Cerita Arden

Biarkan Anak Bicara Hal-Hal Berat, Papua Dimana Ayah?

Biarkan anak bicara hal-hal yang menurut anda nilai berat dari segi usianya. Sebagai Ayah yang demen ngajak ngobrol bareng Arden. Saya menanggapi pertanyaan Arden soal apa saja, termasuk pertanyaannya tentang Papua.

Saya sendiri agak terkejut ketika Arden menanyakannya, dia sepertianya mengikuti pemberitaan soal Asmat di Papua dari televisi. Kalau sudah begini, Saya tentu menjelaskannya dan berusaha menjelasakan semudah mungkin. Salah satunya ya menjelaskan Papua dengan menggunakan peta.

Inilah Obrolan Antara Ayah dan Arden Tentang Papua

Arden : Ayah, Papua itu apa sih yah?
Ayah : Papua itu bagian Indonesia. Di Timur Indonesia.
Arden : Ayah pernah ke sana?
Ayah : Ayah pernah ke sana. sekali.
Arden : Ehm Papua itu Indonesia juga kayak cianjur ya Yah?
Ayah : Iya kayak Cianjur. Papua itu besar pulau nya bagus kayak kepala burung.
Arden : Ohhh… Kalau Medan dimana?
Ayah : Kampung Opung di sumatera. ini medan (ditandai biru di peta).
Arden : Papua kenapa yah kok sering dengar ya di tipi (ngikutin berita).
Ayah : Ada itu masalah kesehatan.
Arden : Papua itu jauh ya yah?
Ayah : Jauh.

Arden : Lama ke sana.
Ayah : Lama, bisa seharian sampe ke sana.
Arden : Oh… kapan kita main ke sana?
Ayah : Ha? main?
Arden : Iya Ade pengen tahu gimana papua. Masa ayah ke papua enggak ajak Ade.
Ayah : Eh nganu Ayah kan ke sana karena…
Arden : Karena pergi diam-diam biar Ade ga diajak.
Ayah : Oalah…
Arden : Huhuhu… Ade pengen ke Papua…
Ibu : Aih Ayah kenapa Ade jadi nangis.
Ayah : Mau ka Papua ceunah…
Ibu : Sok, antarin ke papua. Arden jangan nangis udah malam.
Arden : Pengen ke papuaaa ibu…

Si kecil yang usianya akan menginjak 6 tahun tampaknya mulai tertarik informasi yang didengarnya dari berita televisi. Ya, Arden tidak saya larang menonton televisi. Anak memiliki hak memperoleh informasi sama besar seperti orang tua. Orang tualah yang bertugas menjelaskan apa sih sebenarnya berita yang mereka dengan dari tv itu.

Bacaan Asyik lainnya : Hati Hati Penipuan Survey Gas ke Rumah Anda

Biarkan Mereka Bicara Soal Papua, Malaysia, Jepang, Bahkan Amerika

Biarkan Anak Bicara
Biarkan Anak Bicara. pixabay.com

Meskipun awalnya terkejut Arden mulai penasaran isi berita televisi, ternyata itu hal yang lumrah loh Ayah dan Bunda. Menurut Robert Brooks, Ph.D, menyatakan kalauh anak usia 6-8 tahun itu memang pada tahap ingin tahu hal-hal yang ia dengar dari media massa.

Pakar Psikologis Klinis dari Fakultas Harvard Medical School, Amerika Serikat tersebut menjelaskan juga pada usia tersebut anak mulai mengembangkan rasa empati dan mampu melihat bahwa dunia ini bukan miliknya saja. Ada orang lain yang berpendapat lain tentang apa yang mungkin salah atau benar dari sisi diri si anak.

Nah, hal itu membuat anak ingin tahu tentang orang lain dan dunia di luar sana yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Bayangkan saja, Arden yang belum genap 6 tahun saja sudah ngomongin Papua yang dibikin heboh sama mahasiswa UI itu.

Sebagai Ayah yang pernah ditugaskan ke beberapa daerah, saya menjelaskannya dengan riang gembira menggunakan peta. Saya jelaskan bagaimana bentuk Indonesia dan perbandingannya dengan Malaysia, Pilipina, Thailand, Timor Leste, Brunei Darussalam, dan negara Asia Tenggara lainnya.

Hasilnya, Ya tentu saja keningnya mengkerut. Tetapi cerita tersebut bisa menjadi babak awal mengenal dunia. Arden sebelumnya sudah mengenal cerita tentang Jepang dari sepupunya yang berusia hampir sama dengannya. Kalau Amerika ya dapat dari film di televisi. “Itu Film apa sih ya?” dan Sang Ayah menjawab, “Film Amerika”. Hehehe.

Mulai Ajak Si Kecil Bicara Isu Berat

Ajak Anak Bicara Berat. pixabay.com
Ajak Anak Bicara Berat. pixabay.com

Sejujurnya saya bersyukur sekali pernah berkeliling beberapa daerah di Indonesia. Jadi saja enggak kudet tentang daerah negara kita yang luas banget ini. Bukan Papua saja loh yang susah dijangkau dan punya masalah penyakit. Daerah lain juga ada!

Melanjutkan penjelasan Pakar Psikologi Klinis tadi, katanya memang tidak muda menjelaskan isu berat kepada anak. Sayang sudah tahu tidak mudah, hal itu menjadi tugas orang tua. Orang tua memang punya beban hidup yang ribet ya Ayah Bunda.

Pesannya biarkan anak bicara dan dorong mengatakan hal isu berat yang lebih banyak lagi.  Ada banyak yang bisa dikenalkan kepada anak seperti, tentang seks, bullying, dan penyakit.

Ada beberapa saran yang bisa diterapkan orang tua untuk membicarakan hal berat kepada anak.

Mulai Sejak Dini

Biarkan diri anda lebih dulu bicara kepada anak. Berceritalah tentang dunia yang lebi luas sejak dini kepada anak. Tentang apa saja, meski negeri Amarika Sekalipun. Isu pembicaraan pun dapat dikembangkan lebih banyak dan lengkap. Ajak anak kita bicara hal berat, daripada dia memperoleh informasi hoax dan keliru dari sumber yang tidak benar.

Jangan Hindari Isu Tertentu

Enggak mau ngomongin berita kesehatan di Papua sama anak. Tetapi dia terlanjur nonton televisi dan mulai penasaran, apa sih Papua itu sebenarnya? Ya Saya tentu menjelaskannya dengan senang hati. Lain waktu mungkin dia membicarakan soal seks. Jadi ya enggak risih membicarakan isu tertentu kepada anak.

Jika perlu ya belikan mereka literatur, agar mereka mudah memahami dan mulai belajar dari buku sekaligus. Jika orang tua menghindar membicarakan seks misalnya, lah tiba-tiba dia cari sendiri dari internet dan dari temannya bagaimana? Orang tua malah tidak bisa mengontrol nilai yang ingin diajarkan kepada anak.

Komunikasikan Nilai Kehidupan yang Orang Tua Ingin Terapkan Kepada Anak

Saya memiliki latar pendidikan ilmu sosial, jadi saya kok ingin sekali anak saya hidup dapat berhubungan dengan banyak orang. Hidupnya harus tanpa sekat, suku, latar belakang daerah, terutama tidak dibatasi agama. Mau dia Islam kek, Kristen kek, Budha kek, dia harus bergaul sama sesama manusia.

Jadi saya mengenalkannya tentang dunia yang berbeda. Ada banyak perbedaan yang akan dia temukan di luar sana suatu hari kelak. Arden akan berhadapan langsung dengan penganut Agama Hindu. Saya pernah ceritakan betapa khusuknya teman saya di Bali ketika beribadah. Dia takjub, meski saya yakin dia tidak mengerti.

Tetapi paling tidak, dia tahu kalau agama bukan Islam saja. Bahkan dia kagum dengan hiasan pohon natal. Saya bilang itu pohon tercantik yang dihias kalau merayakan natal bagi kawannya yang beragama kristen.

Satu hal yang terus saya tekankan kepada anak saya adalah kebaikan tumbuh dari setiap manusia. Maka, kebaikan itu harus ditanamkan pada dirinya. Berat amat ya, jadi anak saya. hehehe.

Bacaan asyik lainnya : Tips Perjalanan Kereta Api yang Kusuka, Tidak Peduli Ayah dan Ibu Suka Atau Tidak

Simak Perkataan Anak Anda, Meski Terdengar Lucu dan Bikin Jengkel

Rasanya, anak sering bertanya hal ajaib yang tidak kita duga. Ya biarkan anak bicara, dengarkan saja dan disimak ya Ayah bunda. Kan kasihan sudah ngomong ajaib kok malah tidak didengarkan. Orang tua tentu akan lebih memahami apa yang ingin diketahui oleh anak kita.

Misalnya, apa itu papua. Kenapa di Papua. Kenapa di sana ada masalah penyakit? Kalau soal tiba-tiba ingin ke Papua. Ya itu hal lain. Itu tandanya anak makin penasaran pengen tahu kondisi sebenarnya. Bilang saja, kamu harus ke sana suatu hari.

Biarkan Anak Bicara, Jangan Bosan dan Jujurlah Mendengarkannya

Kalau anak sudah sering bertanya begitu. Jangan bosan ya ayah bunda. Karena mereka akan menyerap informasi sedikit demi sedikit. Hingga mereka menangkap informasi lengkap suatu hari nanti. Dia akan berupaya melengkapi pengetahuan yang bolong-bolong sampai dirasanya sudah cukup. Jadi, berhubungan seks itu bisa hamil ya?

Lalu, jujurlah menjawabnya. Jangan sekali-kali bohong. Jawaban yang jujur akan membantunya percaya terhadap orang tua dan tahu kalau informasi benar adanya. Anak akan berupaya mencari sendiri informasi tentang seks dan cenderung bertanya-tanya untuk menjawab rasa ingin tahunya. Kalau dia tahu dan ternyata berbeda dari yang diberitahu Ayah dan Bundanya, bagaimana?

Jadi, Ayah dan Bunda biarkan anak bicara hal-hal berat dan ceritakan sejauh yang anda ketahui. Jangan biarkan anak hidup dalam tanya. Anat tentu akan mengisi ruang kosong isi kepalanya, hingga dia mengerti kalau begitu banyak hal yang menarik di luar sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *