Mencoba Memahami Maksud Mario Teguh

Betul Pak Mario, Saya sering kok ditelpon orang dan bilang aku ini saudaramu . Walau enggak sedarah kita saudara. Macam mana pula kita bisa saudara? Adekku yang super kita sama-sama marga Harahap. Kita saudara semarga. Ya kalau gitu kita menjadi keluarga yang dibangun dalam cinta dan kesetiaan marga, bukan yang hanya asal sedarah. Salam Super Pak Mario.

Kayaknya ini maksud Pak Mario. Marga bisa lebih bernilai dari apa pun. Makanya tak berani aku hapus margaku dari akun FB ku.

14212793_10155091460769881_3860182919862056608_n

 

PR Bagi Si Kecil

Beberapa hari yang lalu, teman Arden mengingatkanku kalau anak semata wayangku diberikan PR sama Bu guru. Guru PAUD. Sontak aku tak percaya, anak PAUD sudah diberikan PR? PR nya tidak sulit hanya menulis huruf O, kalau kata Arden nulis bulat-bulat. Setelah itu PR pertama, ternyata ada PR setiap hari. Kalau sudah begini mau apalagi, walau menurut sebagian besar teman kalau PAUD tidak boleh diberikan PR, ya buktinya Arden diberikan PR. Karena aku tak setuju PR dari PAUD ini, aku tak pernah membantunya dan mendampingi untuk mengerjakan PR, istriku saja yang sedikit membantu.  Ya, ngintip sedikitlah bagaimana bentuk PR nya. J

Selebihnya tangan kecil Arden yang menoreh tulisan tipis-tipis di bukunya. Sebetulnya Arden tampak  tak  mengalami kesulitan mengerjakannya. Toh hanya satu huruf saja PR nya, dan dibuat menjadi banyak turun ke bawah dalam 2 baris berbanjar. Soalnya coret-coret, Arden sudah dibiasakan melakukannya sejak kecil. Tetapi itu sambil bermain, bukan PR dari sekolah semcam PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Foto Arden mengerjakan PR sempat diunggah ke facebook oleh istriku. Betul saja ada beberapa tanggapan dari teman-teman  tak setuju soal PR itu. Termasuk seorang teman yang berkerja di kementerian pendidikan. Ya sebagai Ayah, aku dijawab santai sajalah. Toh anaknya sudah mengerjakan PR itu dan tampaknya enggak ada masalah.

Kabarnya anak PAUD tidak boleh dibebani Pekerjaan Rumah (PR) dan mempelajari baca, tulis, dan berhitunng (calistung). Lalu aku carilah beberapa sumber mengenai belajar calistung tersebut. Menurut Direktur PAUD Kemdikbud, Sudjarwo Singowijoyo bahwa memaksa anak usia di bawah lima tahun (balita) menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena ‘Mental Hectic’, yaitu anak menjadi pemberontak. Waduh, bahaya! katanya lagi, penyakit itu akan merasuki anak di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Katanya lagi, anak yang menguasai calistung pada usia dini justru akan merusak kecerdasan mentalnya. (baca lebih lengkap disini)

Pendapat yang nyaris sama dinyatakan oleh Mantan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Nonformal Informal (PAUDNI)  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Lidya Freyani Hawadi menjelaskan, bahwa Kurikulum PAUD harus disesuaikan dengan tugas perkembangan anak pada setiap tingkat usianya. anak yang belajar di PAUD diarahkan untuk bermain ketimbang menguasai pelajaran akademis. Anak yang memasuki PAUD, jangan sampai dipaksa menguasai calistung. (baca lebih lengkap disini)

Lalu apakah yang diajarkan kepada anakku termasuk pemaksaan? Soalnya PR nya mulai mengenal dan menuliskan abjad dan angka. Kalau kata istriku yang mengikuti rapat dengan guru PAUD, hal yang diajarkan di PAUD itu pengenalan dasar untuk anak usia PAUD. Jadi dinilai tidak memberatkan dan cara mengajarkannya dengan sambil bermain. Jadi anak secara perlahan mampu mempelajari sesuatu dari permainan. Cara mengajari dan mengenal angka dan hurufnya jauh berbeda dengan yang diajarkan di tingkat SD.

Meskipun aku tak mengerti betul bagaimana baiknya belajar anak usia PAUD ini, aku tetap mencoba mengenali sejauh mana Arden mampu dan senang belajar di sekolahnya. Yang penting anak tidak stres dan tidak ada pemaksaan mengerjakan PR angka dan huruf di rumah. Kukatakan sama istriku, kalau dia tak mau mengerjakan PR biarkan saja. Ya semoga Arden menerima materi pendidikan sesuai dengan usianya. Aku percaya sama gurunya mengajari sesuatu hal yang tepat bagi Arden. Anak kecil berusia 4 tahun. Selamat malam. J

Ditulis untuk

Anak Tanpa Masa Depan, Tentangku dan Masa SMA

 

Tepat waktu habis setahun kuliah, aku berlibur pulang ke Medan. Tahun pertama  Kuliah dengan menetap di Bandung dan kampus terletak di Jatinangor itu ternyata menjemukan juga. Pada tahun pertama kuliah, aku sering kali dilanda rindu kepada keluarga. Nah, pas liburan inilah, aku baru mengetahui kalau orang tuaku sungguh tak percaya kalau aku bisa kuliah di universitas negeri di Jawa Barat. “Kata Ayah kau dulu pas pergi ke pulau jawa, kau tak punya masa depan,” begitulah kata bu Upik tetangga yang sering menyambangi rumah dan bersenda gurau dengan mamak (ibuku). “ Aku tertawa terbahak-bahak dan membenarkan perkataan ayahku, “memang betul itu Bu Upik, siapa yang mau percaya sama anak nakal begini.”

Tak punya masa depan. Omongan ini tentu membekas diingatan apalagi kalau itu bersumber dari orang tua sendiri. Semoga tidak begitulah ucapannya atau Ayah hanya bergurau. Aku tahu, ayah sudah lelah menimang anak-anaknya hingga kami 6 bersaudara bisa kuliah semua, bahkan si sulung malah bergelar master dari jurusan ekonomi lulusan Universitas Indonesia. Aku tahu, Ayah patut merasa awas pada diriku yang sekolah pada SMA tampak tak meyakinkan.

Masa SMA. Apapun tentang sekolah, aku tetap tak mau kalah dengan kakak dan abangku. Aku ingin masuk negeri seperti mereka. Sewaktu ujian SMP, aku pun rajinlah belajar, dan pas pula nilaiku bisa membuat masuk SMA Negeri 11 Medan. Meski itu disebut sekolah pinggiran, tetapi aku masuk negeri seperti dua abang dan satu kakakku. “Aku pun bisa kayak orang itu,” pikirku waktu masuk SMA. Tetapi masa ini, masa remaja nan ceria waktu SMA ini tampaknya membuat pusing ayahku.

Ceritanya begini, kenakalan demi kenakalan berhasil aku torekan. Suatu kali selepas pulang dari pesantren kilat Se-Sumatera Utara, aku ingat baru awal kelas 2 SMA. Aku yang harusnya jadi anak ROHIS malah turut berkelahi menyambangi anak kelas satu. Tak sampai dipanggil ke ruang BP (bimbingan konseling), tetapi tampaknya Ayah tahu soal perkelahian ini dari sepupuku. “Jangan bandel kalau di sekolah, “ kata ayahku waktu itu. Sedangkan aku pura-pura tidak tahu maksud perkataan ayah. Sepupuku itu guru konseling di SMA itu.

Kenakalan lainnya, waktu kelas dua pula, seorang teman berbadan besar memukul wajahku dan masuklah kami berdua ke ruang BP. Wajahku memar kena tonjok, tetapi pemukulan ini bisa menjadi masalah besar bagi temanku. Kami sampai dua kali dipanggil ke ruang BP. Namaku tertera dua kali di ‘buku hitam’ sebagai anak yang dikenai peringatan. Aku baru tahu kalau temanku itu merasa terancam. Dia diancam oleh teman-temanku sampai dia tak berani pergi ke sekolah. “Aku tak tahulah bu, kalau dia diancam orang,” kataku acuh waktu ditanya perkara ancaman ini. Betul saja tak lebih sebulan, temanku yang badannya tinggi pindah sekolah. Ancaman tampaknya tak berhenti. Aku masih ingat tatapan matanya, seolah menantang tetapi penuh ketakutan. Apa boleh buat, dia salah memukul orang.

Teman-temanku terbilang cukup banyak waktu SMA, setengahnya teman berkumpul adalah teman dari masa SMP. Jadilah kami segerombolan anak SMP yang berteman hingga masa SMA (dan hingga kini). Dampak kalau anak satu sekolah jenjang SMP pindah ke sekolah jenjang SMA secara bersamaan adalah apapun masalahnya perkelahian akan diselesaikan atas dasar persahabatan. Lawan berkelahi akan kena hajar beramai-ramai atau diancam hingga pindah sekolah. Aku masih ingat pernah menonton seorang kawan berkelahi satu lawan satu. Akhirnya, si lawan berkelahi itu dipukuli beramai-ramai. Ada 20 orang lebih menghajarnya dan cukup kasihanlah melihat waktu itu. Syukurlah dia tak sampai pindah sekolah karena didamaikan oleh kawan lainnya.

Kekhawatiran orang tuaku semakin memuncak, ketika ditemukan beberapa pil terlarang dilaci lemari. Aku lupa (pura-pura lupa) nama pilnya. Obat-obatan itu memiliki efek ‘santaiiii’ dan membuatku seperti menikmati sekali ketika belajar di kelas dan sesekali sampai tertidur. Kalau malam hari berkumpul dengan teman satu tempat tinggal, tak jarang obat-obatan itu dicampur minuman keras sembari menghisap ganja. Aku masih ingat ada beberapa bungkusan ganja ditasku waktu perpisahan sekolah. Ganja bebas masuk begitu saja dan siapa pula yang mau memeriksa tasku waktu itu. Suatu kali gara-gara menghisap ganja ini, aku pernah ditanyai sama Kakak ipar dari Kakak angkatku yang bertandang ke rumah. “Matamu merah dek, kau baru ngapain,” tanyanya tak perlu dijawab karena dia pasti tahu aku mabuk ganja. “Kau hormati abangmu itu,” dia tunjuk foto abang angkatku yang berseragam tentara.

Sebetulnya ada beberapa kenakalan kecil lainnya, tapi tak perlulah ditulis semua semasa SMA. meski begitu, dibalik kenakalan kecil itu, aku tetap menyimpan hasrat untuk bisa kuliah. Waktu kelas tiga, diam-diam kupelajari mata pelajaran sekolah untuk persiapan ujian masuk kuliah. Waktu itu sempat dua miggu, aku memilih kelas IPA. Tetapi tak kuasa bodohnya, aku meminta pindah ke kelas IPS. Jadilah bimbingan belajar sempat Jurusan IPA, tetapi sekolah malah Jurusan IPS. Pelajaran Jurusan IPS ini kupelajari pelan-pelan. Tak usah banyak-banyak pikirku, yang penting aku bisa kuliah di universitas negeri. 6 bulan bimbel IPA, aku beralih bimbel (bimbingan belajar) IPS. Niatku Cuma satu, aku harus menghitung perkiraan nilai yang bisa membuatku masuk perguruan tinggi negeri di pulau jawa. Pribadi boleh nakal, tetapi cita-cita boleh tinggi.

Waktu mau lulus SMA, kusampaikan pada mamak kalau aku mau kuliah di Jakarta seperti dua orang abangku. Niatku tentu ditolak. “Kuliah di Medan sajalah,” kata mamakku. Tetapi melalui bantuan ibu temanku dan sekaligus guruku juga, dia membelikanku tiket ke Jakarta. Dibilang guruku itu, kalau sudah ada tiket untuk aku pergi ke Jakarta. Jadilah Ayah terpaksa mengganti uang tiket untuk pergi ke Jakarta itu. Aku senang bukan kepalang. Belajarku yang sedikit ini takkan akan menjadi tak sia-sia, pikirku.

Waktu di Jakarta sebelum SPMB, aku belajar sedikit-sedikit lagi. Aku hitung sendiri pencapaian nilaiku. Ah tak bisa masuk jurusan hukum, pikirku. Aku mencari grade yang rendah, kupillih antropologi UNPAD sebagai pilihan kedua dan ilmu politik UI pilihan pertama. Aku sudah berhitung kalau mujur, aku bisa masuk jurusan Ilmu Politik UI dan kalau sial ya masuk Antropologi. Aku memilih Jurusan Antropologi karena kata guru SMA, kuliahnya bisa jalan-jalan ke banyak tempat.

Betul saja, waktu pengumuman masuk perguruan tinggi negeri, abangku mengajak mengecek nomor ujianku di warnet dekat Stasiun Gondangdia Jakarta. Apa nyana, nomor ujianku tertera di layar komputer itu dan aku lulus. Abangku menatapku tak percaya. Itu artinya, perhitunganku tepat. Aku berhasil masuk Jurusan Antropologi UNPAD. Keesokan harinya, orang tuaku membeli koran dan memeriksa namaku. Alangkah bahagia mamakku, tahulah dia kalau aku bisa masuk perguruan tinggi negeri yang kampusnya di Jatinangor itu.

Begitulah kira-kira ceritaku untuk #1minggu1cerita bertema Aku dan Sekolahku. Bagiku nakal tak berbuah sial. Seorang anak tak harus hidup dengan norma-norma umum. Anak harusnya diberi pilihan untuk mempelajari dan menjalani hidupnya sendiri. Hal yang penting adalah, anak yang nakal tetap disemangati untuk terus sekolah, agar memiliki keinginan terus mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Ya semangatilah si anak nakal untuk bisa berkuliah di Universitas Negeri. 🙂

menulislah-walau-1minggu1cerita

Ayah Enggak Bisa Berenang

sam_3071

Arden mulai ngerti kalau ayah tak bisa berenang. Setiap kali diajak nyebur, dipinggir mulu enggak pernah ke tengah. Ya iyalah enggak bisa berenang.  Masa iya, ayah dibiarkan tenggelam.

Arden : Ayah kenapa ga berenang?
Ayah : Takut basah ah
Arden : Berenang kan memang harus basah
Ayah : Ehm…
Arden : Ah kata Ibu juga Ayah engga bisa berenang
Ayah : ????

Tentang Pekerjaan Rumah yang Mungkin Tak Selesai

13876560_10210571205464151_464081413782949757_n

Arden dihadiahi tugas dibawa pulang semenjak sekolah. Untuk mengerjakannya tentu dia tidak bisa sendiri. Jadilah aku dan istriku bergantian mengerjakannya PR hampir setiap hari. Masalahnya, dalam proses pengerjaan PR ini sering kali terjadi drama. Untuk sang ibu mungkin agak merepotkan, sebab Arden senang mengerjakan PR menjelang pergi sekolah. Sementara dalam waktu yang bersamaan, sang ibu harus pergi ke kantor. Jadilah ibu sering emosi jiwa menghadapi lelaki kecil yang didoakan akan menjadi lelaki baik hati nantinya.

Seperti drama kemarin pagi, Arden tampak sengaja menghentikan proses pengerjaan PR nya. Alasannya ada saja, dari masih menonton film di tv, menonton kartun youtube, sampai belum selesai makan. Jadilah, sang ibu mulai murka dan Arden berlagak pura-pura tak terjadi apa-apa. Padahal dia tahu akan dimarahi. Sebagai ayah yang tak setuju adanya PR untuk anak PAUD ini, terpaksa ambil bagian dalam drama kehidupan ini. Diawali dengan pertanyaan ada PR apa, mau mengerjakan PR atau tidak, sampai terpaksa membantu Arden untuk mengerjakan PR. Ya aku membantunya, turut mengerjakan PR anak PAUD ini. Aku pikir Arden memang belum layak ditugasi pekerjaan rumah, walau sekedar menebalkan huruf dan mengikuti pola titik-titik.

14182663_10210919108761516_383856587_n

Drama semakin memuncak, kalau Arden sudah tampak mau menangis. Aku tak mau dia malah jadi stres gara-gara PR sekolah. Maka, Aku akan menuntunnya dan menggerakkan tangan kecilnya mengikuti pola huruf atau angka yang ditugasi oleh ibu gurunya. Semenjak ada PR ini suasana bukan malah menyenangkan melihat anak belajar, malah semakin ruwet. Karena Arden tampak sekali enggak suka mengerjakan PR nya.

Bagiku, tugas bagi anak PAUD ini memang mengganggu waktu bermain buat Arden. Arden tampak belum bisa fokus untuk mengerjakan PR. Melihat perilaku Arden, saya menjadi setuju bahwa anak-anak harus betul-betul siap untuk sekolah dan tentu saja mau mengerjakan PR secara mandiri. Untuk anak umur 4 tahu, rasanya belum muncul inisiatif untuk itu.

14182339_10210919092961121_1173256204_n

Masalah PR ini, aku menjadi ingat sebuah video tentang pendidikan di Finlandia dengan tagline besar NO HOMEWORK.  Tidak ada PR untuk anak sekolah tingkat dasar. Finlandia yang dikenal sebagai negara nomor satu dalam kualitas pendidikannya lebih menekankan belajar untuk anak-anak dengan metode bermain. Kabarnya untuk mata pelajaran tertentu dalam waktu tertentu, misal dalam 45 menit jam berlajar diselingi waktu istirahat selama 15 menit. Anak-anak memiliki waktu untuk mengisi dengan kegiatannya sendiri. Yang paling menarik dari pendidikan di sana, sekolah dasar menjaga beban pekerjaan rumah seminimum mungkin, kalau banyak diberita sih malah tiada pekerjaan rumah. Tanpa PR ini membuat anak-anak memiliki waktu untuk kegiatan hobi dan dapat bermain dengan teman-teman mereka sendiri diluar jam sekolah.

Justru tanpa PR ini menurutku lebih baik, terutama untuk anak umur 4 tahun. Si anak menjadi tak terpaksa mengerjakan PR dan orang tua tak terbebani apalagi harus beremosi ria menyuruh anak yang terlihat enggan menyentuh pinsil. Hampir setiap hari, Arden jelas tak mungkin menyelesaikan tugasnya kalau tak dipaksa dan tanpa ikut campur orang tua. Arden pun tampak belum mengerti apa yang sedang dia kerjakan. Sering pula dia bilang PR itu terlalu banyak, apalagi harus menyelesaikan sampai satu halaman penuh. Jadilah aku, istriku, menjadi orang pengganti untuk menyelesaikan PR tersebut atau PR tersebut mungkin tak pernah selesai.

 

Sumber Bacaan tentang pendidikan di Finlandia

http://edition.cnn.com/2014/10/06/opinion/sahlberg-finland-education/