PR Bagi Si Kecil

Beberapa hari yang lalu, teman Arden mengingatkanku kalau anak semata wayangku diberikan PR sama Bu guru. Guru PAUD. Sontak aku tak percaya, anak PAUD sudah diberikan PR? PR nya tidak sulit hanya menulis huruf O, kalau kata Arden nulis bulat-bulat. Setelah itu PR pertama, ternyata ada PR setiap hari. Kalau sudah begini mau apalagi, walau menurut sebagian besar teman kalau PAUD tidak boleh diberikan PR, ya buktinya Arden diberikan PR. Karena aku tak setuju PR dari PAUD ini, aku tak pernah membantunya dan mendampingi untuk mengerjakan PR, istriku saja yang sedikit membantu.  Ya, ngintip sedikitlah bagaimana bentuk PR nya. J

Selebihnya tangan kecil Arden yang menoreh tulisan tipis-tipis di bukunya. Sebetulnya Arden tampak  tak  mengalami kesulitan mengerjakannya. Toh hanya satu huruf saja PR nya, dan dibuat menjadi banyak turun ke bawah dalam 2 baris berbanjar. Soalnya coret-coret, Arden sudah dibiasakan melakukannya sejak kecil. Tetapi itu sambil bermain, bukan PR dari sekolah semcam PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Foto Arden mengerjakan PR sempat diunggah ke facebook oleh istriku. Betul saja ada beberapa tanggapan dari teman-teman  tak setuju soal PR itu. Termasuk seorang teman yang berkerja di kementerian pendidikan. Ya sebagai Ayah, aku dijawab santai sajalah. Toh anaknya sudah mengerjakan PR itu dan tampaknya enggak ada masalah.

Kabarnya anak PAUD tidak boleh dibebani Pekerjaan Rumah (PR) dan mempelajari baca, tulis, dan berhitunng (calistung). Lalu aku carilah beberapa sumber mengenai belajar calistung tersebut. Menurut Direktur PAUD Kemdikbud, Sudjarwo Singowijoyo bahwa memaksa anak usia di bawah lima tahun (balita) menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena ‘Mental Hectic’, yaitu anak menjadi pemberontak. Waduh, bahaya! katanya lagi, penyakit itu akan merasuki anak di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Katanya lagi, anak yang menguasai calistung pada usia dini justru akan merusak kecerdasan mentalnya. (baca lebih lengkap disini)

Pendapat yang nyaris sama dinyatakan oleh Mantan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Nonformal Informal (PAUDNI)  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Lidya Freyani Hawadi menjelaskan, bahwa Kurikulum PAUD harus disesuaikan dengan tugas perkembangan anak pada setiap tingkat usianya. anak yang belajar di PAUD diarahkan untuk bermain ketimbang menguasai pelajaran akademis. Anak yang memasuki PAUD, jangan sampai dipaksa menguasai calistung. (baca lebih lengkap disini)

Lalu apakah yang diajarkan kepada anakku termasuk pemaksaan? Soalnya PR nya mulai mengenal dan menuliskan abjad dan angka. Kalau kata istriku yang mengikuti rapat dengan guru PAUD, hal yang diajarkan di PAUD itu pengenalan dasar untuk anak usia PAUD. Jadi dinilai tidak memberatkan dan cara mengajarkannya dengan sambil bermain. Jadi anak secara perlahan mampu mempelajari sesuatu dari permainan. Cara mengajari dan mengenal angka dan hurufnya jauh berbeda dengan yang diajarkan di tingkat SD.

Meskipun aku tak mengerti betul bagaimana baiknya belajar anak usia PAUD ini, aku tetap mencoba mengenali sejauh mana Arden mampu dan senang belajar di sekolahnya. Yang penting anak tidak stres dan tidak ada pemaksaan mengerjakan PR angka dan huruf di rumah. Kukatakan sama istriku, kalau dia tak mau mengerjakan PR biarkan saja. Ya semoga Arden menerima materi pendidikan sesuai dengan usianya. Aku percaya sama gurunya mengajari sesuatu hal yang tepat bagi Arden. Anak kecil berusia 4 tahun. Selamat malam. J

Ditulis untuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *