Tentang Maaf yang Tak Pernah Usai

Sewaktu kecil dulu ayah menyuruhku membalas perbuatan kawan yang melempar batu ke kepalaku. “Kau pergi cari dia, kau lempar kepala kawan kau itu,” suara Ayah sangat lantang sampai terdengar ke rumah Wak Ana. Ia marah aku cuma menangis sesegukan. “Laki-laki harus jantan,” katanya menutup perintah. Sontak aku ke luar rumah, kutunggu kawanku itu. Aku melihat kawanku itu berjalan di depan Warung Kakek Atok. Waktu mau kulempar, sayang di sayang seribu kali sayang… Ibunya mengiring langkahnya dari belakang. Tak jadi melampiaskan dendam. Esok hari kutunggu, dia tak muncul. Lalu, hari berlalu. Beberapa hari kemudian, Aku dan kawanku itu sudah bermain guli (kelereng) bersama. Sudah tak ingat lagi perkara lempar batu lari ke rumah itu. Tak ada dendam. Bagaimana mau dendam dibaginya aku es lilin yang dibeli di warung Kak Roni. Read more

6 Februari Menikahinya, 6 Tahun yang Lalu

Hari ini 6 tahun yang lalu, aku menjemput kedatangan kedua orang tua bersama Tulang ke Bandara di Bandung. Waktu menunggu tulang untuk menjemput mamak dan ayah dari Medan. Aku masih ingat ketemu Ima teman kuliah. “Loh bukannya mau nikah besok, kok lo disini?” Aku nyengir. “Ayah dan ibuku akan datang hari ini dan kami mau menjemputnya,” jawabku ringkas. Ima teman baik di kuliah mengucapkan selamat atas atas rencana pernikahan kami. Aku dan Fey menikah 6 Februari 2011. Ya, aku tidak begitu terlibat dalam rencana pernikahan, karena semua diurus oleh keluarga dari pihak Fey. 6 tahun kemudian, esok hari 6 Februari 2017, kami akan merayakan hari pernikahan. Hari ulang tahun pernikahan ke 6 kalinya.

Aku tulis ini saat Fey duduk menyampingi diriku, tetapi ia tidak tahu karena sedang asik membaca cerita korea di handphonenya. Tanggal 5 Februari ini, Arden juga senang asik tidur-tiduran di sampingku. Ia tidak tahu juga aku sedang menulis ini. Lagian percuma kalau pun tahu, Arden kan belum bisa membaca.

Kutulis ini untuk Fey, dialah istriku. Fey, Selamat hari pernikahan ke-6 ya. Waktu berjalan lambat menurutku, ya lambat buatku yang terlalu sering di rumah. Kalau dibilang cepat ya enggak toh, 6 tahun itu tidaklah cepat. Fey istriku yang baik hatinya, terima kasih atas hari-hari yang cerah, meski kelabu lebih sering menghampiri kita. Terima kasih untuk hari yang menyenangkan, meski keluh kesah tentu tidak sedikit merajai hari yang kita lewati.

Saat ini, kau bersama suami yang terlalu sering di rumah dan bersama seorang Arden yang sering hip hip hore. Tak jarang, tangis Arden lebih meriah dibandingkan hidup yang kau jalani. Pasti lelah menjadi ibu dan bersama suami seperti diriku yang jarang mandi apalagi lupa gosok gigi. Tolong yang baca ini jangan jijiik, ini kiasan belaka. Kalau pun benar biarlah menjadi bagian hari kebahagiaan kami dalam masa ulang tahun pernikahan ke enam ini.

Fey, harapanku mungkin berbeda dengan harapanmu, tetapi aku mau tulis harapanku di blog ini ya. Harapanku semoga tahun depan akan ulang tahun pernikahan lagi. Kita sudah hidup di Bandung. Arden rajin sekolah kalau sudah SD, bolos sering pun tak apa. Selain itu, aku juga berharap keuangan kita lebih stabil. Sehingga bisa beli motor, ajukan KPR, ada uang buat belanja ke Indomaret untuk Arden, dan aku ingin sekal punya laptop baru lagi. Kan handphone baru beli kemarin.

Semoga ya hidup keluarga kecil kita ini penuh kebahagiaan. Saat in, aku tak ingin Arden punya Ade lagi. Biarlah seperti ini. Kalau pun akhrnya punya Ade, aku ingin memberinya nama sederhana saja dan tidak panjang seperti nama Arden. Karena aku pun sulit menghafal nama arden. Selamat ulang tahun pernikahan. Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Meski hidup bersamaku tidaklah mudah dan belum pernah liburan ke pantai apalagi ke luar negeri.

 

 

 

 

Ngobrol bareng Arden Siang-Siang : Aku Pikir Kita ke Indomaret Dulu

Arden : Ayah aku pikir sepi enggak ada teman.
Ayah : Ha? Pikir? Ayah pikir juga gitu
Arden : Teman teman ade, enggak mau main ke runah
Ayah : bentar lagi juga main.
Arden : Gimana kalo sebelum teman-teman datang kita ke Indomaret.
Ayah : Aku sudah duga pikiranmu…
Arden : Beli kueee aja. Enggak engak beli mainan. Enggak beli es krim.
Ayah : Enggak beli minuman juga?
Arden : Satu aja ayah…
Ayah : Ayah pikir kita di rumah aja.

Tentang Teri Kece dan Harga Yang Naik

Hari ini jalan-jalan ke pasar lagi. Fey sudah mengingatkan supaya jangan lupa belanja. Soalnya pelanggan sudah banyak yang pesan TERI KECE. Agak males-malesan memang, maunya santai-santai di rumah kayak di pantai. TERI KECE adalah dagangan kami dari dagangan sekian yang Alhamdulillah paling mudah dibuat dari segi produksi dan paling menguntungkan. Ya sedikit demi sedikit bisalah buat tambahan jajan Arden ke Indomaret.

Sesampainya di Pasar Sukabumi yang lokasinya di daerah Cisaat, alamak harga Teri naik melambung rupanya. Awak sudah lama kali tak ke Pasar. Ya kalau mau tanya berapa harganya ke pasar aja sendiri, dan jangan sampe terkejut ya. Tak mau kalah, harga cabai pun masih naik yang entah kapan turunnya. Bawang saja yang harganya stabil yang entah kenapa enggak naik-naik. Untuk itulah, aku langsung berpikir tidak bisa menjual teri dengan harga yang lama. Kalau harga masih segitu-gitu terus kapan jalan-jalan ke luar negerinya kayak orang-orang. Photo di dedepan gedung pencakar langit di Malaysia. Belanja di Singapura. Berenang di pantai Thailand. Ya harga harus dinaikkan demi kemaslahatan keluarga dan biar bisa liburan ke sana-ke mari.

Jadi di tulisan ini saya bermaksud ingin menyatakan harga terbaru dari Produk TERI KECE, Alhamdulillah naik ya.

Teri Sambal Merah + Kacang = Harganya Rp47.000

Teri Sambal Merah = Harganya 50.000

Teri Sambal Hijau + Kacang = Harganya Rp49.000

Teri Sambal Hijau = Harganya Rp52.000

Pemesanan dapat dilakukan dengan menguhubungi

Ferni Nofianty Dewi

Telpon/ WhatsApp:  085797432260

Imam Besar

Senja

Sudah selesai azan, para jamaah serta-merta merapatkan dan marapihkan shaf. Tetapi Andik tidak seperti biasanya, ia berdiri menjadi makmum seperti kawan-kawan yang lainnya. Ia tidak mau menjadi imam. “Andik, cepatlah jadi Imam,” kata Nasrun mengingatkan temannya. Andik bergeming, dia terus saja melihat ke arah pintu masjid. “Siapa yang kau tunggu kawan, kenapa kau terus melihat ke arah pintu. Marilah kita mulai shlat. Jadi imamlah, “titah Nurullah hampir sama seperti kata Nasrun tadi. Ia tetap menunggu. Akhirnya, orang yang ditunggu itu masuk agak tergesa-gesa ke dalam masjid. Meski baru seminggu mengenalnya. Andik tahu betul, kalau ada yang lebih baik dari dirinya untuk menjadi imam.

Andik memang lebih baik dibandingkan kawan-kawannya. Ia berbeda dengan Nasrun. Ia memang bagian dari santri yang paling banyak hafalannya, tetapi belum sebaik Andik dari segi bacaannya. Sedangkan, Nurullah tidak mau menjadi imam selama ada Andik, ia menghormati Andik sebagai guru dan kakak yang banyak mengajarkan ilmu agama padanya. Kalau pun Fatih yang menggantikan Andik menjadi imam tak masalah juga, dia memiliki bacaan yang baik dan hafalannya tak jauh berbeda diantara teman-temannya. Tetapi makmum yang lain tak mau memilihnya menjadi imam. Fatih memiliki perangai yang tak disuka. Ia senang sekali iseng pada teman-temannya dan kadang membuat orang marah akibat keusilannya.

“Kita tunggu sebentar ya, tadi aku melihatnya datang. Ia lebih baik dari aku untuk menjadi imam,” Andik meminta kawannya bersabar. Teman sekelasnya lainnya menjadi mengira-ngira siapa gerangan orang yang ditunggu. Lalu masuklah Awan ke pintu masjid. “Kenapa lama sekali Awan. Bukankah kita sama tadi pergi ke Masjid,”tanya Andik kepada Awan yang siap-siap menjadi makmum juga. “Kenapa shalat belum dimulai, jadi imamlah kawan. Jangan menunda waktu salat,” kata Awan kepada Andik. “Silahkan Awan, jadilah imam kami kali ini,” makmum yang lain saling menoleh. Sebagian heran dan sebagian bertanya pada teman sebelahnya. Sementara yang lain menaikkan alisnya.

“Masya Allah kawan, baiklah aku akan menjadi imam,” Awan langsung menerima kepercayaan Andik. Makmum lain pun beriap-siap untuk salat. Shalat magrib pun akhirnya dimulai. Semua makmum khusyuk dan angin sepoi-sepoi mengiring ibadah mereka seiring pergantian hari menjadi malam.

Setelah salat barulah beberapa kawan lain bertanya.” Kenapa Awan kau persilahkan menjadi imam, Andik?” Pertanyaan itu keluar karena belum banyak yang mengetahui tentang diri Awan. Sementara, ia adalah santri baru. Pindahan dari pesantren di Sidempuan. Belum banyak santri yang tahu bagaimana kualitas pesantren tersebut. Sedikit santri pula yang tahu pula seberapa baik hafalan Awan dan bagaimana bacaan Alquran-nya.

Andik bercerita pada 6 orang kawan lainnya yang menjadi kelompok belajarnya sekaligus teman sekamarnya. “Kita sudah sama-sama belajar di pesantren At-Taqwa ini tentang syarat menjadi imam. Seseorang yang menjadi imam adalah ia yang mempunyai hafalan Al Qur’an yang cukup dan Bacaan yang bagus; mengetahui Sunah-Sunah Nabi Muhammad Saw, dan memiliki Aqidah yang benar. Ia juga memiliki kemampuan untuk berkhutbah dengan pengetahuan yang memikat untuk didengar,” Andik menjelaskan seperti mengulang pelajaran dari ustaz Amir. “Lalu, apa kelebihannya dibandingkan kita?, tanya Nasrun. “Seminggu setelah ia di pesantren ini, aku memperhatikan perangainya. Penasaran dengan kawan baru kita itu. Ia seorang yang baik dari beberapa sisi sebagai pribadi seorang santri. Ia selalu menyalami Ustaz, meski hanya berselisih jalan. Mengucapkan Salam kepada siapa saja ketika bertegur. Membuang sampah dan menjaga kebersihan di sekitar kamarnya. Selain itu kawan, ia tak pernah terputus salat Tahajudnya. Ia juga selalu menghafal Alquran bahkan hingga menjelang salat subuh. Lalu malam kemarin, aku mendekatinya dan mendengarnya membaca Alquran. MasyaAllah, aku terhanyut dalam bacaannya, sahdu sekali.” Kawan-kawan yang lain pun mengangguk-angguk dengan penjelasan Andik. “Bukan seperti kau Fatih, kawan berjalan saja, bisa kau dorong badannya,”keenam orang sekawan itu tertawa terbak-bahak.

Lalu hal yang spesial dari Awan adalah ia mudah meminta maaf. Tiga hari yang lalu sebelum magrib, ia bertabrakan denganku. Badanku terhuyung dan ia pun terhempas. Ia berlari waktu itu. sakit sekali badanku ini. Ia cepat ia berdiri dan menjulurkan tangannya untuk menarik badanku, agar lekas berdiri. Aku sempat ingin marah karena ia tidak berhati-hati. “Kenapa tak kau hardik saja sekalian,” Kata Fatih. “Itulah kawan kelebihannya. Ia meminta maaf padaku, memberikan senyumnya, dan memeluk badanku, hingga tak sempat aku memarahinya. Ia membuatku terjaga dari rasa amarah. Jadi menurutku kawan, ia tak hanya baik dari soal membaca dan mengahafal Alquran. Tetapi memiliki Akhlak yang baik dalam kesehariannya.“ Andik menjelaskan penuh takjub. “Dengar itu Fatih, minta maaf kau sama orang-orang yang kesal denganmu,” Nasrun berkata sambil bercanda kepada Fatih. Lalu, semua tertawa dan malam semakin larut.