Tertawa Melihat Arden Berpakaian Berbunga

Disadari atau tidak, orang tua mengenalkan pembeda kepada anak sejak dia mulai dilahirkan, contohnya saja tentang cara berpakaian. Lama-kelamaan anak pun mencoba untu mengerti kalau pakaian antara laki-laki dan perempuan tidak boleh sama. Perempuan harus berpakaian dengan pola dan corak pakaian perempuan. Misalnya, laki-laki tidak boleh memakai celana dengan corak bunga. Itu perempuan, anak lelaki itu bisa saja disebut seperti banci oleh teman-temannya dan mungkin para tetangga.

Suatu hari, Arden memakai celana berbunga-bunga. Celana itu bagus sekali dan sangat pas untuk dipakai Arden. Lantas temannya melihatnya, anak itu seumuran Arden. Teman Arden terbahak-bahak menunjuk celana Arden, sedangkan Arden bingung merasa tidak ada yang salah dengan pakaiannya.

 Igri : Hahaha, Ade pake celana cewek
 Arden : (tampak bingung) emang kenapa Igri
 Igri : Ade celananya kok bunga bunga
 Arden : Bunga kan bagus. Bagus kan yah...
 Ayah : Ya baguslah. Igri kan tahu bunga juga bagus.
 Igri : Tapi itu celana cewek
 Arden : Aneh si Igri kok ga suka bunga...
 Igri : Celana cewek Ayah Arden
 Ayah : Kalau celananya bagus cewek dan cowok boleh memakainya.
 Arden : Tuh kan Ade bilang juga apa. Ini celana cowok bisa. Cewek bisa.

Sebenarnya saat itu Arden memakai celana jeans untuk cewek dengan motif bunga berwarna pink bekas teteh Arden (kakak sepupu perempuan). Kami memang sering memakaikannya ke Arden dan menyukainya. Aku rasa pun begitu, celana itu bagus dari coraknya dan kainnya masih sangat bagus. Perempuan dan laki-laki sudah dibentuk berbeda dari cara berpakaiannya.

Orang tua yang mengajarkannya. Sayangnya, pembeda perempuan dan laki-laki dari cara berpakaian terus diajarkan ke anak cucu. Sehingga terbentuklah dikepala kalau celana berbunga-bunga itu “haram” dipakai anak laki-laki. Arden adalah anak lelaki kami. Kebetulan kami memang tak mengenalkan bagaimana motif celana/baju cewek kepada Arden.

Begitu pula pemilihan warna. Arden sering memakai baju dan celana aneka warna. Baju tidurnya apalagi, penuh warna yang dianggap “warna perempuan”. Jadi ingat nenek Arden di Medan perenah terperangah, “kok kalian pakaikan baju perempuan sama cucuku.” Aku tertawa dan Arden menunjukkan wajah bingung.

Padahal bajunya jelas-jelas untuk cowok, Cuma ya itu warnanya saja yang berwarna pink. Apa yang diajarkan neneknya, tidak sama dengan yang Ayah dan Ibu ajarkan kepada Arden soal pembeda dalam berpakaian.

2 thoughts on “Tertawa Melihat Arden Berpakaian Berbunga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *