Pantai Kuta Lombok, Ombak Penyuka Sepatu dan Pasir Merica

Menikmati waktu berlibur diantara waktu senggang kesibukan bekerja adalah kenikmatan sendiri. Apalagi Kalau perginya bisa bersama teman-teman, jadi liburannya enggak kesepian. Apalagi kesempatan bertamasya itu ketika sedang berada di Lombok. Alamak, siapa pula yang tak nafsu untuk menikmati keindahan pantainya. Awalnya, tujuan perjalanan bersama tiga orang teman lainnya ingin menuju Pantai Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Kapan lagi kita ke pantai, mumpung sedang di Lombok, kita harus ke Senggigi,” kata temanku waktu itu. Karena tidak tahu berapa jauh jarak hotel ke Senggigi, kami pun bertanya kepada resepsionis Hotel, bahwa Senggigi tidak terlampau jauh dari Hotel Giri, Kota Mataram.

Resepsionis hotel menjelaskan kalau Senggigi memang sangat ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun asing. Lalu, menyarankan lokasi tujuan wisata lainnya,yaitu Pantai Kuta. Katanya Pantai Kuta tak kalah indah dibandingkan pantai lain di Pulau Lombok. “Ha, Kuta, Ke Bali dong?” kata teman saya polos. Resepsionis pun mau ketawa mendengarnya, “Bukan mas ini Kuta Lombok.” Dijelaskan pula kalau Pantai Kuta indah sekali, berpasir putih, air laut tampak sangat biru, dan bisa santai dipantai bersama bule. Waktu itu, perjalanan ke Pantai Kuta dilakukan sekitar Bulan Maret, ketika matahari sedang ramah-ramahnya menyapa bumi.

Lalu, naik kendaraan apa pula ke Pantai Kuta itu. Dasar nasib begitu baik, resepsionis itu seperti malaikat yang diturunkan ke bumi. Ia menyarankan untuk menyewa mobil dan jangan naik taksi, karena lokasinya tidaklah dekat sekitar 50 km dari tempat kami menginap di Hotel Giri Putri Lombok. Resepsionis memberikan kartu nama pemilik rental mobil. Alangkah senangnya hari itu, kami pun tak perlu repot, karena resepsionis hotel pula yang menelpon sang pemilik rental mobil. Hasil dari negosiasi sewa mobil pun disepakati membayar Rp500.000. “Sebagai harga perkenalan pak,” kata pemilik rental mobil.

Berangkatlah kami dengan perasaan riang gembira sekitar pukul 11.00 WITA ketika matahari sedang terang-terangnya. Sebelum tiba di Pantai Kuta, kami melewati Desa Sade. Desa Sade merupakan lokasi tempat tinggal Suku Sasak, penduduk asli Pulau Lombok. Kami tidak singgah ke tempat itu dan hanya melewati saja.

Setelah itu terdapat pula sebuah toko penjualan kain dan kerajinan tangan hasil tenunan, maaf saya lupa nama toko tersebut. Sang sopir yang masih muda menjelaskan sedikit kalau tempat ini sering dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Ya singgah saja, sekali dayung, satu dua pulau terlampaui. Dua orang teman perempuan sempat mencoba untuk belajar menenun sebentar di sana. Ada kepercayaan bagi orang sasak, “perempuan yang bisa menenun, maka sudah siap untuk menikah.” Langsung ambil mesin tenun dan berdoa, “Dekatkanlah jodohku ya Allah.” Ada sekitar 30 menit di tempat itu dan melanjutkan perjalanan lagi.

Baca juga : Wajib Mampir ke Tempat Ini Kalau Liburan ke Labuan Bajo!

Kondisi jalan  menuju Pantai Kuta lumayan mulus dan suasananya sepi, seolah dunia ini hanya milik kami saja. Akhirnya kami pun tiba di Pantai Kuta setelah melalui perjalanan selama 1 jam lebih. Pantai Kuta terletak di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Biar pembaca blog ini tahu, Pantai Kuta memiliki garis pantai sepanjang 7,2 Kilometer.

Untuk masuk ke kawasan pantai, saya tidak mengetahui harus membayar berapa, karena sudah diurus sama sopir. Kami hanya memberi uangnya kepadanya dan tinggal melenggang ke bibir pantai.  Ada hal yang sedikit menganggu ketika turun dari mobil, ada beberapa anak-anak menyerbu dan tampak sedikit memaksa untuk membeli barang dagangan mereka. Ketika kami menolak membeli barang merka, kok malah minta uang “Pak minta lima ribu sajalah.” Ya biar aman dan damai diberikanlah uang, lalu mereka pergi begitu saja.

Ombak Indah Penyuka Sepatu

Sepatu dimakan ombak

Oh pantai, indah nian semesta ini. Tampaknya Tuhan menciptakan Pantai Kuta ini ketika sedang tersenyum merekah. ‘Nyesss’ angin pantai menyapa tubuh dan olala pasir putih pun menempel di antara jemari kaki. Benar kata sang resepsionis, pantainya amboi indahnya dan air lautnya berwarna biru ditambah keindahan langit yang sangat cerah dengan awan putih menawan. Belum sampai 15 langkah, deburan ombak menyambut kami. Langsung dong, kami menyusuri tepi Pantai Kuta ini.

Sejujurnya, saya suka sekali pantai ini. Apalagi dihiasai karang di tepi pantainya. Ombak tak henti-hentinya seperti ingin menyapu karang. Tetapi lagi santai-santai menikmati keindahan pantai, sayang disayang ombak ternyata doyan sepatu. Sepatu teman saya hanyut disapu ombak. Aku tak menyangka kalau ombak suka sepatu teman saya. “Sepatuku” ratap teman saya ketika melihat alas kakinya sudah lenyap ke laut.

Pasir Putih Biji Merica

Pasir Pantai Kuta

Soal pasir, pantai Kuta adalah juaranya. Butiran pasirnya berbeda dengan pasir untuk bahan bangunan. Pasirnya sebesar biji Merica dan berwarna coklat kekuningan. Ingin rasanya membawa pasirnya sebagi oleh-oleh. Tetapi, pasti lekas dibuang sama istri saya. Ole-ole kok pasir.  Pasirnya emang unik dan jarang sekali melihat butiran-pasir seperti. Pasirnya lebih besar kalau dibandingkan dengan butiran pasir lain. Sehingga, akan merasakan sensasi yang berbeda ketika menginjaknya.

Jangan Lupa Foto Syantik di Pantai Kuta

Foto Syatik di Pantai Kuta

Asiknya liburan di Pantai Kuta ini adalah mengabadikannya. Jangan lupa siapkan kamera. Berfotolah sebanyak mungkin, kesempatan seringkali tak datang dua kali. Rugi rasanya kalau tidak mengabadikan perjalanan di Pantai Kuta ini. Biar suasana foto tampak riang gembira, tak ada salahnya berfoto melompat seperti kami. Lompat Bersama dapat membuat pengunjung lupa umur, lupa hutang, lupa mantan dan segala permasalahan yang ada di luar sana.

Pantai Kuta ini menunjukkan betapa indahnya alam di negeri ini. Sempatkanlah mengunjungi kalau datang ke Lombok. Biar tahu saja, Pantai ini sangat diminati wisatawan luar negeri. Kondisi cuaca yang terik di sekitar Pantai Kuta dimanfaatkan oleh mereka untuk berjemur. Mandi matahari. Orang luar negeri aja ke Pantai Kuta, masa kita enggak. Mari berlibur dan jangan kalah sama pelancong dari luar negeri.

 

 

 

18 thoughts on “Pantai Kuta Lombok, Ombak Penyuka Sepatu dan Pasir Merica

  1. Belum sempat ke Pantai Kuta Lombok. Pasirnya memang layak yaa buat di bawa pulang sebagai hiasan dalam botol.
    Saya juga sering baca pedagang yang menjajakan dagangannya dengan mode sedikit maksa gitu, itu juga yang bikin males berkunjung ya. But so far, Lombok memang indah.

  2. Duh, jadi kangen main ke Lombok. Dulu cuma sempat mampir ke Pantai Senggigi saja, semoga lainkali bisa mampir ke Pantai Kuta-nya. 😀
    Memang indah sekali ya pantai di Lombok. 🙂

  3. Pantainya bagus tapi kalo di pakai berenang pasti bakal lebih asik kang.
    Pasirnya beneran putih itu ya ? jadi pengen kesana dah.
    keetulan aku belum pernah ke Lombok.
    Semoga ada rejeki buat kesana deh amin 🙂

    1. niatkan dulu, biar semesta yang menuntun ke lombok. pasirnya bagus banget. Ombaknya apalagi. buat foto ok punya

  4. Setuju nih klo pantai kuta lombok ini emang indah banget. Pertama saya kesana juga lgsg mikir “wow keren ini dibanding kuta bali”. Tapi ada lagi mas yg bagus. Pantai mandalika. Yg kmrn ada di vlognya jokowi.

  5. Hihihi, ngikik baca bagian ini : “Ada kepercayaan bagi orang sasak, “perempuan yang bisa menenun, maka sudah siap untuk menikah.” Langsung ambil mesin tenun dan berdoa, “Dekatkanlah jodohku ya Allah.” Ada sekitar 30 menit di tempat itu dan melanjutkan perjalanan lagi.”
    Jangan-jangan karena belum bisa nenun, belum ditemuk-temukan dengan pangeran?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *