Wajib Mampir ke Tempat Ini Kalau Liburan ke Labuan Bajo!

 

“Kita perginya naik apa yah?” Tanya Arden penasaran mau berangkat naik apa. Naik Pesawat dong! Berpergian jauh tentu saja sik asik naik pesawat. Jadi ingat pertama kali Arden balik kampung ke rumah kakeknya, dia senang sekali naik pesawat. “Boleh berdiri enggak yah?” Aku menggeleng dan menginstsruksikan duduk, karena pesawat siap mau lepas landas.

Soal berpergian jauh begini, harus pilah-pilih naik pesawat nyaman, apalagi kalau perginya jauhhhh sekali. Terutama Kalau berpergian ke tempat tujuan wisata. Selain tempatnya juga harus milih yang oke punya, tujuan wisatanya juga yang sik asik untuk dikunjungi.

Naik Citilink, ayo kita ke Labuan Bajo. Kota di Nusa Tenggara Timur ini seakan tidak ada habisnya memikat hati jutaan wisatawan. Tidak hanya tentang Pulau Komodonya yang terkenal di dunia, di sini masih banyak lagi destinasi wisata andalan yang menawarkan keindahan bukit, pantai, bahkan alam bawah lautnya.

Hal yang paling membuat wisatawan terpesona saat berkunjung ke Labuan Bajo adalah langit di kala senja! Bagai surga menanti malam. Warna langit yang berubah menjadi jingga, menciptakan siluet menakjubkan dari pulau-pulau kecil di sekeliling Labuan Bajo.

Hampir semua destinasi wisata di Labuan Bajo dapat dijadikan spot spesial menikmati senja. Destinasi wisata apa sajakah itu? Yuk langsung saja disimak. Jangan sampai ketinggalan info wisatanya.

Manta Point

sumber:komododivecenter.com

Manta Point merupakan destinasi wisata snorkeling yang berada di tengah-tengah laut. Keunikan dari destinasi wisata ini adalah, kamu bisa snorkeling bersama Manta Ray. Jika kamu beruntung, Manta Ray berenang sangat dekat dengan kamu, sampai-sampai kamu bisa menyentuh bagian tubuhnya.

Pulau Kalong

sumber:lovina.co.id

Destinasi lain di Labuan Bajo yang tidak kalah uniknya yakni Pulau Kalong. Berkunjunglah waktu senja tiba, kamu akan disambut ribuan binatang Kalong yang berterbangan keluar dari sarang mereka. Pengalaman yang tidak boleh kamu lewatkan begitu saja ketika jalan-jalan ke sini adalah melihat keindahan pulau diwaktu senja dengan dihiasi ribuan Kalong berterbangan di langit.

Pantai Pink Namo

sumber:baliaerotravel.com

Mulai santer terdengar pada awal tahun 2015, Pantai Pink Namo kini jadi salah satu destinasi wisata yang wajib kamu kunjungi di Labuan Bajo. Pantai dengan pasir berwarna pink ini tidak hanya menawarkan keindahan bibir pantainya saja, alam bawah lautnya juga tidak kalah indah loh!

Namun, karena masih terbilang destinasi baru, Pantai Pink Namo masih belum dikelola secara baik. Masih banyak sampah yang berserakan di sepanjang bibir pantai. Sangat disayangkan.

Air Terjun Cunca Wulang

sumber:tjuputography.com

Air Terjun yang satu ini sangat terkenal di kalangan wisatawan mancanegara, itu terlihat dari banyaknya turis asing yang datang dibanding dengan turis lokal. Air Terjun Cunca Wulang berlokasi sekitar 300 meter ke arah timur Labuah Bajo. Dan ketika berada disini, kita akan merasa seperti sedang di kampung halaman sendiri! Untuk menikmati keindahannya, kamu diharuskan berjalan melewati hutan sekitar 30 menit.

Setelah menempuh perjalanan tersebut, kalian akan disambut dengan keindahan tebing tinggi dan air sungai jernih berwarna biru. Kamu diharuskan berenang terlebih dahulu sebelum benar-benar mencapai air terjun.

Ada keseruan lain, bagi kamu yang suka dengan adrenalin, kamu bisa melompat dari tebing dengan tinggi sekitar 10 meter. Selain menguji nyali, melompat ke sungai dari ketinggian tebing juga akan memberimu pengalaman yang istimewa.

Pulau Kanawa

sumber:sayabackpacker.wordpress.com

Bagi kamu yang ingin bersantai sambil menikmati keindaham Labuan Bajo, Pulau Kanawa adalah destinasi wisata yang tepat. Di tempat ini terdapat restoran dengan menu aneka olahan laut, yang pasti dengan citarasa istimewa. Tidak hanya itu, kamu juga bisa snorkeling atau berjalan mendaki bukit yang berada di sekitaran Pulau Kanawa. Di puncak bukit tersebut, kamu bisa menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Waktu yang paling tepat berada di puncak bukit adalah saat senja tiba.

Pulau Bidadari

sumber:komodotour.co.id

Pulau Biadari atau Angel Island adalah pulau yang lokasinya paling dekat dengan Labuan Bajo. Di pulau ini, kamu bisa puas snorkeling dan juga bersantai ria. Masyarakat lokal menyebut Pulau ini dengan sebutan Pulau Bidari.

Menarik ya. Itulah beberapa destinasi wisata yang bisa kamu kunjungi bersama citilink. Tak perlu repot lagi, kamu bisa cek harga tiket citilink lewat www.traveloka.com/citilink. Jangan lupa nantikan promo-promo tiket pesawat citilink, yang tidak hanya murah, namun bisa memberimu pengalaman yang tak terlupakan. Liburan dong naik citilink nyaman bersama keluarga.

Hikmah Dibalik Sepiring Nasi Goreng

 

Hari ini masak nasi goreng sendiri. Aku memasaknya pelan-pelan, dari proses memotong bawang sampai menuangkan garam secukupnya aku lakukan sendiri. Gampang ini mah. Pokoknya pas terasa asin dilidah cukuplah. Aku memasak karena istriku sudah pergi ke kantor sementara tak ada masakan sedikitpun tersaji.

Apa daya perut lapar dan harus memasak sendiri. Akhirnya bisa lihai memasak nasi goreng karena istri yang berkerja. Tidak harus menunggu sajiannya kalau mau makan. Ya lapar, tinggal masak enggak usah ngedumel, padahal rada mikir kumaha masaknya. Suami bisa memasak juga karena telah menikah dengan perempuan ulet. Saat istri repot dengan kerjaan seabreg, saatnya memasak dan mengepel lantai.Tak lupa menjaga anak.

Sebagai lelaki batak yang tak pernah diajarkan mengurusi isi dapur, mau tak mau belajar sendiri. Dari melihat cara istri memasak sampai melihat cara memasak via mba gugel. Ah segampang itu. Mengurus anak, ah itu sih biasa, Arden buktinya menjadi lelaki ganteng bak model yang suka jajan ke Indomaret.

Tentu saja banyak cerita dibalik bisa memasak nasi goreng ini. Lebih panjang lagi ya hikmah menikah dengan pasangan yang berkerja. Sabar, kalau sudah libur kan bisa dimasakin. Ya dimasakin sama pelayan rumah makanlah. Masa sih makan di rumah mulu.

#Ceritasuami

Enggak Mau Jadi Model

Suatu malam ketika ibu sudah tertidur pulas. Arden pernah bilang kalau, “Ade ya yah enggak mau jadi model.” Terperangah… “Tetapi Arden, kamu itu udah pinter difoto. Bagus banget.” Arden menghela nafas, begitulah dia selalu mengambil jedah untuk mencoba menjelaskan keinginannya. “Ade mau menjadi supir kereta api,” katanya dari nada tinggi ke pelan. Gantian ayah menghela nafas seperti yang Arden lakukan, “baiklah, kamu punya pilihan.” Arden menghela nafas lagi, “ya udah atuh ayah. Ade jadi model, tapi jadi supir kereta api juga.” Setelah itu tos berdua.

Seminggu Arden dititip di Cianjur kok sepi banget, tengah malam gini biasanya ngobrol-ngobrol sampai ngantuk dan ingat besok harus pergi sekolah minta jajan dua rebu.

Bapak Berpakaian Jeans yang Bau Asap Rokok, Kenapa Duduk Disebelahku?

Siang tadi, ketika langit sedang biru-birunya. Aku berjalan-jalan sejenak untuk melihat dunia luar. Tanpa Arden, Tanpa Fey ibunya Arden. Sungguh hari ini begitu segar… Hingga bapak itu datang, bapak yang entah dari mana. Mungkin dia dari neraka. Kalau kata Arden neraka itu tempat orang nakal yang bangkit dari kubur.

Bukan soal siapa bapak itu, tetapi soal bau rokok. Dia tiba-tiba duduk di sebelahku lengkap dengan jaket jeans merek tak dikenal. Singggggggg…. Edan! Bau rokok melekat di jaket jeans belel itu menusuk sampai ke dalam rongga hidung. Anjirrrr bau edan ini mah. Aku tak tahan bau rokok yang dari si bapak. Tutup hidup. Update status “Bau Asap Rokok yang mulai menyebalkan. 7 bulan tanpa rokok.” Mungkin ini sebabnya, aku sudah 7 bulan tak merokok. Sejak berkumpul dengan teman karib SMA di Medan itu, aku tak pernah lagi menjamah rokok.

Benaran, kalau sudah tak merokok baru tercium bau yang menyengat ke hidung. Apalagi bau jeans menyatu dengan asap rokok. Hapeeukkk. Pengen turun dari kendaraan umum itu, masih jauh. Enggak turun ya tahan tutup hidung. Barut ahu rasa, baunya asap rokok ya setelah tak merokok.

Sudahlah Berhenti Saja

Semenjak kelahiran Arden, aku merokok tak serapih dulu. Di rumah, aku jarang sekali merokok. Kalau pun merokok waktu disuruh ke pasar sama Fey. Selebihnya tak pernah merokok, ini karena ada Arden. Aku tak mau dia terpapar langsung asap rokok. Kebayangkan udah keluar asap dari hidup, terus dihirup si Arden. Ohhhh tidakkk! Enggak tega. Jadilah hari-hari di rumah tanpa rokok.

Januari 2017 adalah puncaknya. Selepas liburan ke Medan bersama abang yang juga sudah berhenti merokok dan reuni bersama teman. Lalu pulang ke sukabumi. Aku sudah tak pernah memegang rokok lagi. Sebatang pun belum. Tergoda beli rokok iya, tetapi tetap kutahan.

Tertahan tanpa rokok itu ya balik lagi memikirkan Arden. Rasanya kok sayang banget sama anak ya. Sayang juga beli rokok lagi. Uang untuk jajan ke Indomaret cukup menguras dompet. Ditambah rokok ya ampun.

Berhenti merokok itu enggak mudah, tetapi bisa ringan melepaskannya kalau daku memikirkan enggak mau asap rokok mengganggu kesehatan Arden. Jadi berhenti dari sekarang, daripada menyesal kemudian. Aku sudah membaca dampak asap rokok, dampak paling mudah ya mencium bauuu rokok dibaju mamang pakai jeans tadi. Edan ya bau rokok bisa menusuk hidung gitu. Kebayang dulu, bau rokok dibajuku kalau habis ngumpul bareng teman. Bau minta ampun dong.

Jadi itu tipsnya, tidak merokok demi anak. Tidak demi yang lain. Oh ada demi istri juga, biar bisa tahan bersama terus. Paling enggak, bau badan tidak bertambah bau rokok. Itu saja cukup kok.

Jalan-Jalan ke Benteng Fort Rotterdam

Kali ketiga menginjakkan kaki ke Makassar, akhirnya jalan-jalan seperti wisatawan. aku dan seorang teman berkunjung ke Benteng Fort Rotterdam. Benteng dari peninggalan Kesultanan Gowa yang berjaya pada abad 17. Benteng Fort rotterdam ini megah nian bangunannya. Sayang, aku tak sempat bertanya tentang sejarah Benteng Fort Rotterdam ini. Catatan sejarahnya bisa dicek lewat mbah google aja ya.

Berlagak sebagai penjaga benteng
Jendela yang masih terjaga
Bangunan yang masih sangat terawat
Ada beberapa bangunan yang tampak megah pada jamannya
Jendela kecil yang tampak tak berfungsi

Anak yang Lahir dari Perbedaan

Jadi Nak, kau itu lahir dengan 2 identitas. Margamu sangat jelas menunjukkan dikau batak dari garis ayah, identitas pertama. Sedangkan, identitas kedua dari ibumu dengan suku sunda. Bahasa sehari-harimu itu loh, dikau sudah mulai pinter berbahasa Sunda. “Bade botram ayah diimah Putra,” suatu kali katamu waktu kutanya kenapa bawa-bawa piring ke luar rumah.

Arden yang masih kecil, suatu saat nanti kau akan tahu pentingnya marga yang tersemat di nama dan menjadi identitasmu. Suatu saat pula, kau akan tahu penting jua menggunakan bahasa sunda di tanah priangan ini. Dua identitas itu akan membantumu berbaur bersama yang lain, dengan banyak orang berbeda.

Wahai si batak kecil yang berbahasa Sunda besyukurlah kau lahir dalam dua suku berbeda. Kelak kau akan mengerti begitu banyak perbedaan di negeri ini. Aku selalu berdoa kau diberi kesempatan mengenal banyak keberagaman di negeri ini. Agar matamu dan pikiranmu jauh lebih terbuka tentang perbedaan.

Oh ya satu lagi, Agamamu dengan segala pemahamanmu nanti pasti akan berbeda dengan orang lain. Aku mewanti-wanti sisi agama ini tidak membuatmu merasa paling oke diantara agama lainnya. Semua akan berbeda Arden. Tak ada yang sama di dunia ini.

#KamuPancasila #AkuPancasila #KitaPancasila

You Must Believe in Yourself

 

Uhuk, judulnya ngingris ya, tulisannya sih enggak. Jakarta malam tadi (20/5), makan malam bersama seorang teman senior dan seorang teman sekelas di Jurusan Antropologi. Obrolan mengalir dari membicarakan soal jalan-jalan serius yang sudah berlalu dua minggu ini, sampai membicarakan pengalaman kerja yang lalu-lalu. Ada pula obrolan seperti curhat  pengalaman yang pernah bikin jengkel ketika berkerja sampai nasihat penuh semangat agar terus meningkatkan kemampuan diri sendiri dan berujung saran agar sekolah lagi.

Perkaranya begini, setelah obrolan demi obrolan itu ya kapan si bang mau dikejar impian-impian berikutnya. Dari 3 tahun yang lalu loh disuruh belajar bahasa Inggris dengan serius, tahun demi tahun juga berlalu kok enggak kesampaian niat sekolah lagi. Gimana mau sekolah, ngasih jajan Arden ke Indomaret aja sulit. Target itu tak pernah diupayakan, sehingga tak pernah bisa dicapai. Ya jangan berhenti dalam satu fase kemampuan tertentu.

Obrolan tadi malam ya sangat menyengat isi kepala. Lalu mikir gimana caranya? Kalau sekolah lagi, bagaimana ini dan itu,kalau nanti ini itu apa yang harus dilakukan, kok terlalu banyak pikiran. Tetapi enggak pernah mikirin gimana itu semua obrolan bisa dikejar. Dibilang juga kok tadi malam bahwa pikiran positif itu bisa menuntun untuk mencari sesuatu. Apa lagi yang kurang, ya pengalaman sudah ada, jalan yang dilalui dalam pekerjaan ya lumayan, tapi kok kayaknya ndak maju-maju ya.

Kalau dipikir-pikir ya apa ndak bersukur dikasih banyak kesempatan pengalaman. Kesempatan bisa berkerja sembari jalan-jalan dan bisa banyak foto-foto di berbagai daerah. Tapi apa kelanjutan dari apa yang pernah dicapai? Apa harus terhenti disitu saja.

Yang aneh itu ya, sudah dapat semua pengalaman yang lumayan itu, ya kok masih rendah diri sama kemampuan. Enggak ada mikir gitu loh apa yang harus dicapai pada tahap berikutnya. Kok gitu-gitu aja rek. Hayolah.

Pembicaraan tadi malam itu ya harusnya membuat sadar dan bangun dari tidur. Percaya pada diri sendiri kalau bisa meningkatkan kemampuan dalam banyak hal. Tahun demi tahun aja berlalu, masa kemampuan kok enggak nambah-nambah bang. Ya tulisan ini sambil mengingatkan kalau ada sesuatu yang harus dicapai untuk kedepannya. Jangan menyerah dan terhenti disatu fase saja. Semangat bang semangat ya. I must believe in myself.

 

Menarilah Nak

 

Sore hari, selasa (28/03) selagi penyembuhan dari sakit, Arden dipanggil oleh Ibu gurunya. Rupanya ada latihan menari. Kukira Arden akan menolak diajak menari, tetapi taraaaa “temani ade yuk yah.” Jadilah sore itu mengikuti ajakan ibu guru berlatih tari di halaman PAUD Al-Metallica. Aku tidak tahu itu musik apa yang menjadi latar latihan tari, karena berbahasa sunda dan baru pertama kali mendengar. Tetapi kalau dari latihannya, seperti ada pelakon memegang bendera dan ada yang menjadi aki-aki (seorang kakek). Entahlah ini tarian apa namanya.

Kalau tugas Arden ditarian itu menggoyangkan bendera ke kanan dan ke kiri sambil menganggkat kaki bak orang gerak jalan. Tidak lupa pula berlenggak lenggok pantatnya. Arden terlihat senang berlatih tari sore itu. Tak tampak lagi sakit panas dingin seminggu yang dideritanya. Tawa riang dan suara ramai bersama teman-teman sekolah mengiring latihan sore itu.

Melihat Arden berlatih tari begitu ingatlah aku waktu TK dulu. Aku tak seriang Arden dan cenderung pendiam. Dalam diam mengikuti semua alunan lagu “dinding ma rinding” dari Sumatera Barat. Tawa riang Arden juga membuatku sadar, “hei kamu sudah tambah besar nak” senyum-senyum sendiri dan sadar diri kalau sudah punya anak yang mau berumur 5 tahun bulan Mei nanti.

Aku senang melihat Arden tertarik melakukan banyak hal yang belum pernah dia coba, termasuk berlatih tari ini. Kalau di rumah sih, dia sering menari-nari dengan gerakan tak beraturan. Kadang, aku pula yang mencontohkan dirinya goyang-goyang dan tertawa berdua di siang bolong. Menjadi teman berjoget saat hanya ada aku dan Arden di rumah.

Ku pikir memang ada baiknya dari kecil, seorang anak kecil seperti Arden mencoba beragam hal. Arden sudah bisa memasak, sudah bisa mengepel, sudah bisa menyiram pohon cabai, dan kali ini mencoba latihan tari. Orang tua mana yang tak senang ketika melihat pertumbuhan anak tanpa masalah dan berkembang seperti orang kebanyakan.

Menjadi Penari pun Boleh

Sedari kecil, aku dan Fey sudah bersekongkol kalau arden boleh menjadi apa saja. Kalau menjadi penari pun boleh. Untuk pengenalan ragam pekerjaan pun, kami mengenalkan banyak hal. Seperti pekerja kantoran layaknya ibunya yang setiap hari bekerja di kantor, supir kereta api di stasiun, koki di warung makan, sampai pedagang keliling pun kami kenalkan sebagai pekerjaan. Agar kelak Arden tak seperti orang tuanya, ya cita-citanya sebatas menjadi dokter dan insinyur. Eh tahunya malah tidak kesampaian. Mengenalkan arden hal-hal yang mungkin bisa dia kerjakan sejak kecil, aku pikir ada baiknya. Ada loh sepupu Arden yang masih SD sudah tahu mau menjadi penulis dan pelukis. Mereka punya cita-cita dari apa yang mereka sudah kerjakan sejak kecil sekali.

Maka dari itu, belajar menari ini bagian dari proses pengenalan satu kegiatan yang baik buat Arden. mana tau dia benaran suka dan menjadi penari. Ya enggak ada salahnya toh. Mau menjadi koki pun boleh. Kalau dia mau menjadi model pun boleh. Apalagi mau menjadi Antropolog, ya boleh banget. Menarilah nak, mungkin suatu hari kau bisa menari-nari dalam menghadapi hidup ini. Tak jadi soal buatku, kau mau melakukan kegiatan apa, asal baik untukmu.

Sembuhlah Nak, Esok Kita Main Lagi

Arden sudah seminggu sakit. Khawatir rasanya. Suhu badannya naik pada malam hari dan turun pada siang hari. Kalau siang sih kayak orangnya sehat-sehat saja, lari-larian ke rumah tetangga sampai ke madrasah gang sebelah. Was-was ya tentu saja namanya juga anak sakit.

Ibunya sudah membawa Arden ke dokter dan kekhawatiran akan penyakit typus terbantahkan hasil labortaorium yang hasilnya negatif. Arden sudah dicek darahnya. “Sakit diambil darah mah yah,” sambil memgang tangannya Arden mengeluh. Pas lihat kertas hasil labnya sih manggut-manggut saja, yang penting banyak tulisan negatifnya. Enggak ngerti. Arden sudah berobat pada hari kedua, tetapi masih panas dingin sampai diketiknya tulisan ini.

Ibu semakin khawatir, bolak balik dijamahnya badan anak semata wayangnya. Aku melihat kecemasan dari raut mukanya. Begitu pula aku, tetapi tak menunjukkan tingkat kekhawatiran yang sama. Kalau Ayah dan Ibu sama khawatirnya, takut terpengaruh ke psikologi anak. Makin girang lagi si keceil terlalu dimanja-manja. Aku tak menjamah sesering ibunya. Aku jarang cuci tangan. Takut kuman bekas cebok dan makan sambel malah nyentuh badan Arden.

Aku turut terus memantau kondisi Arden dengan seksama. Aku juga memastikan tak terjadi kondisi yang tak diinginkan. Arden lagi sakit pun masih sering main air. Dia sering mengaku mau kencing padahal ngubek-ngubek air di kamar mandi. Makanan pun dijaga, dia sering mengaku beli kue padahal beli mie instan dari mamang-mamang yang memasaknya sambul merokok dengan asap ngebul. Yang paling ngeselin, kalau enggak mau makan siang, dia selalu mengaku kenyang. Padahal, bolak balik mencari cemilan di toples.

Ayah sama khawatirnya seperti ibu

Halo ibu. Ketahuilah, ayah juga sangat khawatir melihat Anak yang sakit. Mungkin hanya berbeda cara, berbeda menanggapi anak yang sedang panas-dingin seperti Arden. Aayah berupaya tidur lebih lama berjaga sampai berganti hari sambil makan sisa cemilan Arden, mengecek kondisi suhu Arden yang panas. Ayah berupaya membuat tenang, “oh sudah sembuh mau sembuh,” walau tahu-tahunya panas meninggi memasuki hari yang gelap.

Memastikan Si Kecil Makan  Siang dan Minum Obat

Kalau siang pun waktu Ibu sangat sibuk di kantor, ayah memastikan apa yang ibu suruh dilakukan semua dan aman terkendali. Arden harus minum obat, “ingat ayah yang botol hijau ya, bukan botol hitam itu mah obat ibu. Jangan salah lagi.” Ya tinggal dicatat biar enggak salah minum obat. Sebelum minum obat tentu harus makan siang. Walau makannya ala Arden, bisa 2-3 jam baru habis. Minum obat dan makan siang penting untuk diperhatikan, agar sakitnya Arden tak kunjung terlalu banyak mamakan hari.  Hidup dengan rasa was-was tidak enak. Apalagi anak semata wayang yang sakit.

Wahai Ayah, Yakinlah Kamu juga Bisa Menjaga Anak

Seperti aku sebagai Ayah yang tidak setiap hari berkerja, malah lebih sering di rumahnya bisa berperan sebagai penjaga anak, meski belum tentu menjaga Arden dengan baik. Ayah yang memastikan si kecil dalam kondisi yang baik-baik saja dan rutin mengecek kondisi anak. Jadi si ibu tak perlu khawatir ketika berkerja dan tidak bisa menjangkau kondisi kesehatan anak terus menerus. Kalau Ayah enggak bisa menjaga anak, ya buat apa punya anak. Tugas menjaga anak ya semestinya memang menjadi tanggung jawab yang besar bagi si Ayah.

Kalau anak sakit berhari-hari begini rasanya dunia hanya untuknya. Ayah dan ibu bergantian dalam menjaga untuk memastikan kondisinya tidak memburuk. Buatku sebagai Ayah ya memastikan juga ibunya tak terlalu was-was, kalau anak sakit dan si ibu ikut stres kan malah berabe. Ya cepat sembuhlah Arden, biar esok hari kita main ke Indomaret lagi.

Namaku Arden

“Namanya siapa?” Lalu, ia selalu melihat muka ayah atau ibunya. “Nama aku Arden,” jawabnya singkat. Arden selalu tampak ragu kalau ditanya soal namanya, ia jarang melapal namanya sendiri. Ia lebih sering menyebut dirinya Ade dan sebagian kerabat memang dengan sebutan Ade pula. Setelah masuk PAUD, aku dan ibunya mulai mengajarkannya menyebut namanya. Nama depannya saja, “Arden”.

Arden memiliki nama lengkap yang panjang, yaitu Arden Naufal Narayanasrama Harahap. Nama itu berarti Lelaki baik hati yang diturunkan ke bumi. Doaku dan istriku, dia menjadi seorang yang mudah bergaul dan berlaku baik pada semua orang yang dikenalnya. Setelah nama disematkan pada dirinya, barulah disadari kalau nama itu terlalu panjang ditambah nama marga yang tak boleh lepas dari dirinya sebagai seorang lelaki batak. Marga Harahap sebagai identitas yang tak akan lekang sampai berapa turunan pun.

Arden berbeda dari sepupunya yang lain yang diberi nama bernuansa Islam. Aku sengaja menjauhkan nama anakku dari nama-nama Islam, agar Arden seperti namanya lebih memiliki sifat terbuka. Dia bisa menjadi apapun yang dia inginkan tanpa terpengaruh sisi-sisi keagamaan. Aku berharap sekali dia menjadi seorang yang bisa berada diantara semua orang tanpa sekat keagamaan.

Untuk menguatkan hal tersebut, aku dan istri mengajarinya tentang agama yang berbeda. Arden sering terpukau indahnya pohon natal dan lampu lampion kalau lagi jalan-jalan ke mall ketika bertepatan dengan perayaan hari raya keagamaan. Bagiku, Arden lebih baik mengenal agama lain  daripada tidak tahu dan lalu membenci agama dan kepercayaan yang berbeda kelak.

Menjadi Lelaki baik hati

Dasar belajar Arden dari kami adalah tentang sisi kebaikan bagaimana berbuat kepada orang lain. Jadi fondasinya bukan agama. Aku sendiri lebih konsen mengenalkan Arden tentang baik dan tidak baik. Bagaimana dia bersikap terhadap temannya, menghormati kakek-neneknya, dan selalu ramah pada tetangga sebelah rumah. Setelah itu, terserah Ardenlah dia mau belajar dari mana kelak menabalkan sisi-sisi kebaikan itu. Tugasku sebagai orang tua mengenalkannya pada banyak hal, bukan memaksanya berkutat pada sisi-sisi tertentu saja.

Arden sudah menjelang 5 tahun, puji sukur perkembangannya sesuai harapan. Dia suka bermain sama teman-temannya tanpa melukai, berbagi biscuit mari sampai benar-benar ludes, dan berbagi maianannya pada Uta, Kevin, Igri, Atan, dan teman lainnya. Jadi ingat ibu-ibu warung sering bilang sama ibunya kalau Arden keseringan membagi uang jajannya sama teman-temannya. “Pantes aja bolak-balik dua rebu,” jawabku tak mau ambil pusing soal itu. Namanya juga anak-anak dan bersukurlah dia mau berbagi.

Sekian dan Kehabisan Ide

Mau nulis lagi panjang-panjang tentang nama Arden dan harapan dibaliknya, tetapi kehabisan ide. Ya segitu ajalah dulu. Tulisan ini untuk minggu tema #1minggu1cerita. Sebagian besar tulisan ini adalah dari sisi Ayah  dan dari sisi ibu tentu berbeda. Dari dua berbeda, sepasang orang tua yang akan mendidik Arden hingga dewasa kelak.