Hari Kak Tini

Foto : Arden dan Uta. Enggak punya baju batik di hari Kartini, terpaksa pake baju hari raya (tahun lalu).

 

Ayah : Eh udah pulang, belajar apa hari ini di PAUD Al-Metallica
Arden : Kata ibu Al-fitroh Ayah. Bukan Metallica
Ayah : Belajar apa tadi de?
Arden : Nyanyi-nyanyi gitu tadi
Ayah : Nyanyi apa?
Arden : Ibu Kak Tini…
Ayah : Ibu Kak Tini? Enggak nyanyi ibu Ade?
Arden : Ari ayah suka ngomong yang salah terus. Udah Ade Bilang Ibu Kak Tini…

Anak-Anak Calon Penulis, Pelukis dan Model

Sang Penulis

Beberapa bulan belakangan ini, aku dan kakakku sering berdiskusi tentang anak-anak memiliki potensi bakat yang bisa dikembangkan untuk masa depannya. Ulfah anak sulung kakaku mulai menunjukkan bakat sebagai penulis. Cek demi cek di komputer, Ulfah ternyata memiliki banyak cerita , dibuat khus dalam file sendiri.

Aku yang kebetulan sedang ke Medan Medan Bulan Januari 2017 lalu, terkesima dan mendadak bilang, “Kek mana kalo kau buat blog aja ulfah.” Ulfah keponakanku yang beranjak remaja ini mengangguk. “Jadi kek mana buatnya tulang?” Anaknya menyambut saranku.

Ulfah kuajari membuat blog. Ia mengikuti tahap-tahapnya dan membuat nama blognya ulfahnurstory.wordpress.com. Mirip-miriplah ya sama Ardentusstory.com.  Mana tau bisa duet blog menulis suatu saat nanti. hehehe…

“Dia memang suka menulis. Banyak itu udah dibuatnya di komputernya,” begitu kata emaknya. Cerita demi cerita tentang Ulfah, sang emak mendukung saja kalau Ulfah memang mau menjadi penulis. Jalan masih panjang, Ulfah masih SD dan berusia belum genap 12 tahun. Tetapi kalau bakat sudah muncul dari kecil, kan enggak susah mengarahkan si anak.

Ulfah berjanji mengisi blognya secara berkala. Lalu, kusarankan pula Ulfah menjadi salah satu member #1minggu1cerita. Komunitas menulis #1minggu1cerita terbukti membuat dia konsisten menulis sampai saat ini.

Bukan itu saja loh. Ulfah sedang mengikuti lomba menulis pertamanya. Ia mengikuti lomba menulis tingkat Sumatera Utara dan masih tahap penjurian. Judul cerita dan isinya sangat menarik, berjudul “Topeng Bopeng”. Ulfah bisa menyelesaikan tulisan berisi 50 halaman plus ilustrasi dalam rentang waktu 1 bulan menulis. “Yang penting ikut dululah lomba, nanti juga dia berkembang kemampuan menulisnya,” Itulah obrolan terakhir sebelum tulisan Ulfah dikirim ke panitia lomba.

Sang Pelukis

Oh iya ilustratornya dalam tulisan Ulfah adalah Ammar, sang adik yang tampaknya akan menjadi pelukis.  Bakat Ammar diketahui sejak sebelum usia lima tahun. Ia gemar melukis dan semakin berkembang hingga sekarang. Ia sudah bisa menggambar di komputer, sedang belajar desain, video, dan  bisa membuat games sendiri.

Menariknya, Ammar belajar sendiri dari internet soal menggambar dan membuat games ini. Ia mulai tahu software apa yang bisa digunakan untuk membuat games dan video. Kalau soal menggambar jangan ditanya, ia pun mulai mengasah kemampuannya melukis dengan mencari inspirasi dari dunia maya pula.

Mengasah bakat. Itu intinya. Ketika Ammar mulai tampak gemar melukis. Kakakku memfasilitasinya. Ammar pun kursus menulis dengan seorang pelukis pula. Om Bagus namanya. Sejak kecil, Om Bagus ini yang menuntun Ammar hingga mulai bisa mengasah kemampuannya perlahan-lahan. Kalau sekarang sih, enggak ada Om Bagus, Ammar bisa belajar sendiri.

Inilah contoh karya lukisan Ammar.

Sang Model

Kalau sang model itu adalah anaknya pemilik blog ini. Arden namanya, namanya disematkan menjadi nama blog ini. Aku memang membayangkan Arden akan menjadi model suatu saat nanti. Hehehe. Jangan dianggap serius ya.

Kalau dijeprat-jepret kok cakep banget kayak ayahnya ya. Arden sudah terbiasa difoto sejak belum bisa berjalan. Kapan pun ada kesempatan, aku pasti mengambil kamera atau hape dan memfotonya. Tidak susah mengarahkan gayanya. Ia memiliki gaya pavorit sendiri. Bahkan suatu hari, ia pernah meminta ke studio foto. Ah, ganteng nian anakku ini.

Bakat Anak itu yang Penting

Percayalah kawan, setiap anak itu unik. Anak memiliki kemampuan yang bisa digali sejak kecil. Fasilitasilah bakat sang anak. Mana tahu, bakatnya bisa membawa hidupnya menjadi lebih cerah, membuatnya bahagia, dan menghasilkan uang terntunya. #Ngarep.

Dari obrolan sang kakak tentang bakat anak-anak ini, tak ada yang dipaksa. Anak sendiri yang menemukan apa yang ia suka. Dari mau menggambar sendiri, membuat cerita, sampai pintar bergaya pun lahir dari bakat anak. Yang penting sih, orang tua mendukung dan jangan maksa si anak harus dimirip-miripin sama emak dan bapaknya.

Orang tua toh punya pengalaman yang menyenangkan tentang hidup ketika bisa memilih cita-cita sesuai keinginan dan bakat hidupnya. Anak-anak tentu juga bisa mengembangkan dan menuju arah hidupnya sendiri. Ojo dipaksa-paksa. Siapa tahu, mereka benar menjadi orang besar sesuai bakatnya.

 

Kasihan Arden, Baru saja Mimpi Buruk

Arden : Ayah kemarin aku ga bisa tidur
Ayah : kenapa?
Arden : mimpi buruk yah.
Ayah : Apa? Mimpi buruk? Mimpi buruk apa
Arden : Uang dua rebu aku hilang…
Ayah : yayayaya mimpi buruk sekali

Pembicaraan menjelang tengah malam itu, membuatku mau tertawa. Tetapi, aku menahannya, Arden jelas tak suka ditertawai. Baginya ini serius, ia baru merasakan mimpi buruk. Kehilangan uang dua ribu! Sesungguhnya, uang nominal Rp2000 adalah satu-satunya jenis yang ia ketahui. Kalau dikasih Rp5000, ia pasti bingung dan Cuma tahu harus ada kembalian. Kalau dikasih Rp2000, arden tahu uang tersebut cukup untuk membeli dua buah salak atau 2 buah teh gelas. Amanlah, karena uang dua rebu, ayah enggak usah sering-sering ke indomaret.

Namun, wahai Ayah dan Ibu, bukan itu yang penting bagiku. Arden tahu enggak sih apa itu mimpi buruk. Seperti hari-hari lainnya, aku mencoba untuk mencari tahu, anak kecil bernama Arden ini mengerti enggak sih apa yang ia bicarakan. Ia mulai ngomong tentang mimpi buruk.

Aku tahu, Arden  pasti merasa rugi kehilangan uang dua rebu itu, meski dalam mimpi. Akibatnya, ini menjadi alasan buatnya minta uang dua rebu pagi nantinya.

Arden Harus Mengerti Apa itu Mimpi Buruk

Ketika kutanya mimpi buruk itu apa, Arden dengan pasti mengatakan susah tidur, karena bangun tengah malam. Ya iya, dia tidur dari sore, terus bangun jam dua pagi, lalu membangunkan Ayahnya, nyebelin.

Lalu dikorek lagi, ia biang kalau mimpi buruk kehilangan uang dua rebu itu membuatnya terbangun. “Gara-gara mimpi itu, ade bangun yah.” Ok ini memang tidak sama seperti mimpi buruk ketika bertemu hantu dalam mimpi atau mimpi ketabrak mobil atau mimpi buruk diputusin pacar bagi remaja. Tetapi, apakah ini benar-benar mimpi buruk bagi Arden?

Setelah itu, ia menjelaskan kalau kata Enin (neneknya) kemarin bilang baru mimpi buruk. Enggak jelas mimpi buruk apa. Tetapi dari omongan Arden, ia meniru perkataan tentang “mimpi buruk” itu.

Ia meniru omongan neneknya tentang “mimpi buruk”, lalu mencoba memahaminya sendiri. Selanjutnya, tercetuslah obrolan tentang mimpi buruk di atas. “Kehilangan uang dua rebu”  yang jelas ini bisa berakibat buruk, bukan bagi Arden sih, tetapi bagi Ayahnya. Ia pasti meminta uang dua rebu pagi harinya. “Minta dua rebu yah, jajan di warung ibu lotek,” ibu penjual lotek yang juga menjual jajanan ringan untuk anak kecil.

Peniruan kata-kata ini baik sih menurutku, tetapi tidak baik kalau didiamkan saja. Arden harus mengerti apa yang ia bicarakan. Arden harus dijelaskan apa itu mimpi buruk. Lalu, kucoba menjelaskan kalau “mimpi buruk itu ya mimpi tidak menyenangkan dan mengganggu tidur. Setelah bangun Ade merasa tidak nyaman karena mimpi itu,” kataku menjelaskan.

Arden Cuma melongo, jelas dia enggak ngerti. Apalagi cara menjelaskannya kayak ngobrol sama orang dewasa. Hahaha. Tetapi yang penting aku sudah menjelaskannya. Kelak ia akan mengerti kalau mimpi buruk itu bukan sekedar kehilangan uang semata. Apalagi Cuma kehilangan uang dua rebu. Kalau mimpi buruknya minta jajan ke indomaret baru itu gawat. Arden bakal nagih melulu biar diajak jajan ke Indomaret. Rugi bandar!

So, aku memang memilih menjelaskan apa yang kurasa perlu Arden tahu, termasuk tentang mimpi buruk ini.

 

Tertawalah Bersama Anakmu, Ayah

Aku sering membagi percakapanku dengan Arden di Facebook. Aku pikir tidak ada salahnya toh berbagi kebahagiaan. Arden yang semakin  pinter ngomong, memang sering membuatku tertawa dan tak jarang bikin kesel. Ada aja ocehannya yang ia kira penting, ada saja alasannya biar dikasih uang, dan ada saja pembelaan biar enggak disuruh-suruh. Seperti pembicaraan terakhir waktu aku minta tolong, dan dijawab Arden, “Minta tolong sama polisi saja.”
Ayah : Ardeennn, Ayah boleh minta tolong ga?
Arden : (sedang asik bermain pura-pura enggak dengar)…
Ayah : Ardennnn minta tolong donggg….
Arden : Ayah kalo minta tolong sama polisi. Bukan sama Adeee….
Ayah : Bisa enggak?
Arden : Ade bukan polisi yah…

Suatu kali, aku pikir Arden bilang pengen ke rumah opungnya di Medan. Tetapi padahal mah ia pengen beli durian. Anak kecil mulai pinter mencari celah dengan ngomong yang topik lain dulu, baru setelah itu beralih ke inti omongan yang dia inginkan. Beli duren.
Arden : Yah aku merasa pengen ke rumah opung
Ayah : Merasa? Iya Ayah juga merasa gitu
Arden : Yuk yah, kita ke rumah opung, sedaaappp ada durian
Ayah : Sedappp gratissss….
Arden : ayo atuh yah?
Ayah : Aku merasa enggak punya uang den buat ke rumah opung.
Arden : Yahhh, ayah mah perasaannya enggak punya uang teruusss…

Wahai Ayah, aku pikir sering-seringlah bicara dengan anak, agar kemampuan bicara semakin baik dan seiring bertambah umur. Anak yang pinter bicara dari kecil membuatnya mampu mencerna maksud pembicaraan orang tua. Kalau Arden diumurnya menjelang ke-5, ia sudah gampang disuruh, dimintai pendapat, sampai disuruh belanja ke warung pun sudah bisa. Itu semua karena kemampuan bicara dan respon yang baik terhadap lawan bicaranya.

Anak yang lancar berbicara juga akan pinter mengungkapkan perasaannya, seperti ketika sedang diejek teman-temannya. Arden tahu betul rasanya dicela begitu. “Kevin bilang Ade, malas sekolah,” suatu waktu katanya yang membuatnya enggan ke sekolah. Padahal, Arden enggak sekolah karena aku si ayah sedang berkerja ke luar kota dan ibunya juga harus ke kantor setiap hari. Jadilah ia tidak ada yang menjaga dan diungsikan sebulan di Cianjur. Bersama nenek dan kakeknya.

Ketahuilah wahai ayah, dekat sama anak itu membuat diri kita sangat mengetahui perangai si anak, bagaimana dia sedang senang dan waktunya sedih. Ungkapan rasa seorang anak sih biasanya juga bisa bikin kita tertawa. Pembicaraanku dan Arden adalah wujud tawa itu sendiri.

Aku sangat senang membagikan obrolannya di akun facebook, karena dunia seolah penuh tawa dan yang paling penting sih bisa bahagia bersama si anak. Si anak loh ya, kalau dia udah gede kan enggak tahu. Arden bakal selucu ini atau malah lebih banyak waktu di luar bersama teman-temannya. Jadi waktu sekarang adalah waktu terbaik, karena dapat berbagi cerita bersamanya.Mari tertawa bersama anakmu wahai ayah.

Kata Ibu guru jangan ke warnet

Arden : Ayah, tadi teman Ade, dibilang ibu guru jangan ke warnet
Ayah : Warnet? Tau dari siapa?
Arden : Masa ayah enggak tau warnet. Teman Ade aja tau.
Ayah : Emang kamu tahu?
Arden : Tahulah… itu tempat anak-anak nakal itu loh yah. anak-anak yang suka main di jalan.
Ayah : ??? Ya makanya jangan jadi anak nakal. Jangan main ke warnet.
Arden : Mending jajan es krim ya yah. Enggak usah ke warnet. mumpung ibu kerja. Sedaaappp… yuk yah…
Ayah : Alahhh banyaklah alasan. Bilang aja pengen eskrim.

Aku sebetulnya sudah bisa menebak kalau Arden bukan mau membahas warnet semata. Ia pengen banget beli eskrim. Maklum, ia sudah tiga minggu tidak boleh makan eskrim. Ibunya sudah melarang, karena baru sembuh dari sakit. Sumber penyakitnya ada di tenggorokan. Anak sekecil Arden mengalami sakit radang tenggorokan sampai panas dingin; malam panas, siang dingin suhu badannya. Bikin khawatir sampai berobat dua kali dalam seminggu.

Arden mulai belajar bagaimana mengutarakan keinginannya dengan memulai obrolan dari topik pembicaraan yang lain dulu. Ya kalau kata orang tua “basa basi lo ah.”

Dari awal pembicaraan soal warnet, Arden memang sudah tahu beberapa temannya sering main ke warnet. Tetapi bagaimana rupa dan bentuk warnet itu, dia tentu tak tahu. Apalagi kata guru dan temannya letak warnet ada di pinggir jalan utama desa, Arden pasti tak berani mengikuti temannya bermain ke sana.

Aku sering memberi peringatan, “jangan sampai ketahuan sama Ayah main ke Jalan.” Lalu, dipikirannya kalau anak yang main ke jalan itu pastilah anak nakal. Karena anak nakal itu sudah berani berbohong sama orang tua. Nakal dipikirannya itu identik dengan kebohongan. Anak berbohong adalah anak nakal. Sukurlah, Arden mengerti maksud dari kata “bohong”.

Eskrim Rahasia

Kalau pembicaraan soal eskrim sih sering seperti obrolan rahasia antara ayah dan anak lelaki. “Kita beli aja eskrim mumpung ibu enggak tahu,” aku sering terkekeh kalau Arden mengatakan itu sambil berbisik, padahal enggak ada orang lain di rumah. Ini rahasia! Jadi harus berbisik ngomonginnya. Kalau ada yang tahu, takutnya dikasih tahu ke ibu. Padahal mah, Ayahnya yang ngasih tahu kalau anak kecil abis makan eskrim.

Pembicaraan rahasia antara ayah dan anak lelaki ini berdampak pada kedekatan ayah dan anak. Anak berusaha mendapat jaminan kalau ada sesuatu hal yang tidak harus diketahui oleh ibu. Kalau tahu ya kena marah. Sedangkan sama ayah, sebagian besar larangan ibu menjadi “boleh” dan larangan cenderung longgar. Jadilah Ayah dan anak sering makan eskrim berdua. Malamnya baru ketahuan kalau ada sampah bekas eskrim di tong sampah.

Nah kalau rahasia itu tidak bohong, karena diketahui oleh Ayah. Kalau nanti ibu tanya, siapa yang makan eskrim ya Arden tinggal jawab, “kata ayah boleh. Beli satu-satu.” Sekian habis perkara. Soal ayah kena marah selanjutnya, ya rasakan aja sendiri diomelin sama ibu.