Kasihan Arden, Baru saja Mimpi Buruk

Arden : Ayah kemarin aku ga bisa tidur
Ayah : kenapa?
Arden : mimpi buruk yah.
Ayah : Apa? Mimpi buruk? Mimpi buruk apa
Arden : Uang dua rebu aku hilang…
Ayah : yayayaya mimpi buruk sekali

Pembicaraan menjelang tengah malam itu, membuatku mau tertawa. Tetapi, aku menahannya, Arden jelas tak suka ditertawai. Baginya ini serius, ia baru merasakan mimpi buruk. Kehilangan uang dua ribu! Sesungguhnya, uang nominal Rp2000 adalah satu-satunya jenis yang ia ketahui. Kalau dikasih Rp5000, ia pasti bingung dan Cuma tahu harus ada kembalian. Kalau dikasih Rp2000, arden tahu uang tersebut cukup untuk membeli dua buah salak atau 2 buah teh gelas. Amanlah, karena uang dua rebu, ayah enggak usah sering-sering ke indomaret.

Namun, wahai Ayah dan Ibu, bukan itu yang penting bagiku. Arden tahu enggak sih apa itu mimpi buruk. Seperti hari-hari lainnya, aku mencoba untuk mencari tahu, anak kecil bernama Arden ini mengerti enggak sih apa yang ia bicarakan. Ia mulai ngomong tentang mimpi buruk.

Aku tahu, Arden  pasti merasa rugi kehilangan uang dua rebu itu, meski dalam mimpi. Akibatnya, ini menjadi alasan buatnya minta uang dua rebu pagi nantinya.

Arden Harus Mengerti Apa itu Mimpi Buruk

Ketika kutanya mimpi buruk itu apa, Arden dengan pasti mengatakan susah tidur, karena bangun tengah malam. Ya iya, dia tidur dari sore, terus bangun jam dua pagi, lalu membangunkan Ayahnya, nyebelin.

Lalu dikorek lagi, ia biang kalau mimpi buruk kehilangan uang dua rebu itu membuatnya terbangun. “Gara-gara mimpi itu, ade bangun yah.” Ok ini memang tidak sama seperti mimpi buruk ketika bertemu hantu dalam mimpi atau mimpi ketabrak mobil atau mimpi buruk diputusin pacar bagi remaja. Tetapi, apakah ini benar-benar mimpi buruk bagi Arden?

Setelah itu, ia menjelaskan kalau kata Enin (neneknya) kemarin bilang baru mimpi buruk. Enggak jelas mimpi buruk apa. Tetapi dari omongan Arden, ia meniru perkataan tentang “mimpi buruk” itu.

Ia meniru omongan neneknya tentang “mimpi buruk”, lalu mencoba memahaminya sendiri. Selanjutnya, tercetuslah obrolan tentang mimpi buruk di atas. “Kehilangan uang dua rebu”  yang jelas ini bisa berakibat buruk, bukan bagi Arden sih, tetapi bagi Ayahnya. Ia pasti meminta uang dua rebu pagi harinya. “Minta dua rebu yah, jajan di warung ibu lotek,” ibu penjual lotek yang juga menjual jajanan ringan untuk anak kecil.

Peniruan kata-kata ini baik sih menurutku, tetapi tidak baik kalau didiamkan saja. Arden harus mengerti apa yang ia bicarakan. Arden harus dijelaskan apa itu mimpi buruk. Lalu, kucoba menjelaskan kalau “mimpi buruk itu ya mimpi tidak menyenangkan dan mengganggu tidur. Setelah bangun Ade merasa tidak nyaman karena mimpi itu,” kataku menjelaskan.

Arden Cuma melongo, jelas dia enggak ngerti. Apalagi cara menjelaskannya kayak ngobrol sama orang dewasa. Hahaha. Tetapi yang penting aku sudah menjelaskannya. Kelak ia akan mengerti kalau mimpi buruk itu bukan sekedar kehilangan uang semata. Apalagi Cuma kehilangan uang dua rebu. Kalau mimpi buruknya minta jajan ke indomaret baru itu gawat. Arden bakal nagih melulu biar diajak jajan ke Indomaret. Rugi bandar!

So, aku memang memilih menjelaskan apa yang kurasa perlu Arden tahu, termasuk tentang mimpi buruk ini.

 

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *