Ketika Anak Tidak Mau Sekolah, Ya Ampuuuunnn

Hari ini Rabu, Arden merayakan libur sekolah untuk dirinya sendiri. Dia tidak mau sekolah. “Apakah kamu Lelah, nak,” Arden menggeleng. Dia tetap diam membisu. Ke dapur aku sebentar mengambil air. Arden tetap diam dan rupanya dia tertidur. Anak kecil ini mungkin lelah menangis karena keukeuh tidak mau sekolah.

Setelah disidik melalui ibunya, Arden enggak mau sekolah karena teman karibnya bermain sepeda juga tidak sekolah. Sepeda itu milik Arden, tetapi acapkali temannya yang memainkannya. Arden sih jadi tukang dorong dan lari-lari mengejar kawannya yang mengayuh sepeda dengan kencang.

Sayang sekali sebenarnya kalau Arden tidak sekolah. Dia sudah mengerjakan PR yang ternyata lima huruf saja yaitu menuliskan L–I–B–U–R . PR yang sangat menginspirasi anak. Ya itu, inspirasi biar libur sekolah.

Cukupkan Waktu Sekolah dan Bermain Setelahnya

Tiba-tiba, saya menjadi berpikir, berapa hari dalam seminggu sih anak seperti Arden yang usianya 5-6 tahun ini selayaknya berada di sekolah. Kalau lihat dari media onlie anak http://nakita.grid.id/ jam dan frekuensi sekolah itu perlu diperhatikan, beda usia ya beda masa waktu di sekolah. Saya enggak mau ngomongin anak 2-3 tahun, karena yaitu diurus ayah dan ibunya sajalah dulu. Anak usia begitu masih butuh pelukan dan cinta yang penuh ariti dari orang tua di rumah.

Nah, anak usia setelahnya, anak berusis 3-4 tahun yang dalam sekolahan masih dalam kelompok bermain ternyata sekolahnya cukup 2—3 kali seminggu. Tak usah lebih, namanya juga bermain, ya bisa dilanjutkan di rumah saja. Sedangkan anak yang berusia 5-6 tahun yang sudah masuk masa TK (taman kanak-kanak) bisa 5—6 kali seminggu. Jam sekolahnya pun 3-4 jam saja. Orang tua harus memperhitungkan kondisi anak ketika harus dituntut mulai sekolah.

Kalau Arden biasanya masuk Pukul 08.00 dan pulang pukul 10.00. Sekolahnya cukup singkat. Jadi dia menikmati harinya kebanyakan di rumah Bersama Ayah. Ibunya kemana? Ya berkerja dong, masa di rumah juga.

Masa Kecil dan Indahnya Masa Sekolah

Bagaimana sih sebenarnya masa memulai sekolah kalau dilihat dari umurnya? Dari sebuah artikel di kompas.com, psikolog anak di Klinik Terpadu, Universitas Indonesia bernama Ratih Zulhaqi menyatakan anak berusia 4 tahun, anak mulai belajar kemandirian. Anak mulai diajari melakukan sendiri beberapa hal seperti memakai sepatu dan makan sendiri. Dari usia inilah, ayah dan ibu mulai berhanti menyuapi anak secara perlahan. Jangan sampai tiba-tiba berhenti disuapi, bisa mati kelaparan nanti anaknya.

Baca juga : Aku Tidak Mau Sekolah, Yah

Lalu, usia 5 tahun, anak mulai dikenalkan masa pendidikan sekolah dasar. Ingat wahai ibu dan ayah, sifatnya enggak memaksa. Ingatlah ketika ayah dan ibu pada masa sekolah, enggak enak kan dipaksa-paksa waktu sekolah. Selanjutnya, fase usia 6 tahun, usia anak mulai siap memasuki Pendidikan formal. Anak mulai belajar aturan yang jelas dengan belajar di kelas dan tidak banyak bermain. Jadi masa sekolah berapa pun indahnya, bukan waktunya lagi untuk main-main.

Nah permasalahannya, meski begitu banyak ulasan tentang masa tumbuh kembang anak dan waktu tepatnya mulai belajar apa saja di sekolah. Masa taman kanak-kanak yang semestinya diisi kegiatan bermain sambil belajar, malah sudah diajarkan membaca, menulis dan berhitung (calistung). Parahnya lagi, orang tua turut memaksakan anak agar cepat-cepat bisa berhitung dan membaca. Padahal itu tidak akan efektif, karena rangsangan motorik dan bahasa akan menyesuaikan tahap tumbuhkembang dari anak.

Ratih menegaskan lagi, kalau faktanya sama aja kok anak yang bisa membaca pada usia 4 tahun dengan anak yang melek huruf pada umur 6 tahun. Wahai ayah dan ibu, biarkan anak belajar sesuai tahap tumbuh kembangnya, karena disitulah keindahan menjadi orang tua.

Jadi, ayah dan ibu, bagaimana dengan anak-anaknya di rumah, anaknya belajarnya? Enjoy aja dan bersenang-senanglah belajar Bersama anak, mumpung lagi lucu-lucunya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *