Cerita Ayah

Ayah, Kok Anak Kita Belum Bisa Membaca Ya

Keluhan tentang si kecil yang belum bisa membaca akhirnya terucapkan lagi. “Arden belum bisa membaca yah,” Saya hanya tersenyum mendengarnya. Saya tahu tahu ibu guru pasti memberi laporan perkembangan anak.

Ya biarkan saja, bagiku membaca dalam usia belum genap enam tahun bukan ukuran kecerdasan si kecil. Saya ajak dia bermain mobil-mobilan dan bercerita tentang begitu banyak jenis kendaraan di dunia ini.

Arden tertawa lebar, dia tampak senang sekali. Dia tahu begitu banyak jenis mobil, dari fire truck, bus, mobl sedan, dan banyak jenis lainnya. Tetapi ya tentu saja dia tidak bisa mengeja hanya sekedar kata “M O B I L”.

Khawatirkah Saya? Saya sama sekali tidak khawatir, wong sekolah juga masih umpamanya anak bawang, masih PAUD.

Baca juga : Biarkan Anak Bicara Hal-Hal Berat

Belum Bisa Membaca Tidak Tidak Mengapa

Arden masih PAUD dan pergi sekolah begitu menyenangkan baginya. Kenapa? Karena dia bisa bertemu teman-teman di sekolah. “Ade melukis tadi sama main sama teman,” begitu penjelasannya soal sekolahnya.

Jadi Arden mengerti betul kalau sekolah itu ya bermain. Dia mungkin tidak berpikir kalau sekolah begitu serius harus belajar membaca. Apalagi Ayah dan Ibu memang jarang mengajarinya membaca.

Kecuali membantunya mengerjakan PR. Tidak membantu menuliskannya, tetapi menjelaskan padanya tentang huruf yang dia tulis. Dia sudah tahu semua huruf tanpa kecuali Mau X kek atau Z sekali pun. Dia bisa menuliskannya.

Tetapi jangan suruh dia mengeja sebuah kata. Dia belum bisa. Bahkan, cenderung enggan. Tak apa, kemampuan membaca terlalu dini hanya mengenalkan padanya dunia yang begitu rumit.

Aku cukup senang dengan kondisi Arden yang gembira pada masa kecilnya. Bermain dan bermain saja.

Hal yang tidak pernah lupa kami ajarkan ya lebih kepada tentang berbuat baik pada siapa saja, tidak lebih. Itu saja cukup bagi saja.

Belajar Kebaikan Lebih Baik dari Menghafal Ayat Pendek

Tanpa saya ketahui, Arden ternyata sudah bisa menghafal beberapa doa dan ayat pendek dari sekolah PAUD-nya. Saya tak menyangka. Keren sekali sekolah bisa membuat Arden menghapal.

Dia tidak hanya bisa menghafal lagu Payung Teduh saja, sudah bisa ayat pendek juga. Hafalan tersebut tentu tidak pernah saya ajarkan di rumah.

Arden memang belum bisa membaca, tetapi kalau soal menghafal ya Arden lebih baik. Tetapi kalau di rumah, Arden tidak pernah dipaksa menghafal doa dan ayat pendek.

Saya hanya mengejarinya bernyanyi dengan suara lantang. Dari situ dia mulai bisa menghafal beberap lagu.

Suatu kali, Arden ternyata mendapat tugas menghafal Ayat Al-kafirun. Aku tertawa mendengarnya, “Kul Ya Ayyuhal Kafiruun,” dia lapalkan perlahan.

Ya lupa-lupa dikit tak apalah. setelah itu ya sudah, tidak perlu lagi belajar untuk menghafal ayat pendek. Tidak perlu.

Bagi saya, Arden lebih baik diajarkan tentang kebaikan beserta alasan dibaliknya. Misalnya, kenapa seorang anak perlu berbuat baik pada temannya. Saya jelaskan agar tidak dijauhi oleh teman-teman.

Suatu kali Arden pernah bertanya, “Kalau nakal masuk neraka ya Yah,” saya terkejut. Jauh amat harus masuk neraka. Saya jelaskan padanya kalau nakal tidak disukai teman-teman.

Baca juga : Tips Perjalanan Kereta Api yang Kusuka

Saya tanya padanya, apa respon teman yang dipukul atau dimarahi olehnya. ” Ya nangis yah, terus pulang deh,” tepat itu saja cukup. Arden bisa menjelaskannya dengan baik.

Dia bisa memahami tentang perbuatan baik dan nakal saja itu jauh lebih baik, daripada harus memaksanya menghafal ayat pendek.

Tidak perlu pula harus belajar membaca terlalu cepat. Nanti saja, kalau sudah waktunya. Kapan itu? Biarkan Fase itu berjalan sewajarnya.

2 thoughts on “Ayah, Kok Anak Kita Belum Bisa Membaca Ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *