Anak Tanpa Masa Depan, Tentangku dan Masa SMA

 

Tepat waktu habis setahun kuliah, aku berlibur pulang ke Medan. Tahun pertama  Kuliah dengan menetap di Bandung dan kampus terletak di Jatinangor itu ternyata menjemukan juga. Pada tahun pertama kuliah, aku sering kali dilanda rindu kepada keluarga. Nah, pas liburan inilah, aku baru mengetahui kalau orang tuaku sungguh tak percaya kalau aku bisa kuliah di universitas negeri di Jawa Barat. “Kata Ayah kau dulu pas pergi ke pulau jawa, kau tak punya masa depan,” begitulah kata bu Upik tetangga yang sering menyambangi rumah dan bersenda gurau dengan mamak (ibuku). “ Aku tertawa terbahak-bahak dan membenarkan perkataan ayahku, “memang betul itu Bu Upik, siapa yang mau percaya sama anak nakal begini.”

Tak punya masa depan. Omongan ini tentu membekas diingatan apalagi kalau itu bersumber dari orang tua sendiri. Semoga tidak begitulah ucapannya atau Ayah hanya bergurau. Aku tahu, ayah sudah lelah menimang anak-anaknya hingga kami 6 bersaudara bisa kuliah semua, bahkan si sulung malah bergelar master dari jurusan ekonomi lulusan Universitas Indonesia. Aku tahu, Ayah patut merasa awas pada diriku yang sekolah pada SMA tampak tak meyakinkan.

Masa SMA. Apapun tentang sekolah, aku tetap tak mau kalah dengan kakak dan abangku. Aku ingin masuk negeri seperti mereka. Sewaktu ujian SMP, aku pun rajinlah belajar, dan pas pula nilaiku bisa membuat masuk SMA Negeri 11 Medan. Meski itu disebut sekolah pinggiran, tetapi aku masuk negeri seperti dua abang dan satu kakakku. “Aku pun bisa kayak orang itu,” pikirku waktu masuk SMA. Tetapi masa ini, masa remaja nan ceria waktu SMA ini tampaknya membuat pusing ayahku.

Ceritanya begini, kenakalan demi kenakalan berhasil aku torekan. Suatu kali selepas pulang dari pesantren kilat Se-Sumatera Utara, aku ingat baru awal kelas 2 SMA. Aku yang harusnya jadi anak ROHIS malah turut berkelahi menyambangi anak kelas satu. Tak sampai dipanggil ke ruang BP (bimbingan konseling), tetapi tampaknya Ayah tahu soal perkelahian ini dari sepupuku. “Jangan bandel kalau di sekolah, “ kata ayahku waktu itu. Sedangkan aku pura-pura tidak tahu maksud perkataan ayah. Sepupuku itu guru konseling di SMA itu.

Kenakalan lainnya, waktu kelas dua pula, seorang teman berbadan besar memukul wajahku dan masuklah kami berdua ke ruang BP. Wajahku memar kena tonjok, tetapi pemukulan ini bisa menjadi masalah besar bagi temanku. Kami sampai dua kali dipanggil ke ruang BP. Namaku tertera dua kali di ‘buku hitam’ sebagai anak yang dikenai peringatan. Aku baru tahu kalau temanku itu merasa terancam. Dia diancam oleh teman-temanku sampai dia tak berani pergi ke sekolah. “Aku tak tahulah bu, kalau dia diancam orang,” kataku acuh waktu ditanya perkara ancaman ini. Betul saja tak lebih sebulan, temanku yang badannya tinggi pindah sekolah. Ancaman tampaknya tak berhenti. Aku masih ingat tatapan matanya, seolah menantang tetapi penuh ketakutan. Apa boleh buat, dia salah memukul orang.

Teman-temanku terbilang cukup banyak waktu SMA, setengahnya teman berkumpul adalah teman dari masa SMP. Jadilah kami segerombolan anak SMP yang berteman hingga masa SMA (dan hingga kini). Dampak kalau anak satu sekolah jenjang SMP pindah ke sekolah jenjang SMA secara bersamaan adalah apapun masalahnya perkelahian akan diselesaikan atas dasar persahabatan. Lawan berkelahi akan kena hajar beramai-ramai atau diancam hingga pindah sekolah. Aku masih ingat pernah menonton seorang kawan berkelahi satu lawan satu. Akhirnya, si lawan berkelahi itu dipukuli beramai-ramai. Ada 20 orang lebih menghajarnya dan cukup kasihanlah melihat waktu itu. Syukurlah dia tak sampai pindah sekolah karena didamaikan oleh kawan lainnya.

Kekhawatiran orang tuaku semakin memuncak, ketika ditemukan beberapa pil terlarang dilaci lemari. Aku lupa (pura-pura lupa) nama pilnya. Obat-obatan itu memiliki efek ‘santaiiii’ dan membuatku seperti menikmati sekali ketika belajar di kelas dan sesekali sampai tertidur. Kalau malam hari berkumpul dengan teman satu tempat tinggal, tak jarang obat-obatan itu dicampur minuman keras sembari menghisap ganja. Aku masih ingat ada beberapa bungkusan ganja ditasku waktu perpisahan sekolah. Ganja bebas masuk begitu saja dan siapa pula yang mau memeriksa tasku waktu itu. Suatu kali gara-gara menghisap ganja ini, aku pernah ditanyai sama Kakak ipar dari Kakak angkatku yang bertandang ke rumah. “Matamu merah dek, kau baru ngapain,” tanyanya tak perlu dijawab karena dia pasti tahu aku mabuk ganja. “Kau hormati abangmu itu,” dia tunjuk foto abang angkatku yang berseragam tentara.

Sebetulnya ada beberapa kenakalan kecil lainnya, tapi tak perlulah ditulis semua semasa SMA. meski begitu, dibalik kenakalan kecil itu, aku tetap menyimpan hasrat untuk bisa kuliah. Waktu kelas tiga, diam-diam kupelajari mata pelajaran sekolah untuk persiapan ujian masuk kuliah. Waktu itu sempat dua miggu, aku memilih kelas IPA. Tetapi tak kuasa bodohnya, aku meminta pindah ke kelas IPS. Jadilah bimbingan belajar sempat Jurusan IPA, tetapi sekolah malah Jurusan IPS. Pelajaran Jurusan IPS ini kupelajari pelan-pelan. Tak usah banyak-banyak pikirku, yang penting aku bisa kuliah di universitas negeri. 6 bulan bimbel IPA, aku beralih bimbel (bimbingan belajar) IPS. Niatku Cuma satu, aku harus menghitung perkiraan nilai yang bisa membuatku masuk perguruan tinggi negeri di pulau jawa. Pribadi boleh nakal, tetapi cita-cita boleh tinggi.

Waktu mau lulus SMA, kusampaikan pada mamak kalau aku mau kuliah di Jakarta seperti dua orang abangku. Niatku tentu ditolak. “Kuliah di Medan sajalah,” kata mamakku. Tetapi melalui bantuan ibu temanku dan sekaligus guruku juga, dia membelikanku tiket ke Jakarta. Dibilang guruku itu, kalau sudah ada tiket untuk aku pergi ke Jakarta. Jadilah Ayah terpaksa mengganti uang tiket untuk pergi ke Jakarta itu. Aku senang bukan kepalang. Belajarku yang sedikit ini takkan akan menjadi tak sia-sia, pikirku.

Waktu di Jakarta sebelum SPMB, aku belajar sedikit-sedikit lagi. Aku hitung sendiri pencapaian nilaiku. Ah tak bisa masuk jurusan hukum, pikirku. Aku mencari grade yang rendah, kupillih antropologi UNPAD sebagai pilihan kedua dan ilmu politik UI pilihan pertama. Aku sudah berhitung kalau mujur, aku bisa masuk jurusan Ilmu Politik UI dan kalau sial ya masuk Antropologi. Aku memilih Jurusan Antropologi karena kata guru SMA, kuliahnya bisa jalan-jalan ke banyak tempat.

Betul saja, waktu pengumuman masuk perguruan tinggi negeri, abangku mengajak mengecek nomor ujianku di warnet dekat Stasiun Gondangdia Jakarta. Apa nyana, nomor ujianku tertera di layar komputer itu dan aku lulus. Abangku menatapku tak percaya. Itu artinya, perhitunganku tepat. Aku berhasil masuk Jurusan Antropologi UNPAD. Keesokan harinya, orang tuaku membeli koran dan memeriksa namaku. Alangkah bahagia mamakku, tahulah dia kalau aku bisa masuk perguruan tinggi negeri yang kampusnya di Jatinangor itu.

Begitulah kira-kira ceritaku untuk #1minggu1cerita bertema Aku dan Sekolahku. Bagiku nakal tak berbuah sial. Seorang anak tak harus hidup dengan norma-norma umum. Anak harusnya diberi pilihan untuk mempelajari dan menjalani hidupnya sendiri. Hal yang penting adalah, anak yang nakal tetap disemangati untuk terus sekolah, agar memiliki keinginan terus mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Ya semangatilah si anak nakal untuk bisa berkuliah di Universitas Negeri. 🙂

menulislah-walau-1minggu1cerita

8 thoughts on “Anak Tanpa Masa Depan, Tentangku dan Masa SMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *