Keluarga Besar dari Opung Medan

Bersama itu…

Menjadi Keluarga Besar…

Dan Berbagi Tawa Bersama Ayah, Mamak, Anak, Mantu, dan 12 orang Cucu

Seminggu Bersama Opung di Medan

Januari 2017, awal tahun yang sangat spesial. Arden bisa berkumpul bersama kakak dan adik. Arden baru tahu punya banyak kakak, Kak Harira, Bang raja, Kak Sasa, Kak, Ulfah, Bang Ammar, Bang Salim, dan Kak Nada. Ia juga gembira ternyata punya adik, dek Fatih, dek Rafka, dan Ryandi.

Alangkah senangnya Arden ternyata opung punya kereta dorong dari beko. Beko itu didorong-dorong sama opung. Ia senang bukan maen, “Disini enak ya yah, opung punya kereta dorong, di Sukabumi nanti kita beli yah.” Ayah cuma nyengir tak terkira ngebayangin Arden minta kereta dorong di Sukabumi Nanti.

Januari ini juga sangat spesial bagi Ayah, Ayah bisa pulang berkumpul sama Uwak, Uda, dan Bou. Opung dan Nenek Medan tampak bahagia sekali seminggu ini, ia bertemu cucunya yang keturunan Sunda. “pintar cucu opung ya, tapi kurangilah ke Indomaretnya,” Opung geleng-geleng kepala kalau lihat Arden sering ke Indomaret. Ayah yang kena nasihat jangan boros sama anak.

“Ayah, kalau punya uang, kita sering-sering ya ke Medan,” katanya karena senang sekali bertemu banyak sepupu dan saudara Ayah di medan.

 

Tentang Karib, Duka dan Tawa

Dongan Sakolah

Setelah seminggu di Medan, akhirnya bertemu karib malam minggu tadi (14/1/2017). “Kalau kau tidak pulang, kami mungkin tidak kumpul,” itu kata Bayu. Aku tersenyum senang, aku merindu untuk bertemu seperti mereka. Apalagi tempat tinggalku sangat jauh di Kota Sukabumi. Mereka yang menetap di Kota Medan pun sangat jarang bisa bersua, hanya untuk bertegur sapa dan bercerita. Pembicaraan tak jauh dari kenangan masa lalu dan tentang keluarga dan kadang-kadang bertanya pada Ardi kapan dia mau menikah. Nasi goreng, mie dan teh susu telur (TST) menjadi hidangan temu kangen malam minggu itu. Lalu berpindah ke rumah Doyok, yang anaknya harus dijaga dan hampir terlelap.

Aku benar-benar terluka saat satu diantara kami merasakan beban yang dipendam dan mendengar setelah terlalu lama.

Ada beberapa hal yang dirasa ketika sudah lama tidak berbagi kisah dan berjumpa;  dari persoalan tentang keluarga, pembicaraan tentang jarangnya berkomunikasi diantara sahabat dan cerita tentang anak-anak yang sudah mulai sekolah. Ada duka yang disimpan sendiri, akhirnya dibagi ketika para sahabat bertemu. Aku benar-benar terluka saat satu diantara kami merasakan beban yang dipendam dan mendengar setelah terlalu lama. Ada tawa yang tak bisa tersembunyi merangkai cerita tentang kini dan masa lalu. Aku tentu tak bisa menahan tawa kalau sedang bersama mereka.

Ada masa, saat kita harus berbagi duka dan tawa secara bersama.

 

 

KIPIKI

10646949_10207313053050612_7768526639965216945_n

Arden : Ayah, tolong ambilin kopiko di kamar sebelah
Ayah: Ok, aku ambil
Arden: Cepat Ayah
Ayah: Enggak ada Kopiko nya, ini mah permen K I P I K I
Arden : Kopiko ayah ini lihat tulisannya K O P I K O (Belagak bisa baca, dasar bawel pagi-pagi)
Ayah : Kamu, ayah bilangin ini ya baca. K I P I K I (Sambil nunjukin huruf per huruf). Nah kamu baca lagi.
Arden : K I P I K I…
Ayah : Nahhhh, Anak pinter.

Bukuku dan Bukumu untuk Rumah Baca Bambu Biru (2)

Hingga, Awal bulan Januari ini pada usia 1 tahun Rumah Baca Bambu Biru, saya selalu berharap akan banyak lagi sumbangan atau donasi buku yang diberikan untuk adik-adik di rumah baca bambu biru. Dari semua sumbangan yang masuk, sungguh ada nilai yang terbersit dipikiran bahwa banyak sekali ornag yang ingin berbagi buku untuk adik-adik di Kampung Cibiru. Bukuku adalah bukumu, menjadi spirit dari sumbangan buku yang masuk. Orang mau membagikan bukunya untuk orang lain adalah sebuah bukti yang begitu tinggi nilainya, bagaimana orang memperhatikan orang lain melalui buku. Banyak orang yang memberikan perhatiannya melalui buku-buku tersebut.

Pada tahun 2017 ini, seluruh pengelola rumah baca tetap berharap akan datang lagi donasi buku lainnya, sembari memikirkan juga bagaimana agar bisa menyediakan buku secara mandiri. Semoga dan semoga buku terus bertambah untuk  Rumah Baca Bambu Biru.

Bukuku dan Bukumu untuk Rumah Baca Bambu Biru

Kalau dari pembicaraan Kang Pibsa sang pengelola, Rumah Baca Bambu Biru seharusnya berulang tahun pada Bulan Januari. Saya sendiri tidak tahu tepatnya kapan rumah baca ini berdiri. Tetapi saya mengetahui setengah perjalanan dari rumah baca ini.

Bulan Pebruari, saya ingat pertama kali saya pindah ke Sukabumi. Kepindahan ke kota yang ramah ini karena istri memperoleh kerjaan sebagai pemdamping kegiatan pemuda yang kantornya terletak di Desa Cicantayan. Waktu itu, hanya 1 orang yang baru dikenal di Sukabumi dan  temannya hanya memberi senyum simpul sebagai penanda perkenalan awal. Akhirnya seiring waktu, saya pun berkenalan dengan Ifram dan Pibsa,  2 orang karib yang membawa banyak kemajuan untuk Rumah Baca Bambu Biru. Kedua orang tersebut adalah teman sekantor istri saya di NGO KAP Indonesia.

Adik adik Rumah Baca Bambu Biru

Kang Pibsa bertindak sebagai Pengelola Utama Rumah Baca Bambu Biru. Rumahnya yang dijadikan lokasi penyimpanan buku dan titip pertemuan untuk melakukan semua kegiatan. Dari tangan emasnya, Festival Desa Cicantayan berhasil dilakukan dan tentu saja dengan bantuan banyak orang dan tentunya dari pemerintah desa yang dipimpin oleh Kang Fikri.

Kang Pibsa memberikan penjelasan

Sedangkan ifram, ia bertindak sebagai Founder Komunitas Egrang Sukabumi yang disingkat Korang Bumi. Korang Bumi merupakan anak kandung dari Rumah Baca Bambu Biru. Ifram membuat Korang Bumi begitu aktif dengan segala kegiatannya dan telah banyak undangan untuk tampil di beberapa event dimulai dari gathering Sukabumi Facebook,Gathering Volvo,Gathering sekolah, diundang stasiun televisi nasional NET TV dan terakhir mengadakan festival seni budaya permainan tradisional di Desa Cicantayan serta turut andil di Festival Gunung Sunda.

Kang Ifram pendiri korang bumi

Lalu apa peran saya, saya duduk manis dan ngopi-ngopi cantik saja. Hehehe. Saya berupaya membantu dalam penyediaan buku untuk rumah baca ini. Meski bukunya belumlah banyak, namun jumlahnya semakin bertambah seiring waktu hingga setahun berlalu. Dari ratusan buku yang berasal dari Komunitas Literasi di Sukabumi yang digawangi Ipong Cs, hingga akhirnya buku di rumah baca ini jumlahnya sampai ribuan buku dengan ratusan judul yang beraneka ragam. Rumah Baca Bambu Biru dari sudut pandang saya harus berdiri dengan penyediaan buku yang layak dan berkualitas bagi anak-anak di sana. Taman baca harus menjadi pendukung bagi lembaga pendidikan formal. Lembaga pendidikan tanpa perpustakaan apa jadinya. Maka, Rumah Baca Bambu Biru diharapkan sebagai sarana pendukung bagi kegiatan pendidikan di Desa Cibiru. Anak-anak harus gemar membaca dengan fasilitas rumah baca ini.

Rumah Baca ini memperoleh sumbangan dari banyak orang, seperti Kak Nova dari Tangerang, Femina Group, Nelson kerabat Antropologi USU, Komunitas Literasi Bogor. Komunitas Literasi Jakarta, bahkan dari grup menulis 1 minggu 1 cerita  (Bu Oppi dan Bu Tatat yang sedang kuliah di Jerman, lancar ya bu studinya). Belum lagi, ada banyak sumbangan daru sumber donatur lainnya. Senang banget rasanya, waktu teman-teman tersebut memberikan buku untuk rumah baca di desa yang jaraknya bisa mencapai 4 km dari jalan utama Kabupaten Sukabumi.

Saya terlibat dalam mengumpulkan buku karena mengetahui susahnya mereka untuk mengakses buku bacaan yang cihui dan berkualitas. Bukan dari segi jarak saja, sebagian besar adik-adik mungkin kesulitan membeli buku. Tahu sendiri buku-buku itu tidaklah murah.

 

Tulisan dilanjutkan di link berikut….

Pembicaraan penting soal ayam kriuks

Arden : Aku mau kriuksnya aja ayah
Ayah : Makan ayam dan nasinya bukan kriuksnya.
Arden : Atuh ari ayah, aku kan pesan kriuks, bukan ayam kriuks
Ayah : ye, mana bisa pesan kriuksnya doang
Arden : nyam nyam nyam…
Ibu : makan ayamnya ade, bukan kriuksnya
Ayah : (mending diam daripada kena marah juga)
Arden : Itu ayah berisik dari tadi. Udah tau ada ayam dan kriuks.
Ayah : mamam ih sama nasinya
Arden : nyam nyam nyam…. ayamnya enak
Ayah : dari tadi makan aja kan beres
Arden : atuh, makan kriuks dulu. Baru ayamnya
Ayah : nasinya ga dimamam…
Arden : baru nasinya mamam…
Ibu : udah ih ayah jangan diajak ngomong terus ntar ade ga makan jadinya
Arden : nyam nyam nyam…
Ayah : ih, anak kecil kenapa jadi ayah yang diomelin ibu..

Mamak Paling Cerewet Sedunia

Dialah mamak yang cerewet nian kalau di rumah. Tetapi sambil merepet beres semua, lantai bersih, piring dicuci, dan cucian sampai dipenjemuran tak bernoda lagi. Dialah ibu dari 6 orang anak. Dua orang diantaranya dua emak emak yang ada difoto.
Semogalah sehat mamak di sana dan bahagia bersama Pak Haji yang ada di sampingnya. Hihihi. Mamak adalah ibu yang memberi kasih sayang dengan segala rupa dan menyemangati kami untuk terus sekolah sampai sarjana semua.

Nanti malamlah awak telpon mak. Maen dulu sama Arden di Sukabumi ini. Rindulah sangat pengen ketemu. Semogalah ringan langkah nih nak pulang.

Selamat Hari Ibu
Untuk semua ibu di mana saja.