Arden, Aku Minta Maaf. Maaf-Memaafkan itu Gampang.

Yeye, teman Arden yang paling sering ke rumah datang. Bukannya memberi salam. Dia malah bilang, “aku mau minta maaf.” Aku tercengang. Diam seperti waktu berhenti ketika mereka saling bersalaman. Arden gayanya sudah kayak orang gede. “Iya, aku maafin,” katanya menutup adegan meminta maaf dan dimaafkan tersebut. Muka Yeye yang kata Arden nama aslinya Ahmad langsung sumringah.

Suatu kali Arden berkata, “Harus baik sama Yeye, dia anak yatim.” Terperangah juga mendengarnya. “Anak yatim itu apa?” Lalu dia menjawab, “kata ibu, kalau bapaknya sudah enggak ada, itu namanya anak yatim. Bapak Yeye sudah enggak ada. Kalau aku kan masih ada.” Kemudian, kutanya siapa bapaknya. “Siapa coba?” sambil mau ketawa. “Bapak aku ya Ayah, emangnya aku boleh punya bapak lain?” Dasar anak kecil, ngomong seenaknya, menggerutu dalam hati.

Soal memaafkan tadi. Dua anak kecil tadi kok gampang banget ya memaafkan. Sementara aku, sambil tunjuk jari ke muka. Kalau sudah enggak suka, ya dadah babaiii. Manusiawi toh punya rasa marah dan tidak memaafkan.

Selepas muka Yeye cerah tadi. Arden menyilahkan Yeye masuk. “Ayo masuk, kita main kereta api aja,” lalu mereka main berdua dan menganggap aku tak ada. 10 menit kemudian jadi main bertiga, karena Atan datang, teman Arden yang umurnya 2,5 tahun dan ngomong belum lancar. Tetapi main di rumah melulu.

Aku belum sempat bertanya, Arden punya persoalan apa sama Yeye. Jangan-jangan…. Ada mainan yang rusak. Kan sudah entah berapa mainan yang rusak di tangan teman-teman Arden. Waktu ingat mau nanya sama arden, tadi kok Yeye minta maaf. Arden yang sambil pegang hape dan ngegame diam saja. Sial pikirku. Anak ini sudah tak mau menjawab pertanyaanku.

Ternyata tidak. Dia terlelap. Terlelap setelah Yeye pulang sekitar 1 jam yang lalu. Jadilah maaf-memaafkan tadi menjadi misteri yang belum terpecahkan. Cuma ya nilai dari adegan itu, minta maaf itu gampang. Tinggal sodorkan tangan, dan bilang, “aku minta maaf ya.” Tapi kalau aku disuruh begitu ya, “Maaf ya, lebaran masih lama keles.”

Arden, Hormatilah Abah Tukang Sampah Seperti Menghormati Orang Tuamu

 

Arden selalu teriak, “Ayah, Abah dataaaanggg.” Ini sebuah pertanda, kalau Abah tukang sampah datang. Abah yang giginya sudah tidak ada lagi. Sungguh, kalau dia tertawa. Mulutnya kosong melompong hanya tersisa lidah tua. Setua umurnya. Arden sering menjadi orang pertama yang mengetahui Abah datang. Abah pun akan bersaut-sautan bercanda dengan Arden. “Hahaha, abah itu calanana soek,” kata Arden dengan bahasa sunda yang kaku ketika melihat celana Abah sobek pas di selakangan.

Kalau sudah begini, Abah bakal bertahan agak lama di halaman rumah. Ia senang bergurau dengan Arden sembari mengumpulkan sampah di depan rumah. “Abah bau ga?” Abah tertawa. “Jangan dekat-dekat ya. Nanti bau. Bau Abah. Bau sampah.” Arden tertawa terbahak-bahak. Lucu baginya. Lalu mendekati abah dan sampah sekaligus.

Daku sih memperhatikan di depan rumah. Sesekali mengajak Abah berbicara dan bertanya kemana minggu lalu kok enggak nongol. Seperti biasa dia akan menjawab kalau dia sakit. Sudah tua. Sudah bukan saatnya pula sebenarnya dia keliling begini.  Tetapi memunguti sampah dari rumah ke rumah adalah hal nyata yang bisa ia kerjakan untuk mencari uang. Disamping mengumpulkan botol plastik dari rumah tetangga.

Aku selalu mewanti-wanti Arden jangan sampai mengganggu abah dan menyentuh Abah. Maksudnya jangan sampai memukul atau melempar Abah. Abah adalah orang tua. Seperti diriku orang tua juga. Cuma ya lebih tua. Setua opung di Medan kali ya. Bedanya Opung tukang bengkel bukan pengambil sampah seperti Abah. Arden pun mengikuti dan hanya menemani Abah yang ulet mengambil sampah di depan rumah.

Selepas Abah memunguti semua sampah. Arden mendatangi Abah dan memberikan uang. Uang yang tidak seberapa. Tetapi disambut dengan senyum dan menghasilkan balasan tawa oleh Arden. “Nuhun ya, sing sehat ya Ade,” katanya menutup canda tawa bersama Arden. Doa orang tua, doa yang baik untuk Arden. Semoga selalu sehat.

Ayahku pernah mengatakan. Berbaik-baiklah sama siapa saja. Sama orang tua, apalagi kalau dia hidup dengan bersusah payah. Seperti Ayah, pernah juga jadi tukang becak. Senang kali rasanya kalau orang mangasih ongkos yang lebih dan sakit hati kalau dikasih ongkos tak sepantasnya. Jangan lakukan hal yang menyakitkan pada orang lain. Aku belum bisa mengikuti persis seperti apa yang dikatakan Ayah. Tetapi aku bisa mengajarkan itu pada Arden. Agar kelak, Arden juga tahu bagaimana menghormati orang tua.

 

Ibu Pintar Memasak, Arden Pandai Menyapu dan Mengepel Lantai

 

Arden anak semata wayang kami sudahlah makin besarlah, usianya akan menginjak 5 tahun bulan Mei nanti. Sebagai orang tua, aku bersyukur Arden bertumbuh dan berkembang sesuai prediksi. Bukan prediksi soal kesehatannya, prediksiku menjelang umur 5 tahun, ia sudah bisa membantu Ayah dan Ibu mengerjakan sebagian pekerjaan rumah. Eh bukan pekerjaan rumah dari sekolah, tetapi kerja-kerja membersihkan rumah seperti mengepel dan menyapu lantai. Amboi senangnya awak nih, tak susah pula mengajarkan Arden.

Untuk perkara memasak, Arden sudah mulai bisa sebelum usianya 4 tahun. Kegiatan memasak tak asing buat Arden. Fey ibu yang paling cantik sedunia terbiasa memasak di rumah. Sebelum kerja dan setelah pulang, ibu pasti memasak. Enaklah Ayah dan Arden tinggal menunggu makan. Dari kegiatan masak sang ibu, Arden mulai penasaran bagaimana cara memasak. Maka, suatu hari pas ibu berkerja, Arden pun menggoreng tempe untuk dirinya sendiri. Ayah cukuplah mengawasi dari belakang. Aku memang tak pernah melarang Arden untuk kegiatan yang dirasa aman. Memasak saja amanlah, bukan awak biarkan sendiri menggoreng tempe itu. Peniruan, Arden sudah pintar meniru ibunya memasak sebelum umurnya 4 tahun. Oh ya samgkin pintarnya ibu memasak, Kami ada usaha sendiri namanya Teri Kece dan Nayafood; membuat Nugget dan Schotel Macaroni.

Tak hanya memasak saja, Arden mulai belajar menyapu dan mengepel lantai juga. Kalau menyapu sih, ia baru bisa beberapa bulan yang lalu. Biasanya, ia menyapu sampah bekas dirinya sendirilah. Habis main sama kawan, ya sapulah sendiri.  Arden bisa menyapu  karena sering melihat ibu dan ayah. Kami mengajarkan juga apa manfaatnya menyapu dan hidup bersih. Jadi bukan sapu sembarang sapu. Kalau anak kecil dikasih tahu juga manfaatnya, dia juga makin senanglah rajin menyapu. Keuntungan lainnya, awak tak usah repot menyapu kalau dia habis bermain sama kawannya.

Lain hal kalau mengepel lantai. Arden mau mengepel lantai karena sambil bermain air. “Ayah, aku boleh bantu, enggak?” kalau dijawab iya. Arden mengambil gagang pel lantai dan bersih-bersih. Eh main air maksudnya. Arden sih biasanya kebagian mengepel teras rumah saja. Kalau dibiarkan mengepel bagian dalam rumah. Basahlah semua nanti dibikinnya, buku sampai piring bisa disiram air sama dia. Soal main air, ya jagonya lah. Dikasih kesempatan main air sama ayah. Senanglah! Tetapi, janganragu  dengan cara mengepelnya.  Sudah pas, pas seperti cara ayah mengepel lantai.

Wahai pembaca budiman, anak-anak harus diajarkan membersihkan rumah sejak kecil. Aku mengajarkan Arden mau meniru orang Jepang. Kan Orang Jepang sangat terkenal ya soal kebersihannya. Orang tua di sana itu, di Jepang itu mengajarkan anak mereka membersihkan lingkungan sejak kecil. Mereka diajarkan untuk membuang sampah pada tempatnya, mengelompokkan sampah sesuai jenisnya, mengelap ‘dudukan’ wc sesudah memakainya, sampai membawa kantong sampah kalau berpiknik ria. Pengajaran tentang kebersihan dari kecil mempengaruhi dan mengakar kuat sebagai cerminan masyarakat di sana. Ya dari kecil sampai tua rajin bersih-bersih. Kekuatan pada ajaran tentang kebersihan ini juga dipengaruhi Agama Shinto. Kebersihan adalah cara mendekatkan diri pada Tuhan. Kalau waktu SD dulu jadi ingat kata guru agama, kebersihan adalah sebagian dari iman. Tetapi seberapa berpengaruh kebersihan itu terhadap iman kita ya? Tak tahulah, jawab saja sendiri.

Kalau orang Jepang saja bisa bersih-bersih sejak kecil, Arden juga harus bisa. Anakmu yang membaca blog ini juga pasti bisa belajar bersih-bersih. Cobalah ajarin nanti anakmu menyapu dan mengepel sendiri di rumah. Jadi kalau anak-anak mengotori rumah ya santai saja. Toh udah bisa membersihkan di rumah sendiri. Positifnya lagi dari mengajari anak tentang kebersihan adalah dimana pun berada, Arden akan bertanya, “Ayah tempat sampah dimana ya?

Ayah Aku Bilangin Ya, Jual Abon Ibu…


Arden : Abon difoto foto terus bukannya dimakan
Ayah : Ini difoto terus mau dijual den…
Arden : Bilang ibu yah… Abon ibu, ayah jual…
Ayah : hadeuh… memang mau jualanlah…

Namanya Abon Kece biar mirip Teri kece.

Dijual mulai hari ini:
Harga Promo :
Rp72.000/ 250gram atau
Rp33.000/100 gram
Belinya hubungi aja
WA/SMS/Telpon :
089620163841
085797432260

Perempuan Bangsawan Tak Butuh Cinta

“Menikah? Ya aku maulah. Tetapi tak ada jodoh yang sepadan denganku. Aku tak mau menikah dengan laki-laki yang tak ada otaknya.” Sebut saja namanya mawar, seperti bunga berduri itu. Ia sudah berumur 26 tahun saat aku bertemu di kesempatan kedua di sebuah hotel di Kota Makassar. Usia 26 tahun dinilai sudah terlanjur tua bagi keluarga, sanak kerabat, dan komunitasnya. Ia mengatakan dengan jujur sudah tertekan dengan kondisi seperti, “aku ingin sekali menikah,” katanya. Betapa jengkelnya ditanya, “kapan kawin?” Tetapi apa daya, belum ada jodoh yang tepat baginya, terutama dari segi pendidikan.
 

“Aku sudah kuliah sampai S2. Aku mau mencari laki-laki yang pendidikannya sama denganku. Laki-laki bangsawan di sini kebanyakan sekolah sampai SMA saja. Ada yang sampai sarjana. Itu pun abal-abal.” Dia sadar kebanyakan laki-laki dari kaum bangsawan tak mumpuni. Tak perlulah sekolah tinggi, laki-laki dari kaum bangsawan dapat mengandalkan harta dari orang tua untuk terus hidup bermewah-mewah. Keluarga bangasawan memiliki banyak tanah, uang berapa pun dikasih, dan hidup bisa parlente bak raja.

“Aku sudah bilang sama ayahku jangan menikahkan aku sama laki-laki yang tak punya otak. Sekolah pun tak mau. Hahaha. Sayang oh sayang, bapakku pasti bingung kalau ada yang melamarku. Dia pasti tahu bagaimana isi otak laki-laki yang berani mencoba mau mengawiniku. Tak lebih hanya cairan limbah tak berguna semata. Laki-laki yang mengandalkan kekayaan, kaya tinggal kaya, dari orang tua.”
Sebagai perempuan, ia tak harus memilih pangeran impian. Ia harus menikah dengan sesama bangsawan. “Biar kamu tahu, aku harus menikah dengan kelompokku sendiri. Kata ayahku perempuan keturunan nabi dan bangsawan harus menikah dengan pria bangsawan pula. Agar tak rusak harga diriku sebagai perempuan dan tak luntur darah nabi dan kebangsawananku.” Ia menyatakannya dengan sedikit menyondongkan batang hidungnya ke mukaku, menandakan betapa serius apa yang dikatakannya. Ia merupakan bagian kelompok sosial (community) yang mengaku keturunan langsung dari nabi dan bangsawan. Aku tak akan menyebut nama kelompoknya di sini. Belumlah luas pula pengetahuanku untuk menceritakannya. Mawar juga yang memintaku, tetapi tak disebut pun mungkin sudah banyak orang yang tahu.
 
Ia harus menikah dengan laki-laki pilihan orang tua. Ia mengaku belum berani menikah dengan laki-laki kelompok lain. Siapa yang mau diusir dari keluarga, tak bisa berkumpul dengan ayah dan ibu lagi. “Kalau aku menikah dengan laki-laki dari kelompok lain. Aku dianggap sudah mati. Orang tuaku sendiri yang bilang kalau perempuan menikah dari luar kelompok tak akan dianggap bagian dari keluarga dan kelompok seumur hidup. Dianggap sudah tiada.” Jadilah dia mengamini saja apa yang menjadi ketentuannya sebagai perempuan. Tak bisa memilih sendiri, pangeran impiannya. Tetapi sayangnya tak ada pula pria yang cocok, itu menurutnya.
 
Ia bercerita tak sedikit anak perawan yang rela kawin lari dengan laki-laki diluar kelompok. Kawin lari! Setelah memilih jodoh sendiri tanpa pamit, perempuan dan laki-laki yang membawa pergi selamanya takkan pernah kembali. Haram bagi keluarga untuk menemui anak gadis tersebut. Karena rusak harga dirinya sudah hilang takdirinya sebagai anak keturunan nabi dan kaum bangsawan. Perempuan yang menikah dengan laki-laki biasa, maka hilanglah ‘darah birunya’ menjadi darah orang kebanyakan. “Sudah, sudah dianggap mati yang kawin lari itu. Jangan berani menunjukkan batang hidung lagi. Kalau pun mau kembali, takkan sudi keluarga menerimanya kembali”.
 

Begitulah nasib perempuan bagi kelompoknya, hanya berhak kawin dengan lelaki pilihan orang tua saja. Sementara laki-laki? Laki-laki bolehlah menikah dengan siapa saja, dengan perempuan biasa yang tak ‘berdarah biru’. “Enak kalau menjadi laki-laki, bisa banyak pilihan. Laki-laki bisa menikah dengan siapa saja. Bisa menikah dengan perempuan biasa. Laki-laki dan perempuan selamanya berbeda, tak sama.” Laki-laki bisa menempelkan darah birunya kepada ‘perempuan biasa yang ia nikahi’. Jadi perempuan biasa itu akan terbawa menjadi kaum bangsawan, setelah menikah dengan laki-laki ‘berdarah biru’. Sementara perempuan, akan menjadi rusak harga dirinya menikah dengan ‘laki-laki biasa’. “Adil? Enggak. Adil itu bukan aku yang menentukan. Bapakku yang tahu apa itu adil. Aturan dari Kelompokku pula sudah menentukan begitu. Apalah arti adil bagiku, perempuan kaum bangsawan ini.”

Pembicaraan ini agak panjang sebenarnya, namun tak semua harus diceritakan. Mawar tentulah perempuan yang benar adanya. Perempuan yang masih mencari laki-laki sepadan, pejantan yang punya otak yang bisa menjadi suami yang layak baginya. Perempuan yang tak bisa memilih pangeran impiannya. “Kalau kamu mau. Bawa saja aku. Kita bisa kawin lari. Tak akan dicari sama orang tuaku. Kita bisa hidup bersama kemana saja. Hahahaha.” Candanya diujung pembicaraan.

Kalau Jadi Supir Kereta Api Boleh Gak? Jadi Model Ya Ya Ya…

Soal Cita-cita, dari kecil aku sudah mulai mengenailkan pada Arden. Seringlah awak tanya, mau jadi apa Arden? Jadi model ya? Sayang disayang oi-oi… Dia tak mau jadi model, dia mau menjadi supir kereta, alias masinis. Sudah jelaslah ini, dia mau menjadi supir kereta, gara-gara sering naik kereta dan melihat masinis yang katanya supir kereta itu turun dari gerbong pengemudi. Takjub! jelas iya. Arden takjub bukan main. Seorang manusia mengenalikan kereta dengan gerbong panjang. Kalau setiap turun di stasiun dia harus memastikan masinis turun dari ruangannya. Gagah nian. “Lihat pak supir kereta, ayah,” sambil menunjukkan jari jempol pertanda keren.

Aku dan fey tidak mengenalkan cita-cita seperti orang tua jaman dulu, jadi dokter ya nak… Jadi insinyur ya nak… Tidak ada itu. Paslah namamu kayak sinetron itu, Dokter Phadli. Dari kecillah dibilang biar jadi dokter.. Eh tahu-tahunya kuliah di Jurusan Antropologi (Jurusan keren sejagat raya). Kalau Fey, Ibu Arden sering mengenalkan peralatan dapur dan Arden sering menjadi kawan ibunya memasak. Katanya sih biar jadi koki. Kalau Arden sudah biasa memasak tahu dan tempe sendiri. Takut kena minyak? ya tak takutlah, kan selalu diawasi orang tua.

Kalau aku ingin Arden menjadi… Jadi Model. Dari kecillah, aku sudah ajari dia berfose. Soal senyum dia sudah biasanya. Soal gaya, ah itu sih bukan apa-apa. Soal memilih baju, Arden sudah sering pilih tahu bergaya.

Arden sangat luwes kalau difoto. cekrak cekrik…

Soal cita-cita ada baiknya dikenalkan sejak kecil, agar anak tahu tentang banyak sosok luar biasa di luar sana. Selain dokter dan insinyur, ada koki yang bisa sukses dengan masakannya. Ada masinis yang gagah ketika turun dari kereta. Kalau aku bilang sama Arden, ada model loh Arden, sering masuk tipi loh… Lalu Arden menjawab, “Aku mau jadi supir kereta ayah. Kalau model mah cape difoto terus.”

Ya terserahlah dikau menjadi apa kelak Arden. Kami hanya mengenalkan banyak sosok keren di dunia ini. Ada juga gubernur keren seperti Ahok. Ada menteri seperti bu Susi. Ada pemilik tipi kayak Wisnutama. Ada Antropolog kayak Bu Selly. Banyak orang yang menjadi panutan untuk masa depan Arden.

Semoga ya semoga, kamu menjadi anak keren suatu saat nanti. Kalau dikau tak tahu mau jadi apa kelak. Jadilah model atau kuliahlah di Jurusan Antropologi seperti Ayah dan Ibu. Kelak kau akan banyak mengerti tentang manusia dan kehidupan yang begitu menarik di luar sana.

Anak Bermain Di Luar Rumah, Ya Biarkan Saja

Arden sering sekali menghilang di siang hari. Aku tak tahulah dia persisnya dimana kalau sudah bermain. Kawannya pun tak sedikit. Rumahnya kawannya pun tak tahu dimana. Tetapi aku tahu titik pusat tempat Arden dan teman-temannya bermain, yaitu di madrasah yang jaraknya cuma 10 meter dari rumah. Kalau sudah berjam-jam di luar rumah, Arden biasanya berkumpul di madrasah yang dikelola sama Pak RT tersebut. Arden selalu permisi kalau keluar urmah, “aku ke madrasah ya yah.” Tetapi ya permisinya memang tujuan awal saja ke madrasah, setelah itu tak tahulah dia mau ke mana. Tak jarang, Arden kadang-kadang bak hilang ditelan bumi. Mencarinya pun, bisa keliling kampung. Lalu, apa awak perlu khawatir kejadian semacam itu? Apalagi kalau sampai hilang ditelan bumi.

Aku tak begitu khawatir dengan asiknya Arden bermain di luar rumah. Namanya juga anak-anak. Awak pun begitunya pas kecil. Awak tak dilarang sama mamak, kenapa Arden harus dilarang-larang. Selama dia permisi, tahu siapa temannya, dan dimana titik kumpul anak-anak bermain ya amanlah sudah. Hai orang tua yang udah enggak anak-anank lagi, sudah deh jangan larang-larang anak bermain ke luar, kayak enggak pernah kecil aja.

Bermain itu bermanfaat dan banyak kawan. Ya kan banyak teman kan. Bukan teman di medsos ya. Kalau anak-anak dikau juga sering bermain di luar rumah tak usalah kahwatir. Menariknya, anak yang sering bermin di luar rumah ternyata berdampak baik secara fisik maupun sosial.  Anak-anak yang sering bermain di luar rumah kabarnya akan cepat dan lebih baik dalam bereaksi ketika berhadapan dengan orang lain. Gampang berinteraksi dan lebih cepat akrab dengan orang lain. Selain itu, katanya John Rately dalam bukunya Spark: the Revolutionary New Science of Exercise anak-anak yang sering bermain di luar di rumah memiliki fungsi kognitif dan menjaga mental lebih stabil. Fungsi kognitif itu berkembang melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. 

Kalau dilihat-lihat sih, Arden memang lebih cepat beradaptasi lingkungan sekitar setelah dia lebih sering bermain di luar rumah. Hal yang menyenangkan dari Arden sering bermain di luar rumah, si anak jadi dikenal tetangga. Orang tua pun jadi kecipratan gampang bersosialisasi dan dikenal banyak orang. “Ayah Arden, itu anaknya main di sawah,” suatu kali kata seorang ibu muda menyapa ketika aku mencari anak kecil itu. Lalu, betul saja, tetangga jadi perhatian sama anak kita yang sedang asik-asiknya berenang di sawah.

Dampak positif anak bermain di rumah sih buaku, Arden jadi jarang minta ke indomaret. Pengeluaran berkurang dan paling jajan ke ibu warung lotek sama teman-temannya. Hemat hingga 90%. Jajan yang tadinya hingga Rp20.000. Sekarang ya Rp2.000 saja cukuplah. Jadi, ajari anakmu wahai orang tua bermain di luar rumah.

Ternyata Ucapan itu Datang Dari Terra, Bukan Dari Arden

 

Waktu sudah berganti, menunggu seseorang mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Tidak mungkin Fey atau arden, karena mereka sudah tidur. Malaikat pasti lagi baik-baiknya tak lama pergantian hari, oh oh oh… Terra mengucapkan ini….

Oh Terra, setelah memberi kejutan tak terhingga akan ehem-ehem tahun ini, dikau memberi kejutan selamat ulang tahun ini. Ini penting banget hingga harus ditulis di Blog.

 

Eskrim Rahasia

Setelah pulang dari indomaret
Arden : jangan bilang ibu ya, kita beli eskrim
Ayah : ya bohong atuh namanya
Arden : Kalo ga nanya jangan bilang. Kan ga bohong
Ayah : kalo nanya?
Arden : Yahhh… harus dibilang ya. Nantu kena marah.
Ayah : kamu ga boleh bohong. Kalo bohong nanti masuk?
Arden : Penjaraaaaa

Pagi Bersama Hape dan Laptop, Bukan Bersama Arden

Berhari-hari bersama Arden semenjak gemar bermain hape, berhari-hari pula aku sebenarnya sering tanpa kata. Dia sibuk main hape dan aku sibuk main laptop. Sama-sama sibuk. Sibuk enggak karuan. Ayah dan Anak satu ruangan bisu tanpa bicara. Kalau kata Arden, “Ade enggak punya teman, main hape boleh?” Senyatanya pula, aku tak pernah menolak permintaan Arden untuk bermian di hape ku itu. Kalau tidak dikasih hape dia bisa menangis tersedu sedan atau duduk diam dipojokan hingga terlelap. Ngambek!

Sebenarnya, Arden lebih senang bermain denganku tetapi bagaimana mungkin kalau harus meladeninya bermain seharian. Awak tak bisalah intip-intip status kawan-kawan di medsos. Kapan pula waktunya awak mencari informasi soal ini itu, sampai membaca berita. Syukurnya kadang-kadang temannya datang ke rumah. Tetapi ya tetap teman-temannya ngajak bermain handphone juga kalau datang ke rumah. Kalau sudah begini ya wassalam.

Lalu, apakah dibiarkan saja anak sekecil Arden asyik dengan hapenya? Kalau ditelusuri berbagai tulisan di internet banyak dampak buruk kalau anak dibiarkan bermain hape, tablet, ipad, dan alat sejenisnya. Katanya anak-anak bisa  bakal mengalami Pertumbuhan otak yang terlalu cepat, , Obesitas, Gangguan tidur (waktu tidurnya tersita bermain hape), Agresif, Kecanduan. Radiasi (Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan ponsel sebagai risiko kategori 2B, karena emisi radiasi yang dihasilkan. Anak-anak lebih sensitif terhadap berbagai radiasi dibandingkan orang dewasa, karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang).

Disisi lain, Psikolog Tika Bisono mengatakan bahwa gadget sejenis hape itu tidak bisa dijauhkan dari anak. Lah orang tuanya saban hari pegang hape. Permainan atau gem gem kalau kata Arden menjadi pilihan lain ketika tidak ada teman bermain dan alat bermain yang  sangat praktis. Selian itu ya anak menjadi tidak sehat karena jarang keluar rumah. Masalahnya kalau Arden keluar rumah, dia susah mencarinya entah di rumah temannya yang mana bermainnya. Anak juga menjadi jarang terpapar matahari da oksigen di luar rumah.  Ya selain itu enggak pernah keringatan. Lah iya, tangan doang yang bergerak bagaimana mau keringatan. Hal yang paling diwaspadai adalah hape bisa berpengaruh pada sikapnya. anak lebih senang sendiri dan jarang bersosialisasi dengan teman-teman di sekitar rumah. Kalau masalah ini tidak pernah menjadi masalah, teman-teman Arden selalu datang ke rumah. Karena menurut Arden, hanya dirinya yang punya permainan mobil, boneka, kereta yang banyak. “Kalau si Kevin mah Cuma sedikit mainannya,” kata Arden suatu kali. Baca lebih lengkap di link berikut ini viva.co.id

Nah kalau anak sebaiknya harus sering diajak bermain karena banyak manfaatnya. Antara lain anak menjadi mudah bermain dalam tim. Mereka mudah berempati. Anak mudah belajar mengerti perasaan orang lain. Anak yang senang bermain membuat anak Banyak bergerak. Asosiasi Penyakit Jantung Amerika merekomendasikan anak-anak berusia di atas dua tahun harus melakukan aktivitas fisik ya sekurang-kurangnya sejam setiap hari, agar kelak ia suka olahraga. Manfaat lain anak gemar bermain yaitu anak jadi riang gembira. Seperti yang dituliskan dalam link berikut ini kompas.com.

Dunia anak adalah dunia penuh kegembiraan. Anak-anak yang mengenal aneka permainan merasa lebih hip hip hore dan selalu diliputi rasa senang. Jadi, wahai kalian yang membaca blog ini jangan tiru hidup Ayah dan Arden. Tirulah isi dari artikel yang dikutip dari media online tadi. Anak memang tak bisa terhindar dari hape dan sejenisnya, tetapi ajaklah anak bermain kalau bisa keluar rumah. Kalau Arden sih, anak-anak di luar rumah yang diajaknya ke dalam rumah.