Arden, Menangislah Karena Kamu Manusia

Arden suka menangis. Hatinya ternyata tak terbuat dari baja, sekali merasa ada temannya yang “jahat”, dia akan pulang sesegukan. Si Jack (bukan nama sebenarnya) galak yah. Pertanyaan belum dimulai, ia sudah menjelaskan.

Suatu hari hari, ia pernah pulang dari sekolahnya belum tepat waktu. Jam masih menunjukkan pukul 09.00, pintu diketuk dan tak lupa mengucapkan salam sembari menangis.

“Arden kenapa?” tanya ibu

“Ade diomongin malas sekolah dan enggak ikut menanam jagung.” Ibu tersenyum, tetapi Arden tak menghentikan tangisnya.

Kalau sudah begini, Arden akan mendapat penjelasan kalau ia memang tidak sekolah, karena dititipkan di rumah nenek. Ayah dan ibu tak bisa menjaganya. Risiko tidak hadir di sekolah, ya Arden tak mengikuti penuh pelajaran sekolah.

Tetapi Arden tampak tidak puas. Itu tidak cukup, ia sudah terlalu sedih dibilang malas dan tidak menanam jagung. Lalu bagaimana dengan tangisannya, ibu biasanya membiarkan Arden terus menangis. Hingga, ia Lelah dan berhenti sendiri.

Pesan singkat dikirimkan ke ibu guru menjelaskan duduk perkara. Syukurnya bu guru datang ke rumah. Jarak sekolah tak jauh, hanya sepelemparan batu. Ya Cuma berjarak satu rumah ke sebelah kiri jalan gang.

“Haduh, kenapa Arden. Kok enggak bilang sama ibu, Arden kenapa menangis?” Ibu guru mengedipkan matanya. Bukan, bukan padaku. Tetapi pada ibu Arden. Arden berhasil kena rayuan ibu guru. Ia mau kembali ke sekolah dalam diam dengan mulut masih bergoyang. Ia masih menangis, tetapi ditahan.

Meminta Maaf dan Dimaafkan Teman

Sesampai di sekolah, temannya sebut saja Daniel (bukan nama sebenarnya) diminta bersalaman. Itu kata bu guru via WhatsApp. Bukan mengirim pesan ke saya, tetapi lewat WhatsApp Group orang tua murid PAUD. Sudah beres.

Arden ternyata tidak menangis lagi. Kecil-kecil harus belajar mengatasi masalahnya sendiri. Kalau menangis membuat Arden tenang, ya menangislah. Kalau marah pun membuatnya lebih baik, ya berteriaklah. Sebagai orang tua kami hanya menjelaskan, kalau ada masalah pasti ada sebab. Bukan semata-mata kesalahan orang lain. Lah, tidak sekolah pun, karena Ayah ke Semarang dan Ibu diundang rapat di Bandung.

Baca Juga : Ketika Anak Tidak Mau Sekolah, Ya Ampuuuunn

Tanpa keterlibatan orang tua, Arden akan belajar kalau masalah hidup bisa diatasi sendiri atau bantuan pihak ketiga. Tidak mesti Ayah dan Ibu datang ke sekolahnya. Sudah bosan dong sekolah mulu sampai dapat gelar sarjana. Anak kecil ini harus menyelesaikan masalahnya tanpa keterlibatan orang tua.

Menangislah Anakku, Karena Bermanfaat Bagimu

Manusia menangis itu ternyata ada manfaatnya. Hidup ini tak mudah, anak kecil mungkin merasakan hal yang sama. Tak mudah bagi Arden menghadapi kenyataan kalau dia disebut malas dan tidak ikut menanam jagung di sekolah. Ketahuilah, menangis dapat mengurangi stress, melepaskan emosi,mengurangi perasaan negatif, tekanan, dan frustasi.

Menangis adalah cara untuk mengenyahkan semua rasa yang terpendam. Setelah menangis, Arden terbukti tak terus terbawa persaan. Dia malah Asik main dengan si Dude setelah pulang sekolah.

Suasana hati menjadi jauh lebih baik setelah menangis. Penelitian dari University of South Florida tahun 2008 telah membuktikannya. Seorang yang menangis membuat dirinya lebih tenang dan memperbaiki suasana hati.

Jadi ingat lirik lagu dewa, Menangislah bila harus menangis. Lalu liriknya melanjutkan, karena kita semua manusia. Manusia bisa terluka. Manusia pasti menangis dan bisa mengambil hikmah.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *