Jangan Ragu Minta Maaf Wahai Ayah

Hari minggu (8/10) yang cerah ini, selepas melihat-lihat baju Bersama Arden di Yogya Supermarket, kami pun melepas rasa lapar dengan makan. Makan secukupnya saja, Ice cream, Es Oyen, Mie Baso, Nasi Timbel, dan air putih merk Aqua. Makan lahap sekali, ayah tak mau kalah lahapya, sampai makanan Arden pun hendak dihabisi sekalian. Untung Arden jauh lebih sigap, melindungi makanannya.

Lagi Asik-asik makan, Bruukkkk…. Meja bergeser, Es Oyen goyah untung tidak tumpah, Mangkok mie tumpah syukurnya hanya kuahnya saja. Untung selalu diraih, rugi semoga dijauhkan dari muka bumi. Ada seorang lelaki tepatnya seorang ayah yang sedang asik menenteng handphone Samsung di tangan kanannya dan anak perempuan syantik ditangan kirinya menabrak meja kami.

Arden terperangah, “Kok enggak minta maaf ya Ayah?” Kesal bukan main harus ditahan, mau menunjukkan kalau sesama manusia harus memaafkan. “Memang enggak semua orang mau ngaku salah, Arden,” jawabku. Arden masih heran. Dia mungkin heran apa yang diajarkan tentang minta maaf di sekolah dan di rumah tidak berlaku di Pujasera ini. Si ayah dengan anak perempuannya pergi begitu saja.

Meminta maaflah orang tua

Aku pikir ini tidak benar, anak kecil saja tahu kalau apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan, menabrak meja orang karena manatap hape begitu seriusnya. Lupa jalan, lupa daratan, dan tak peduli siapa orang di sekitarnya. Tahukah Ayah, kalau berbuat salah segeralah minta maaf. Kenapa oh kenapa?

Meminta Maaf adalah Sebuah Pesan Kebaikan

Mengatakan maaf atas kesalahan sekecil apapun membantu anak untuk berlajar berbuat kebaikan. Si anak pun merasa apa yang dilakukan tentu benar harus dilakukan. Salah ya Minta Maaf. Cobalah ketika berbuat kesalahan meminta maaf.

Baca juga : Surat Cinta Untuk Arden

Menjaga Hubungan Baik Kepada Anak

Anak juga memiliki naluri sikap baik dan buruk. Sebuah kata maaf bisa menolong memperbaiki keadaan, paling tidak terjalin hubungan baik antara yang berbuat salah dan tertimpa kesalahan. Walaupun, permintaan maaf belum tentu mengurangi rasa sakit atau ketidaksukaan anak terhadap ketidakbenaran.

Anak adalah Mutiara Kasih Penuh Maaf

Anak masih memiliki belas kasih yang lebih tinggi dibandingkan orang tua. Anak akan senang sekali kalau orang tua mau memberi pesan maaf kepada dirinya. Anak merasa diperhatikan. Bak Mutiara, kecantikan kasih anak jauh lebih baik dibandingkan orang tua.

Bagaimana pun, anak memiliki perasaan seperti halnya orang tua. Jangan ragu jangan bimbang untuk berkata, “maafkan saya yah,” perbuatan sangat sederhana, bukan malah pergi melengos entah kemana. Sayangnya, sikap begini dijauhi orang tua. Aneh juga kan tidak mau berbuat maaf pada anak lain, bagaimana orang tersebut mengajari tentang maaf pada anaknya?

Jadi wahai Ayah sedunia, perhatikan orang di sekitar anda, berbagi kebaikan dan bermaafanlah atas kesalahan sekecil apapun. Ini lebih baik, sebelum anak mempertanyakan; kok, maaf itu Cuma diajari di rumah dan di sekolah saja ya?

 

18 thoughts on “Jangan Ragu Minta Maaf Wahai Ayah

  1. Tidaklah membuat rendah orang yang meminta maaf, tapi orang yang memaafkan derajatnya lebih mulia. Aduh aku selalu terngiang-ngiang kutipan dari film Kabhi Khushi Kabhi Gham tersebut.

    1. kutipan yang bagus mas. memaafkan memang lebih mulia. Meminta maaf harus diterapkan oleh orang dewasa

  2. Iya, kata maaf ini ampuh membuat anak jadi respek sama kita orang tuanya. Kadang kalau dia marah, saya minta maaf dan memeluknya. Si anak jadi cepat luluh hatinya. Ketika hatinya melembut, saya coba jelaskan alasan kenapa dia tidak boleh ini dan harus begitu.

    1. Kalau dilihat sih, anak memang jauh lebih respek kalau orang dewasa mengajari dan sekaligus melakukannya. betul anak begitu lembut hatinya

  3. Ada kalanya anak mengajari orangtua secara ga langsung ya, mas 🙂 Sholeh begini anaknya, alhamdulillaah. Celotehan anak terkadan ada ‘isi’nya juga hehehe, senang ya Arden bisa kasih tau ayahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *