Tentang Maaf yang Tak Pernah Usai

Sewaktu kecil dulu ayah menyuruhku membalas perbuatan kawan yang melempar batu ke kepalaku. “Kau pergi cari dia, kau lempar kepala kawan kau itu,” suara Ayah sangat lantang sampai terdengar ke rumah Wak Ana. Ia marah aku cuma menangis sesegukan. “Laki-laki harus jantan,” katanya menutup perintah. Sontak aku ke luar rumah, kutunggu kawanku itu. Aku melihat kawanku itu berjalan di depan Warung Kakek Atok. Waktu mau kulempar, sayang di sayang seribu kali sayang… Ibunya mengiring langkahnya dari belakang. Tak jadi melampiaskan dendam. Esok hari kutunggu, dia tak muncul. Lalu, hari berlalu. Beberapa hari kemudian, Aku dan kawanku itu sudah bermain guli (kelereng) bersama. Sudah tak ingat lagi perkara lempar batu lari ke rumah itu. Tak ada dendam. Bagaimana mau dendam dibaginya aku es lilin yang dibeli di warung Kak Roni.

Ayah pernah marah sama aku. Bukan, bukan perkara berkelahi lagi. Ini perkara gawat darurat. Aku tertangkap tangan mencuri uang. Dipegang Ayah tanganku kuat, diambilnya sapu. Pakkkk, patah terbelah dua bagian. Kaki Sakit tak karuan dan gagang sapu menjadi pendek setinggi lutut ayahku itu. Batang sapu bagian atas terpelanting ke atas sofa. Aku tak pernah meminta maaf atas kejadian itu. Berulang kali pula aku berlaku mencuri uang. Ayah mungkin lelah. Ia tak pernah marah lagi ketika aku mencuri uangnya berkali-kali. Sampai saat ini, ia tak pernah membahas soal kesalahanku itu. Cuma pernah dia pernah berkata, “Apapun yang kalian perbuat di rumah ini. Jangan lakukan di rumah orang lain. Ayah mau kalian ini menjadi orang baik. Tidak mencuri.” Aku selalu mengingat ini. Dampak dari perkataan ayah tadi ya aku belajar tidak membuat kesalahan pada orang lain.Walau pun tentu tak pernah berhasil.

Soal maaf memaafkan terkadang perih rasanya buat hati ini. Ketika kata maaf menjadi bagian kisah kasih berpacaran masa itu. Cemana pula mau memaafkannya. Sudah jauh-jauh awak menuntut ilmu ke Bandung dan meramu rindu sama dia. Dia minta putus pula. Rasa sayang itu tak jua dipahami sama dia. Katanya, akau akan menunggu kau pulang. Belum pun lama di negeri seberang. Hujan dan badai seolah menghancurkan hati  ini. Seribu maaf yang dititah olehnya percuma sudah. Aku tak pernah memaafkan dirinya dan berupaya melupakan manis wajahnya. Tetapi gara-gara tema #1minggu1cerita ini jadi teringat pula lah sama dia lagi. Perempuan berkurudung dengan senyum bak Cikita Meidy  itu. Maaf akan percuma, karena perih begitu terasa. Seribu purnama pun tak harap mau bertemu di masa datang. Lagian apa pasal mau ketemu lagi, anak sudah satu dan istri sudah 6 tahun bersama. Uhuk jadi ingat, hari ini (6 Februari hari pernikahan kami).

Tentang maaf yang tak pernah selesai. aku pikir usahlah selalu memberi dan menanti maaf. Kalau sudah kesal di ubun-ubun, tiada maaf baginya. Mending berdami untuk diri sendiri, jauh-jauh dari orang yang tak perlu dimaafkan. Tak perlu berpura-pura manis, lebih baik tak usah saling memaafkan daripada berkawan dibalik luka.

Maka karena maaf tak usah diberi dan dinanti, janganlah berbuat salah. Jangan beradu kata dan menghabiskan energi untuk meminta maaf. Tak perlulah…

Jadi teringat suatu kali sang Ustaz mengaji mengajarkan tentang bagaimana sang Rasul maha pemaaf lagi penyayang. Memaafkan kaum musyrikin dan menyayangi kaum muslimin. Itu kata guruku. Tetapi waktu kali, pas di Romli salah alamat melemparkan kapur ke sang ustaz. Azab pun datang. Romli di tempeleng pas kena pipinya. Tak ada sifat-sifat sang Rasul didiri sang ustaz. Mungkin dia lupa atau lelah. Mungkin dia juga lupa bagaimana memaafkan. Hingga Romli tak pernah ada kabar berita dan tak mau belajar di madrasah bersama kami. Tak mau mendengar kisah sang Rasul dan para sahabat bersama kami. Manusia, tak sepenuhnya harus memaafkan.

20 thoughts on “Tentang Maaf yang Tak Pernah Usai

  1. Maaf, abang, berkunjung malam-malam.

    Semoga abang maafkan dia pada purnama ke-1001. Sehingga, berbincang tentang dia, tak lagi bikin merana. Menjadi bahan canda: maafkan abang, dinda yg mirip chikita, jika kini kaumenyesali langkahmu di masalalu itu 🙂

  2. Susah memaafkan memang hakikat manusia, tapi kita sebagai manusia bisa memilih pilihan yang lebih baik lainnya bukan ?
    #selfreminder

  3. Harus mantaan yaaa?
    Kalaulaah ibu arden bacaaa ini 😜😜😜,
    Asik ih gaya bahasanya melayunya skrg lebih kental
    semacam flashback sedang bedah cerpen melayu “robohkan surau kami” pas sma di jambi dl..

  4. cerita masa kecil dan cinta masa muda emang rada bikin deg deg serr. sekarang sih tinggal senyum-senyum, dulu mah yang ada nangis meraung-raung hahah.

    salam kenal bang 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *