Sepatu Baru (Bukan) Dari Ayah

Dari TK sampai SMA, aku biasanya bilang sama ayah kalau sepatuku sudah robek lah atau alas sepatunya sudah rusak atau kalau PUN belum rusak pengen beli yang baru Saja. Awak pengen kayak kawan-kawan awak punya sepatu baru. Waktunya membeli sepatu baru ya pas mau masuk sekolah lagi. Ajaran Baru! Setelah libur selesai. Kalau kata anak sekolah Medan “Usah abis pere kita, bentar lagi sekolah.” Beli sepatu itu ya satu tahun sekali. Rasanya sonang kalilah.

Aku dan adikku sebut saja namanya Asna, diboncenglah ke Toko Sepatu Bata. Letaknya tak jauh, kira kira 3 km dari rumah. Jadilah kami jadi tartig (tarik tiga) di kereta Honda Prima. Honda Jadul itu. Honda yang setia menemani Ayah kemana saja. Kereta Honda yang akhirnya hilang di Mesjid Taqwa, ketika ayah menghadap Tuhan.

Toko Bata itu dekat Super Market atau kayak Mall, “Aksara” namanya. Terakhir kali, Aksara berubah menjadi Ramayana. Lalu naas, beberapa tahun lalu kebakaran dan belum dibangun lagi waktu aku ke medan Januari lalu.

Pokoknya dekat Aksara situlah kami Beli sepatu. Ayah biasanya mengajak kami membeli sepatu pada malam hari. Karena kalau pagi sampai siang kami sekolah dan Ayah pasti sibuk dengan pekerjaannya, sebagai tukang bengkel di belakang rumah. Toko Bata itulah andalan kali. Kenapa Belinya di toko bata? Karena toko Bata itu banyak sepatu anak sekolah dan mayoritas sepatunya berwarna hitam. Warna sepatu wajib untuk sekolah. Sepatu hitam. Apalagi pas SMP dan SMA Negeri, kalau tak pakai sepatu hitam polos suka kena hukuman dari bapak dan ibu guru.

Kenangan bersama Ayah. Kenangan bersama ayah masih teringat jelas dan tentu membekas. Dia yang tak pernah bilang kalau sedang tak ada uang. Dia selalu menjawab “mari kita beli sepatu ke Bata.” Kalau Ayah bilang dulu, “beli disana itu sepatunya enggak cepat rusak.” Ayah selalu memberi yang terbaik buat anak-anaknya. Tak pernah mengatakan “tidak ada” dan selalu menyenangkan hati kami. Hal itulah yang ingin kulakukan pada anakku kelak.

Hingga waktu berlalu, aku pulalah yang diminta sepatu sama Arden

Arden sudah mulai besar seiring sepatu yang semakin sempit. Sepatunya menjadi kecil. Tak muat. Arden tentu butuh sepatu baru. Apalagi  sepatu yang disukai oleh Arden sudah rusak perekatnya, sudah tak nempel lagi. Ibalah hati Ibu melihatnya, “Arden mau kayaknya perlu sepatu baru ya.” Arden memang tampak kepayahan merekatkan sepatunya.

Lalu, Ibu pun menawarkan membeli sepatu dan disambut dengan senyum semanis senyuman Arden, “Iya bu, sepatu Ade sudah rusak. Mau beli yang baru di Yogya.” Dia bilang lengkap dengan nama tokonya. “Arden ingat waktu itu pernah beli sepatu sama ibu di Yogya,” kata ibunya padaku tanpa ditanya.

Kemarin, hari jumat (03/03), aku pun menemani anakku membeli sepatu. Aku menjadi ingat sama ayah. Dia selalu menemaniku. Kini Arden ditemani Ayahnya membeli sepatu. Aku membawanya ke Yogya Supermarket sesuai permintaannya. Arden selalu ingat janji orang tuanya. Kalau sudah dibilang mau pergi ke suatu tempat, ia pasti terus menagih.  Sampai di Yogya Supermarket yang letaknya di Kota Sukabumi, Arden langsung mencari dimana letak sepatu-sepatu itu berada. “Kok enggak ada ya yah?” Ternyata oh ternyata kami salah, kami malah masuk ke area baju anak yang berada di lantai I. Sedangkan, sepatu anak itu ya letaknya ada di lantai dua, “Tanya dulu atuh ayah, jangan langsung jalan aja.”

Berjalan ke lantai dua. Dari jauh sudah tampak sepatu anak-anak. Arden sumringah, “Itu Sepatunya Ayah.” Bayang-bayang masa kecil tiba-tiba datang, persis seperti aku membeli sepatu ditemani ayah. Muter-muter di toko, memilih satu per satu sepatu. Pada akhirnya membeli satu sepatu. Kan bisa sepatu yang lain dibeli tahun depan. “Aku mau beli warna hitam ya yah, yang ini yah yang bagus,”kata Arden dengan suara senangnya anak kecil. Sepatu warna hitam dengan sedikit warna putih pada bagiannya bawahnya. Rasa senangnya ditunjukkan dengan membolak-balik dipegangnya sepatu itu. Setelah dibayar, makan siang, dan pulang ke rumah kemudian.

Menjelang Magrib, Ibu pulang, “Ini sepatu barunya bu, bagus warna hitam.” Ibu tersenyum dan Arden tertawa. Ibu senang melihat sepatu baru juga. Lalu ibu berkata,“Ibu enggak dibeliin?” Arden menatap wajahku penuh rasa salah. “Kan ibu enggak bilang minta beliin sepatu,” kemudian Arden membawa mencoba sepatunya.

Hari ini, meskipun ibu sibuk dan tak bisa membawa Arden membeli sepatu. Sesungguhnya rasa terima kasih harus dilayangkan kepada ibu. Karena uang membeli sepatu itu dari ibu, bukan dariku. Bukan dari Ayah. Kalau uang dariku ya untuk membeli sepatu tahun depan sajalah. Jadi jelas, ini sepatu baru bukan dari Ayah. Kapan-kapan nanti kita beli sepatu baru lagi.

Tentang Ibu yang Sering Dinanti Pulang

 

Pembicaraan siang-siang, ketika hari melewati Pukul 12.00 dan teman-teman menghilang pulang karena dipanggil ibunya masing-masing. Seperti siang ini, seperti siang kemarin juga sih…

Arden : Yah, kalau ibu bentar lagi pulang ya?

Ayah : Masih lama, kan pulangnya sore biasanya

Arden : Kenapa ibu pulang lama

Ayah : Karena ibu berkerja, nyari uang

Arden : Buat jajan ya?

Ayah : Buat apa aja, buat jajan, buat beli mainan, beli baju, buat apa ajalah.

Arden : Oh… (pertanda entah mengerti entah tidak)

Arden : Kalo pulang beli kue enggak

Ayah : Belilah kayak kemarin kan beli. Ibu kamu baik ya?

Arden : Iyalah baik. Jajannya banyak. Beli malkis, mari, roti. suka banyak belinya

Ayah : Kalo Ayah?

Arden : Ya ayah mah enggak adaan uangnya. Paling ngasih uang dua rebu. Dua rebu terus.

Ayah : Ih kemarin ngasih serebu da…

Arden : Atuh serebu mah disuruh pulang ambil uang lagi sama ibu loteknya. uangnya ga cukup tadi juga…

Ayah : Ya kamu belinya jangan banyak-banyak

Arden : Mau beliin pisang sama salak, beli 4 eh lima, tapi enggak cukup

Ayah : Beli buat siapa?

Arden : Buat Ade, buat ibu juga. Kalo ibu cape kan bisa makan salak. Bisa makan pisang (akal akalan anak kecil)

Ayah : Emangnya kenapa pengen ibu cepat pulang?

Arden : Mau makan. Makan siang disuapin sama ibu. Terus mau tidur. Tidur sama ibu… Tapi kan sore ya pulangnya…

Ayah : Iya, nanti juga pulang…

Arden : Kalo ibu udah pulang bilangin ibu, mandinya nanti aja kalo ade udah bangun tidur.

Lalu, Arden tertidur… Tidur siang-siang…

 

Aku Malu Kalau Pergi Sekolah Lagi

Bermain bersama teman

 

Sejak hari senin, (27/02/2017), Arden mau sekolah lagi. Akhirnya setelah dengan berbagai cara dia mau sekolah lagi. Sekolah Arden adalah sekolah PAUD. Bukan SD, umurnya juga baru 4,5 tahun. Sejak Januari selepas kepulangan dari Medan bertemu Opung, Arden memutuskan tidak mau sekolah dulu dengan berbagai alasan, dari yang masih cape dari Medan, sakitlah, belum mau sekolahlah, sampai akhirnya diketahui kalau dia malu. “Aku malu sama teman teman, yah,” katanya setelah dikorek-korek sampai ngomong malu apa yang ia maksudkan.

Aku mau tertawa mendengarnya. Malu! Anak kecil sudah mengerti malu? Selidik punya selidik rupanya dia malu sama teman-temannya yang lain karena sudah tidak sekolah lebih dari seminggu. Apalagi sebelumnya pernah tidak sekolah sebulan lebih ketika aku sang ayah pergi ke NTT dalam rangka kerja. Jadilah dia bisa dibilang dua kali membolos sekolah dalam waktu yang lama.

Aku pikir harus tahu apa maksud dari malu itu. Rupanya eh rupanya, dia malu dikata-katain sama beberapa temannya “Arden mah jarang sekolah.” Bagi Arden kalimat tersebut seperti ejekan. Seperti dibilang “malas” atau “enggak mau pergi sekolah”. Padahal kan padahal, kita berlibur ke rumah nenek. Aku sebagai ayah ya santai saja, “kan emang jarang sekolah, kita kan ke rumah opung ke Medan.” Arden biasanya diam seribu bahasa setelah dibilang begitu.

Rupanya eh rupanya, Arden pengen dibela sama orang tuanya. Sama aku dan ibunya. Ia ingin Ibunya menemani ke sekolah supaya teman-temannya tidak ngomongin mulu kalau Arden jarang ke sekolah. Ibunya sudah bilang akan menemaninya, tetapi ternyata Arden butuh waktunya yang lama, hingga mau sekolah lagi. sampe dua bulan kemudian loh baru mau sekolah.

Aku baru mengerti dampak omongan seorang anak terhadap anak lainnya begitu sangat berpengaruh, sehingga anak enggan ke sekolah karena berulang kali diomongin dengan kalimat yang sama, “Arden jarang mau pergi ke sekolah.” Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Arden kasus bully atau tidak, tetapi Arden sudah merasa malu karena omongan temannya tersebut sampai enggak mau sekolah selama dua bulan.

Apa yang Terjadi Pada Anakku?

Lalu isenglah aku cek tentang kasus Bully ini di internet dan terutama ke situs KPAI dong dan disalah satu isi situsnya Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Advianti menyatakan bahwa kasus kekerasan terhadap anak sudah terjadi sejak playgroup itu artinya setara sekolah PAUD dong. Anak-anak di playgroup sudah bisa menghasut teman lainnya saat dia menganggap tidak cocok.

Jadi, kekerasannya itu melalui verbal alias omongan anak-anak tersebut. Hal ini harus diperhatikan, karena anak-anak yang masih balita tidak bisa membela diri. Seperti kata Arden, “Aku malu.” Lalu kalau tidak dicek apa penyebab malu tersebut, sebagai orang tua mungkin tak pernah tahu perasaan si anak hingga malu yang tak berujung.

Maria menjelaskan bahawa anak tidak akan mengatakan sedang dibully, Jadi si anak memendam perasaan dari apa yang dilakukan oleh temannya. Kalau kami selalu bertanya apa yang dilakukan di sekolah, meski ibunya juga pergi mengantar dan kadang ikutan sekolah juga. Kami mau Arden mengatakan banyak hal tentang apa yang dia alami dimana pun, termasuk di sekolah.

Tentang Kasus Bullying

Sebuah penelitian menyebutkan, anak-anak yang menjadi korban bullying tetap merasakan akibat kesehatan psikis dan mental dari pengalamannya lebih dari 40 tahun.Para peneliti dari King’s College London telah melakukan studi terhadap 7.771 anak-anak dari usia tujuh sampai 50 tahun. Orang yang memiliki risiko pernah dibully akan berisiko lebih tinggi mengalami depresi dan kecemasan. Lalu ada kemungkinan kualitas mengalami kualitas hidup yang lebih rendah pada usia 50 tahun. Nah ngeri ya akibat bully itu.

Ya, maka dari itu bagiku sangat penting untuk mengetahui apa yang terjadi pada Arden. Apalagi dia sampai tidak mau sekolah dalam waktu yang lama. Hingga, berbagai cara dilakukan agar dia mau pergi lagi ke sekolah, dari diajakin main, diberi jajan, diajak bicara, hingga menuruti keinginannya, yaitu ibu harus pergi ke sekolah juga. Ya jadi deh, ibunya harus turut ke sekolah dan menunggunya sampai selesai waktu bermain dan belajarnya.