Abangnya Ibu Siapa?

arden : ayah kapan aku ketemu abang aku, abang Raja
Ayah : besok kita ketemu
Arden : Aku punya abang ya yah?
Ayah : punya, itu abang raja.
Arden : ayah punya abang?
Ayah : punya dong. Itu ayahnya abang raja…
arden : oh. Ehm… Kalo ibu berarti abangnya itu ibu abang raja?
Ayah : bukan, itu kakaknya. Abang buat laki-laki.
Arden : yah, masa cowok boleh punya abang. Cewek enggak boleh punya abang…
Ayah : ya gimana ade aja deh. Pokoknya Ayah mah abang-abang.

Minta Kado Ultah dari Opung

Arden : Ayah, Kadonya mana?
Ayah : Kan udah kemarin.
Arden : Yahhh, ulang tahunnya sekarang kok kadonya kemarin.
Ayah : ????
Arden : Aku minta kado sama nenek opung lah di Medan.
Ayah : Waduh, kan udah…
Arden : Aku kan enggak minta sama ayah. Aku minta sama opung.
Ayah: Yah… Kumaha kamu ajalah….
Arden : Kumaha opung atuh… kan opung yang mau kasih kado…
Ayah: Eh lihat itu ada cicak (ngalihin perhatian)….

Ayah Enggak Bisa Berenang

sam_3071

Arden mulai ngerti kalau ayah tak bisa berenang. Setiap kali diajak nyebur, dipinggir mulu enggak pernah ke tengah. Ya iyalah enggak bisa berenang.  Masa iya, ayah dibiarkan tenggelam.

Arden : Ayah kenapa ga berenang?
Ayah : Takut basah ah
Arden : Berenang kan memang harus basah
Ayah : Ehm…
Arden : Ah kata Ibu juga Ayah engga bisa berenang
Ayah : ????

Melihat anak-anak samen, Arden semakin ingin sekolah…

 

Arden : Ayah aku jadikan mau sekolah?
Ayah : jadi. Nanti. Kalo udah buka pendaftaran. Ngapain kamu kayak buru2 mau sekolah.
Arden : Aku teh pengen bisa nyanyi. Ayah euy ga lihat samen sih. Ada teteh cantik bisa nyanyi…
Ayah : !??? Pengen sekolah karena pengen bisa nyanyi atau karena teteh cantik?
Arden : karena pengen nyanyi kayak teteh cantik, ayahhh..

Kok, Bou Nelli Harahap orang batak?

Arden yang masih kecil masih belum mengenali dari mana dia berasal. Ia seringkali enggak mau dibilang orang batak. Lebih mau dibilang orang Cianjur atau Sukabumi aja.

Arden : Ayah, apa bou yang tadi nelpon orang batak?
Ayah : Enggak tahu, kayak orang batak ngomongnya
Arden : Kenapa Ade, punya bou orang batak?
Ayah : ??? Emang kamu orang apa?
Arden : Aku orang… orang… orang apa ya…
Ayah : Kamu aja bingung kamu orang apa.
Arden : Atuh jangan orang batak atuh. Orang sukabumi aja. Masa aku punya bou orang batak…
Ayah : Hedew… Kamu juga orang batak…
Arden : Enggak, aku itu orang ha ra hap….
Ayah : Pas sudah… pas sudah…

Arden Mau ke Rumah Opung

 

Arden : Ayah, kalau ada uang dua rebu simpan ya.
Ayah : Buat jajan?
Arden : kan buat ongkos angkot buat ke rumah opung dan bou. katanya rumah bou sama opung dekat…
Ayah : Kan kamu tahu rumah opung dan bou dimana?
Arden : Iya di Medan kan. Pake ongkos dua rebu aja…
Ayah :…. (melipir ke dapur)

Tentang Pekerjaan Rumah yang Mungkin Tak Selesai

13876560_10210571205464151_464081413782949757_n

Arden dihadiahi tugas dibawa pulang semenjak sekolah. Untuk mengerjakannya tentu dia tidak bisa sendiri. Jadilah aku dan istriku bergantian mengerjakannya PR hampir setiap hari. Masalahnya, dalam proses pengerjaan PR ini sering kali terjadi drama. Untuk sang ibu mungkin agak merepotkan, sebab Arden senang mengerjakan PR menjelang pergi sekolah. Sementara dalam waktu yang bersamaan, sang ibu harus pergi ke kantor. Jadilah ibu sering emosi jiwa menghadapi lelaki kecil yang didoakan akan menjadi lelaki baik hati nantinya.

Seperti drama kemarin pagi, Arden tampak sengaja menghentikan proses pengerjaan PR nya. Alasannya ada saja, dari masih menonton film di tv, menonton kartun youtube, sampai belum selesai makan. Jadilah, sang ibu mulai murka dan Arden berlagak pura-pura tak terjadi apa-apa. Padahal dia tahu akan dimarahi. Sebagai ayah yang tak setuju adanya PR untuk anak PAUD ini, terpaksa ambil bagian dalam drama kehidupan ini. Diawali dengan pertanyaan ada PR apa, mau mengerjakan PR atau tidak, sampai terpaksa membantu Arden untuk mengerjakan PR. Ya aku membantunya, turut mengerjakan PR anak PAUD ini. Aku pikir Arden memang belum layak ditugasi pekerjaan rumah, walau sekedar menebalkan huruf dan mengikuti pola titik-titik.

14182663_10210919108761516_383856587_n

Drama semakin memuncak, kalau Arden sudah tampak mau menangis. Aku tak mau dia malah jadi stres gara-gara PR sekolah. Maka, Aku akan menuntunnya dan menggerakkan tangan kecilnya mengikuti pola huruf atau angka yang ditugasi oleh ibu gurunya. Semenjak ada PR ini suasana bukan malah menyenangkan melihat anak belajar, malah semakin ruwet. Karena Arden tampak sekali enggak suka mengerjakan PR nya.

Bagiku, tugas bagi anak PAUD ini memang mengganggu waktu bermain buat Arden. Arden tampak belum bisa fokus untuk mengerjakan PR. Melihat perilaku Arden, saya menjadi setuju bahwa anak-anak harus betul-betul siap untuk sekolah dan tentu saja mau mengerjakan PR secara mandiri. Untuk anak umur 4 tahu, rasanya belum muncul inisiatif untuk itu.

14182339_10210919092961121_1173256204_n

Masalah PR ini, aku menjadi ingat sebuah video tentang pendidikan di Finlandia dengan tagline besar NO HOMEWORK.  Tidak ada PR untuk anak sekolah tingkat dasar. Finlandia yang dikenal sebagai negara nomor satu dalam kualitas pendidikannya lebih menekankan belajar untuk anak-anak dengan metode bermain. Kabarnya untuk mata pelajaran tertentu dalam waktu tertentu, misal dalam 45 menit jam berlajar diselingi waktu istirahat selama 15 menit. Anak-anak memiliki waktu untuk mengisi dengan kegiatannya sendiri. Yang paling menarik dari pendidikan di sana, sekolah dasar menjaga beban pekerjaan rumah seminimum mungkin, kalau banyak diberita sih malah tiada pekerjaan rumah. Tanpa PR ini membuat anak-anak memiliki waktu untuk kegiatan hobi dan dapat bermain dengan teman-teman mereka sendiri diluar jam sekolah.

Justru tanpa PR ini menurutku lebih baik, terutama untuk anak umur 4 tahun. Si anak menjadi tak terpaksa mengerjakan PR dan orang tua tak terbebani apalagi harus beremosi ria menyuruh anak yang terlihat enggan menyentuh pinsil. Hampir setiap hari, Arden jelas tak mungkin menyelesaikan tugasnya kalau tak dipaksa dan tanpa ikut campur orang tua. Arden pun tampak belum mengerti apa yang sedang dia kerjakan. Sering pula dia bilang PR itu terlalu banyak, apalagi harus menyelesaikan sampai satu halaman penuh. Jadilah aku, istriku, menjadi orang pengganti untuk menyelesaikan PR tersebut atau PR tersebut mungkin tak pernah selesai.

 

Sumber Bacaan tentang pendidikan di Finlandia

http://edition.cnn.com/2014/10/06/opinion/sahlberg-finland-education/

 

TERI KECE PROMO SEPTEMBER

There is always something to be thankful for.

Sambal Teri Medan cocok untuk Anak Kos, Pekerja Kantoran, dan Ibu Rumah Tangga

Rasa :
– Sambal Merah
– Sambal Hijau

Harga
Sambal Teri Hijau/ Merah + Kacang Rp33.000
Sambal Teri Hijau/ Merah Tanpa Kacang Rp35.000
HARGA PROMO : Beli 3 toples harga @Rp31.500
Berat : 200gr/ kemasan toples

Produksi : Sukabumi
Jasa Pengiriman : JNE YES
Mau? Hubungi saja :
Fey
WA : 0857 9743 2260
SMS : 0857 9743 2260
BBM : 521AF7D1

https://www.facebook.com/Naya-Food-746536585369994/?fref=ts

Merdekalah 2000

IMG-20151215-WA0003

Merdekalah…

Pulang sekolah, Arden menunjukkan bendera kecil merah putih yang sudah robek. Bendera kecil yang dilem dengan sebatang sapu lidi. “Bendera ini ayah,” kami buat di sekolah, katanya seolah paham apa itu bendera. Digoyang-goyagkannya sedikit hingga lidi hampir mencolok matanya sendiri. “Hati-hati”, kataku. Dia tak menggubris dan terus saja menggoyangkan bendera merah putih dengan sebatang lidi itu.

Lari dia ke dalam kabar dan bertemulah dengan uang dua rebu yang disebutnya dengan uang besar. ‘Ayah aku nemu uang,” aku mau jajan. Aku tak bisa berkata banyak, kalau kuambil dia pasti menangis. Aku tak mau menjajah keriangannya. Lalu dia berlari tanpa mengucapkan salam seperti biasanya. Kubilang hati-hati pun dia tak mendengar. Ya nak, meredekalah. Jajanlah terus, itu menjadi 4 kali dua rebu yang kau minta dan ambil dari kamar. Merdekalah, karena masa kecil adalah masa Merdeka untuk jajan sesukanya.

Merdeka! Merdeka anak-anak negeri. Habis dah uang dua rebu!

Tragedi Uang 100

Suatu kali Arden pergi ke warung dengen pedenya membawa uang seratus rupiah yang berakhir dengan mewek dan pulang ke rumah. Saat itu pula, Arden mulai rajin jajan dengan uang dua rebu.

Sayup-sayup terdengar…

Arden: Ibu, huhuhu, aku jajan mau beli milo uangnya katanya enggak cukup
Ibu: Berapa uangnya kok enggak cukup, biasa juga cukup.
Arden : Seratus bu…
Ibu: Ya iyalahhh seratuss…

Tak lama mengadu ke Ayah
Arden: Coba Ayah katanya enggak cukup
Ayah: Ya iyalah uang 100
Arden : Huhuhu
Ayah: katanya cukup berapa buat beli milo
Arden : Dua rebu…
Ayah: Nih dua rebu…
Arden : Dua atuh ayah… Kan mau beli milo nya ge dua.
Ayah: Yah itu namanya enggak cukup bangetttt