Imam Besar

Senja

Sudah selesai azan, para jamaah serta-merta merapatkan dan marapihkan shaf. Tetapi Andik tidak seperti biasanya, ia berdiri menjadi makmum seperti kawan-kawan yang lainnya. Ia tidak mau menjadi imam. “Andik, cepatlah jadi Imam,” kata Nasrun mengingatkan temannya. Andik bergeming, dia terus saja melihat ke arah pintu masjid. “Siapa yang kau tunggu kawan, kenapa kau terus melihat ke arah pintu. Marilah kita mulai shlat. Jadi imamlah, “titah Nurullah hampir sama seperti kata Nasrun tadi. Ia tetap menunggu. Akhirnya, orang yang ditunggu itu masuk agak tergesa-gesa ke dalam masjid. Meski baru seminggu mengenalnya. Andik tahu betul, kalau ada yang lebih baik dari dirinya untuk menjadi imam.

Andik memang lebih baik dibandingkan kawan-kawannya. Ia berbeda dengan Nasrun. Ia memang bagian dari santri yang paling banyak hafalannya, tetapi belum sebaik Andik dari segi bacaannya. Sedangkan, Nurullah tidak mau menjadi imam selama ada Andik, ia menghormati Andik sebagai guru dan kakak yang banyak mengajarkan ilmu agama padanya. Kalau pun Fatih yang menggantikan Andik menjadi imam tak masalah juga, dia memiliki bacaan yang baik dan hafalannya tak jauh berbeda diantara teman-temannya. Tetapi makmum yang lain tak mau memilihnya menjadi imam. Fatih memiliki perangai yang tak disuka. Ia senang sekali iseng pada teman-temannya dan kadang membuat orang marah akibat keusilannya.

“Kita tunggu sebentar ya, tadi aku melihatnya datang. Ia lebih baik dari aku untuk menjadi imam,” Andik meminta kawannya bersabar. Teman sekelasnya lainnya menjadi mengira-ngira siapa gerangan orang yang ditunggu. Lalu masuklah Awan ke pintu masjid. “Kenapa lama sekali Awan. Bukankah kita sama tadi pergi ke Masjid,”tanya Andik kepada Awan yang siap-siap menjadi makmum juga. “Kenapa shalat belum dimulai, jadi imamlah kawan. Jangan menunda waktu salat,” kata Awan kepada Andik. “Silahkan Awan, jadilah imam kami kali ini,” makmum yang lain saling menoleh. Sebagian heran dan sebagian bertanya pada teman sebelahnya. Sementara yang lain menaikkan alisnya.

“Masya Allah kawan, baiklah aku akan menjadi imam,” Awan langsung menerima kepercayaan Andik. Makmum lain pun beriap-siap untuk salat. Shalat magrib pun akhirnya dimulai. Semua makmum khusyuk dan angin sepoi-sepoi mengiring ibadah mereka seiring pergantian hari menjadi malam.

Setelah salat barulah beberapa kawan lain bertanya.” Kenapa Awan kau persilahkan menjadi imam, Andik?” Pertanyaan itu keluar karena belum banyak yang mengetahui tentang diri Awan. Sementara, ia adalah santri baru. Pindahan dari pesantren di Sidempuan. Belum banyak santri yang tahu bagaimana kualitas pesantren tersebut. Sedikit santri pula yang tahu pula seberapa baik hafalan Awan dan bagaimana bacaan Alquran-nya.

Andik bercerita pada 6 orang kawan lainnya yang menjadi kelompok belajarnya sekaligus teman sekamarnya. “Kita sudah sama-sama belajar di pesantren At-Taqwa ini tentang syarat menjadi imam. Seseorang yang menjadi imam adalah ia yang mempunyai hafalan Al Qur’an yang cukup dan Bacaan yang bagus; mengetahui Sunah-Sunah Nabi Muhammad Saw, dan memiliki Aqidah yang benar. Ia juga memiliki kemampuan untuk berkhutbah dengan pengetahuan yang memikat untuk didengar,” Andik menjelaskan seperti mengulang pelajaran dari ustaz Amir. “Lalu, apa kelebihannya dibandingkan kita?, tanya Nasrun. “Seminggu setelah ia di pesantren ini, aku memperhatikan perangainya. Penasaran dengan kawan baru kita itu. Ia seorang yang baik dari beberapa sisi sebagai pribadi seorang santri. Ia selalu menyalami Ustaz, meski hanya berselisih jalan. Mengucapkan Salam kepada siapa saja ketika bertegur. Membuang sampah dan menjaga kebersihan di sekitar kamarnya. Selain itu kawan, ia tak pernah terputus salat Tahajudnya. Ia juga selalu menghafal Alquran bahkan hingga menjelang salat subuh. Lalu malam kemarin, aku mendekatinya dan mendengarnya membaca Alquran. MasyaAllah, aku terhanyut dalam bacaannya, sahdu sekali.” Kawan-kawan yang lain pun mengangguk-angguk dengan penjelasan Andik. “Bukan seperti kau Fatih, kawan berjalan saja, bisa kau dorong badannya,”keenam orang sekawan itu tertawa terbak-bahak.

Lalu hal yang spesial dari Awan adalah ia mudah meminta maaf. Tiga hari yang lalu sebelum magrib, ia bertabrakan denganku. Badanku terhuyung dan ia pun terhempas. Ia berlari waktu itu. sakit sekali badanku ini. Ia cepat ia berdiri dan menjulurkan tangannya untuk menarik badanku, agar lekas berdiri. Aku sempat ingin marah karena ia tidak berhati-hati. “Kenapa tak kau hardik saja sekalian,” Kata Fatih. “Itulah kawan kelebihannya. Ia meminta maaf padaku, memberikan senyumnya, dan memeluk badanku, hingga tak sempat aku memarahinya. Ia membuatku terjaga dari rasa amarah. Jadi menurutku kawan, ia tak hanya baik dari soal membaca dan mengahafal Alquran. Tetapi memiliki Akhlak yang baik dalam kesehariannya.“ Andik menjelaskan penuh takjub. “Dengar itu Fatih, minta maaf kau sama orang-orang yang kesal denganmu,” Nasrun berkata sambil bercanda kepada Fatih. Lalu, semua tertawa dan malam semakin larut.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *