Menarilah Nak

 

Sore hari, selasa (28/03) selagi penyembuhan dari sakit, Arden dipanggil oleh Ibu gurunya. Rupanya ada latihan menari. Kukira Arden akan menolak diajak menari, tetapi taraaaa “temani ade yuk yah.” Jadilah sore itu mengikuti ajakan ibu guru berlatih tari di halaman PAUD Al-Metallica. Aku tidak tahu itu musik apa yang menjadi latar latihan tari, karena berbahasa sunda dan baru pertama kali mendengar. Tetapi kalau dari latihannya, seperti ada pelakon memegang bendera dan ada yang menjadi aki-aki (seorang kakek). Entahlah ini tarian apa namanya.

Kalau tugas Arden ditarian itu menggoyangkan bendera ke kanan dan ke kiri sambil menganggkat kaki bak orang gerak jalan. Tidak lupa pula berlenggak lenggok pantatnya. Arden terlihat senang berlatih tari sore itu. Tak tampak lagi sakit panas dingin seminggu yang dideritanya. Tawa riang dan suara ramai bersama teman-teman sekolah mengiring latihan sore itu.

Melihat Arden berlatih tari begitu ingatlah aku waktu TK dulu. Aku tak seriang Arden dan cenderung pendiam. Dalam diam mengikuti semua alunan lagu “dinding ma rinding” dari Sumatera Barat. Tawa riang Arden juga membuatku sadar, “hei kamu sudah tambah besar nak” senyum-senyum sendiri dan sadar diri kalau sudah punya anak yang mau berumur 5 tahun bulan Mei nanti.

Aku senang melihat Arden tertarik melakukan banyak hal yang belum pernah dia coba, termasuk berlatih tari ini. Kalau di rumah sih, dia sering menari-nari dengan gerakan tak beraturan. Kadang, aku pula yang mencontohkan dirinya goyang-goyang dan tertawa berdua di siang bolong. Menjadi teman berjoget saat hanya ada aku dan Arden di rumah.

Ku pikir memang ada baiknya dari kecil, seorang anak kecil seperti Arden mencoba beragam hal. Arden sudah bisa memasak, sudah bisa mengepel, sudah bisa menyiram pohon cabai, dan kali ini mencoba latihan tari. Orang tua mana yang tak senang ketika melihat pertumbuhan anak tanpa masalah dan berkembang seperti orang kebanyakan.

Menjadi Penari pun Boleh

Sedari kecil, aku dan Fey sudah bersekongkol kalau arden boleh menjadi apa saja. Kalau menjadi penari pun boleh. Untuk pengenalan ragam pekerjaan pun, kami mengenalkan banyak hal. Seperti pekerja kantoran layaknya ibunya yang setiap hari bekerja di kantor, supir kereta api di stasiun, koki di warung makan, sampai pedagang keliling pun kami kenalkan sebagai pekerjaan. Agar kelak Arden tak seperti orang tuanya, ya cita-citanya sebatas menjadi dokter dan insinyur. Eh tahunya malah tidak kesampaian. Mengenalkan arden hal-hal yang mungkin bisa dia kerjakan sejak kecil, aku pikir ada baiknya. Ada loh sepupu Arden yang masih SD sudah tahu mau menjadi penulis dan pelukis. Mereka punya cita-cita dari apa yang mereka sudah kerjakan sejak kecil sekali.

Maka dari itu, belajar menari ini bagian dari proses pengenalan satu kegiatan yang baik buat Arden. mana tau dia benaran suka dan menjadi penari. Ya enggak ada salahnya toh. Mau menjadi koki pun boleh. Kalau dia mau menjadi model pun boleh. Apalagi mau menjadi Antropolog, ya boleh banget. Menarilah nak, mungkin suatu hari kau bisa menari-nari dalam menghadapi hidup ini. Tak jadi soal buatku, kau mau melakukan kegiatan apa, asal baik untukmu.

Pertanyaan Mengejutkan dari Anak Berumur 4 Tahun 10 Bulan

 

Suatu kali Arden pernah menangis terseduh-seduh ketika burung yang baru dibelinya telah mati dan dikerubungi semut. “Burungmu telah mati, dia harus dikuburkan,” Arden sedih bukan kepalang saat itu sampai berurai air mata. “Ayah kenapa burung yang mati harus dikubur?” Gleghh seperti mau menelan ludah, pertanyaan ini membuatku berpikir sebentar. “Ehm kenapa ya?”

Wahai kamu Ayah dan Ibu mungkin anak anda juga pernah mengajukan pertanyaan “mengejutkan” yaitu pertanyaan yang bikin bingung orang tua dan tidak bisa langsung dijawab. Seperti pertanyaan yang pernah terlontar dari Arden.

Kenapa ibu terus berkerja? Kenapa aku enggak boleh ikut Ibu berkerja?

Aku pengen punya adik? Ayah bisa membuatnya enggak?

Kenapa aku sekolah, ayah enggak pernah sekolah?

Merdeka itu apa? Penjajahan itu apa?

Sedikit pertanyaan dari pertanyaan lainnya yang kadang bikin garuk-garuk kepala. Berbicara, Arden sering sekali mengajak Ayah dan Ibu berbicara dan tentu saja berujung pada sebuah pertanyaan. Tetapi bagaimana kalau pertanyaan itu tidak sepenuhnya bisa dijawab?

Arden sering penasaran tentang banyak hal yang tak diketahuinya. Tetapi sebagai orang tua yang baru punya anak satu, sejujurnya tidak selalu memiliki jawaban. Sering kali ya “tiktaktiktuk” dan berpikir sejenak untuk menjawab pertanaan Arden. Ya kalau sudah tidak bisa menjawab, aku sering suruh Arden bertanya pada ibunya. Trik lainnya jawab sekenanya yang penting Arden diam dan tak bertanya lagi. Kalau sudah mentok, ya tinggal bilang, “Ayah enggak tahu, apa ya? Nanti ayah jawab ya,” kalau sudah begitu Arden sering tampak tidak puas. “Kenapa dijawab nanti, enggak sekarang?”

Disisi lain memang tidak bisa juga kalau menjawab pertanyaan sekenanya terus-menerus dan malah enggak dijawab, karena si kecil akan terus bertanya. Ya namanya lagi penasaran, anak kecil isa memberikan satu pertanyaan dan melahirkan pertanyaan lainnya.

Ketika bertanya tentang pekerjaan, Arden tampaknya belum mengerti jawaban dari kami tentang konsep “kerja” yang sedang dilakoni ayah dan ibunya. Yang Arden tahu, ya Ayahnya memang kerjanya sekali-kali saja dan ibu kerjanya harus sering-sering. Jawaban kenapa harus berkerja? Arden pasti menjawab, biar punya uang dan bisa jajan ke Indomart.

Paling lucu waktu dia bilang ingin punya adik, dan bertanya, “ayah bisa membuatnya, enggak?” Sukurnya ibunya membantu untuk menjawab, “kalau adik bayi dilahirkan dari perut ibu.” Tetapi ya belum dijelaskan bagaimana proses melahirkan adik bayi pada Arden. Karena dianggap belum waktunya, Arden masih terlalu kecil untuk mengerti adanya janin dan proses melahirkan.

Sebagian pertanyaan lainnya dari Arden tentu mudah dijawab. Seperti ketika bertanya Merdeka itu apa? Penjajahan itu apa? Malaysia Bebas dari penjajahan siapa? Kenapa Malaysia dijajah? Ya tentu itu bisa dijawab. Ayah kan sudah diajarin dari SD soal kemerdekaan dan penjajahan. Tetapi kalau pertanyaan tentang kematian? Seperti tentang kematian burung dan meninggalnya nenek ibunya? Jadi Uti (uyut putri) sudah enggak ada lagi? Aku menjelaskan padanya soal kematian. Namun, dia belum mengerti kalau burung dan manusia akan tiada pada waktunya.

Arden harus tahu tidak semua pertanyaan bisa dijawab

Aku pikir memang tak semua harus dan bisa dijawab. Kalau pertanyaan masih mudah dan dianggap bisa diterima oleh Arden, ya barulah dijawab. Masalahnya kalau semua dijawab dan ternyata sebagian jawaban adalah penjelasan yang salah, bisa gawat. Apalagi kalau dijawab dengan “oh”. Oh itu pertanda ya sudah tidak nanya lagi, tetapi dia mengerti atau tidak hanya dirinya yang tahu.

Kadang kalau sudah enggak bisa memberikan jawaban, ya balikin saja pertanyaannya ke Arden, misalnya, “kalau menurut kamu yang mati harus dikubur atau enggak?” Arden biasanya membalas lagi pertanyaan seperti itu, “Ya dikurburlah.” Menurutku hal itu bagus, jadi anak belajar menjawab dengan versinya sendiri. Dia menjadi belajar berpikir dan tetap harus ada penjelasan tambahan dari orang tua.

Ayah Bukanlah Kunci Jawaban

Ketidaktahuan dan tidak selalu memberi jawaban bisa menunjukkan pada Arden kalau Ayah bukanlah orang yang sempurna. Anak harus belajar tidak semua yang dia pikirkan akan menerima jawaban. Lagian ngapan maksa kalau memang enggak bisa menjawab pertanyaan dari anak. Hal terpenting dari semua proses tanya dan menjawab antara orang tua dan anak adalah melihat kemampuan berpikir si anak dan anak belajar tentang kemampuan si ayah. Asal jangan anak menganggap, “kok ayah banyak enggak tahunya sih.” Beri pemahanan juga Ayah bukanlah orang yang serba tahu dan bukan kunci dari semua jawaban.

Tahun demi tahun anak terus berkembang. Anak terus menunjukkan peningkatan kemampuan berkomunikasi dengan kedua orang tua. Aku melihat Arden merasa lebih didengar dan tak sungkan langsung bertanya bila ada hal yang ingin diketahui. Anak menjadi merasa nyaman untuk terus bicara. Pada prosesnya, anak belajar memahami dan belajar mengerti tentang begitu banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak semuanya bisa dijawab oleh orang tua.

Sembuhlah Nak, Esok Kita Main Lagi

Arden sudah seminggu sakit. Khawatir rasanya. Suhu badannya naik pada malam hari dan turun pada siang hari. Kalau siang sih kayak orangnya sehat-sehat saja, lari-larian ke rumah tetangga sampai ke madrasah gang sebelah. Was-was ya tentu saja namanya juga anak sakit.

Ibunya sudah membawa Arden ke dokter dan kekhawatiran akan penyakit typus terbantahkan hasil labortaorium yang hasilnya negatif. Arden sudah dicek darahnya. “Sakit diambil darah mah yah,” sambil memgang tangannya Arden mengeluh. Pas lihat kertas hasil labnya sih manggut-manggut saja, yang penting banyak tulisan negatifnya. Enggak ngerti. Arden sudah berobat pada hari kedua, tetapi masih panas dingin sampai diketiknya tulisan ini.

Ibu semakin khawatir, bolak balik dijamahnya badan anak semata wayangnya. Aku melihat kecemasan dari raut mukanya. Begitu pula aku, tetapi tak menunjukkan tingkat kekhawatiran yang sama. Kalau Ayah dan Ibu sama khawatirnya, takut terpengaruh ke psikologi anak. Makin girang lagi si keceil terlalu dimanja-manja. Aku tak menjamah sesering ibunya. Aku jarang cuci tangan. Takut kuman bekas cebok dan makan sambel malah nyentuh badan Arden.

Aku turut terus memantau kondisi Arden dengan seksama. Aku juga memastikan tak terjadi kondisi yang tak diinginkan. Arden lagi sakit pun masih sering main air. Dia sering mengaku mau kencing padahal ngubek-ngubek air di kamar mandi. Makanan pun dijaga, dia sering mengaku beli kue padahal beli mie instan dari mamang-mamang yang memasaknya sambul merokok dengan asap ngebul. Yang paling ngeselin, kalau enggak mau makan siang, dia selalu mengaku kenyang. Padahal, bolak balik mencari cemilan di toples.

Ayah sama khawatirnya seperti ibu

Halo ibu. Ketahuilah, ayah juga sangat khawatir melihat Anak yang sakit. Mungkin hanya berbeda cara, berbeda menanggapi anak yang sedang panas-dingin seperti Arden. Aayah berupaya tidur lebih lama berjaga sampai berganti hari sambil makan sisa cemilan Arden, mengecek kondisi suhu Arden yang panas. Ayah berupaya membuat tenang, “oh sudah sembuh mau sembuh,” walau tahu-tahunya panas meninggi memasuki hari yang gelap.

Memastikan Si Kecil Makan  Siang dan Minum Obat

Kalau siang pun waktu Ibu sangat sibuk di kantor, ayah memastikan apa yang ibu suruh dilakukan semua dan aman terkendali. Arden harus minum obat, “ingat ayah yang botol hijau ya, bukan botol hitam itu mah obat ibu. Jangan salah lagi.” Ya tinggal dicatat biar enggak salah minum obat. Sebelum minum obat tentu harus makan siang. Walau makannya ala Arden, bisa 2-3 jam baru habis. Minum obat dan makan siang penting untuk diperhatikan, agar sakitnya Arden tak kunjung terlalu banyak mamakan hari.  Hidup dengan rasa was-was tidak enak. Apalagi anak semata wayang yang sakit.

Wahai Ayah, Yakinlah Kamu juga Bisa Menjaga Anak

Seperti aku sebagai Ayah yang tidak setiap hari berkerja, malah lebih sering di rumahnya bisa berperan sebagai penjaga anak, meski belum tentu menjaga Arden dengan baik. Ayah yang memastikan si kecil dalam kondisi yang baik-baik saja dan rutin mengecek kondisi anak. Jadi si ibu tak perlu khawatir ketika berkerja dan tidak bisa menjangkau kondisi kesehatan anak terus menerus. Kalau Ayah enggak bisa menjaga anak, ya buat apa punya anak. Tugas menjaga anak ya semestinya memang menjadi tanggung jawab yang besar bagi si Ayah.

Kalau anak sakit berhari-hari begini rasanya dunia hanya untuknya. Ayah dan ibu bergantian dalam menjaga untuk memastikan kondisinya tidak memburuk. Buatku sebagai Ayah ya memastikan juga ibunya tak terlalu was-was, kalau anak sakit dan si ibu ikut stres kan malah berabe. Ya cepat sembuhlah Arden, biar esok hari kita main ke Indomaret lagi.

Ayah Aku Bilangin Ya, Jual Abon Ibu…


Arden : Abon difoto foto terus bukannya dimakan
Ayah : Ini difoto terus mau dijual den…
Arden : Bilang ibu yah… Abon ibu, ayah jual…
Ayah : hadeuh… memang mau jualanlah…

Namanya Abon Kece biar mirip Teri kece.

Dijual mulai hari ini:
Harga Promo :
Rp72.000/ 250gram atau
Rp33.000/100 gram
Belinya hubungi aja
WA/SMS/Telpon :
089620163841
085797432260

6 Februari Menikahinya, 6 Tahun yang Lalu

Hari ini 6 tahun yang lalu, aku menjemput kedatangan kedua orang tua bersama Tulang ke Bandara di Bandung. Waktu menunggu tulang untuk menjemput mamak dan ayah dari Medan. Aku masih ingat ketemu Ima teman kuliah. “Loh bukannya mau nikah besok, kok lo disini?” Aku nyengir. “Ayah dan ibuku akan datang hari ini dan kami mau menjemputnya,” jawabku ringkas. Ima teman baik di kuliah mengucapkan selamat atas atas rencana pernikahan kami. Aku dan Fey menikah 6 Februari 2011. Ya, aku tidak begitu terlibat dalam rencana pernikahan, karena semua diurus oleh keluarga dari pihak Fey. 6 tahun kemudian, esok hari 6 Februari 2017, kami akan merayakan hari pernikahan. Hari ulang tahun pernikahan ke 6 kalinya.

Aku tulis ini saat Fey duduk menyampingi diriku, tetapi ia tidak tahu karena sedang asik membaca cerita korea di handphonenya. Tanggal 5 Februari ini, Arden juga senang asik tidur-tiduran di sampingku. Ia tidak tahu juga aku sedang menulis ini. Lagian percuma kalau pun tahu, Arden kan belum bisa membaca.

Kutulis ini untuk Fey, dialah istriku. Fey, Selamat hari pernikahan ke-6 ya. Waktu berjalan lambat menurutku, ya lambat buatku yang terlalu sering di rumah. Kalau dibilang cepat ya enggak toh, 6 tahun itu tidaklah cepat. Fey istriku yang baik hatinya, terima kasih atas hari-hari yang cerah, meski kelabu lebih sering menghampiri kita. Terima kasih untuk hari yang menyenangkan, meski keluh kesah tentu tidak sedikit merajai hari yang kita lewati.

Saat ini, kau bersama suami yang terlalu sering di rumah dan bersama seorang Arden yang sering hip hip hore. Tak jarang, tangis Arden lebih meriah dibandingkan hidup yang kau jalani. Pasti lelah menjadi ibu dan bersama suami seperti diriku yang jarang mandi apalagi lupa gosok gigi. Tolong yang baca ini jangan jijiik, ini kiasan belaka. Kalau pun benar biarlah menjadi bagian hari kebahagiaan kami dalam masa ulang tahun pernikahan ke enam ini.

Fey, harapanku mungkin berbeda dengan harapanmu, tetapi aku mau tulis harapanku di blog ini ya. Harapanku semoga tahun depan akan ulang tahun pernikahan lagi. Kita sudah hidup di Bandung. Arden rajin sekolah kalau sudah SD, bolos sering pun tak apa. Selain itu, aku juga berharap keuangan kita lebih stabil. Sehingga bisa beli motor, ajukan KPR, ada uang buat belanja ke Indomaret untuk Arden, dan aku ingin sekal punya laptop baru lagi. Kan handphone baru beli kemarin.

Semoga ya hidup keluarga kecil kita ini penuh kebahagiaan. Saat in, aku tak ingin Arden punya Ade lagi. Biarlah seperti ini. Kalau pun akhrnya punya Ade, aku ingin memberinya nama sederhana saja dan tidak panjang seperti nama Arden. Karena aku pun sulit menghafal nama arden. Selamat ulang tahun pernikahan. Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Meski hidup bersamaku tidaklah mudah dan belum pernah liburan ke pantai apalagi ke luar negeri.

 

 

 

 

Ngobrol bareng Arden Siang-Siang : Aku Pikir Kita ke Indomaret Dulu

Arden : Ayah aku pikir sepi enggak ada teman.
Ayah : Ha? Pikir? Ayah pikir juga gitu
Arden : Teman teman ade, enggak mau main ke runah
Ayah : bentar lagi juga main.
Arden : Gimana kalo sebelum teman-teman datang kita ke Indomaret.
Ayah : Aku sudah duga pikiranmu…
Arden : Beli kueee aja. Enggak engak beli mainan. Enggak beli es krim.
Ayah : Enggak beli minuman juga?
Arden : Satu aja ayah…
Ayah : Ayah pikir kita di rumah aja.

Tentang Teri Kece dan Harga Yang Naik

Hari ini jalan-jalan ke pasar lagi. Fey sudah mengingatkan supaya jangan lupa belanja. Soalnya pelanggan sudah banyak yang pesan TERI KECE. Agak males-malesan memang, maunya santai-santai di rumah kayak di pantai. TERI KECE adalah dagangan kami dari dagangan sekian yang Alhamdulillah paling mudah dibuat dari segi produksi dan paling menguntungkan. Ya sedikit demi sedikit bisalah buat tambahan jajan Arden ke Indomaret.

Sesampainya di Pasar Sukabumi yang lokasinya di daerah Cisaat, alamak harga Teri naik melambung rupanya. Awak sudah lama kali tak ke Pasar. Ya kalau mau tanya berapa harganya ke pasar aja sendiri, dan jangan sampe terkejut ya. Tak mau kalah, harga cabai pun masih naik yang entah kapan turunnya. Bawang saja yang harganya stabil yang entah kenapa enggak naik-naik. Untuk itulah, aku langsung berpikir tidak bisa menjual teri dengan harga yang lama. Kalau harga masih segitu-gitu terus kapan jalan-jalan ke luar negerinya kayak orang-orang. Photo di dedepan gedung pencakar langit di Malaysia. Belanja di Singapura. Berenang di pantai Thailand. Ya harga harus dinaikkan demi kemaslahatan keluarga dan biar bisa liburan ke sana-ke mari.

Jadi di tulisan ini saya bermaksud ingin menyatakan harga terbaru dari Produk TERI KECE, Alhamdulillah naik ya.

Teri Sambal Merah + Kacang = Harganya Rp47.000

Teri Sambal Merah = Harganya 50.000

Teri Sambal Hijau + Kacang = Harganya Rp49.000

Teri Sambal Hijau = Harganya Rp52.000

Pemesanan dapat dilakukan dengan menguhubungi

Ferni Nofianty Dewi

Telpon/ WhatsApp:  085797432260

Damai itu Ada Di Surga

Mendongeng bersama Arden

Mendongeng, aku dan istriku mencoba membiasakan untuk banyak bercerita dengan Arden. Aku dan istri punya harapan besar, Arden kelak mampu menalar dengan baik. Untuk meraih harapan dan mengubahnya menjadi kenyataan, kami sering berbagi cerita untuk Arden. Persoalannya cerita yang diujarkan seringkali mendapat pertanyaan balik yang menjawabnya aja bikin garuk-garuk kepala. Kali ini Arden bertanya tentang surga.

Surga Torja

Ayah : Menurut kepercayaan orang Toraja, semakin tinggi jenazah diletakkaan, semakin cepat rohnya sampai ke surga.

Arden : Oh… Jadi kuburannya di atas gunung yang tadi ayah?

Ayah : Iya, biar dekat ke surga.

Arden : Surga itu apa ayah?

Ayah : Ehm, surga? surga itu… coba tanya ibu.

Arden : Surga itu apa ibu?

Ibu : Surga itu tempat yang damai.

Arden : Ohhh,  jadi kalau mau damai itu harus di surga???

Ayah: Y&^*$&*&#*(&*&# Hahahaha

Surga itu

Surga. Arden baru kali ini mendengar kata surga. Aku dan istriku tidak pernah bercerita tentang surga sebelumnya. Bahkan untuk perbuatannya kami tak pernah menjanjikan surga dan neraka. Yang kami ajarkan adalah, orang baik banyak teman dan orang jahat sedikit temannya. Tak ada janji dan surga untuk Arden. Sisi kerohanian memang belum dikenalkan untuk Arden. Biarlah, Arden membangun sisi kerohanian untuk dirinya kelak.

Aku Enggak Mau Sekolah, Aku Cape

Sebeelum pergi sekolah

Soal sekolah, aku memang tidak setuju Arden mengenal pendidikan ala masuk kelas terlalu cepat. Setelah dilihat-lihat rupayanya sekolah mampu membuatnya lebih mengenal bagaimana berteman, bagaimana berbagi, bagaimana menjadi pelit, dan bagaimana berkelahi. Sebagai ayah, aku tentu senang sekali. Sekolah cepat juga ada gunanya dan enggak perlu ditakutkan. Cuma masih jengkel kalau ada PR doang. Syukurnya, Arden raji pergi sekolah. Ibunya juga jadi rajin, ya rajin menemani Arden di sekolah. Hihihi. Arden pun sudah biasa pergi sendiri dan pulang sendiri ke rumah. Pergi enggak usah diantar, pulang tak dijemput, tetapi jam istirahat minta uang jajan lagi. Mentang-mentang sekolahnya dekat.

Sekolah itu main

Belakangan hari Arden mulai enggak pergi ke sekolah sendiri lagi. PAUD tempatnya belajar tidaklah jauh, hanya berjarak dua 1 rumah dari rumah kami di Sukabumi. Tetapi, semenjak aku kerja ke NTT kemarin, Arden mulai minta diantar lagi pergi ke sekolah. Tak Cuma itu, Arden juga minta ditemani di dalam kelas. Jadilah, ibunya sering iku belajar di kelas. Aku sempat penasaran apa yang terjadi sebanarnya, kenapa Arden? Kenapa? Sinetron banget.

Aku sempat memaksanya untuk pergi saja, tetapi Arden tetap tak mau. Katanya besok dan besok mau sekolah.

Apalagi setelah kami ke Medan bersua opung dan nenek. Arden ada saja alasannya. Kata ibu, Arden enggak ke sekolah karena diledek jarang sekolah. Dia malu katanya. Malu? Iya, Arden sudah tahu kok malunya berbuat tidak sesuai apa yang orang lain lakukan. Meski tidak bisa dibilang kesalahan. Ya buat anak umur 4 tahun, hukum sekolah itu masih sunnah lah…

Berdua Sama Teman

Suatu malam pas Ibu sudah tidur, aku pun menanyakan perihal tidak maunya dia pergi sekolah.

Ayah : Ade masih cape

Arden : Enggak ayah, ade kan enggak main kalau malam

Ayah: Besok sekolah ya?

Arden : Sekolah, Ade masih cape. Kan baru pulang dari medan

Ayah : Kamu cape atau kenapa sih?

Arden: Ehm…

Ayah : Ngomong aja, dari pada diam-diam aja

Arden: Ade malu ya. Dibilang jarang sekolah….

Ayah : Kamu enggak usah malu. Kamu sekolah bayar uang sekolah. Guru juga tahu kamu kan ke Medan, jadi enggak sekolah.

Arden : Tapi… Ade mau ditemani…

Aku marah ayah

Sudah diketahuilah pangkal masalahnya. Arden enggak sekolah karena malu. Malu diomongin teman-temannya. Anak kecil ini sangat perasa sekali. Dia akan merekam betul-betul apa yang dikatakan orang lain mengenai dirinya. Malu dan malu, itulah alasanya berhari-hari selama seminggu lebih setelah pulang dari Medan. Aku sempat memaksanya untuk pergi saja, tetapi Arden tetap tak mau. Katanya besok dan besok mau sekolah. Lalu, kami putuskan membiarkannya memilih sampai mau pergi sendiri ke sekolah. Tak apalah, diganti belajar dan bermain saja di rumah. Tak ada PR dan tak ada hal memusingkan karena belajar di sekolah. Bermain di rumah lebih asik toh?

Arden dan Membaca Buku

Membaca Bersama Kawan

Ayah : Ade ngapain?
Arden : baca atuh ayah… udah tau pegang buku.
Ayah : baca apa?
Arden : Baca gambar mobil…
Ayah : oh… oke