Upacara Bendera Yang Kukenang

Tulip Garden.png

Bagaimana pun upacara adalah bagian ingatan yang layak dikenang. Kalau bagimu tidak ya sudah, pasti kamu sering bolos ya, ngumpet di kantin, pura-pura sakit atau sengaja datang telat. Bagiku upacara itu peristiwa penuh kenangan. Apakah semanis kenangan ketika mengucapkan kuterima nikahnya anak mertua? Justru lebih manis, karena tidak harus mikirin beli popok dan susu si Arden. Tidak pula harus kesel mengikuti Arden mengajak jajan ke Indomart. Upacara bendera adalah salah kenangan masa lalu yang kekal.

Waktu di SD IRA Medan

Hal yang paling kukenang saat SD itu, waktu upacara bendera  diumumkan sebagai juara kelas 1. Bangganya bukan main. Tapi ada yang aneh waktu itu, ada 3 orang bermarga Harahap yang juara kelas. Salah satunya anak pemilik sekolah. Kalau kata mamak dulu, pemilik yayasan boleh dipanggil uwak, karena saudara semarga. Sementara Harahap satu lagi itu ternyata keponakan pemilik yayasan. Lalu, apa yang harus dibanggakan setelah mengetahui semua itu? Tidak ada.

Waktu SMP 17 N Medan

Yang aku ingat masa SMP, aku menjadi ketua kelas pada kelas 3. Nasib baik tak berpihak, duduk di kelas unggulan yang laki-lakinya hanya 5 orang itu bikin jengkel. Aku terpaksa mau saja menjadi ketua kelas. Saat itu masa masa kelas kelam. Aku paling malas datang hari senin, apalagi kalau giliran memimpin upacara bendera. Hollllmaaatt Gelaaakkkk. Seisi lapangan menertawai si cadel sang pemimpin upacara. Mereka tidak tahu kalau cadel itu anugerah. Karena cadelku lahir dari cinta ayah dan ibu. Bukan dari teman-teman, apalagi kepala sekolah.

Waktu SMA 11 Medan

Nah, kalau SMA itu upacara sangat dinanti. Karena waktu yang tepat lihat-lihat cewek kelas sebelah dan mencoba menemu-kenali si dia yang mau diajak bicara dan akhirnya menjadi pacar. Aku sering ikut berbaris di kelas lain dan berdiri tepat disebelah gebetan. Katanya membangun rasa demi cinta monyet yang tanpa arti. Tetapi nyatanya dia masih ada diingatan. Buktinya, aku menuliskan kenangan tentang dia dan upacara bendera penuh rasa cinta. Hai mantan, kenapa kepingan rasa itu masih membekas dihati. Apa kabarmu saat ini? Kulihat anakmu sudah dua ya, di wall facebookmu. Ngomong-ngomong Suamimu ganteng juga. Semoga kau tidak mengingat aku sebaik diriku mengenangmu. Bagaimana pun kita sudah terpisah jarak, waktu dan keluarga. Jangan pernah menyebut namaku penuh canda lagi, karena sudah ada istriku yang memanggilku penuh amarah karena lupa membeli minyak goreng. Dear mantan, masihkah kau simpan puisi dan kaset sheila on 7 itu? Ah itu hanya kisah klasik. Ya lama-lama jadi nulis tentangmu. Bukan tentang upacara bendera.

Ya itu saja kenanganku tentang upacara bendera. Saat ini, aku tak pernah lagi ikut upacara bendera. Karena tidak ada perayaan bagi suami yang kerjanya jual teri dan bercanda tentang kenangan. Kutulis ini untuk #1minggu1cerita yang bertema Upacara bendera. Agar semua orang tahu.

18 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *