Bukuku dan Bukumu untuk Rumah Baca Bambu Biru

Kalau dari pembicaraan Kang Pibsa sang pengelola, Rumah Baca Bambu Biru seharusnya berulang tahun pada Bulan Januari. Saya sendiri tidak tahu tepatnya kapan rumah baca ini berdiri. Tetapi saya mengetahui setengah perjalanan dari rumah baca ini.

Bulan Pebruari, saya ingat pertama kali saya pindah ke Sukabumi. Kepindahan ke kota yang ramah ini karena istri memperoleh kerjaan sebagai pemdamping kegiatan pemuda yang kantornya terletak di Desa Cicantayan. Waktu itu, hanya 1 orang yang baru dikenal di Sukabumi dan  temannya hanya memberi senyum simpul sebagai penanda perkenalan awal. Akhirnya seiring waktu, saya pun berkenalan dengan Ifram dan Pibsa,  2 orang karib yang membawa banyak kemajuan untuk Rumah Baca Bambu Biru. Kedua orang tersebut adalah teman sekantor istri saya di NGO KAP Indonesia.

Adik adik Rumah Baca Bambu Biru

Kang Pibsa bertindak sebagai Pengelola Utama Rumah Baca Bambu Biru. Rumahnya yang dijadikan lokasi penyimpanan buku dan titip pertemuan untuk melakukan semua kegiatan. Dari tangan emasnya, Festival Desa Cicantayan berhasil dilakukan dan tentu saja dengan bantuan banyak orang dan tentunya dari pemerintah desa yang dipimpin oleh Kang Fikri.

Kang Pibsa memberikan penjelasan

Sedangkan ifram, ia bertindak sebagai Founder Komunitas Egrang Sukabumi yang disingkat Korang Bumi. Korang Bumi merupakan anak kandung dari Rumah Baca Bambu Biru. Ifram membuat Korang Bumi begitu aktif dengan segala kegiatannya dan telah banyak undangan untuk tampil di beberapa event dimulai dari gathering Sukabumi Facebook,Gathering Volvo,Gathering sekolah, diundang stasiun televisi nasional NET TV dan terakhir mengadakan festival seni budaya permainan tradisional di Desa Cicantayan serta turut andil di Festival Gunung Sunda.

Kang Ifram pendiri korang bumi

Lalu apa peran saya, saya duduk manis dan ngopi-ngopi cantik saja. Hehehe. Saya berupaya membantu dalam penyediaan buku untuk rumah baca ini. Meski bukunya belumlah banyak, namun jumlahnya semakin bertambah seiring waktu hingga setahun berlalu. Dari ratusan buku yang berasal dari Komunitas Literasi di Sukabumi yang digawangi Ipong Cs, hingga akhirnya buku di rumah baca ini jumlahnya sampai ribuan buku dengan ratusan judul yang beraneka ragam. Rumah Baca Bambu Biru dari sudut pandang saya harus berdiri dengan penyediaan buku yang layak dan berkualitas bagi anak-anak di sana. Taman baca harus menjadi pendukung bagi lembaga pendidikan formal. Lembaga pendidikan tanpa perpustakaan apa jadinya. Maka, Rumah Baca Bambu Biru diharapkan sebagai sarana pendukung bagi kegiatan pendidikan di Desa Cibiru. Anak-anak harus gemar membaca dengan fasilitas rumah baca ini.

Rumah Baca ini memperoleh sumbangan dari banyak orang, seperti Kak Nova dari Tangerang, Femina Group, Nelson kerabat Antropologi USU, Komunitas Literasi Bogor. Komunitas Literasi Jakarta, bahkan dari grup menulis 1 minggu 1 cerita  (Bu Oppi dan Bu Tatat yang sedang kuliah di Jerman, lancar ya bu studinya). Belum lagi, ada banyak sumbangan daru sumber donatur lainnya. Senang banget rasanya, waktu teman-teman tersebut memberikan buku untuk rumah baca di desa yang jaraknya bisa mencapai 4 km dari jalan utama Kabupaten Sukabumi.

Saya terlibat dalam mengumpulkan buku karena mengetahui susahnya mereka untuk mengakses buku bacaan yang cihui dan berkualitas. Bukan dari segi jarak saja, sebagian besar adik-adik mungkin kesulitan membeli buku. Tahu sendiri buku-buku itu tidaklah murah.

 

Tulisan dilanjutkan di link berikut….

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *