Arden, Hormatilah Abah Tukang Sampah Seperti Menghormati Orang Tuamu

 

Arden selalu teriak, “Ayah, Abah dataaaanggg.” Ini sebuah pertanda, kalau Abah tukang sampah datang. Abah yang giginya sudah tidak ada lagi. Sungguh, kalau dia tertawa. Mulutnya kosong melompong hanya tersisa lidah tua. Setua umurnya. Arden sering menjadi orang pertama yang mengetahui Abah datang. Abah pun akan bersaut-sautan bercanda dengan Arden. “Hahaha, abah itu calanana soek,” kata Arden dengan bahasa sunda yang kaku ketika melihat celana Abah sobek pas di selakangan.

Kalau sudah begini, Abah bakal bertahan agak lama di halaman rumah. Ia senang bergurau dengan Arden sembari mengumpulkan sampah di depan rumah. “Abah bau ga?” Abah tertawa. “Jangan dekat-dekat ya. Nanti bau. Bau Abah. Bau sampah.” Arden tertawa terbahak-bahak. Lucu baginya. Lalu mendekati abah dan sampah sekaligus.

Daku sih memperhatikan di depan rumah. Sesekali mengajak Abah berbicara dan bertanya kemana minggu lalu kok enggak nongol. Seperti biasa dia akan menjawab kalau dia sakit. Sudah tua. Sudah bukan saatnya pula sebenarnya dia keliling begini.  Tetapi memunguti sampah dari rumah ke rumah adalah hal nyata yang bisa ia kerjakan untuk mencari uang. Disamping mengumpulkan botol plastik dari rumah tetangga.

Aku selalu mewanti-wanti Arden jangan sampai mengganggu abah dan menyentuh Abah. Maksudnya jangan sampai memukul atau melempar Abah. Abah adalah orang tua. Seperti diriku orang tua juga. Cuma ya lebih tua. Setua opung di Medan kali ya. Bedanya Opung tukang bengkel bukan pengambil sampah seperti Abah. Arden pun mengikuti dan hanya menemani Abah yang ulet mengambil sampah di depan rumah.

Selepas Abah memunguti semua sampah. Arden mendatangi Abah dan memberikan uang. Uang yang tidak seberapa. Tetapi disambut dengan senyum dan menghasilkan balasan tawa oleh Arden. “Nuhun ya, sing sehat ya Ade,” katanya menutup canda tawa bersama Arden. Doa orang tua, doa yang baik untuk Arden. Semoga selalu sehat.

Ayahku pernah mengatakan. Berbaik-baiklah sama siapa saja. Sama orang tua, apalagi kalau dia hidup dengan bersusah payah. Seperti Ayah, pernah juga jadi tukang becak. Senang kali rasanya kalau orang mangasih ongkos yang lebih dan sakit hati kalau dikasih ongkos tak sepantasnya. Jangan lakukan hal yang menyakitkan pada orang lain. Aku belum bisa mengikuti persis seperti apa yang dikatakan Ayah. Tetapi aku bisa mengajarkan itu pada Arden. Agar kelak, Arden juga tahu bagaimana menghormati orang tua.

 

spacer

2 comments on “Arden, Hormatilah Abah Tukang Sampah Seperti Menghormati Orang Tuamu

  1. Rizka

    Sumpah.. Berkaca-kaca bacanya. Sama disinipun kita punya abah seperti yg ada dlm cerita Arden.. Mereka ikhlas mengerjakan tugasnya..

    1. phadliharahap

      Teman bercanda si Arden, ya Abah

Leave a reply