Aku Enggak Mau Sekolah, Aku Cape

Sebeelum pergi sekolah

Soal sekolah, aku memang tidak setuju Arden mengenal pendidikan ala masuk kelas terlalu cepat. Setelah dilihat-lihat rupayanya sekolah mampu membuatnya lebih mengenal bagaimana berteman, bagaimana berbagi, bagaimana menjadi pelit, dan bagaimana berkelahi. Sebagai ayah, aku tentu senang sekali. Sekolah cepat juga ada gunanya dan enggak perlu ditakutkan. Cuma masih jengkel kalau ada PR doang. Syukurnya, Arden raji pergi sekolah. Ibunya juga jadi rajin, ya rajin menemani Arden di sekolah. Hihihi. Arden pun sudah biasa pergi sendiri dan pulang sendiri ke rumah. Pergi enggak usah diantar, pulang tak dijemput, tetapi jam istirahat minta uang jajan lagi. Mentang-mentang sekolahnya dekat.

Sekolah itu main

Belakangan hari Arden mulai enggak pergi ke sekolah sendiri lagi. PAUD tempatnya belajar tidaklah jauh, hanya berjarak dua 1 rumah dari rumah kami di Sukabumi. Tetapi, semenjak aku kerja ke NTT kemarin, Arden mulai minta diantar lagi pergi ke sekolah. Tak Cuma itu, Arden juga minta ditemani di dalam kelas. Jadilah, ibunya sering iku belajar di kelas. Aku sempat penasaran apa yang terjadi sebanarnya, kenapa Arden? Kenapa? Sinetron banget.

Aku sempat memaksanya untuk pergi saja, tetapi Arden tetap tak mau. Katanya besok dan besok mau sekolah.

Apalagi setelah kami ke Medan bersua opung dan nenek. Arden ada saja alasannya. Kata ibu, Arden enggak ke sekolah karena diledek jarang sekolah. Dia malu katanya. Malu? Iya, Arden sudah tahu kok malunya berbuat tidak sesuai apa yang orang lain lakukan. Meski tidak bisa dibilang kesalahan. Ya buat anak umur 4 tahun, hukum sekolah itu masih sunnah lah…

Berdua Sama Teman

Suatu malam pas Ibu sudah tidur, aku pun menanyakan perihal tidak maunya dia pergi sekolah.

Ayah : Ade masih cape

Arden : Enggak ayah, ade kan enggak main kalau malam

Ayah: Besok sekolah ya?

Arden : Sekolah, Ade masih cape. Kan baru pulang dari medan

Ayah : Kamu cape atau kenapa sih?

Arden: Ehm…

Ayah : Ngomong aja, dari pada diam-diam aja

Arden: Ade malu ya. Dibilang jarang sekolah….

Ayah : Kamu enggak usah malu. Kamu sekolah bayar uang sekolah. Guru juga tahu kamu kan ke Medan, jadi enggak sekolah.

Arden : Tapi… Ade mau ditemani…

Aku marah ayah

Sudah diketahuilah pangkal masalahnya. Arden enggak sekolah karena malu. Malu diomongin teman-temannya. Anak kecil ini sangat perasa sekali. Dia akan merekam betul-betul apa yang dikatakan orang lain mengenai dirinya. Malu dan malu, itulah alasanya berhari-hari selama seminggu lebih setelah pulang dari Medan. Aku sempat memaksanya untuk pergi saja, tetapi Arden tetap tak mau. Katanya besok dan besok mau sekolah. Lalu, kami putuskan membiarkannya memilih sampai mau pergi sendiri ke sekolah. Tak apalah, diganti belajar dan bermain saja di rumah. Tak ada PR dan tak ada hal memusingkan karena belajar di sekolah. Bermain di rumah lebih asik toh?

spacer

Leave a reply