Batas Rindu Arden

 

Suatu saat nanti Arden, ketahuilah aku jenuh sekali berada di luar kota begini. Setelah berbulan-bulan main di rumah, mencarimu keliling kampung, menunggu pulang sendiri, hingga tak sabar rasanya saat hujan turun kau malah tak di rumah. Kita rahasiakan semua berdua. Kalau mungkin ibu membaca tulisan ini ya dia jadi tahu kalau sering entah kemana dikala hujan. Rasa tak bersalahmu waktu pulang, alasanmu kenapa tak pulang, hingga menyalahkan hujan adalah kerinduan itu sendiri. Nah ketahuilah aku rindu sekali.

Tetapi menelponmu pun bukan pula cara melepas rindu. Kau malah asik menanyakan ayah dimana berkali-kali. Sampai kau tertawa sendiri, ayah dikantor lihat monyet? Tidak nak, kantorku bukan kebun binatang. Ayahmu seorang Ronin yang memiliki batas kesetiaan pada tuan tertentu. Tak ada kantor, tak pula tunduk dengan seorang tuan. Oh ya, ingat kerja ayah bukan di kebon binatang.

Nak sedang apa kau malam ini, bersama ibu disana. Nak apa sudah main kerete api, boneka, dan cerita si kelinci. Kok aku ingin main kereta api bareng ya?

Nak, Udah ya… Aku menulis ini setelah menelponmu…

Arden: Halo Ayah…
Ayah: Halo Ade
Arden : Ini siapa?
Ayah : Nah loh, tadi nanya halo ayah…
Arden : Itu kan tadi mana tau sekarang lain
Arden : Ayah dimana
Ayah: Di Wc
Arden: Ayah ih suka enggak bener ngomongnya
Ayah : Ayah itu harusnya ke kantor, kantorkan beda sama wc. Emangnya bisa kerja sama Wc
Arden : Kita kapan ketemu ayah…
Ayah : Besok gimana
Arden : ayah kan kerja di kantor? (maksudnya kebun binatang)
Ayah : Ade kangen ya sama ayah
Arden : kangen dong ayah…
ayah: Iya gitu, kangen sama ayah?
Arden : Atuh ayah, kalo ke indomart kan ibu sedikit jajannya, ga bisa beli majalah, permen, coklat, eskrim
Ayah: Itu sih pengen jajan
Arden: Ayah cepat pulang ya. Ade teh mau main itu sama ayah. jangan lama lama. Abis main kita ke indo…
Ayah: Yehhh tetap we jajan. bukan kangen…
Arden : Nanti kita main ya ayah… Udah dulu ya ayah. Ade mau main…

 

 

Putih  bisa, Hitam pun Bisa

bagiku-lembaran-hidup-tak-harus-putih-nakkau-bisa-menjadi-pelangi-bisa-pula-memilih-satu-warna-saja

Bagiku, lembaran hidup tak harus putih nak

Kau bisa menjadi pelangi, bisa pula memilih satu warna saja

Bahkan hitam sepertiku pun tak mengapa

Terserah nak pilih warna terbaik bagimu

 

Jangan biarkan hidup ini diatur dengan oleh siapa pun

Termasuk aku

Karena kau dicintai untuk menemukan dirimu sendiri

Bukan untuk menjadi orang lain

 

Nak, kelak tak usah kau turutkan kesesatan di harimu

Tak pula biarkan pikiranmu menjadi kerdil

Kau adalah penentu bagi dirimu

 

Jika kelak kau akan membaca tulisan ini,

kalau kau bertanya kenapa tulisan ini dibuat nak,,,

Janganlah percaya diri melebehi jalan hidupmu nak…

 

Karena ini kutuliskan tulisan ini untuk #1minggucerita,

bukan semata untukmu

 

#PuisiMacamApa ini.

Andai teman bisa dibeli…

Teman Kura-Kura

Arden : Ayah kasihan kura-kuranya sendiri. Enggak ada temannya.
Ayah : kamu kan bisa jadi temannya
Arden : Tapi ayah… ade juga enggak ada temannya
Ayah : itu kura-kura temanmu
Arden : Atuh ayah… masa teman ade kura-kura
Ayah : Jadi mau Ade gimana?
Arden : Ade mau beli teman, satu. Terus kura-kura juga beliin teman, satu
Ayah : Terserah kamu aja Arden…

Upacara Bendera Yang Kukenang

Tulip Garden.png

Bagaimana pun upacara adalah bagian ingatan yang layak dikenang. Kalau bagimu tidak ya sudah, pasti kamu sering bolos ya, ngumpet di kantin, pura-pura sakit atau sengaja datang telat. Bagiku upacara itu peristiwa penuh kenangan. Apakah semanis kenangan ketika mengucapkan kuterima nikahnya anak mertua? Justru lebih manis, karena tidak harus mikirin beli popok dan susu si Arden. Tidak pula harus kesel mengikuti Arden mengajak jajan ke Indomart. Upacara bendera adalah salah kenangan masa lalu yang kekal.

Waktu di SD IRA Medan

Hal yang paling kukenang saat SD itu, waktu upacara bendera  diumumkan sebagai juara kelas 1. Bangganya bukan main. Tapi ada yang aneh waktu itu, ada 3 orang bermarga Harahap yang juara kelas. Salah satunya anak pemilik sekolah. Kalau kata mamak dulu, pemilik yayasan boleh dipanggil uwak, karena saudara semarga. Sementara Harahap satu lagi itu ternyata keponakan pemilik yayasan. Lalu, apa yang harus dibanggakan setelah mengetahui semua itu? Tidak ada.

Waktu SMP 17 N Medan

Yang aku ingat masa SMP, aku menjadi ketua kelas pada kelas 3. Nasib baik tak berpihak, duduk di kelas unggulan yang laki-lakinya hanya 5 orang itu bikin jengkel. Aku terpaksa mau saja menjadi ketua kelas. Saat itu masa masa kelas kelam. Aku paling malas datang hari senin, apalagi kalau giliran memimpin upacara bendera. Hollllmaaatt Gelaaakkkk. Seisi lapangan menertawai si cadel sang pemimpin upacara. Mereka tidak tahu kalau cadel itu anugerah. Karena cadelku lahir dari cinta ayah dan ibu. Bukan dari teman-teman, apalagi kepala sekolah.

Waktu SMA 11 Medan

Nah, kalau SMA itu upacara sangat dinanti. Karena waktu yang tepat lihat-lihat cewek kelas sebelah dan mencoba menemu-kenali si dia yang mau diajak bicara dan akhirnya menjadi pacar. Aku sering ikut berbaris di kelas lain dan berdiri tepat disebelah gebetan. Katanya membangun rasa demi cinta monyet yang tanpa arti. Tetapi nyatanya dia masih ada diingatan. Buktinya, aku menuliskan kenangan tentang dia dan upacara bendera penuh rasa cinta. Hai mantan, kenapa kepingan rasa itu masih membekas dihati. Apa kabarmu saat ini? Kulihat anakmu sudah dua ya, di wall facebookmu. Ngomong-ngomong Suamimu ganteng juga. Semoga kau tidak mengingat aku sebaik diriku mengenangmu. Bagaimana pun kita sudah terpisah jarak, waktu dan keluarga. Jangan pernah menyebut namaku penuh canda lagi, karena sudah ada istriku yang memanggilku penuh amarah karena lupa membeli minyak goreng. Dear mantan, masihkah kau simpan puisi dan kaset sheila on 7 itu? Ah itu hanya kisah klasik. Ya lama-lama jadi nulis tentangmu. Bukan tentang upacara bendera.

Ya itu saja kenanganku tentang upacara bendera. Saat ini, aku tak pernah lagi ikut upacara bendera. Karena tidak ada perayaan bagi suami yang kerjanya jual teri dan bercanda tentang kenangan. Kutulis ini untuk #1minggu1cerita yang bertema Upacara bendera. Agar semua orang tahu.