Anak Anda Sakit, Jangan Terlalu Was-Was

Arden sedang sakit. Aku selalu berupaya lebih tenang melihatnya dengan kondisi badan yang panas, lemas, dan kurang mau makan. Tenang dong tenang. Kan Arden enggak sekali ini doang sakit. Masalahnya ketenangan orang tua menjadi terganggu ketika Nenek dan Kakek turut menjadi pemerhati nomor wahid bagi si sakit. Arden yang sakit panas biasa pun seolah mati besok, berkali-kali sakit, berkali kali bergitu khawatir. Tangan mereka berkali-kali ingin menjamah. Apalagi diiringi kata “panas” berulang kali. Panas ya. Wah panas. Ih panas. Kok panas. Entah berapa kali kata panas ini berulang-ulang dikatakan. Saya pikir cara ini bsia mengganggu anak yang sedang sakit. Sayang sih sama cucu, tetapi enggak tiap 5 menit sekali juga pegang badan si anak. Paling males kalau tangan kakek menjamah dan dia baru merokok. Euhhhh diomongin enggak bisa, tetapi tangan bau rokok itu tetap menjamah tubuh Arden.

Rasa was-was yang berlebihan pun bisa berakibat fatal

Ketika orang tua membawa si sakit ke tempat yang tidak tepat. Seperti klinik atau rumah sakit yang tidak tepat. Ada beberapa hal yang harus dipikirkan ketika membawa anak berobat, jangan terlalu was-was kalau tidak ya salam akibatnya. Berdasarkan pengalaman hari ini, Arden sakit kayak-kayaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin mengobati anak.

Jangan bawa ke klinik atau rumah sakit yang ruang tunggunya terlalu sempit

Aku pikir menjadi penting tidak membawa anak ke klinik dan rumah sakit yang ruang tunggu tunggu terlalu sempit, pasien akan numplek alias numpuk pada satu tempat. Kita tidak tahu bagaimana riwayat penyakit orang di sebelah, depan, dan di belakang anak kita. Kalau pasien terlalu numpuk begitu, orang yang sehat menunggu si sakit pun bisa-bisa ikut sakit. Nasib orang yang sakit, ya apes deh, si sakit malah berkumpul dengan sesama orang sakit.
Jangan bawa ke klinik dengan pasien yang jumlahnya ratusan
Sejujurnya ini pengelaman pertama membawa Arden ke klinik dengan ratusan pasien. Arden yang sedang panasnya naik-turun malah dibawa ke klinik yang pasiennya ratusan orang. Akibatnya, Arden tentu menunggu terlalu lama untuk mendapat pengobatan dari dokter. Kalau tahu, antrian pasien terlalu lama mending cari klinik atau rumah sakit lain. Waktu daftar antrian, Arden dapat nomor 112. Oh No. Sudah di duga, ini bakal memakan waktu yang lama sampai Arden mendapat giliran periksa. Sementara nomor antrian masih menunjukkan angka belasan orang yang sednag diperiksa. Kalau Kupikir ini gawat. Orang sakit dengan kondisi badan yang lemah harus berlama-lama mengantri. Apalagi pas tahu hanya dua orang dokter yang menangani ratusan orang pasien.

Sebelum berobat periksa dompet

Ya siapkan uang yang cukup untuk berobat. Jumlah uang yang dimiliki bisa membuat orang tua lebih tenang membawa anak ke klinik atau rumah sakit yang lebih baik dan sarana pengobatan yang lebih baik. Ketika uang ada tetapi terlalu stres memikirkan anak yang sakit. Orang tua bisa membawa ke tempat berobat yang tidak tepat. Cek dan ricek tempat berobat anak sebelum membawanya ke sana. Kalau sudah tahu pasiennya bisa ratusan orang, ya mending jangan bawa anak berobat ke sana. Cek juga ruangan untuk menunggu, kalau terlalu sempit mending cari tempat lain deh. Daripada anak bergabung desak-desakan dengan pasien lainnya.
Yah itulah menurut saya yang harus diperhatikan. Ini menjadi pengalaman untuk saya dan mungkin kamu yang punya anak kelak. Intinya ya jangan terlalu was-was ketika anak mengalami sakit.

3 Cara Ampuh Mendiamkan Arden

Hidup adalah Jajan

Tahun demi tahun berlalu, Arden sudah semakin besar dan usia bertambah. Ia sudah mengerti kalau sebagai anak harus banyak jajan. Kalau bisa setiap hari, biar pusing-pusing deh sekalian. Sebagai Ayah, aku tentu tidak memenuhi semua permintaan Arden. Kalau tidak ya ampyuuunnn. Masalahnya kalau keinginan sudah tidak bisa dibendung, Arden akan memaksakan keinginannya dan cara efektif adalah menangis sejadi-jadinya. Kalau sudah begitu, Ayah sering kali takluk dan terpaksa memenuhi permintaannya.

Ajak ke Indomaret. Seringkali, Arden kalau sudah menangis sejadi-jadinya tidak mau didiamkan. Tidak mau diajak main mobil-mobilan, dan nonton youtube pun ogah. Kalu sudah begitu cara efektifnya adalah dengan mengatakan “ke Indomaret yuk.” Nah, kata kunci Indomaret bisa membuat Arden mendadak tersenyum bahagia. Lupa menangis. Lupa masalah lain. Pokoknya ayo ke Indomaret. Nah, di Indomaret ini aku mengenalkan banyak makanan, jenis buah, sampai harganya aku sebutkan. Arden tahu betul mana makanan dan barang yang bisa dibeli. Ia tak akan memilih barang-barang yang mahal-mahal. Paling juga kalau lagi pengen banget beli eskrim Walls.

Beli Mainan. Selain Indomaret cara gampang membuat Arden tak menangis ya membelikannya mainan. Mainan Arden banyak sekali. Beli-membeli mainan ini tidak merugikan sebetulnya, Arden bisa bermain dengan mengeksplorasi berbagai bentuk benda dan warga. Arden sudah tahu apa itu kereta api uap, ekspres, kereta listrik, sampai kereta barang. Aku yakin membeli permainan dapat mencerdaskan Arden.

Ajak ke Warung  Ibu Lotek. Warung Ibu lotek adalah jalan terakhir untuk menenangkan Arden. Di warung ini tak hanya jual lotek, banyak panganan ringan di sana. Nah karena Arden sudah tahu jajanan apa yang boleh dan tidak. Arden sering memilik makanan yang dia anggap sehat. Seperti beli salak dan pisan. Jajan ke ibu lotek ini, Arden cukuplah membawa uang Rp2.000. Sampai saat ini, Arden baru tahu uang Rp2.000. Demi kemaslahatan dompet Ayah dan Ibu, uang jenis lainnya belum dikenalkan kepada Arden.

Ya begitulah 3 cara yang sering aku lakukan untuk mendiamkan Arden. Dari ketiga tips tersebut, jajan ke Indomaret cara yang paling ampung. sebenarnya saudara dan teman banyak mengkritik caraku mendiamkan Arden. Ada yang bilang jajan mahal, kebiasaan, sampai nanti anaknya boros. Bagiku bukan soal itu. Aku cuma  ingin Arden bahagia dan lama-lama juga akan mengerti kalau jajan bolehlah jajan asal ada uangnya.

Aku Tidak Mau Sekolah, Yah

Sudah dua minggu setelah kepulangan dari Medan. Arden memutuskan tidak mau sekolah. Itu keputusannya. Jika tidak mau, maka tidak! Aku dan Ibunya sudah memaksanya, membujuk, bahkan pakai rayuan ke Indomaret segala. Arden bergeming. “Aku enggak mau sekolah, yah,” katanya dengan wajah muram. Aku setuju keputusannya. Senyatanya aku pernah sekolah, dan sekolah itu sungguh membosankan.

Pada akhirnya ibunya dan ayahnya sepakat, Arden akan pergi sekolah sampai dia memutuskan sendiri mau pergi sekolah. Arden tampaknya tahu lebih baik di rumah daripada sekolah. Selidik punya selidik, ia memang merasa malu sudah terlalu lama tidak sekolah dan kembali ke sekolah membutukan waktu untuk bersosialisasi. “Ade malu Ayah,” Katanya.

Berulang kali dikatakannya, ia enggak pergi sekolah. Sekolah disini maksudnya sekolah PAUD. Ya sudah mulai hari ditulisnya blog ini Arden tidak diingatkan lagi untuk pergi sekolah, ia Cuma diingatkan untuk makan yang banyak, main jangan kejauhan, dan lap ingus karena warnanya sudah hijau.  Lakukan apa yang kau suka, asal itu baik dan tidak mengganggu dan tidak mencuri hak orang lain.

Damai itu Ada Di Surga

Mendongeng bersama Arden

Mendongeng, aku dan istriku mencoba membiasakan untuk banyak bercerita dengan Arden. Aku dan istri punya harapan besar, Arden kelak mampu menalar dengan baik. Untuk meraih harapan dan mengubahnya menjadi kenyataan, kami sering berbagi cerita untuk Arden. Persoalannya cerita yang diujarkan seringkali mendapat pertanyaan balik yang menjawabnya aja bikin garuk-garuk kepala. Kali ini Arden bertanya tentang surga.

Surga Torja

Ayah : Menurut kepercayaan orang Toraja, semakin tinggi jenazah diletakkaan, semakin cepat rohnya sampai ke surga.

Arden : Oh… Jadi kuburannya di atas gunung yang tadi ayah?

Ayah : Iya, biar dekat ke surga.

Arden : Surga itu apa ayah?

Ayah : Ehm, surga? surga itu… coba tanya ibu.

Arden : Surga itu apa ibu?

Ibu : Surga itu tempat yang damai.

Arden : Ohhh,  jadi kalau mau damai itu harus di surga???

Ayah: Y&^*$&*&#*(&*&# Hahahaha

Surga itu

Surga. Arden baru kali ini mendengar kata surga. Aku dan istriku tidak pernah bercerita tentang surga sebelumnya. Bahkan untuk perbuatannya kami tak pernah menjanjikan surga dan neraka. Yang kami ajarkan adalah, orang baik banyak teman dan orang jahat sedikit temannya. Tak ada janji dan surga untuk Arden. Sisi kerohanian memang belum dikenalkan untuk Arden. Biarlah, Arden membangun sisi kerohanian untuk dirinya kelak.

Aku Enggak Mau Sekolah, Aku Cape

Sebeelum pergi sekolah

Soal sekolah, aku memang tidak setuju Arden mengenal pendidikan ala masuk kelas terlalu cepat. Setelah dilihat-lihat rupayanya sekolah mampu membuatnya lebih mengenal bagaimana berteman, bagaimana berbagi, bagaimana menjadi pelit, dan bagaimana berkelahi. Sebagai ayah, aku tentu senang sekali. Sekolah cepat juga ada gunanya dan enggak perlu ditakutkan. Cuma masih jengkel kalau ada PR doang. Syukurnya, Arden raji pergi sekolah. Ibunya juga jadi rajin, ya rajin menemani Arden di sekolah. Hihihi. Arden pun sudah biasa pergi sendiri dan pulang sendiri ke rumah. Pergi enggak usah diantar, pulang tak dijemput, tetapi jam istirahat minta uang jajan lagi. Mentang-mentang sekolahnya dekat.

Sekolah itu main

Belakangan hari Arden mulai enggak pergi ke sekolah sendiri lagi. PAUD tempatnya belajar tidaklah jauh, hanya berjarak dua 1 rumah dari rumah kami di Sukabumi. Tetapi, semenjak aku kerja ke NTT kemarin, Arden mulai minta diantar lagi pergi ke sekolah. Tak Cuma itu, Arden juga minta ditemani di dalam kelas. Jadilah, ibunya sering iku belajar di kelas. Aku sempat penasaran apa yang terjadi sebanarnya, kenapa Arden? Kenapa? Sinetron banget.

Aku sempat memaksanya untuk pergi saja, tetapi Arden tetap tak mau. Katanya besok dan besok mau sekolah.

Apalagi setelah kami ke Medan bersua opung dan nenek. Arden ada saja alasannya. Kata ibu, Arden enggak ke sekolah karena diledek jarang sekolah. Dia malu katanya. Malu? Iya, Arden sudah tahu kok malunya berbuat tidak sesuai apa yang orang lain lakukan. Meski tidak bisa dibilang kesalahan. Ya buat anak umur 4 tahun, hukum sekolah itu masih sunnah lah…

Berdua Sama Teman

Suatu malam pas Ibu sudah tidur, aku pun menanyakan perihal tidak maunya dia pergi sekolah.

Ayah : Ade masih cape

Arden : Enggak ayah, ade kan enggak main kalau malam

Ayah: Besok sekolah ya?

Arden : Sekolah, Ade masih cape. Kan baru pulang dari medan

Ayah : Kamu cape atau kenapa sih?

Arden: Ehm…

Ayah : Ngomong aja, dari pada diam-diam aja

Arden: Ade malu ya. Dibilang jarang sekolah….

Ayah : Kamu enggak usah malu. Kamu sekolah bayar uang sekolah. Guru juga tahu kamu kan ke Medan, jadi enggak sekolah.

Arden : Tapi… Ade mau ditemani…

Aku marah ayah

Sudah diketahuilah pangkal masalahnya. Arden enggak sekolah karena malu. Malu diomongin teman-temannya. Anak kecil ini sangat perasa sekali. Dia akan merekam betul-betul apa yang dikatakan orang lain mengenai dirinya. Malu dan malu, itulah alasanya berhari-hari selama seminggu lebih setelah pulang dari Medan. Aku sempat memaksanya untuk pergi saja, tetapi Arden tetap tak mau. Katanya besok dan besok mau sekolah. Lalu, kami putuskan membiarkannya memilih sampai mau pergi sendiri ke sekolah. Tak apalah, diganti belajar dan bermain saja di rumah. Tak ada PR dan tak ada hal memusingkan karena belajar di sekolah. Bermain di rumah lebih asik toh?

Kota Medan, Kampung Halaman yang Dirindukan

Di Bandara

Pada tanggal 7 Januari 2017 itu, aku bersama istri dan Arden pulang ke Medan. Kepulangan ini tentu mendadak sekali. Tanpa rencana. Kakak ipar yang mengajak kami sekaligus membelikan tiket pulang ke Medan dan pergi ke Sukabumi. Tepat sehari sebelum hari kepergian ke Medan. Jadilah, keluarga kecil bahagia pulang ke kampung halaman sang ayah hanya membawa oleh-oleh dodol yang dibeli di super market. Aku belum pernah mengajak istri dan Arden pulang ke Medan dengan berbagai alasan, salah satu alasannya tentu ongkos dan biaya untuk pergi ke Medan itu tidak murah. Ya namanya kehidupan kadang ada uang dan kadang ada nasi dan lauk saja untuk dimakan. Perjalanan ini adalah pertama bagi Arden dan Ibu ke Kota kelahiran Ayah. Pertama kalinya pula, Arden melakukan perjalanan jauh menyeberang antar pulau.

Aku sejujurnya senang sekali pulang ke Medan. Medan adalah kampung halaman dengan sejuta rasa. Ada rasa rindu, rasa ingin bertemu, rasa sayang, rasa kasih, dan menguak rasa lainnya. Kalau kata member #1minggu1cerita kampung halaman adalah tempat dimana bumi pernah berhenti berputar. Rasanya benar. Pulang ke Medan adalah saat menghentikan semua pikiran lain dan merebaknya semua kenangan, semua apa yang terjadi di tanah kelahiran. Kota terindah sejagat raya, tempatku lahir, berjalan, seolah TK, SD, SMP sampai SMA. Ahhh Kota Medan.

Mamak dan 3 cucunya

Waktu sampai di rumah, mamakku (sebutan ibu)  terkejut bukan main sambil menitikkan air mata, “pulang kau nak, pulang kau Arden, pulang kau Fey (istriku),” disapa mamak kami satu per satu sembari mengusapkan dasternya ke matanya. Kami tak bisa menyembunyikan rasa haru, kami menyalami mamak dan mencium pipinya. Perjalanan kami ke Medan ini tentu saja kejutan buat Mamak. Hanya mamak yang tidak tahu kalau kami akan pulang. Ayah sudah tahu rencana kami, karena Arden sudah menelpon sehari sebelumnya miengajak memancing ikan bersama. Adik, kakak, dan abangku yang di Medan juga sudah menyadari kepulangan mendadak ini. Oh ya, suami kakak iparku itu adalah abang sulungku. Abang Sulung yang sudah tinggal di Bekasi. Mereka sekeluarga juga pulang ke Medan.

Tentang Rindu Mamak & Ayah

Kesempatan pulang kali ini kami tidak banyak pergi ke luar. Hanya dua kali pergi jalan-jalan,  itu pun pergi ke Mall saja. Selebihnya ya berleha-leha di rumah dan Arden bermain dengan sepupunya. Kalau kata Fey, “Kalau ke Mall mah di mana-mana juga ada. Lain kali kita jalan-jalan ke mana gitu.” Ya namanya juga jarang-jarang pulang, rumah menjadi tempat paling nyaman dan rasanya tak ingin pergi kemana-mana.

Ketahuilah kawan, kota ini begitu berarti bagiku dari dulu hingga kini, kenapa eh kenapa? karena eh karena…

Di Kota Medan, Cinta Pernah Bersemi dan Mengingat Mantan

Di Kota Medan, pertama kali aku merasa manisnya berpacaran dan pahitnya meninggalkan kekasih. Di kota itu, aku masih mengingat lekat-lekat waktu tubuhku dan tubuhnya tergoncang naik becak motor. Goncangan becak motor sering menjadi alasanku memegang erat tanggannya, agar tubuhnya tidak tergoncang ke arah abang becak, tetapi cukuplah ke pundakku saja.  Dialah sang mantan. Banyak kenangan di Kota Medan dengan mantan, berbagai tempat yang pernah dikunjungi di sana, dari Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, Warung TST sebagai tempat nongkrong gaul kawula muda anak medan, mall-mall. Aku juga masih mengenang waktu mencium keningnya. Kami berpisah di Bandara Polonia. Aku terpaksa pergi untuk kuliah ke Kota Bandung. Sayang Bandara kenangan itu sudah tidak tidak menjadi bandara komersial dan telah berpindah Bandara Kuala Namu di Deli Serdang. Itulah kisah kasih kota Medan sebagai Kota Mantan #eh.

Dear Mantan

Becak Motor  

Beca Motor bisa dikatakan raja jalanan di Kota Medan. Banyak sekali warga kota yang mengandalkan mata pencaharian menjadi Abang Becak. Ayahku pun pernah menjadi supir becak untuk makan anak istrinya. Nama lain becak motor adalah becak mesin.

Arden naik becak mesin

Bagi kamu-kamu yang jalan-jalan ke Medan harus mencoba naik becak mesin ini yah. Becak Mesin ini biasanya bermerk Honda Win, Kawasaki, dan Tvs. Orang Medan suka pergi kemana-mana naik becak motor ini. Aku sih senang berpacaran naik beca biar bisa pegang tangannya. Sayangnya pada akhir tahun 2016, kabar terbarunya becak mesin harus bersaing dengan Gojek dan Grab sebagai sarana transportasi baru yang berkembang di Kota Medan.

Jalan-jalanlah ke Mall

Di Kota Medan, ada banyak Mall besar. Tetapi mall yang paling senang kukunjungi adalah Sun Plaza. Alasannya, salah satu mall terbesar di Medan ini terdapat tempat nonton film dan tempat makan yang nyam nyam. Ada banyak tempat makan di sana, dari makanan lokal, china, sampai ala-ala barat.

Makan makan dong di Sun Plaza

Lokasi Mall ini ada di Jl. H. Zainul Arifin No. 7. Pokoknya enak deh maka di sana… Arden dan Fesy pergi ke Sun Plaza waktu ke Medan. Oh ya Aku, Fey, dan Arden juga pernah ke Center Point. Mall itu lumayan gede juga yah.

Makan Durian Dong Kalau Ke Medan

Bagi kalian yang datang ke kota Medan tentu saja harus makan durian di sana. Durian di sana harganya tentu lebih murah dibandingkan harga di Jakarta dan Bandung. Kalau kami, duriannya dibelikan Ayah alias Opungnya Arden dari pedagang pinggir jalan. Enggak tanggung-taggung, langsung beli 10 durian. Kalau mau makan durian yang nikmat dan dengan berbagai varian olahan dan rasa-rasa lainnya datang saja ke Ucok Durian di Jalan Pelajar No.46 Medan. Info lengkap ucok durian bisa dibuka di website nya juga https://www.ucokdurian.id.  Ayo jangan lupa makan durian ke Kota Medan.

Makan durian dong

Nongkrong ala Anak Gaul Medan, Ya Minum TST dan Mie Aceh

TST itu singkatan dari Teh Susu Telor. TST menjadi minuman khas dan popular bagi anak muda di Kota Medan. Di Medan banyak sekali warung kopi atau warung minuman yang menyediakan menu TST. Anak muda nongkrong pas malam minggu. Sebagian warung TST juga menyediakan mie aceh yang enak banget rasanya. Tempat ini bisa didatangi di Jalan Halat dan Jalan Amaliun.

Jalan-Jalan ke Istana Maimun dan Mesjid Raya juga Oke

Istana Maimun merupakan istana milik Kesultanan Deli yang terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun. Kabarnya, Istana Maimun di dirikan sejak tahun 1888.

sumber : http://www.istanamaimoon.com/

Tidak jauh dari Istana Maimun terdapat Mesjid Raya Medan. Mesjid Raya Medan ini sebenarnya namanya Mesjid Raya Al Mashun. Mesjid Raya Medan dibangun pada tanggal 21 Agustus 1906. Bisa dibilang kalau Istana yang berwarna serba kuning terletak di jantung tengah Kota Medan. Sebenarnya banyak bangunan bersejarah yang menarik, dikau para pembaca bisa cari sendiri di google ya.

Medan Oh Medan, aku ingin rasanya sering pulang ke sana. Tetapi apa yang bisa kulakukan di sana lagi. Hal penting tentang Kota Medan tentu saja ada Mamak dan Ayah yang selalu merindukan dua anaknya yang sudah menetap di luar Kota Medan. Orang tua yang selalu menanti kehadiran anak-anaknya, meski setahun sekali.

 

 

 

 

 

 

Arden butuh supir

Supir bus penguin

Arden : Ayahhhhh.
Ayah : Apaaa… berisik ih.
Arden : kayaknya Ade mau beli lego orang deh…
Ayah: buat apa?
Arden : buat jadi supir truk. Kasihan penguin jadi supir.
Ayah : oh atuh. Jangan penguin supirnya.
Arden : jadi siapa? Kan orang-orang lego yang lain enggak pada mau…
Ayah : yahhh…. kasihan dong penguin.
Arden : yuk yah kita beli yuk. Di indomaret ada kayaknya.
Ayah : itu sih akal akalan kamu namanya biar ke indomaret.

Arden dan Membaca Buku

Membaca Bersama Kawan

Ayah : Ade ngapain?
Arden : baca atuh ayah… udah tau pegang buku.
Ayah : baca apa?
Arden : Baca gambar mobil…
Ayah : oh… oke

Yang Nenek Lakukan Waktu Ketemu Arden

Nenek dan Arden sebenarnya sudah pernah bertemu waktu di Jakarta pas mau pergi berhaji ke tanah suci. Tetapi, Arden belum pernah bertemu nenek langsung di tanah kelahiran Ayah, Kota Medan.  Lalu, apa yang dilakukan nenek selama bertemu Arden di Medan?

1. Nenek Terkejut. Nenek tampak terkejut ketika melihat Arden keluar dari Mobil sewaan dari ‘Grab’. Arden tampak tersenyum kikuk dan nenek keluar dari rumah dengan tersenyum sumringah. “ke Medan kau Nek. Arden ke Medan.” Ayah tersenyum melihat mamaknya tampak bahagia. Nenek tidak tahu kepulangan kami ke Medan. Ayah bisa membawa Arden dan Ibu ke Medan adalah kebahagiaan bagi nenek dan tentu saja opung.

2. Memasak dan memasak lagi. Bukan rahasia lagi, kalau Nenek gemar memasak dan memasak apa saja. Nenek memasak semua makanan kesukaan Arden, dari ikan lele, ayam, dan banyak deh. Nenek selalu tak lupa memasak daun ubi tumbuk. Sayur ini adalah menu yang dihidangkan dengan resep cinta. Ayah takkan menemukan sayur daun tumbuk seenak masakan nenek.

3. Menyuruh Opung membeli durian. Kakek Arden di Medan di panggil opung dan nenek tetap dipanggil nenek. Nenek tampaknya tahu Arden suka durian dan aseli Opung langsung dibelikan durian pada hari pertama berada di Medan. Kebiasaan dari kecil Ayah dan enam saudaranya memakan durian sebanyak-banyaknya. Enggak tanggung-tanggung beli durian 10 buah hari itu. Makan durian bersama-sama sudah menjadi kebiasaan sejak kecil. Ayah dan saudara kandungnya adalah “hantu durian” sebutan untuk mereka yang enggak berhenti makan durian selagi masih ada buah teronggok di piring.

4. Menyuruh opung memancing ikan lele. Opung Medan punya kolam ikan, dari ikan lele, patin, sampai ikan mujahir. Arden sempat ikut memancing ikan, tetapi enggak dapat. Akhirnya ikan diambil dengan tanggok atau saringan besar. Setelah ikan diambil, lalu di masak deh.

5. Menangis, ya nenek menangis. Nenek selalu menangis melepas kepergian anak-anaknya dan juga melepas kepergian Arden pulang kembali ke Sukabumi. “Arden, cucu nenek. Nanti ke Medan lagi yah, kita beli durian lagi. Pulang ya nek ke Medan lagi.” Dari tangisan nenek, dia tampak sekali rindu anak-anaknya yang satu berada di Bekasi dan yang satu berada di Sukabumi. Ibu dan Arden senang sekali bertemu nenek. Kalau kata bou, nenek rindu kali sama kedua anaknya yang ada di pulau seberang dan ingin sekali bertemu. Ya sama juga dengan opung sering nanya kapannya Ayah Arden itu bisa pulang.

Ya Nenek, Arden pasti kembali lagi ke Medan pada suatu purnama. Semoga dan semoga murah rejeki. Amiin.

Suatu Tanda Cinta Kasih Anakmu

Mamak Di Medan

Aku merindu ibu

Bahkan setelah aku kembali ke rumah tembokku

Kuingat lekat-lekat wajahmu kemarin kau melapasku

Persis ibu,

Persis pertama kali aku melangkahkan kaki agar terbebas dari surgamu

Kali ini ibu, aku menangis tidak karuan… Ingin bermanja-manja di ruang penuh kasih dan sayang

Ibu… Terima kasih

Cintamu tak pernah surut

seperti rasa masakanmu yang tak pernah berubah

Ibu… Terima kasih

Perhatianmu tak pernah berubah

Walau dua puluh lima ribu kemarin lupa kubayarkan

Kau tetap iklas seperti dulu

Wahai ibu

Aku merindumu

Bersua 10 hari taklah cukup

Menulis puisi ini pun bukan apa-apa

Tetapi ibu, inilah curahan hatiku, anakmu sebagai wujud cinta kasih padamu…

Merindumu ibu, malam ini sambil menatap cucumu Arden tertidur pulas