Balada Kucing Si Igri

14322300_10210674912414995_7543403536843582551_n

Arden : Ayah itu kucing si Igri mau ngapain?

Ayah : Nanti kalo udah gede kamu ngerti kok

Arden : Oh kalo udah gede, kucingnya bisa duduk gitu ya….

#BaladaKucingSiIgri

Beli aja, enggak usah nunggu dipotong

13511042_10210270932917525_3612463069430368042_n

Ketika dua anak kecil ngomongin daging kurban

Teman : Aku besok dapat daging sapi
Arden : Aku mah udah dapat tadi
Teman : Dapat dari mana, kan potongnya besok
Arden : Beli atuh, dipasar banyak daging sapi mah…
Teman : Dipotong Ade bukan di beli…
Arden : Ah beli aja ah….

Mencoba Memahami Maksud Mario Teguh

Betul Pak Mario, Saya sering kok ditelpon orang dan bilang aku ini saudaramu . Walau enggak sedarah kita saudara. Macam mana pula kita bisa saudara? Adekku yang super kita sama-sama marga Harahap. Kita saudara semarga. Ya kalau gitu kita menjadi keluarga yang dibangun dalam cinta dan kesetiaan marga, bukan yang hanya asal sedarah. Salam Super Pak Mario.

Kayaknya ini maksud Pak Mario. Marga bisa lebih bernilai dari apa pun. Makanya tak berani aku hapus margaku dari akun FB ku.

14212793_10155091460769881_3860182919862056608_n

 

Ibu Berkerja dan Pulang Malam

IMG-20151215-WA0003
Suatu malam ketika Ibu pulang dari kerja pendampingan masyarakat. Arden tampaknya penasaran kenapa ibu pergi berkerja dan pulang malam.
Arden : Kenapa ibu pulang malam terus
Ayah : Ibu kan kerja. kan kemarin ibu sudah bilang kerja pulang malam
Arden : oh iya. Ibu bilang pulang malam. Ibu kerja.
Ayah : iya kerjanya kan jauh gitu. ke desa desa.
Arden : kenapa ibu kerja?
Ayah : Ibu kerja biar dapat uang
Arden : Ade boleh ikut enggak kerja?
Ayah : Enggak dong, kan ade kuat kan. Udah besar tinggal di rumah aja.
Arden : Ayah, kalau dapat uang, Ade boleh jajan ya.
Ayah : Iya boleh jajan. kata ibu bolehkan.
Arden : Oh iya. Nanti kalo dapat uang, Ade minta beli mbim, cocolatos, kueh, sama main temzon.
Ayah : Ya ya ya… gimana Ade aja…
Adalah penting bagi Arden untuk tahu dan hak juga bagi ibu untuk berkerja kembali. smile emoticon

Saya Takut Pak, Kepala Anak Bapak Berdarah

13511042_10210270932917525_3612463069430368042_n

Di suatu pagi nan santai di rumah, seorang guru tergopoh-gopoh datang ke rumah. Raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran, “Pak, Ibu Arden ada?,” tanyanya singkat. Kupanggil Istriku, kukatakan padanya kalau ibu guru memintanya untuk datang ke sekolah. Rupanya, Arden sebagai anggota gerombolan si berat terjatuh saat bermain perosotan. Kepala bertemu lantai halaman sekolah, jadilah darah mengucur membasahi rambutnya. Bagiku, tak aneh. Arden merupakan seorang anak yang super aktif. Di rumah pun, ayah dan ibunya bisa emosi dan pusing kepala kalau dia sedang bertingkah. Apa saja akan dicoba untuk dilakukan, panjat-memanjat, lompat-melompot, lari-larian, dan jatuh kepala mendarat duluan hal biasa.

Tetapi tak sama halnya dengan Bu Guru. Mereka tampak sangat was-was. Rupanya, ibu guru tak hanya sekali datang ke rumah. Selepas istriku memastikan kepala si kecil tak cidera berat, 30 menit kemudian, seorang guru muda nan jelita datang ke rumah. “Pak, ibu datang ke sekolah lagi ya,” pintanya dengan wajah memohon. Darah sedikit mengucur di kepala bagian belakangnya. Kalau dilihat-lihat sih, masih dalam proses pembekuan saja. Ya sebentar lagi juga kering itu luka di kepala. Aku yang ikut untuk kedua kalinya ke sekolah, memberikan senyum kepada ibu guru sebagai tanda tak jadi persoalan Arden terluka di sekolah.

Singkat cerita, Arden sempat akan dibawa pulang dan menyelesaikan sekolah lebih cepat hari itu. Bukan karena tak percaya sama guru, tetapi demi menjaga rasa kekhawatiran berlebih mereka. Aku sendiri malah merasa bersalah, sudahlah menitipkan anak di sekolah. Eh anaknya super duper lincah malah terjun dari perosotan. Namun apa dikata, Arden menolak pulang dan ingin tetap bersama teman-temannya. Kebetulan akan ada menimbang badan bersama ke posyandu dari sekolah. Arden senang sekali ke Posyandu, karena biasanya mendapat makanan gratis. Ya mau tak mau kubiarkan saja dia di sekolah. Tetapi gurunya sempat menolak dan aku memastikan tak akan ada masalah dari kejadian terjatuhnya Arden. Aku sempat berbicara singkat dengan gurunya.

Guru : Pak, kalo ibu ga bisa ikut. Bapak aja temani Arden timbang badan
Ayah : (senyum) iya bu. Saya ikut (bari senang banyak mamah muda)
Guru : Minta maaf ya pak, anaknya berdarah. Kami ga jaga anak dengan baik. Saya takut pak.
Ayah : Hehehe, Ga papa bu, anaknya yang kelincahan (ngerasa bersalah sama bu guru).
Guru : Maaf ya pak.
Ayah : Ndak papa bu. Terima kasih udah jaga anak saya. Ini anaknya mau ikut timbang badan dan sekolah sampe selesai.
Arden : Ayah aku ga mau pulang. Disini aja mau sama teman.
Guru : hehehe
Ayah : Ya sana. Ayah mah mau nemanin bu guru dan ibu temannya kamu.‪#‎eh

Berbicara dan sedikit bercanda dengan bu guru rupanya mampu menawar rasa gelisah sang pengajar. Jadilah, aku menemani anakku ke Posyandu yang lokasinya tak jauh dari sekolah.

Lalu, Kenapa para guru begitu cemas dan cenderung menunjukkan rasa takut ketika Arden terjatuh?

Berhenti Menuntut Guru di Sekolah

Istriku bercerita kalau guru sekolah tersebut mengalami kejadian buruk tahun lalu karena seorang anak pernah terjatuh di sekolah dan kepalanya berdarah. Orang tua sempat menuntut dan protes keras kepada pihak sekolah. Wajar memang khawatir terhadap kondisi anak, tetapi tidak mengancam guru yang jutsru menjaga mereka di sekolah. Semua guru nyaris saja dituntut dan diperkarakan oleh orang tua siswa.

Aku sendiri begitu merasakan kecemasan para guru tersebut. Aku tahu mereka berusaha mendidik dan menjaga anakku sepenuh hati. Tetapi ya namanya anak super lincah apa mau dikata.

Dari kejadian ini, ada satu hal yang ingin kutuliskan, wahai para orang tua berhenti menuntut guru. Selesaikan secara kekeluargaan jika ada masalah anak di sekolah. Guru sebagai pendidik tak layak dituntut. Jika kita sudah menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan tertentu, maka percalah sepenuh hati. Kalau takut anak celaka, ya perhatikan situasi sekolah dan ketahui sendiri prilaku anak anda.

Hingga saat ini Arden dalam kondisi sehat dan terus sekolah. Guru tampak tak canggung menjaga anak kami. Hal yang terpenting, kami telah menunjukkan rasa percaya kami kepada ibu guru, sang pendidik anak-anak. Tak layaklah mereka menjadi pesakitan karena kesalahan anak kita. Mari berhenti menuntut guru, mereka terbukti sangat khawatir dengan kondisi anak kita. Sebagai bukti pula, mereka berusaha menjaga anak-anak di sekolah.
Ditulis untuk

PR Bagi Si Kecil

Beberapa hari yang lalu, teman Arden mengingatkanku kalau anak semata wayangku diberikan PR sama Bu guru. Guru PAUD. Sontak aku tak percaya, anak PAUD sudah diberikan PR? PR nya tidak sulit hanya menulis huruf O, kalau kata Arden nulis bulat-bulat. Setelah itu PR pertama, ternyata ada PR setiap hari. Kalau sudah begini mau apalagi, walau menurut sebagian besar teman kalau PAUD tidak boleh diberikan PR, ya buktinya Arden diberikan PR. Karena aku tak setuju PR dari PAUD ini, aku tak pernah membantunya dan mendampingi untuk mengerjakan PR, istriku saja yang sedikit membantu.  Ya, ngintip sedikitlah bagaimana bentuk PR nya. J

Selebihnya tangan kecil Arden yang menoreh tulisan tipis-tipis di bukunya. Sebetulnya Arden tampak  tak  mengalami kesulitan mengerjakannya. Toh hanya satu huruf saja PR nya, dan dibuat menjadi banyak turun ke bawah dalam 2 baris berbanjar. Soalnya coret-coret, Arden sudah dibiasakan melakukannya sejak kecil. Tetapi itu sambil bermain, bukan PR dari sekolah semcam PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Foto Arden mengerjakan PR sempat diunggah ke facebook oleh istriku. Betul saja ada beberapa tanggapan dari teman-teman  tak setuju soal PR itu. Termasuk seorang teman yang berkerja di kementerian pendidikan. Ya sebagai Ayah, aku dijawab santai sajalah. Toh anaknya sudah mengerjakan PR itu dan tampaknya enggak ada masalah.

Kabarnya anak PAUD tidak boleh dibebani Pekerjaan Rumah (PR) dan mempelajari baca, tulis, dan berhitunng (calistung). Lalu aku carilah beberapa sumber mengenai belajar calistung tersebut. Menurut Direktur PAUD Kemdikbud, Sudjarwo Singowijoyo bahwa memaksa anak usia di bawah lima tahun (balita) menguasai calistung dapat menyebabkan si anak terkena ‘Mental Hectic’, yaitu anak menjadi pemberontak. Waduh, bahaya! katanya lagi, penyakit itu akan merasuki anak di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Katanya lagi, anak yang menguasai calistung pada usia dini justru akan merusak kecerdasan mentalnya. (baca lebih lengkap disini)

Pendapat yang nyaris sama dinyatakan oleh Mantan Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Nonformal Informal (PAUDNI)  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Lidya Freyani Hawadi menjelaskan, bahwa Kurikulum PAUD harus disesuaikan dengan tugas perkembangan anak pada setiap tingkat usianya. anak yang belajar di PAUD diarahkan untuk bermain ketimbang menguasai pelajaran akademis. Anak yang memasuki PAUD, jangan sampai dipaksa menguasai calistung. (baca lebih lengkap disini)

Lalu apakah yang diajarkan kepada anakku termasuk pemaksaan? Soalnya PR nya mulai mengenal dan menuliskan abjad dan angka. Kalau kata istriku yang mengikuti rapat dengan guru PAUD, hal yang diajarkan di PAUD itu pengenalan dasar untuk anak usia PAUD. Jadi dinilai tidak memberatkan dan cara mengajarkannya dengan sambil bermain. Jadi anak secara perlahan mampu mempelajari sesuatu dari permainan. Cara mengajari dan mengenal angka dan hurufnya jauh berbeda dengan yang diajarkan di tingkat SD.

Meskipun aku tak mengerti betul bagaimana baiknya belajar anak usia PAUD ini, aku tetap mencoba mengenali sejauh mana Arden mampu dan senang belajar di sekolahnya. Yang penting anak tidak stres dan tidak ada pemaksaan mengerjakan PR angka dan huruf di rumah. Kukatakan sama istriku, kalau dia tak mau mengerjakan PR biarkan saja. Ya semoga Arden menerima materi pendidikan sesuai dengan usianya. Aku percaya sama gurunya mengajari sesuatu hal yang tepat bagi Arden. Anak kecil berusia 4 tahun. Selamat malam. J

Ditulis untuk

Anak Tanpa Masa Depan, Tentangku dan Masa SMA

 

Tepat waktu habis setahun kuliah, aku berlibur pulang ke Medan. Tahun pertama  Kuliah dengan menetap di Bandung dan kampus terletak di Jatinangor itu ternyata menjemukan juga. Pada tahun pertama kuliah, aku sering kali dilanda rindu kepada keluarga. Nah, pas liburan inilah, aku baru mengetahui kalau orang tuaku sungguh tak percaya kalau aku bisa kuliah di universitas negeri di Jawa Barat. “Kata Ayah kau dulu pas pergi ke pulau jawa, kau tak punya masa depan,” begitulah kata bu Upik tetangga yang sering menyambangi rumah dan bersenda gurau dengan mamak (ibuku). “ Aku tertawa terbahak-bahak dan membenarkan perkataan ayahku, “memang betul itu Bu Upik, siapa yang mau percaya sama anak nakal begini.”

Tak punya masa depan. Omongan ini tentu membekas diingatan apalagi kalau itu bersumber dari orang tua sendiri. Semoga tidak begitulah ucapannya atau Ayah hanya bergurau. Aku tahu, ayah sudah lelah menimang anak-anaknya hingga kami 6 bersaudara bisa kuliah semua, bahkan si sulung malah bergelar master dari jurusan ekonomi lulusan Universitas Indonesia. Aku tahu, Ayah patut merasa awas pada diriku yang sekolah pada SMA tampak tak meyakinkan.

Masa SMA. Apapun tentang sekolah, aku tetap tak mau kalah dengan kakak dan abangku. Aku ingin masuk negeri seperti mereka. Sewaktu ujian SMP, aku pun rajinlah belajar, dan pas pula nilaiku bisa membuat masuk SMA Negeri 11 Medan. Meski itu disebut sekolah pinggiran, tetapi aku masuk negeri seperti dua abang dan satu kakakku. “Aku pun bisa kayak orang itu,” pikirku waktu masuk SMA. Tetapi masa ini, masa remaja nan ceria waktu SMA ini tampaknya membuat pusing ayahku.

Ceritanya begini, kenakalan demi kenakalan berhasil aku torekan. Suatu kali selepas pulang dari pesantren kilat Se-Sumatera Utara, aku ingat baru awal kelas 2 SMA. Aku yang harusnya jadi anak ROHIS malah turut berkelahi menyambangi anak kelas satu. Tak sampai dipanggil ke ruang BP (bimbingan konseling), tetapi tampaknya Ayah tahu soal perkelahian ini dari sepupuku. “Jangan bandel kalau di sekolah, “ kata ayahku waktu itu. Sedangkan aku pura-pura tidak tahu maksud perkataan ayah. Sepupuku itu guru konseling di SMA itu.

Kenakalan lainnya, waktu kelas dua pula, seorang teman berbadan besar memukul wajahku dan masuklah kami berdua ke ruang BP. Wajahku memar kena tonjok, tetapi pemukulan ini bisa menjadi masalah besar bagi temanku. Kami sampai dua kali dipanggil ke ruang BP. Namaku tertera dua kali di ‘buku hitam’ sebagai anak yang dikenai peringatan. Aku baru tahu kalau temanku itu merasa terancam. Dia diancam oleh teman-temanku sampai dia tak berani pergi ke sekolah. “Aku tak tahulah bu, kalau dia diancam orang,” kataku acuh waktu ditanya perkara ancaman ini. Betul saja tak lebih sebulan, temanku yang badannya tinggi pindah sekolah. Ancaman tampaknya tak berhenti. Aku masih ingat tatapan matanya, seolah menantang tetapi penuh ketakutan. Apa boleh buat, dia salah memukul orang.

Teman-temanku terbilang cukup banyak waktu SMA, setengahnya teman berkumpul adalah teman dari masa SMP. Jadilah kami segerombolan anak SMP yang berteman hingga masa SMA (dan hingga kini). Dampak kalau anak satu sekolah jenjang SMP pindah ke sekolah jenjang SMA secara bersamaan adalah apapun masalahnya perkelahian akan diselesaikan atas dasar persahabatan. Lawan berkelahi akan kena hajar beramai-ramai atau diancam hingga pindah sekolah. Aku masih ingat pernah menonton seorang kawan berkelahi satu lawan satu. Akhirnya, si lawan berkelahi itu dipukuli beramai-ramai. Ada 20 orang lebih menghajarnya dan cukup kasihanlah melihat waktu itu. Syukurlah dia tak sampai pindah sekolah karena didamaikan oleh kawan lainnya.

Kekhawatiran orang tuaku semakin memuncak, ketika ditemukan beberapa pil terlarang dilaci lemari. Aku lupa (pura-pura lupa) nama pilnya. Obat-obatan itu memiliki efek ‘santaiiii’ dan membuatku seperti menikmati sekali ketika belajar di kelas dan sesekali sampai tertidur. Kalau malam hari berkumpul dengan teman satu tempat tinggal, tak jarang obat-obatan itu dicampur minuman keras sembari menghisap ganja. Aku masih ingat ada beberapa bungkusan ganja ditasku waktu perpisahan sekolah. Ganja bebas masuk begitu saja dan siapa pula yang mau memeriksa tasku waktu itu. Suatu kali gara-gara menghisap ganja ini, aku pernah ditanyai sama Kakak ipar dari Kakak angkatku yang bertandang ke rumah. “Matamu merah dek, kau baru ngapain,” tanyanya tak perlu dijawab karena dia pasti tahu aku mabuk ganja. “Kau hormati abangmu itu,” dia tunjuk foto abang angkatku yang berseragam tentara.

Sebetulnya ada beberapa kenakalan kecil lainnya, tapi tak perlulah ditulis semua semasa SMA. meski begitu, dibalik kenakalan kecil itu, aku tetap menyimpan hasrat untuk bisa kuliah. Waktu kelas tiga, diam-diam kupelajari mata pelajaran sekolah untuk persiapan ujian masuk kuliah. Waktu itu sempat dua miggu, aku memilih kelas IPA. Tetapi tak kuasa bodohnya, aku meminta pindah ke kelas IPS. Jadilah bimbingan belajar sempat Jurusan IPA, tetapi sekolah malah Jurusan IPS. Pelajaran Jurusan IPS ini kupelajari pelan-pelan. Tak usah banyak-banyak pikirku, yang penting aku bisa kuliah di universitas negeri. 6 bulan bimbel IPA, aku beralih bimbel (bimbingan belajar) IPS. Niatku Cuma satu, aku harus menghitung perkiraan nilai yang bisa membuatku masuk perguruan tinggi negeri di pulau jawa. Pribadi boleh nakal, tetapi cita-cita boleh tinggi.

Waktu mau lulus SMA, kusampaikan pada mamak kalau aku mau kuliah di Jakarta seperti dua orang abangku. Niatku tentu ditolak. “Kuliah di Medan sajalah,” kata mamakku. Tetapi melalui bantuan ibu temanku dan sekaligus guruku juga, dia membelikanku tiket ke Jakarta. Dibilang guruku itu, kalau sudah ada tiket untuk aku pergi ke Jakarta. Jadilah Ayah terpaksa mengganti uang tiket untuk pergi ke Jakarta itu. Aku senang bukan kepalang. Belajarku yang sedikit ini takkan akan menjadi tak sia-sia, pikirku.

Waktu di Jakarta sebelum SPMB, aku belajar sedikit-sedikit lagi. Aku hitung sendiri pencapaian nilaiku. Ah tak bisa masuk jurusan hukum, pikirku. Aku mencari grade yang rendah, kupillih antropologi UNPAD sebagai pilihan kedua dan ilmu politik UI pilihan pertama. Aku sudah berhitung kalau mujur, aku bisa masuk jurusan Ilmu Politik UI dan kalau sial ya masuk Antropologi. Aku memilih Jurusan Antropologi karena kata guru SMA, kuliahnya bisa jalan-jalan ke banyak tempat.

Betul saja, waktu pengumuman masuk perguruan tinggi negeri, abangku mengajak mengecek nomor ujianku di warnet dekat Stasiun Gondangdia Jakarta. Apa nyana, nomor ujianku tertera di layar komputer itu dan aku lulus. Abangku menatapku tak percaya. Itu artinya, perhitunganku tepat. Aku berhasil masuk Jurusan Antropologi UNPAD. Keesokan harinya, orang tuaku membeli koran dan memeriksa namaku. Alangkah bahagia mamakku, tahulah dia kalau aku bisa masuk perguruan tinggi negeri yang kampusnya di Jatinangor itu.

Begitulah kira-kira ceritaku untuk #1minggu1cerita bertema Aku dan Sekolahku. Bagiku nakal tak berbuah sial. Seorang anak tak harus hidup dengan norma-norma umum. Anak harusnya diberi pilihan untuk mempelajari dan menjalani hidupnya sendiri. Hal yang penting adalah, anak yang nakal tetap disemangati untuk terus sekolah, agar memiliki keinginan terus mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi. Ya semangatilah si anak nakal untuk bisa berkuliah di Universitas Negeri. 🙂

menulislah-walau-1minggu1cerita

TERI KECE dengan KEMASAN LEBIH KECE

SAM_3329

Setelah berproduksi sejak bulan Januari 2016, Teri Kece dikemas dengan kotak plastik lebih menarik.

Sambal Teri Medan cocok untuk Anak Kos, Pekerja Kantoran, dan Ibu Rumah Tangga
Rasa :
– Sambal Merah
– Sambal Hijau

Harga
Sambal Teri Hijau/ Merah + Kacang Rp33.000
Sambal Teri Hijau/ Merah Tanpa Kacang Rp35.000
HARGA PROMO : Beli 3 toples harga @Rp31.500
Berat : 200gr/ kemasan toples

SAM_3339

Produksi : Sukabumi
Jasa Pengiriman : JNE YES
Mau? Hubungi saja :
Fey
WA : 0857 9743 2260
SMS : 0857 9743 2260
BBM : 521AF7D1

Tragedi Uang 100

 

Sayup-sayup terdengar…
Arden: Ibu, huhuhu, aku jajan mau beli milo uangnya katanya enggak cukup
Ibu: Berapa uangnya kok enggak cukup, biasa juga cukup.
Arden : Seratus bu…
Ibu: Ya iyalahhh seratuss…

Tak lama mengadu ke Ayah
Arden: Coba Ayah katanya enggak cukup
Ayah: Ya iyalah uang 100
Arden : Huhuhu
Ayah: katanya cukup berapa buat beli milo
Arden : Dua rebu…
Ayah: Nih dua rebu…
Arden : Dua atuh ayah… Kan mau beli milo nya ge dua.
Ayah: Yah itu namanya enggak cukup bangetttt

Ayah Kerja Sama yang Di Atap itu Aja

20151230_124028

Arden : ayah kenapa orang-orang itu diatas atap itu?
Ayah : mereka itu kerja. Kerja jadi tukang bangunan.
Arden : kenapa kerja kok diatap gitu?
Ayah : ehm… Kerja kan macam-macam gitu.
Arden : kalo ibu kerja diatap juga ga? Ade ga pernah lihat ibu kerja.
Ayah : enggak kalo ibu kerjanya beda. Dia kerja sama orang gitu. Kerjanya ya kayak ngobrol ngobrol. Ehm kayak antropolog lah…
Arden : oh antropolog yang teman polisi itu?
Ayah : ehm tanya sama ibu aja deh, dia temanan sama polisi atau enggak
Arden : atuh ayah. Ibu kan kerja. Masa nanya sama ibu. Ayah kok kerjanya dirumah sama masak terus. Kerja aja sama om om yang diatap itu.
Ayah : ehm…