Tukang Survey Gas Abal-Abal Vs Tamu

 

Arden : Ayahhhh Ada tamu…
Ayah : (lagi ngetik) siapa de….
Ayah pun melehoy ke pintu melihat dua orang laki-laki lengkap dengan nama di dadanya.

Tukang survey abal-abal (disingkat saja TSAA) : Selamat siang pak. Kami sedang mengadakan survey gas.
Ayah : Surat tugas mana?
TSAA: Saya dari konsultan ini keterangan nama perusahaan saya. 
Ayah : Surat tugas mana? 
TSAA : Kantor kami di jalan pelabuhan.
Ayah : Surat tugas bapak mana?
TSAA : Bapak menggunakan gas apa?
Ayah : 3 kg, kenapa gitu?
TSAA: Boleh kami mengecek masa kadaluarsa?
Ayah : Surat tugas bapak mana? Kalau enggak ada pergi aja.
TSAA: Kami dari…
Ayah : (mulai kesel) Kalau bukan dari pemerintah jangan ke sini pak.
TSAA : Baik kalo gitu. 
Arden : Ih ayah mah, tamu datang malah disuruh pulang. 
Ayah : Itu bukan tamu, tukang survey abal-abal.
Arden : Kalo tamu mah yah, disuruh masuk. jangan diusir.
Ayah : Bukan de, itu….
Arden : Atuh pantes ayah mah sendiri terus di rumah, tamu we di usir. 
Ayah : huhuhuhuhu…. Ayah mau nangis de…

Beli Jus Mangga Atuh Yah

Arden : Ayah apa Ade boleh beli jus mangga
Ayah : kan ada jus alpukat di kulkas
Arden : enggak sama itu mah yah. Mangga sama alpukat ga sama
Ayah : Sama sama dijus
Arden : jus mangga kan ga sama dengan jus alpukat
Ayah : sama atuh
Arden : Ya udah atuh (kebelakang ambil aqua botol di kulkas). Ade minum air putih aja kalo ga boleh beli jus mangga
Ayah : Ai kamu kan ada jus alpukat.
Arden : ga papalah yah. Minum air putih aja
Ayah : ( Jadi te tega)
Igri : Ade ga beli jus mangga?
Arden : Ga papa ade mah minum air putih aja.
Ayah : Aduh kamu ya bikin te tega.
Arden : Enak air putih juga yah. Ga papa
Ayah : Udah sana ini dua rebu beli jus mangga
Arden : Ai ayah mana ada jus dua rebu
Igri : Hahaha… atuh ayah Arden, jus mah lima rebu
Arden : Ya udah atuh minum air putih lagi
Ayah : Nah atuh… lima rebu. Kamu mah jajannya banyak pisan…
Arden : Ade mah ga papa kalo ga boleh juga beli jus mangga. Minum air putih aja…
Ayah : Ya udah sana beli jus mangga. Lima rebu na kan udah dikasih…
Arden : Atuh dua rebunya jangan diambil lagi…
Ayah : Arghhhh
Arden : Makasih ya yah…

Karunyak pisan ningali minum cai heurangna… 😅😅😅

Selamat Lebaran Ya, Maaf Ya

Ibu : Ade salam ayahnya
Arden : Iyaaa ibu…
Ayah : (Sambil salaman) ih bilang apa salaman doang?
Arden : Terima kasihhh
Ibu : Minta Maaf lahir batin de…
Arden : Ade mah ga salah apa-apa. Ayah yang suka salah mah, suka abisin makanan ade, suka bohong ngasih jajan, ya kan yah
Ayah : Iya, Maaf lahir batin ya Arden
Arden : Ke Indomaret yuk yah
Ibu : Kamu ga minta maaf juga?
Arden : Atuh ibu, kan yang salah ayah bukan ade…
Ibu : Grrrrrr

Dear kawan semua, Saya Ayahnya Arden memohon maaf lahir dan batin. Selamat berlebaran. Selamat berkumpul bersama keluarga.

Selamat 5 Tahun Arden

Lelaki yang kuberi nama Arden ini akan ulang tahun esok hari, 15 Mei 2017. Sayangnya, aku harus pergi untuk berkerja ke luar rumah. Hari ini sehari sebelum ulang tahun diantara ketikan dan kertas coretan pekerjaan, aku sempatkan untuk melihatnya perpisahan PAUD di sekolahnya. Arden membacakan doa bangun tidur dan berdoa bersama teman-temannya. Riang tampaknya, dia sempat disko chacha selagi temannya berdoa. Selain itu, ia menari dua kali, tarian penguin dan Kapiten. Aku dan istriku tertawa melihatnya, ternyata dengan postur badannya yang kurus rada tinggi itu badannya lihai menari-nari. Padahal udah was-was Arden enggak bakal bisa menari, soalnya jarang sekolah. Dia sempat libur karena sang ayah harus pergi ke luar kota. Dia tak ada yang menjaga dan terpaksa dipindahkan ke Cianjur buat sementara. Ibu juga sibuk malah lebih sibuk dari ayah.

Hari ini pun aku akan pergi lagi ke luar kota. aku dipastikan tak merayakan ultah bersama Arden. Tak ada tiup lilin dan menyaksikan tawa secara langsung. Sempat keidean beli kue sebelum hari lahirnya, tetapi kata ibunya kecepatan. Sampai Arden tertidur karena ngambek tidak boleh main pistol-pistolan berpeluru, membeli kue memang urung dilakukan.

Hai Arden, kau sudah 5 tahun loh besok. Ayah senang sekali melihat tumbuh kembangmu tak kurang sedikitpun malah kelebihan berbicara. Ada saja yang kau inginkan diumurmu menjelang 5 tahun. Mau beli legolah, beli mobillah, kereta apilah, kalau diturutin ya pingsanlah ayah dan ibumu ini.

wahai lelaki yang baik hatinya, Selamat ulang tahun ya. Selamat berhasil hidup di dunia selama 5 tahun. Selamat sudah lulus PAUD A dan mau masuk PAUD B. Katamu hari ini senang sekali. Apalagi bisa menari dan membaca doa dengan lancar. Kau juga tak lupa menyebut nama ibumu dengan Ferni bukan Tini.

Arden yang juga bermarga Harahap, aku tak banyak menuntut untuk hidupmu. Ya itu urusanmu sajalah. Doaku pun tak muluk-muluk soal kau menjadi apa ya terserahmu jugalah. Aku Cuma bisa mengenalkan dunia dan seisinya semampuku. Seperti aku mengenalkanmu dengan pekerjaan sebagai model dan supir kereta api. Seperti aku mengenalkanmu bahwa banyak agama di dunia ini, bahkan perayaan agamanya serba menarik seperti pohon natal dan lampu lampion. Aku ingin kau mengenal bahwa banyak sekali perbedaan dalam hidup yang akan kau rasakan kelak.

Tahu enggak Arden, bahkan kau lahir dari keluarga batak beragama Islam yang sangat akur dengan keluarga Adven di depan rumahmu. Dulu Ayah punya adik yang suka bermain di rumah, ya Adik beragama Adven itu. Tak ada sekat dalam hubungan manusia. Begitulah ayah menyayangi tante kecil itu yang meninggal karena serangan demam berdarah.

Arden yang baik hatinya, kamu harus tahu juga. Diumurmu yang 5 tahun ini akan banyak hal baru yang akan kau lihat. Toh dunia tak selebar Cianjur dan Sukabumi saja. Kau sudah melihat bagaimana melayunya kota Medan. Begitu besarnya Kota Jakarta dengan gedung tinggi. Kau juga sudah tahu kalau berbahasa itu tak hanya bahasa Indonesia saja, kau sudah pintar berbahasa Sunda diumur 5 tahun.

Arden, berbahagialah dalam hidupmu ya. Ayah dan Ibu adalah orang tua yang akan tetap mengenalkanmu pada ragamnya riuh kehidupan dan luasnya bumi ini. Bergembiralah karena pada usiamu 5 tahun ini, kau dalam keadaan sehat dan banyak teman di sekitar rumah. Selalu tersenyumlah pada semua orang, karena itu bisa membuat orang lain bahagia. Tetapi ingatlah kalau ngobrol sama orang tak mestilah kelakuan ayahmu juga kau ceritakan pada ibu-ibu di warung itu.

Nak Selamat ulang tahun. Selamat berbahagia. Kita ketemu minggu depan ya. Beli kuenya sama ibu saja. Ayah harus berkerja esok hari. Kami menyayangimu Nak…

Penumpang Cape

 

Setelah berkunjung ke RS menjenguk uwa yang juga Harahap seperti ayah. Kami jalan-jalan ke mall di bogor dan pulang naik angkot colt-elf angkutan umum yang kata orang kayak jet daratnya sukabumi… Arden pun bertanya-tanya ketika supir lama ngetem.

Arden : Ayah ini mobil colt enggak jalan-jalan ke mana supirnya?
Ayah : Itu di luar nunggu penumpang satu lagi
Arden : mau duduk dimana lagi yah? (Melihat colt sudah penuh).
Ayah : Tuh, masih bisa nyempil. Emang kenapa cari supir
Arden : itu supirnya ga tahu penumpang cape ya yah…
Ibu : Hahaha… penumpang cape kayak orang tua aja.
Arden : Ade kan penumpang. Penumpang cape
Ayah : hihihi… asik ya jalan jalan tadi
Arden : Yah, kenapa ke mall tadi jalan jalan doang? Ga ada belanja-belanja
Ayah : kan ayah bilang, kita jalan-jalan ke mall bukan belanja-belanja…
Arden : Ayah mah ade cape jalan ke mall pegang pegang sepatu kirain mau beli. Taunya jalan jalan doang.
Ayah : Ayah kan… (belum selesai ngomong)
Arden : Iya atuh, bilang aja ayah belum punya uang. Hayoo we jalan jalan.
Ayah : Nah itu kamu tahu…
Arden : Ade cape ah. Penumpang cape..

Hari Kak Tini

Foto : Arden dan Uta. Enggak punya baju batik di hari Kartini, terpaksa pake baju hari raya (tahun lalu).

 

Ayah : Eh udah pulang, belajar apa hari ini di PAUD Al-Metallica
Arden : Kata ibu Al-fitroh Ayah. Bukan Metallica
Ayah : Belajar apa tadi de?
Arden : Nyanyi-nyanyi gitu tadi
Ayah : Nyanyi apa?
Arden : Ibu Kak Tini…
Ayah : Ibu Kak Tini? Enggak nyanyi ibu Ade?
Arden : Ari ayah suka ngomong yang salah terus. Udah Ade Bilang Ibu Kak Tini…

Tertawalah Bersama Anakmu, Ayah

Aku sering membagi percakapanku dengan Arden di Facebook. Aku pikir tidak ada salahnya toh berbagi kebahagiaan. Arden yang semakin  pinter ngomong, memang sering membuatku tertawa dan tak jarang bikin kesel. Ada aja ocehannya yang ia kira penting, ada saja alasannya biar dikasih uang, dan ada saja pembelaan biar enggak disuruh-suruh. Seperti pembicaraan terakhir waktu aku minta tolong, dan dijawab Arden, “Minta tolong sama polisi saja.”
Ayah : Ardeennn, Ayah boleh minta tolong ga?
Arden : (sedang asik bermain pura-pura enggak dengar)…
Ayah : Ardennnn minta tolong donggg….
Arden : Ayah kalo minta tolong sama polisi. Bukan sama Adeee….
Ayah : Bisa enggak?
Arden : Ade bukan polisi yah…

Suatu kali, aku pikir Arden bilang pengen ke rumah opungnya di Medan. Tetapi padahal mah ia pengen beli durian. Anak kecil mulai pinter mencari celah dengan ngomong yang topik lain dulu, baru setelah itu beralih ke inti omongan yang dia inginkan. Beli duren.
Arden : Yah aku merasa pengen ke rumah opung
Ayah : Merasa? Iya Ayah juga merasa gitu
Arden : Yuk yah, kita ke rumah opung, sedaaappp ada durian
Ayah : Sedappp gratissss….
Arden : ayo atuh yah?
Ayah : Aku merasa enggak punya uang den buat ke rumah opung.
Arden : Yahhh, ayah mah perasaannya enggak punya uang teruusss…

Wahai Ayah, aku pikir sering-seringlah bicara dengan anak, agar kemampuan bicara semakin baik dan seiring bertambah umur. Anak yang pinter bicara dari kecil membuatnya mampu mencerna maksud pembicaraan orang tua. Kalau Arden diumurnya menjelang ke-5, ia sudah gampang disuruh, dimintai pendapat, sampai disuruh belanja ke warung pun sudah bisa. Itu semua karena kemampuan bicara dan respon yang baik terhadap lawan bicaranya.

Anak yang lancar berbicara juga akan pinter mengungkapkan perasaannya, seperti ketika sedang diejek teman-temannya. Arden tahu betul rasanya dicela begitu. “Kevin bilang Ade, malas sekolah,” suatu waktu katanya yang membuatnya enggan ke sekolah. Padahal, Arden enggak sekolah karena aku si ayah sedang berkerja ke luar kota dan ibunya juga harus ke kantor setiap hari. Jadilah ia tidak ada yang menjaga dan diungsikan sebulan di Cianjur. Bersama nenek dan kakeknya.

Ketahuilah wahai ayah, dekat sama anak itu membuat diri kita sangat mengetahui perangai si anak, bagaimana dia sedang senang dan waktunya sedih. Ungkapan rasa seorang anak sih biasanya juga bisa bikin kita tertawa. Pembicaraanku dan Arden adalah wujud tawa itu sendiri.

Aku sangat senang membagikan obrolannya di akun facebook, karena dunia seolah penuh tawa dan yang paling penting sih bisa bahagia bersama si anak. Si anak loh ya, kalau dia udah gede kan enggak tahu. Arden bakal selucu ini atau malah lebih banyak waktu di luar bersama teman-temannya. Jadi waktu sekarang adalah waktu terbaik, karena dapat berbagi cerita bersamanya.Mari tertawa bersama anakmu wahai ayah.

Ade Cape, Udah 12 kali terjatuh

Dihalaman rumah terdengar suara sedih…

Arden : huhuhu ayahhhh huhuhu
Ayah : jatuh lagi jatuh lagi. Asik kalilah jatuh tuh
Arden : huuhuhu
Arden : iya jatuh lagi gara gara si Uta
Ayah : kalo jatuh jangan salahkan orang. Salah kan diri sendiri…

10 menit kemudian sudah diam
Arden : sakitnya tangan ini yah
Ayah : jangan jatuh lagi
Arden : Ade pun enggak mau jatuh lagi. Capelah
Ayah : iyalah ayah pun cape dengar ade nangis terus
Arden : ade bukan cape nangis. Cape jatuh. Ade udah hitung ada 12 kali jatuh
Ayah : Hahaha… yang jatuh ini udah dihitung
Arden : iya sama yang jatuh tadi 12 kali.
Ayah : Bagussss

Ayah Enggak Perhatian Sama Aku…

Dua teman Arden datang berlari ke rumah…
Dua teman : Ayah Ade, itu si Ade jatuh berdarah-darah…
Ayah : Dimana?
Dua teman : Dikuburan (Kompak dah)
Lalu ngekor dua temannya ke kuburan

Arden : Huhuhuhu, kakiku berdarah ayah…
Ayah : Kenapa berdarah?
Arden : Jatuh di jalan kuburan… huhuhu…
Ayah : Kenapa bisa jatuh?
Arden : Abisnya Ayah enggak perhatian sama aku. Aku lari-larian aja sama teman-teman.
Ayah : Enggak perhatian? Ayo pulang.

Siasat biar enggak kena marah yang terlaluuu… Ayahnya dibilang enggak perhatian. Dasar Anak Kecil.

Iklan Susu dan Keinginan Arden Dibaliknya…

Iklan di televisi… >>>> Mau tinggi dan banyak akal? Minum susu ini…

Arden : Ayah-ayah lihat itu, katanya bisa tinggi-tinggi. Semua orang juga bisa tinggi ya yah. Enggak minum susu juga.
Ayah : Ya kalau minum banyak-banyak lama-lama bisa tinggi.
Arden : Tapi kan Ade juga udah lama enggak minum susu juga tinggi. Bohong ya yah iklannya.
Ayah : Ya….. (sambil mikir)….
Arden : Atuh kalo bisa bikin tinggi, beli atuh susu kotak lagi atuh Ayah. Ade juga pengen…
Ayah: Oalah… Kamu pengen beli susu kotak kayak anak bayi lagi?
Arden : Katanya biar tinggi… Beli atuh ayah…