Ayah Pekerjaannya Apa Sih?

Arden tampaknya semakin penasaran sama pekerjaan ayahnya dan sering bertanya, “ayah ngapain sih?” Apalagi ayah sering pergi berkerja pagi-pagi buta dikala hari masih gelap gulita. Untuk menjelaskan pekerjaan buat anak kecil lima tahun emang agak pusing ya, kalau dikasih tahu juga bakal bertanya-tanya emang peneliti itu apa? kantornya dimana?  Maka sering kali obrolan tentang pekerjaan jadi ke sana ke mari. Alih-alih menjelaskan jenis pekerjaan yang dilakoni orang tuanya. Ayah malah ngomongin pekerjaan lain.   Read more

Aku Sudah Besar Yah, Mau Mandi Sendiri

Hidup itu terus membesar, itulah yang dipikirkan anak kecil umur lima tahun. Beberapa hari ini sudah enggak mau dimandiin sama ayah lagi. Kalau disuruh mandi, Arden membuka bajunya dan pergi ke kamar mandi sendiri. Sudah enggak perlu digiring lagi, Kalau dia merasa mau mandi ya akan segera ke kamar mandi.  Kayaknya dia mulai mikir orang di rumah pada mandi sendiri, kenapa dia harus dimandiin emak dan ayahnya. Syukurlah kalo sudah mau mandi sendiri, sudah enggak ada drama dipaksa mandi lagi.

Read more

Masjid Pinky : Laporan Lomba Mewarnai

Akhirnya, Arden mengikuti lomba pertamanya dari sekolah PAUD-nya. Semenjak ada lomba bersama anak PAUD lainnya, ayah dan ibu langsung semangat menanyakan Arden lomba apa yang ingin diikutinya. “Mewarnai bu,” kami setuju, karena memang itu yang dia ikuti saat ini. Mau disaranin lomba momodelan belum pernah jalan dipanggung memeragakan busana. Kalau foto model doang sih biasa.

Read more

Senangnya Anak Membeli Jajanan di Pasar

Pagi-pagi, suara ibu terdengar sayu sekali,”Yah, kita pergi ke pasar ya.” Aku tak sempat membalas masih merasa dalam mimpi. Rupanya benar, ibu dan Arden pergi ke pasar hari minggu pas perayaan hari kesaktian pancasila yang lalu. Arden pasti senang ikut ke pasar, karena keinginannya untuk jajan akan terpenuhi. Benar saja, Arden ternyata sukses membuat ibu masuk warung grosiran di pasar membeli jajan rencengan seperti ini. Ini pasti bikin kesel ibunya.

Read more

Kalau Aku Mau Menjadi Penari, boleh enggak?

Tentang cita-cita, Arden sudah biasa diajak ngobrol mau menjadi apa dia besar nanti. Ayah dan ibu sudah pernah bercerita tentang begitu banyaknya pekerjaan di dunia ini. Arden mulai mengerti beberapa pekerjaan, apalagi dia pernah melihatnya, seperti sopir kereta (masinis), ibu guru, penari, dan model.

Ayah : Sebenarnya kamu mau jadi apa sih, Ade?
Arden : Mau jadi sopir kereta.
Ayah : Kalau cita-cita yang lain? Jadi model gitu, biar foto-foto bagus?
Arden : Ayah mah, kan foto juga tiap hari foto-foto. Kalau jadi tukang nari (maksudnya:penari) gimana?
Ayah : Itu bagus juga. Pas samen (perpisahan sekolah), kamu bisa menari.
Arden: Tapi kayak cewek ya yah, nari-nari gitu…
Ayah : Ihhhh kata siapa. Banyak penari cowok. Besok deh lihat di Youtube.
Arden : Kirain teh cewek doang boleh jadi tukang nari. Jadi boleh ya yah?
Ayah : Boleh dong den. Nanti kalau sudah besar, Ade tahu kok mau jadi apa. Boleh mau jadi apa saja. Mau jadi pelukis, penulis, model, antropolog, penari, sopir kereta, apa aja boleh. Asal kamu senang.
Arden : Atuh ayah jangan banyak-banyak. Nanti Ade cape.

Beberapa kali ngobrol tentang cita-cita dengan Arden. Katanya, dia mau jadi sopir kereta (masinis). Enggak mau jadi model. Tetapi, dia tampaknya juga mau menjadi tukang nari (penari). Dia suka sekali kalau ada kegiatan menari di sekolahnya. Arden boleh mau jadi apa saja. Laki-laki dan perempuan berhak memilih cita-cita yang sama. Kalau pun dia mau menjadi penari, ya sah sah saja. Itu pilihannya sendiri.

Baca juga : Anak yang Lahir dari Perbedaan

Ada baiknya mengenalkan cita-cita dari kecil, agar mimpi anak terbangun sejak kecil. Anak bisa menjadi apa saja nanti, seperti apa yang dialami orang tuanya. Ada anak yang ingin menjadi antropolog, model, masinis, atau cita-cita lainnya. Dukungan orang tua sebagai modal kepecayaan diri anak, bahwa semua impian bisa diraih.

Cita-cita apapun dari anak, jangan pernah menyanggahnya menjadi hal yang mustahil. Apapun bisa terjadi dan pasti ada jalan untuk menggapainya. Terus , memberikan dukungan untuk anak-anak agar bisa terus berkembang. Ketahuilah wahai ayah dan bunda, anda, adalah kekuatan mereka.

#mygenerationfilm #filmmygeneration

Tertawa Melihat Arden Berpakaian Berbunga

Disadari atau tidak, orang tua mengenalkan pembeda kepada anak sejak dia mulai dilahirkan, contohnya saja tentang cara berpakaian. Lama-kelamaan anak pun mencoba untu mengerti kalau pakaian antara laki-laki dan perempuan tidak boleh sama. Perempuan harus berpakaian dengan pola dan corak pakaian perempuan. Misalnya, laki-laki tidak boleh memakai celana dengan corak bunga. Itu perempuan, anak lelaki itu bisa saja disebut seperti banci oleh teman-temannya dan mungkin para tetangga.

Suatu hari, Arden memakai celana berbunga-bunga. Celana itu bagus sekali dan sangat pas untuk dipakai Arden. Lantas temannya melihatnya, anak itu seumuran Arden. Teman Arden terbahak-bahak menunjuk celana Arden, sedangkan Arden bingung merasa tidak ada yang salah dengan pakaiannya.

Read more

Arden Membeli Permen Narkoba

Saat matahari sedang sedih-sedihnya, Arden pulang membawa jajanan. rupanya uang Rp2.000 telah berganti permen. Arden sendiri kayaknya belum ngerti mana permen apa yang dibelinya. Yang penting manis dan nyam-nyam dimulut ya syudah. Perkara dimulai kalau Arden ketahuan makan permen murahan yang menurut ibunya enggak boleh dimakan. Hal yang aneh hari ini waktu membawa permen pulang, dia malah ngomongin permen narkoba.

Arden : Ayahhh ade beli permeeennn
Ayah : beli permen apa?
Arden : Permen ini yah (bisik-bisik jangan ketahuan ibu)
Ayah : Permen apa itu Arden…
Ibu : Beli permen murahan kamu yaaa
Arden : Enggak ibu… ( Permen disumputin ke belakang)
Arden : Enggak ibu enggak permen narkoba…
Ayah : ( Mau ketawa) kamu beli permen narkoba dimana?
Arden : Bukan ayah bukan permen narkoba
Ibu : Coba ibu lihat…
Arden : Harganya seribuan bu. Bukan narkoba…
Ayah : Emang permen narkoba yang gimana…
Arden : Permen yang murah tea atuh ayah, serebu ge dapat sapuluh.
Ayah : Hiii… itu sih permen murahan, bukan narkoba
Arden : Tuh kan ibu, bukan permen narkoba…
Ibu : Jangan beli permen kayak gini lagi… enggak sehat.
Arden : Iya, Ade tahu permen narkoba ga sehat.

Arden Berkata, salatlah daripada kebakaran

Setelah Arden sekolah PAUD AlFitroh, ilmu agama mulai dikenalnya. Bukan ilmu fiqih dan aqidah gimana-gimana sih.  Arden mulai mengenal salat, doa, neraka dan surga. Mungkin, cerita dari ibu guru membuatnya penasaran dan beberapa kali melontarkan apa yang diperolehnya di sekolah kepada ayahnya. Yang menjadi masalah adalah kalau dia juga mendengar soal agama ini seperti praktik salat dari teman-temannya. Kebayangkan ketika anak mendengar dari temannya kalau tidak salat, rumahnya akan kebakaran di neraka.

Arden : Ayah, ayah...
  Ayah : ZZZZZzzzz (Tidur jadi bangun)
  Arden : Ayah, Ayah...
 Ayah : Zzzzzz (ganggu pisanlah)
 Arden : Tahu enggak, kata Igri itu ayah dan Ade itu harus rajin salat. Kalau enggak rumah kita kebakaran.
 Ayah : Ya ampuuun. Tapi ini enggak kebakaran.
 Arden : Nanti yah, kebakarnya.
 Ayah : Loh... nanti kapan?
 Arden : Di neraka!
 Ayah : Tobat Ya Alloh... Ampuni kami.
 Arden : Ih ayah mah... Malah berdoa. bukan salat.

Arden pasti horor banget soal cerita tidak salat ini. Perkaranya ayahnya memang jaaaraaaang sekali salat. Jangankan salat bangun pagi banget aja ogah kok. 🙂 Seorang  psikolog bernama Dini S. Budi, menyatakan cara mengenalkan tentang ajaran agama adalah dengan menceritakan secara sederhana berkaitan pelajaran ketuhanan, seperti anak diajak berdoa sebelum melakukan suatu kegiatan. Orang tua juga bisa mencontohkan dengan memberikan anak perlengkapan ibadah dan ajak mereka melakukan bersama. Anak akan melakukannya tanpa terpaksa kelak, dengan kesadaran sendiri.

Baca juga : Masjid Pinky : Laporan Lomba Mewarnai

Selain itu, anak akan merasa dekat dengan orang tua ketika mengajarkan tentang agama, misalnya mempersiapkan alat ibadahnya. Anak akan mencontoh perilaku kita. Ketika kecil, anak memiliki kemampuan yang terbatas tentang ketuhanan, maka orang tua dapat menuntunnya dan mengenalkannya secara perlahan. Ajarkan kebaikan-kebaikan dalam melakukan ibadah dan ritual lain dalam beragama.

Ketika sejak kecil mengenalkan Tuhan, setidaknya orang tua memberikan bibit spiritualitas untuk anak-anak. Beribadah merupakan wujud rasa syukur dan ekspresi seorang manusia yang membutuhkan kedamaian dalam dirinya. Ketika anak dikenalkan beribadah, , anak-anak belajar mensyukuri nikmat-Nya. Ajarilah sejak kecil, agar dia terbiasa melakukannya dengan kesadaran dan sudah terbiasa beribadah ketika dewasa kelak.

Lima Rebu untuk Anak Yatim

 

Menjelang Pergi sekolah, Arden tiba-tiba meminta lima rebu, katanya untuk anak yatim. Tetapi sayang disayang Arden sebetulnya tidak tahu apa itu anak yatim. 

Arden : Ayah minta lima ribu, buat anak yatim. Suruh bu guru.

Yes. Ini manfaat sekolah. Belajar berbagi pada sesama.

Ayah : Anak yatim itu apa den?
Arden : Enggak tauuu. Tanya aja sama bu guru.
 
 Tetapi, kalau dibiarin enggak tahu gitu. Kasih juga ih, anak-anak harus tahu apa yang dilakukannya. Setelah Arden dimintai sumbangan untuk anak yatim sama bu guru, tetapi tidak tahu apa maksudnya. Kok rasanya rada gimana gitu ya menyuruh anak tanpa penjelasan. Jadi Ayah pun menjelaskannya kepada Arden. Apa itu anak yatim…

Ayah : Enggak usah ke ibu guru buat nanya anak yatim mah...
Arden : Tapi yah... Si Yeye katanya anak yatim...
Ayah : Loh kok bisa....
Arden : Bapaknya sudah meninggal...
Ayah : Jadi anak yatim itu apa?
Arden : Anak yatim itu si Yeye...
Ayah : bukan Arden, jadi anak yatim itu kalau anak-anak yang ayahnya sudah meninggal. Sedangkan, anak 
itu belum gede.
Arden : Si Yeye atuh yah...
Ayah : Nah tahu kan anak yatim itu...
Arden : Ya tahulah ya, si Yeye, ayahnya udah mati. Dikuburin. Jadi deh anak yatim.
Ayah : Meninggal atuh Arden bukan mati...
Arden : Sama we atuh ayah. Sama-sama dikuburin...
Ayah : Ehm... Ya betul...
 

Beli Susu Jadi Beli Pisang

 
Pada suatu siang yang sedang panas-panasnya, Arden tetiba mau membeli susu. Susunya dikantongin katanya pake karesek bodas.

Arden : Ayah minta uang dong
Ayah : Buat beli apa?
Arden : Beli susu di karesek bodas.
Ayah : Jangan ih kalo dikaresek sih bikin aja sendiri terus dikaresekan.
Arden : (manyun dan mikir). Atuh ayah beli susu.
Ayah : Beli susu kotak aja ya.
Arden : ya udah atuh. Minta uangnya yah.
Ayah : Ini yah, lima rebu. Susu kotak tiga rebu. Jadi kembaliannya….
Arden : dua rebu….
Ayah : Sok atuh beli…
Arden : Makasih yah… Ayo Uta kita beli (mengajak teman karibnya)

Tidak lama kemudian, sekitar lima belas menitan lah. Apakah Arden membeli susu? Oh tentu tidak, dia 
datang membawa pisang tanpa uang kembalian.

 Arden datang dengan sedikit sedih dan berkeluh kesah.
 Arden : Ayah, susu teh habis
 Ayah : jadi beli apa kamu
 Arden : Karena susu habis di warung teh emim, Ade beli pisang
 Ayah : looohhh kok beli piisaaaang
 Arden : Kan susunya habis ya
 Ayah : Kembaliannya mana?
 Arden : karena uangnya lima rebu. Jadi beli pisangnya lima rebu.
 Ayah : (gemes pengen marah) arghhh
 Arden : Ya atuh ayah, ga papa ya. Kita bagi dua pisangnya.
 Ayah : makasih Arden (bari kesel)
 
 Makin kesel karena pisang yang dibeli bahan buat pisang goreng.