Kata Ibu guru jangan ke warnet

Arden : Ayah, tadi teman Ade, dibilang ibu guru jangan ke warnet
Ayah : Warnet? Tau dari siapa?
Arden : Masa ayah enggak tau warnet. Teman Ade aja tau.
Ayah : Emang kamu tahu?
Arden : Tahulah… itu tempat anak-anak nakal itu loh yah. anak-anak yang suka main di jalan.
Ayah : ??? Ya makanya jangan jadi anak nakal. Jangan main ke warnet.
Arden : Mending jajan es krim ya yah. Enggak usah ke warnet. mumpung ibu kerja. Sedaaappp… yuk yah…
Ayah : Alahhh banyaklah alasan. Bilang aja pengen eskrim.

Aku sebetulnya sudah bisa menebak kalau Arden bukan mau membahas warnet semata. Ia pengen banget beli eskrim. Maklum, ia sudah tiga minggu tidak boleh makan eskrim. Ibunya sudah melarang, karena baru sembuh dari sakit. Sumber penyakitnya ada di tenggorokan. Anak sekecil Arden mengalami sakit radang tenggorokan sampai panas dingin; malam panas, siang dingin suhu badannya. Bikin khawatir sampai berobat dua kali dalam seminggu.

Arden mulai belajar bagaimana mengutarakan keinginannya dengan memulai obrolan dari topik pembicaraan yang lain dulu. Ya kalau kata orang tua “basa basi lo ah.”

Dari awal pembicaraan soal warnet, Arden memang sudah tahu beberapa temannya sering main ke warnet. Tetapi bagaimana rupa dan bentuk warnet itu, dia tentu tak tahu. Apalagi kata guru dan temannya letak warnet ada di pinggir jalan utama desa, Arden pasti tak berani mengikuti temannya bermain ke sana.

Aku sering memberi peringatan, “jangan sampai ketahuan sama Ayah main ke Jalan.” Lalu, dipikirannya kalau anak yang main ke jalan itu pastilah anak nakal. Karena anak nakal itu sudah berani berbohong sama orang tua. Nakal dipikirannya itu identik dengan kebohongan. Anak berbohong adalah anak nakal. Sukurlah, Arden mengerti maksud dari kata “bohong”.

Eskrim Rahasia

Kalau pembicaraan soal eskrim sih sering seperti obrolan rahasia antara ayah dan anak lelaki. “Kita beli aja eskrim mumpung ibu enggak tahu,” aku sering terkekeh kalau Arden mengatakan itu sambil berbisik, padahal enggak ada orang lain di rumah. Ini rahasia! Jadi harus berbisik ngomonginnya. Kalau ada yang tahu, takutnya dikasih tahu ke ibu. Padahal mah, Ayahnya yang ngasih tahu kalau anak kecil abis makan eskrim.

Pembicaraan rahasia antara ayah dan anak lelaki ini berdampak pada kedekatan ayah dan anak. Anak berusaha mendapat jaminan kalau ada sesuatu hal yang tidak harus diketahui oleh ibu. Kalau tahu ya kena marah. Sedangkan sama ayah, sebagian besar larangan ibu menjadi “boleh” dan larangan cenderung longgar. Jadilah Ayah dan anak sering makan eskrim berdua. Malamnya baru ketahuan kalau ada sampah bekas eskrim di tong sampah.

Nah kalau rahasia itu tidak bohong, karena diketahui oleh Ayah. Kalau nanti ibu tanya, siapa yang makan eskrim ya Arden tinggal jawab, “kata ayah boleh. Beli satu-satu.” Sekian habis perkara. Soal ayah kena marah selanjutnya, ya rasakan aja sendiri diomelin sama ibu.

Kami Anak Malaysia Sudah Merdeka

Arden sedang senang menonton Upin dan Ipin sebulan terakhir. Film Thomas and Friends dan Cars sudah berlalu dan tak ditonton lagi seiring dengan rusaknya DVD bajakannya. Kemarin hari senin itu, ia pun menonton Upin dan Ipin seri hari kemerdekaan Malaysia di youtube. Aku tak begitu tahu jelas isinya dan memang sudah mulai bosan menonton Upin Ipin bareng Arden setiap hari.

Setelah menonton Arden pun bertanya apa itu Kemerdekaan. Sudah begitu banyak tanya bersama Arden, kali ini soal Kemerdekaan pula yang mau ditanyanya.

Arden : Ayah bagus ih lagu kemerdekaan Upin Ipin
Ayah : ho. Nyanyi atuh kalo bagus. 
Arden : Kemerdekaan teh apa?
Ayah : hm… (tiktuktiktuk mikir lagi) 
Arden : Katanya bebas dari Inggris.
Ayah : Ya itu bebas dari Inggris.
Arden : inggris itu apa?
Ayah : Negara gitu kayak Indonesia…
Arden : oh… (lalu pergi) dan nyanyi…

Kami anak Malaysia sudah merdeka. Merdeka dari penjajahan Inggris…

Ia sudah menghafal lagunya, aku sih lucu mendengar Arden menyanyi begitu. Tetapi dibalik rasa lucu itu, Arden menyebutkan “kami anak Malaysia sudah merdeka.” Ya salam Upin dan Ipin kartun dari negeri jiran ini telah berhasil membuat anakku menjadi anak Malaysia. Arden adalah anak Malaysia.

Kelucuan ini tentu bisa diambil hikmahnya, kalau film kartun Malaysia lebih mengena di hati anak sekecil Arden. Kartun Upin-Ipin yang adegannya penuh keceriaan dan banyak kejadian seru sehari hari di dalamnya. Jangankan adegan menyanyi dan lagu kemerdekaan tadi, logat khas melayunya pun bisa ditiru sama Arden. “Ayah, nak minum. Betul-betul-betul,” katanya suatu kali bicara seperti Upin dan Ipin.

Sebagai orang yang berlogat melayu dari tanah Deli alias dari kota Medan sih aku senang diajak bicara begitu. Tetapi kalau gara-gara Upin-Ipin anakku jadi anak Malaysia? Mau jadi apa nasibnya sebagai generasi penerus Indonesia.

Film kartun Upin Ipin jelas-jelas berhasil mempengaruhi Arden. Kalau sudah begini. Nak jadi anak Malaysia lah budak nih.

Wahai pembuat film kartun bisakah kalian buatkan seri kartun Indonesia yang semenarik Upin dan Ipin biar anakku tidak merasa sebagai anak Malaysia?

 

Aku Malu Kalau Pergi Sekolah Lagi

Bermain bersama teman

 

Sejak hari senin, (27/02/2017), Arden mau sekolah lagi. Akhirnya setelah dengan berbagai cara dia mau sekolah lagi. Sekolah Arden adalah sekolah PAUD. Bukan SD, umurnya juga baru 4,5 tahun. Sejak Januari selepas kepulangan dari Medan bertemu Opung, Arden memutuskan tidak mau sekolah dulu dengan berbagai alasan, dari yang masih cape dari Medan, sakitlah, belum mau sekolahlah, sampai akhirnya diketahui kalau dia malu. “Aku malu sama teman teman, yah,” katanya setelah dikorek-korek sampai ngomong malu apa yang ia maksudkan.

Aku mau tertawa mendengarnya. Malu! Anak kecil sudah mengerti malu? Selidik punya selidik rupanya dia malu sama teman-temannya yang lain karena sudah tidak sekolah lebih dari seminggu. Apalagi sebelumnya pernah tidak sekolah sebulan lebih ketika aku sang ayah pergi ke NTT dalam rangka kerja. Jadilah dia bisa dibilang dua kali membolos sekolah dalam waktu yang lama.

Aku pikir harus tahu apa maksud dari malu itu. Rupanya eh rupanya, dia malu dikata-katain sama beberapa temannya “Arden mah jarang sekolah.” Bagi Arden kalimat tersebut seperti ejekan. Seperti dibilang “malas” atau “enggak mau pergi sekolah”. Padahal kan padahal, kita berlibur ke rumah nenek. Aku sebagai ayah ya santai saja, “kan emang jarang sekolah, kita kan ke rumah opung ke Medan.” Arden biasanya diam seribu bahasa setelah dibilang begitu.

Rupanya eh rupanya, Arden pengen dibela sama orang tuanya. Sama aku dan ibunya. Ia ingin Ibunya menemani ke sekolah supaya teman-temannya tidak ngomongin mulu kalau Arden jarang ke sekolah. Ibunya sudah bilang akan menemaninya, tetapi ternyata Arden butuh waktunya yang lama, hingga mau sekolah lagi. sampe dua bulan kemudian loh baru mau sekolah.

Aku baru mengerti dampak omongan seorang anak terhadap anak lainnya begitu sangat berpengaruh, sehingga anak enggan ke sekolah karena berulang kali diomongin dengan kalimat yang sama, “Arden jarang mau pergi ke sekolah.” Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Arden kasus bully atau tidak, tetapi Arden sudah merasa malu karena omongan temannya tersebut sampai enggak mau sekolah selama dua bulan.

Apa yang Terjadi Pada Anakku?

Lalu isenglah aku cek tentang kasus Bully ini di internet dan terutama ke situs KPAI dong dan disalah satu isi situsnya Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Advianti menyatakan bahwa kasus kekerasan terhadap anak sudah terjadi sejak playgroup itu artinya setara sekolah PAUD dong. Anak-anak di playgroup sudah bisa menghasut teman lainnya saat dia menganggap tidak cocok.

Jadi, kekerasannya itu melalui verbal alias omongan anak-anak tersebut. Hal ini harus diperhatikan, karena anak-anak yang masih balita tidak bisa membela diri. Seperti kata Arden, “Aku malu.” Lalu kalau tidak dicek apa penyebab malu tersebut, sebagai orang tua mungkin tak pernah tahu perasaan si anak hingga malu yang tak berujung.

Maria menjelaskan bahawa anak tidak akan mengatakan sedang dibully, Jadi si anak memendam perasaan dari apa yang dilakukan oleh temannya. Kalau kami selalu bertanya apa yang dilakukan di sekolah, meski ibunya juga pergi mengantar dan kadang ikutan sekolah juga. Kami mau Arden mengatakan banyak hal tentang apa yang dia alami dimana pun, termasuk di sekolah.

Tentang Kasus Bullying

Sebuah penelitian menyebutkan, anak-anak yang menjadi korban bullying tetap merasakan akibat kesehatan psikis dan mental dari pengalamannya lebih dari 40 tahun.Para peneliti dari King’s College London telah melakukan studi terhadap 7.771 anak-anak dari usia tujuh sampai 50 tahun. Orang yang memiliki risiko pernah dibully akan berisiko lebih tinggi mengalami depresi dan kecemasan. Lalu ada kemungkinan kualitas mengalami kualitas hidup yang lebih rendah pada usia 50 tahun. Nah ngeri ya akibat bully itu.

Ya, maka dari itu bagiku sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi pada Arden. Apalagi dia sampai tidak mau sekolah dalam waktu yang lama. Hingga, berbagai cara dilakukan agar dia mau pergi lagi ke sekolah, dari diajakin main, diberi jajan, diajak bicara, hingga menuruti keinginannya, yaitu ibu harus pergi ke sekolah juga. Ya jadi deh, ibunya harus turut ke sekolah dan menunggunya sampai selesai waktu bermain dan belajarnya.

 

 

 

Pagi Bersama Hape dan Laptop, Bukan Bersama Arden

Berhari-hari bersama Arden semenjak gemar bermain hape, berhari-hari pula aku sebenarnya sering tanpa kata. Dia sibuk main hape dan aku sibuk main laptop. Sama-sama sibuk. Sibuk enggak karuan. Ayah dan Anak satu ruangan bisu tanpa bicara. Kalau kata Arden, “Ade enggak punya teman, main hape boleh?” Senyatanya pula, aku tak pernah menolak permintaan Arden untuk bermian di hape ku itu. Kalau tidak dikasih hape dia bisa menangis tersedu sedan atau duduk diam dipojokan hingga terlelap. Ngambek!

Sebenarnya, Arden lebih senang bermain denganku tetapi bagaimana mungkin kalau harus meladeninya bermain seharian. Awak tak bisalah intip-intip status kawan-kawan di medsos. Kapan pula waktunya awak mencari informasi soal ini itu, sampai membaca berita. Syukurnya kadang-kadang temannya datang ke rumah. Tetapi ya tetap teman-temannya ngajak bermain handphone juga kalau datang ke rumah. Kalau sudah begini ya wassalam.

Lalu, apakah dibiarkan saja anak sekecil Arden asyik dengan hapenya? Kalau ditelusuri berbagai tulisan di internet banyak dampak buruk kalau anak dibiarkan bermain hape, tablet, ipad, dan alat sejenisnya. Katanya anak-anak bisa  bakal mengalami Pertumbuhan otak yang terlalu cepat, , Obesitas, Gangguan tidur (waktu tidurnya tersita bermain hape), Agresif, Kecanduan. Radiasi (Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan ponsel sebagai risiko kategori 2B, karena emisi radiasi yang dihasilkan. Anak-anak lebih sensitif terhadap berbagai radiasi dibandingkan orang dewasa, karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang).

Disisi lain, Psikolog Tika Bisono mengatakan bahwa gadget sejenis hape itu tidak bisa dijauhkan dari anak. Lah orang tuanya saban hari pegang hape. Permainan atau gem gem kalau kata Arden menjadi pilihan lain ketika tidak ada teman bermain dan alat bermain yang  sangat praktis. Selian itu ya anak menjadi tidak sehat karena jarang keluar rumah. Masalahnya kalau Arden keluar rumah, dia susah mencarinya entah di rumah temannya yang mana bermainnya. Anak juga menjadi jarang terpapar matahari da oksigen di luar rumah.  Ya selain itu enggak pernah keringatan. Lah iya, tangan doang yang bergerak bagaimana mau keringatan. Hal yang paling diwaspadai adalah hape bisa berpengaruh pada sikapnya. anak lebih senang sendiri dan jarang bersosialisasi dengan teman-teman di sekitar rumah. Kalau masalah ini tidak pernah menjadi masalah, teman-teman Arden selalu datang ke rumah. Karena menurut Arden, hanya dirinya yang punya permainan mobil, boneka, kereta yang banyak. “Kalau si Kevin mah Cuma sedikit mainannya,” kata Arden suatu kali. Baca lebih lengkap di link berikut ini viva.co.id

Nah kalau anak sebaiknya harus sering diajak bermain karena banyak manfaatnya. Antara lain anak menjadi mudah bermain dalam tim. Mereka mudah berempati. Anak mudah belajar mengerti perasaan orang lain. Anak yang senang bermain membuat anak Banyak bergerak. Asosiasi Penyakit Jantung Amerika merekomendasikan anak-anak berusia di atas dua tahun harus melakukan aktivitas fisik ya sekurang-kurangnya sejam setiap hari, agar kelak ia suka olahraga. Manfaat lain anak gemar bermain yaitu anak jadi riang gembira. Seperti yang dituliskan dalam link berikut ini kompas.com.

Dunia anak adalah dunia penuh kegembiraan. Anak-anak yang mengenal aneka permainan merasa lebih hip hip hore dan selalu diliputi rasa senang. Jadi, wahai kalian yang membaca blog ini jangan tiru hidup Ayah dan Arden. Tirulah isi dari artikel yang dikutip dari media online tadi. Anak memang tak bisa terhindar dari hape dan sejenisnya, tetapi ajaklah anak bermain kalau bisa keluar rumah. Kalau Arden sih, anak-anak di luar rumah yang diajaknya ke dalam rumah.