juga udah lama enggak minum susu juga tinggi. Bohong ya yah iklannya.
Ayah : Ya….. (sambil mikir)….
Arden : Atuh kalo bisa bikin tinggi, beli atuh susu kotak lagi atuh Ayah. Ade juga pengen…
Ayah: Oalah… Kamu pengen beli susu kotak kayak anak bayi lagi?
Arden : Katanya biar tinggi… Beli atuh ayah…

Namaku Arden

“Namanya siapa?” Lalu, ia selalu melihat muka ayah atau ibunya. “Nama aku Arden,” jawabnya singkat. Arden selalu tampak ragu kalau ditanya soal namanya, ia jarang melapal namanya sendiri. Ia lebih sering menyebut dirinya Ade dan sebagian kerabat memang dengan sebutan Ade pula. Setelah masuk PAUD, aku dan ibunya mulai mengajarkannya menyebut namanya. Nama depannya saja, “Arden”.

Arden memiliki nama lengkap yang panjang, yaitu Arden Naufal Narayanasrama Harahap. Nama itu berarti Lelaki baik hati yang diturunkan ke bumi. Doaku dan istriku, dia menjadi seorang yang mudah bergaul dan berlaku baik pada semua orang yang dikenalnya. Setelah nama disematkan pada dirinya, barulah disadari kalau nama itu terlalu panjang ditambah nama marga yang tak boleh lepas dari dirinya sebagai seorang lelaki batak. Marga Harahap sebagai identitas yang tak akan lekang sampai berapa turunan pun.

Arden berbeda dari sepupunya yang lain yang diberi nama bernuansa Islam. Aku sengaja menjauhkan nama anakku dari nama-nama Islam, agar Arden seperti namanya lebih memiliki sifat terbuka. Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan tanpa terpengaruh sisi-sisi keagamaan. Aku berharap sekali dia menjadi seorang yang bisa berada diantara semua orang tanpa sekat keagamaan.

Untuk menguatkan hal tersebut, aku dan istri mengajarinya tentang agama yang berbeda. Arden sering terpukau indahnya pohon natal dan lampu lampion kalau lagi jalan-jalan ke mall ketika bertepatan dengan perayaan hari raya keagamaan. Bagiku, Arden lebih baik mengenal agama lain  daripada tidak tahu dan lalu membenci agama dan kepercayaan yang berbeda kelak.

Menjadi Lelaki baik hati

Dasar belajar Arden dari kami adalah tentang sisi kebaikan bagaimana berbuat kepada orang lain. Jadi fondasinya bukan agama. Aku sendiri lebih konsen mengenalkan Arden tentang baik dan tidak baik. Bagaimana dia bersikap terhadap temannya, menghormati kakek-neneknya, dan selalu ramah pada tetangga sebelah rumah. Setelah itu, terserah Ardenlah dia mau belajar dari mana kelak menabalkan sisi-sisi kebaikan itu. Tugasku sebagai orang tua mengenalkannya pada banyak hal, bukan memaksanya berkutat pada sisi-sisi tertentu saja.

Arden sudah menjelang 5 tahun, puji sukur perkembangannya sesuai harapan. Dia suka bermain sama teman-temannya tanpa melukai, berbagi biscuit mari sampai benar-benar ludes, dan berbagi maianannya pada Uta, Kevin, Igri, Atan, dan teman lainnya. Jadi ingat ibu-ibu warung sering bilang sama ibunya kalau Arden keseringan membagi uang jajannya sama teman-temannya. “Pantes aja bolak-balik dua rebu,” jawabku tak mau ambil pusing soal itu. Namanya juga anak-anak dan bersukurlah dia mau berbagi.

Sekian dan Kehabisan Ide

Mau nulis lagi panjang-panjang tentang nama Arden dan harapan dibaliknya, tetapi kehabisan ide. Ya segitu ajalah dulu. Tulisan ini untuk minggu tema #1minggu1cerita. Sebagian besar tulisan ini adalah dari sisi Ayah  dan dari sisi ibu tentu berbeda. Dari dua berbeda, sepasang orang tua yang akan mendidik Arden hingga dewasa kelak.

Sepatu Baru (Bukan) Dari Ayah

Dari TK sampai SMA, aku biasanya bilang sama ayah kalau sepatuku sudah robek lah atau alas sepatunya sudah rusak atau kalau PUN belum rusak pengen beli yang baru Saja. Awak pengen kayak kawan-kawan awak punya sepatu baru. Waktunya membeli sepatu baru ya pas mau masuk sekolah lagi. Ajaran Baru! Setelah libur selesai. Kalau kata anak sekolah Medan “Usah abis pere kita, bentar lagi sekolah.” Beli sepatu itu ya satu tahun sekali. Rasanya sonang kalilah.

Aku dan adikku sebut saja namanya Asna, diboncenglah ke Toko Sepatu Bata. Letaknya tak jauh, kira kira 3 km dari rumah. Jadilah kami jadi tartig (tarik tiga) di kereta Honda Prima. Honda Jadul itu. Honda yang setia menemani Ayah kemana saja. Kereta Honda yang akhirnya hilang di Mesjid Taqwa, ketika ayah menghadap Tuhan.

Toko Bata itu dekat Super Market atau kayak Mall, “Aksara” namanya. Terakhir kali, Aksara berubah menjadi Ramayana. Lalu naas, beberapa tahun lalu kebakaran dan belum dibangun lagi waktu aku ke medan Januari lalu.

Pokoknya dekat Aksara situlah kami Beli sepatu. Ayah biasanya mengajak kami membeli sepatu pada malam hari. Karena kalau pagi sampai siang kami sekolah dan Ayah pasti sibuk dengan pekerjaannya, sebagai tukang bengkel di belakang rumah. Toko Bata itulah andalan kali. Kenapa Belinya di toko bata? Karena toko Bata itu banyak sepatu anak sekolah dan mayoritas sepatunya berwarna hitam. Warna sepatu wajib untuk sekolah. Sepatu hitam. Apalagi pas SMP dan SMA Negeri, kalau tak pakai sepatu hitam polos suka kena hukuman dari bapak dan ibu guru.

Kenangan bersama Ayah. Kenangan bersama ayah masih teringat jelas dan tentu membekas. Dia yang tak pernah bilang kalau sedang tak ada uang. Dia selalu menjawab “mari kita beli sepatu ke Bata.” Kalau Ayah bilang dulu, “beli disana itu sepatunya enggak cepat rusak.” Ayah selalu memberi yang terbaik buat anak-anaknya. Tak pernah mengatakan “tidak ada” dan selalu menyenangkan hati kami. Hal itulah yang ingin kulakukan pada anakku kelak.

Hingga waktu berlalu, aku pulalah yang diminta sepatu sama Arden

Arden sudah mulai besar seiring sepatu yang semakin sempit. Sepatunya menjadi kecil. Tak muat. Arden tentu butuh sepatu baru. Apalagi  sepatu yang disukai oleh Arden sudah rusak perekatnya, sudah tak nempel lagi. Ibalah hati Ibu melihatnya, “Arden mau kayaknya perlu sepatu baru ya.” Arden memang tampak kepayahan merekatkan sepatunya.

Lalu, Ibu pun menawarkan membeli sepatu dan disambut dengan senyum semanis senyuman Arden, “Iya bu, sepatu Ade sudah rusak. Mau beli yang baru di Yogya.” Dia bilang lengkap dengan nama tokonya. “Arden ingat waktu itu pernah beli sepatu sama ibu di Yogya,” kata ibunya padaku tanpa ditanya.

Kemarin, hari jumat (03/03), aku pun menemani anakku membeli sepatu. Aku menjadi ingat sama ayah. Dia selalu menemaniku. Kini Arden ditemani Ayahnya membeli sepatu. Aku membawanya ke Yogya Supermarket sesuai permintaannya. Arden selalu ingat janji orang tuanya. Kalau sudah dibilang mau pergi ke suatu tempat, ia pasti terus menagih.  Sampai di Yogya Supermarket yang letaknya di Kota Sukabumi, Arden langsung mencari dimana letak sepatu-sepatu itu berada. “Kok enggak ada ya yah?” Ternyata oh ternyata kami salah, kami malah masuk ke area baju anak yang berada di lantai I. Sedangkan, sepatu anak itu ya letaknya ada di lantai dua, “Tanya dulu atuh ayah, jangan langsung jalan aja.”

Berjalan ke lantai dua. Dari jauh sudah tampak sepatu anak-anak. Arden sumringah, “Itu Sepatunya Ayah.” Bayang-bayang masa kecil tiba-tiba datang, persis seperti aku membeli sepatu ditemani ayah. Muter-muter di toko, memilih satu per satu sepatu. Pada akhirnya membeli satu sepatu. Kan bisa sepatu yang lain dibeli tahun depan. “Aku mau beli warna hitam ya yah, yang ini yah yang bagus,”kata Arden dengan suara senangnya anak kecil. Sepatu warna hitam dengan sedikit warna putih pada bagiannya bawahnya. Rasa senangnya ditunjukkan dengan membolak-balik dipegangnya sepatu itu. Setelah dibayar, makan siang, dan pulang ke rumah kemudian.

Menjelang Magrib, Ibu pulang, “Ini sepatu barunya bu, bagus warna hitam.” Ibu tersenyum dan Arden tertawa. Ibu senang melihat sepatu baru juga. Lalu ibu berkata,“Ibu enggak dibeliin?” Arden menatap wajahku penuh rasa salah. “Kan ibu enggak bilang minta beliin sepatu,” kemudian Arden membawa mencoba sepatunya.

Hari ini, meskipun ibu sibuk dan tak bisa membawa Arden membeli sepatu. Sesungguhnya rasa terima kasih harus dilayangkan kepada ibu. Karena uang membeli sepatu itu dari ibu, bukan dariku. Bukan dari Ayah. Kalau uang dariku ya untuk membeli sepatu tahun depan sajalah. Jadi jelas, ini sepatu baru bukan dari Ayah. Kapan-kapan nanti kita beli sepatu baru lagi.

Aku Malu Kalau Pergi Sekolah Lagi

Bermain bersama teman

 

Sejak hari senin, (27/02/2017), Arden mau sekolah lagi. Akhirnya setelah dengan berbagai cara dia mau sekolah lagi. Sekolah Arden adalah sekolah PAUD. Bukan SD, umurnya juga baru 4,5 tahun. Sejak Januari selepas kepulangan dari Medan bertemu Opung, Arden memutuskan tidak mau sekolah dulu dengan berbagai alasan, dari yang masih cape dari Medan, sakitlah, belum mau sekolahlah, sampai akhirnya diketahui kalau dia malu. “Aku malu sama teman teman, yah,” katanya setelah dikorek-korek sampai ngomong malu apa yang ia maksudkan.

Aku mau tertawa mendengarnya. Malu! Anak kecil sudah mengerti malu? Selidik punya selidik rupanya dia malu sama teman-temannya yang lain karena sudah tidak sekolah lebih dari seminggu. Apalagi sebelumnya pernah tidak sekolah sebulan lebih ketika aku sang ayah pergi ke NTT dalam rangka kerja. Jadilah dia bisa dibilang dua kali membolos sekolah dalam waktu yang lama.

Aku pikir harus tahu apa maksud dari malu itu. Rupanya eh rupanya, dia malu dikata-katain sama beberapa temannya “Arden mah jarang sekolah.” Bagi Arden kalimat tersebut seperti ejekan. Seperti dibilang “malas” atau “enggak mau pergi sekolah”. Padahal kan padahal, kita berlibur ke rumah nenek. Aku sebagai ayah ya santai saja, “kan emang jarang sekolah, kita kan ke rumah opung ke Medan.” Arden biasanya diam seribu bahasa setelah dibilang begitu.

Rupanya eh rupanya, Arden pengen dibela sama orang tuanya. Sama aku dan ibunya. Ia ingin Ibunya menemani ke sekolah supaya teman-temannya tidak ngomongin mulu kalau Arden jarang ke sekolah. Ibunya sudah bilang akan menemaninya, tetapi ternyata Arden butuh waktunya yang lama, hingga mau sekolah lagi. sampe dua bulan kemudian loh baru mau sekolah.

Aku baru mengerti dampak omongan seorang anak terhadap anak lainnya begitu sangat berpengaruh, sehingga anak enggan ke sekolah karena berulang kali diomongin dengan kalimat yang sama, “Arden jarang mau pergi ke sekolah.” Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Arden kasus bully atau tidak, tetapi Arden sudah merasa malu karena omongan temannya tersebut sampai enggak mau sekolah selama dua bulan.

Apa yang Terjadi Pada Anakku?

Lalu isenglah aku cek tentang kasus Bully ini di internet dan terutama ke situs KPAI dong dan disalah satu isi situsnya Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Advianti menyatakan bahwa kasus kekerasan terhadap anak sudah terjadi sejak playgroup itu artinya setara sekolah PAUD dong. Anak-anak di playgroup sudah bisa menghasut teman lainnya saat dia menganggap tidak cocok.

Jadi, kekerasannya itu melalui verbal alias omongan anak-anak tersebut. Hal ini harus diperhatikan, karena anak-anak yang masih balita tidak bisa membela diri. Seperti kata Arden, “Aku malu.” Lalu kalau tidak dicek apa penyebab malu tersebut, sebagai orang tua mungkin tak pernah tahu perasaan si anak hingga malu yang tak berujung.

Maria menjelaskan bahawa anak tidak akan mengatakan sedang dibully, Jadi si anak memendam perasaan dari apa yang dilakukan oleh temannya. Kalau kami selalu bertanya apa yang dilakukan di sekolah, meski ibunya juga pergi mengantar dan kadang ikutan sekolah juga. Kami mau Arden mengatakan banyak hal tentang apa yang dia alami dimana pun, termasuk di sekolah.

Tentang Kasus Bullying

Sebuah penelitian menyebutkan, anak-anak yang menjadi korban bullying tetap merasakan akibat kesehatan psikis dan mental dari pengalamannya lebih dari 40 tahun.Para peneliti dari King’s College London telah melakukan studi terhadap 7.771 anak-anak dari usia tujuh sampai 50 tahun. Orang yang memiliki risiko pernah dibully akan berisiko lebih tinggi mengalami depresi dan kecemasan. Lalu ada kemungkinan kualitas mengalami kualitas hidup yang lebih rendah pada usia 50 tahun. Nah ngeri ya akibat bully itu.

Ya, maka dari itu bagiku sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi pada Arden. Apalagi dia sampai tidak mau sekolah dalam waktu yang lama. Hingga, berbagai cara dilakukan agar dia mau pergi lagi ke sekolah, dari diajakin main, diberi jajan, diajak bicara, hingga menuruti keinginannya, yaitu ibu harus pergi ke sekolah juga. Ya jadi deh, ibunya harus turut ke sekolah dan menunggunya sampai selesai waktu bermain dan belajarnya.