Tentang Pekerjaan Rumah yang Mungkin Tak Selesai

13876560_10210571205464151_464081413782949757_n

Arden dihadiahi tugas dibawa pulang semenjak sekolah. Untuk mengerjakannya tentu dia tidak bisa sendiri. Jadilah aku dan istriku bergantian mengerjakannya PR hampir setiap hari. Masalahnya, dalam proses pengerjaan PR ini sering kali terjadi drama. Untuk sang ibu mungkin agak merepotkan, sebab Arden senang mengerjakan PR menjelang pergi sekolah. Sementara dalam waktu yang bersamaan, sang ibu harus pergi ke kantor. Jadilah ibu sering emosi jiwa menghadapi lelaki kecil yang didoakan akan menjadi lelaki baik hati nantinya.

Seperti drama kemarin pagi, Arden tampak sengaja menghentikan proses pengerjaan PR nya. Alasannya ada saja, dari masih menonton film di tv, menonton kartun youtube, sampai belum selesai makan. Jadilah, sang ibu mulai murka dan Arden berlagak pura-pura tak terjadi apa-apa. Padahal dia tahu akan dimarahi. Sebagai ayah yang tak setuju adanya PR untuk anak PAUD ini, terpaksa ambil bagian dalam drama kehidupan ini. Diawali dengan pertanyaan ada PR apa, mau mengerjakan PR atau tidak, sampai terpaksa membantu Arden untuk mengerjakan PR. Ya aku membantunya, turut mengerjakan PR anak PAUD ini. Aku pikir Arden memang belum layak ditugasi pekerjaan rumah, walau sekedar menebalkan huruf dan mengikuti pola titik-titik.

14182663_10210919108761516_383856587_n

Drama semakin memuncak, kalau Arden sudah tampak mau menangis. Aku tak mau dia malah jadi stres gara-gara PR sekolah. Maka, Aku akan menuntunnya dan menggerakkan tangan kecilnya mengikuti pola huruf atau angka yang ditugasi oleh ibu gurunya. Semenjak ada PR ini suasana bukan malah menyenangkan melihat anak belajar, malah semakin ruwet. Karena Arden tampak sekali enggak suka mengerjakan PR nya.

Bagiku, tugas bagi anak PAUD ini memang mengganggu waktu bermain buat Arden. Arden tampak belum bisa fokus untuk mengerjakan PR. Melihat perilaku Arden, saya menjadi setuju bahwa anak-anak harus betul-betul siap untuk sekolah dan tentu saja mau mengerjakan PR secara mandiri. Untuk anak umur 4 tahu, rasanya belum muncul inisiatif untuk itu.

14182339_10210919092961121_1173256204_n

Masalah PR ini, aku menjadi ingat sebuah video tentang pendidikan di Finlandia dengan tagline besar NO HOMEWORK.  Tidak ada PR untuk anak sekolah tingkat dasar. Finlandia yang dikenal sebagai negara nomor satu dalam kualitas pendidikannya lebih menekankan belajar untuk anak-anak dengan metode bermain. Kabarnya untuk mata pelajaran tertentu dalam waktu tertentu, misal dalam 45 menit jam berlajar diselingi waktu istirahat selama 15 menit. Anak-anak memiliki waktu untuk mengisi dengan kegiatannya sendiri. Yang paling menarik dari pendidikan di sana, sekolah dasar menjaga beban pekerjaan rumah seminimum mungkin, kalau banyak diberita sih malah tiada pekerjaan rumah. Tanpa PR ini membuat anak-anak memiliki waktu untuk kegiatan hobi dan dapat bermain dengan teman-teman mereka sendiri diluar jam sekolah.

Justru tanpa PR ini menurutku lebih baik, terutama untuk anak umur 4 tahun. Si anak menjadi tak terpaksa mengerjakan PR dan orang tua tak terbebani apalagi harus beremosi ria menyuruh anak yang terlihat enggan menyentuh pinsil. Hampir setiap hari, Arden jelas tak mungkin menyelesaikan tugasnya kalau tak dipaksa dan tanpa ikut campur orang tua. Arden pun tampak belum mengerti apa yang sedang dia kerjakan. Sering pula dia bilang PR itu terlalu banyak, apalagi harus menyelesaikan sampai satu halaman penuh. Jadilah aku, istriku, menjadi orang pengganti untuk menyelesaikan PR tersebut atau PR tersebut mungkin tak pernah selesai.

 

Sumber Bacaan tentang pendidikan di Finlandia

http://edition.cnn.com/2014/10/06/opinion/sahlberg-finland-education/

 

2 thoughts on “Tentang Pekerjaan Rumah yang Mungkin Tak Selesai

  1. Gak usah dikerjain kalau anaknya gak mau. Itu harusnya buat TK B2.
    Buat Arden main playdough, menggunting dan menempel, mengikat tali, itu udah latihan motorik halus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *